
"..... terakhir, para tentara kekaisaran itu datang dan kami sepakat untuk mengakhiri pertarungan."
Suara Bulat Dengan tenang memandang lukisan di depannya, dan berkata ke semua orang yang ada disana.
Najenda, pemimpin Night Raid merasa kejadian yang diceritakan anggota nya berlebihan. Bagaimana mungkin kata murasane yang dipegang Akame juga ada di Tangan orang itu.
Menurut informasi dari pasukan pemberontak pun tidak ada teigu yang dapat memiliki kemampuan dengan berbagai jenis dan bahkan bisa menyalin teigu lawan.
"Tapi, apakah kamu sudah membunuh target misi?" Najenda menoleh ke Akame yang menundukkan kepala nya.
Mendengar suara itu, Akame kemudian mengangguk kepalanya dan tidak berbicara. Najenda yang melihat kode akame jadi lega.
Ia duduk di kursi dan mulai menulis kesimpulan yang singkat tentang Shuyi di kertas. Setelah selesai, ia lipat dan menyimpannya di dalam saku nya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Leone sekarang?" Tanya Najenda ke orang disebelah Akame, Shelee.
"Luka-luka nya mulai pulih dan ia bisa bangun beberapa saat lagi. Namun-" Jawab Shelee.
"Namun?" Sanggah najenda.
"Ada sebuah tanda seperti tato yang memiliki huruf aneh dan tidak diketahui, menempel di telapak tangan kanan Leone. Sudah aku coba hilangkan tetapi tidak bisa. Maafkan aku ketua," Shelee membungkuk 90° kepada Najenda Dengan eskpresi sedih.
"Tidak apa-apa, itu bukan salah mu. Salahkan saja iblis kartu( sebuah kode yang dibuat najenda untuk Shuyi ) karena memiliki kemampuan tidak diketahui," Jawab najenda dengan tersenyum tipis menanggapi Shelee.
"Baiklah, aku akan mengirim berita ini ke pasukan pemberontak, berharap mereka dapat menemukan solusi dan mengalahkan iblis kartu. Sebelum itu, aku akan mengunjungi Leone untuk melihat," kata Najenda yang membubarkan rapat hari ini.
Para anggota night raid yang ikut rapat segera bubar dan mulai beraktivitas sesuai kesibukan masing-masing.
Najenda kemudian beranjak pergi dari tempat rapat, ia pergi ke kamar Leone untuk melihat keadaan nya sekarang.
Setelah membuka pintu, ia melihat Leone sedang duduk di kasur menatap jendela. Melihat itu, Najenda dapat melihat Leone mungkin trauma dan memiliki bayangan psikologis dengan Iblis kartu.
Najenda menghela nafas, ia mengetuk pintu dan melangkah duduk disamping Leone yang melamun. "Bagaimana keadaan mu sekarang, Leone."
Mendengar seseorang berbicara, Leone menoleh kearah Najenda dan memiringkan kepalanya. Ia tidak berbicara, hanya menatap nya dengan mata kosong.
Hanya ditatap oleh Leone, Najenda menjadi semakin penasaran dengan kemampuan teigu milik Shuyi yang dapat membuat seluruh anggota night raid nya terluka, bahkan memiliki bayangan psikologis.
Ia berharap dapat bertemu dengan pihak lain dan menariknya kedalam kubu pasukan pemberontak. Dari informasi Bulat, Saat tentara kekaisaran datang ekspresi shuyi seperti tidak di pihak kekaisaran. Shuyi juga Dengan mudah menyetujui Bulat.
__ADS_1
Namun, ia harus mencari informasi di Pasukan pemberontak terlebih dahulu untuk memastikan nya lebih lanjut.
"Huhhhh, lawan yang merepotkan," gumam Najenda mengingat sosok jenderal wanita kekaisaran yang memiliki teigu dapat memanipulasi Es sesuka hati.
"Istirahat lah dulu, dan semoga lekas sembuh," lanjutnya.
Ia keluar dari kamar Leone, Mengambil roti di meja makan lalu pergi keluar markas untuk memberi tahu informasi ke Pasukan pemberontak.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Di dalam restoran ternama, seorang pemuda berpakaian merah sedang duduk di lantai dua sambil melirik ke jendela disebelah nya menikmati pemandangan.
Di depan pemuda itu terlihat berbagai jenis makanan dan minuman terbaik di Restoran ini. Tampilan nya yang mewah serta bau nya yang harum membuat pelanggan disekitarnya lapar.
Menoleh ke meja makan, ia mengambil sendok lalu mulai mencicipi salah satu menu makanan.
Nyammm!! Nyamm!!!
"Ummmm, enak juga. Tidak sia-sia aku memesan banyak makanan," Shuyi bergumam dengan pelan sambil menikmati rasanya.
Sambil meminum jus jeruk, ia melirik bar yang ada di system saat ini.
Melihat dia hanya memiliki waktu 30 menit, ia segera menghabiskan makanan nya.
Tiba-tiba Seorang gadis cantik berpakaian mewah menghampiri nya.
"Anu, apakah aku boleh tahu nama mu?" Kata gadis itu dengan eskpresi malu-malu, dan memiliki wajah merah apel memandang Shuyi yang sedang makan.
Melihat gadis cantik ini, sambil mengunyah makanan, Shuyi mempersilahkan dia duduk si kursi depannya.
"Maaf ya, aku harus menghabiskan makanan yang ada di mulut ku terlebih dahulu. Soal nama, namaku adalah Kazuya," Shuyi mengambil Tisu lalu membersihkan tangan nya. Kemudian ia berjabat tangan dengan gadis itu.
"Emm, na-nama ku Shopia Zeard," kata Gadis itu.
"Seorang bangsawan?" Tanya Shuyi.
"Iya," jawab Gadis itu dengan suara pelan.
"Oh, lalu ada menghampiri ku?" Kata Shuyi sambil menatap wajah Sophia Dengan santai.
__ADS_1
"Aku hanya ingin berteman dengan mu, ngomong-ngomong apakah kamu sendirian disini?" Tanya Sophia Dengan rasa penasaran.
"Ya, aku hanya ingin menikmati rasa makanan yang ada disini sebelum aku pergi," Shuyi menganggukan kepalanya dan berkata dengan tenang.
" Pergi? Pergi kemana?" Tanya Shopia secara tidak sadar dengan ekspresi seperti kecewa dan sedih.
"Ahhh, maaf lancang. Aku hanya sekedar ingin tahu saja," lanjutnya.
"Tidak apa-apa, aku pergi ke luar ibukota," jawab Shuyi dengan santai tanpa mempedulikan hal kecil.
Tidak terasa 30 menit telah berlalu, Shuyi dan sophia masih mengobrol tentang hal-hal kecil yang tidak berbobot.
"Seperti nya sudah waktunya aku pergi, sampai jumpa lagi. Sophia," ujar Shuyi yang berdiri melambaikan tangan nya dan melangkah pergi keluar Restoran.
Setelah keluar, ia berjalan di gang sempit yang sepi dan gelap. Saat melihat hitungan waktu mundur hanya tersisa 5 detik tiba-tiba ia mendengar notif dari system.
[ Waktu pemindahan jiwa dimulai ]
[ Membuat formasi kembali,selesai ]
[ Perlindungan jiwa, selesai]
[ Memulai: 1%....39%.....70%....99%...100% ]
[ Aktif ]
Tiba-tiba Shuyi merasa tubuh nya lemas dan terjatuh ketanah, saat menggerakkan tubuh nya, ia terkejut bahwa tubuhnya tidak di dalam kendalikan nya. Selang 1 detik, ia merasa di belakang kepalanya dipukul oleh seseorang dan pandangan nya mulai redup yang akhirnya tidak sadar diri.
Di dalam kamar, seorang pemuda yang tertidur di lantai membuka matanya, ia duduk dan mengelus belakang kepalanya dengan lembut.
"Aku benci perasaan pemindahan jiwa."
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1