System Anime Di Dunia Kultivator.

System Anime Di Dunia Kultivator.
penampilan baru serta bertemu protagonis.


__ADS_3

"bagaimana pakaian baru ku ini kak? "


Seorang gadis dengan pakaian kimono berwarna biru muda seperti warna laut dengan motif bulan sabit berwarna putih di belakang kerah sedang memutar tubuhnya beberapa kali lalu memandang kakaknya yang berdiam diri disana.


Mendengar pertanyaannya adiknya, Shuyi membuka mulut nya dan ingin menjawab, namun di dahului oleh pelayan wanita pemilik toko pakaian.


"Bagus nona, pakaian itu sangat indah dan seperti sangat pas ditubuh nona," kata pelayan wanita memuji kecantikan Layla.


"Benarkah?" Mata Layla berkaca-kaca mendengar pujian pelayan wanita itu, ia mengalihkan pandangan nya kearah kakaknya dan meminta pendapat tentang kimono yang ia pakai sekarang.


Melihat Kilauan cahaya bintang di mata adiknya membuat Shuyi tersenyum senang, ia menyukai perasaan adiknya yang bahagia saat ini.


Shuyi pun mengangguk menyetujui pendapat Pelayan itu Tentang kimono yang dipakai oleh adiknya saat ini.


"Hehe terima kasih," mata Layla menyipit seperti bulan sabit menandakan bahwa ia sangat senang dengan pujian kakaknya.


"Karena nona senang, kami akan memberikan diskon sebesar satu persen sebagai tanda kebahagiaan kami," kata pelayan wanita tersebut dengan santai dan tersenyum tipis kepada kedua nya.


"Terima kasih, ayo kakak. Sekarang gantian kamu untuk berganti pakaian," kata Layla sambil berjalan menuju kakaknya lalu mendorongnya kearah tempat pakaian laki-laki.


"Baiklah-baiklah," Shuyi terkekeh melihat tingkah laku adiknya, ia kemudian berjalan memasuki tempat pakaian laki-laki dan melihat jenis kimono Dengan berbagai motif.


Setelah selesai berputar-putar mencari kimono yang pas, shuyi akhirnya melihat kimono berwarna merah dengan motif bulan sabit berwarna putih dibelakang kerah persis seperti kimono adiknya.


Ia pun langsung mengambil kimono tersebut lalu mencobanya di ruang ganti.


Setelah itu, ia berjalan keluar tempat pakaian laki-laki dan menatap adiknya yang memiliki ekspresi aneh di wajahnya.


"Bagaimana pakaian ku?" Tanya Shuyi kepada Layla, adiknya.


"Bagus-bagus, sangat bagus kak," Layla mengangguk, ia memutari Shuyi beberapa kali. Tanpa sengaja, ia melihat bulan sabit berwarna putih dibelakang kerah kakaknya.


"Wahhhhh, kakak apakah memiliki motif yang sama dengan ku?" Lanjutnya.


"Entah, aku tidak sengaja menemukan ini," Shuyi menepuk kepala Layla dan berjalan menuju tempat pembayaran pakaian.


"Sepertinya kalian cocok dengan kimono buatan kami, apakah kalian ingin membeli lebih? Seperti kimono cadangan?" Tanya resepsionis memandang mereka berdua.

__ADS_1


"Tidak, ini saja cukup mungkin. Berapa biaya kedua kimono ini?" Tanya Shuyi sambil mengambil uang di dalam sakunya.


"Total semuanya 3 emas, 99 perak, 98 perunggu." Kata resepsionis.


"Baiklah, ini uangnya," Shuyi meletakkan uangnya 5 emas di meha resepsionis dan meninggalkan toko bersama adiknya.


Setelah keluar, Layla tiba-tiba melihat beberapa kupu-kupu terbang disekitar taman bunga di sebelah toko.


Layla tanpa ragu bergegas mengejar kupu-kupu tersebut, ia begitu penasaran dengan keindahan hewan ini.


Shuyi yang melihat itu menggelengkan kepalanya, ia melirik pundaknya dan terlihat Bob sedang menatap kupu-kupu dengan keempat matanya.


"Apakah kamu ingin menjadi kupu-kupu juga?" Tanya Shuyi sambil berjalan mengejar adiknya.


Bob yang mendengar pertanyaan Shuyi menggelengkan kepalanya, ia lebih nyaman disekitar tuannya dari pada terbang.


Itu pasti melelahkan, pikir bob.


Saat sedang adik mengejar kupu-kupu, Layla tiba-tiba bertabrakan dengan seorang remaja berpakaian kimono biru dengan rambut merah gelap.


Ia hampir terjatuh namun ditolong oleh remaja tersebut.


"Emm, aku baik-baik saja. Ma-maaf karena menabrak mu," kata Layla sambil sedikit membungkuk.


"Ada apa layla?"


Mendengar suara kakaknya, Layla menoleh dan berkata. "Ini kak, saat aku mengejar kupu-kupu aku tidak sengaja menabrak orang ini," sambil menunjuk pemuda di depannya.


"Apakah begitu?" Shuyi mengalihkan pandangan nya kearah pemuda tersebut dan ia terkejut dihatinya.


"Apakah kamu kakaknya? Maaf ya karena menabrak adikmu," Kata pemuda tersebut sambil mendekati Shuyi dan sedikit membungkuk.


"Ahhh, tidak apa-apa. Adikku saja yang ceroboh tidak melihat jalan. Ngomong-ngomong, siapa namamu? Namaku Moro," kata Shuyi sambil sedikit mengacak-acak rambut Layla dan mengerahkan tangannya ingin berjabat tangan.


"Namaku kamado tanjiro, salam kenal moro," kata Tanjiro sambil sedikit membungkuk lagi, setelah itu ia Bingung dengan tindakan tangan Shuyi.


"Ahhh, maaf ini tradisi kampung halaman ku untuk berkenalan," Shuyi akhirnya menyadari kesalahannya, ia kemudian tersenyum canggung.

__ADS_1


"Perkenalkan, ini adikku Layla," lanjutnya.


"Salam kenal, kak tanji-ro?" Layla memiringkan kepalanya agak sedikit bingung dengan nama pemuda di depannya.


"Ngomong-ngomong, mau pergi kemana tanjiro?" mengabaikan adiknya yang bingung, Shuyi bertanya dengan sedikit basa-basi.


Melirik pakaian Tanjiro, ia yakin bahwa saat ini mungkin adalah perjalanan tanjiro untuk menjadi pemburu iblis.


"Aku ingin pergi ke gunung fukikasane untuk ujian terakhir ku menjadi pemburu iblis," kata Tanjiro dengan santai tanpa ada rasa waspada sama sekali.


"Pemburu iblis? Sama seperti orang kemarin malam ya kak?" Tanya layla kepada Kakaknya.


"Iya," kata Shuyi sambil mengangguk.


"Oh, apakah kalian pernah bertemu pemburu iblis?" Tanya Tanjiro dengan penasaran.


"Hanyalah lewat, bisakah aku pergi bersama mu?" Tanya Shuyi.


Mendengar perkataan Shuyi membuat Tanjiro ragu, ia memandang keatas kebawah Keduanya dan akhirnya pandangan nya jatuh di pinggang shuyi yang memiliki sebuah katana berwarna hitam.


"Apakah kamu ingin ikut ujian atau hanya jalan-jalan?" Tanya Tanjiro dengan sedikit khawatir, ia takut katana yang dimiliki Shuyi hanya untuk mainan dan tidak dapat membunuh iblis.


"Kebetulan saja aku ingin menjadi pemburu iblis, seperti ini profesi yang lumayan berpengaruh serta memiliki gaji bulanan cukup tinggi," kata Shuyi sambil sedikit berbicara fakta karena gaji pemburu iblis lebih tinggi dari gaji kalangan menengah di dunia ini.


"Baiklah, bagaimana dengan adikmu apakah ia akan ikut juga?" Kata Tanjiro, ia tidak dapat membahayakan keduanya karena ia takut tidak dapat melindungi mereka.


"Tenang saja, kakak ku kuat kok. Dia berhasil menebas tiga iblis dengan mudah," kata Layla sambil mengacungkan jempolnya kepada Tanjiro supaya tidak khawatir.


"Kalau begitu, baiklah kita akan pergi bersama," Tanjiro akhirnya menyetujui ajakan mereka.


Lalu, mereka menaiki kereta kuda Shuyi dan bergegas menuju tempat ujian terakhir menjadi pemburu iblis yaitu gunung Fukikasane.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2