
Huhh
Huhhh
Huhh
Suara kecil napas Gadis itu dari mulutnya yang terengah-engah kehabisan nafas, Ia terus berlari tanpa tujuan. Melirik kebelakang, ia melihat beberapa makhluk aneh yang mengeluarkan liur nya dan mengejarnya.
Pupil mata gadis itu mengecil, ia ketakutan, karena terlalu panik, ia tidak melihat jalan dan tidak sengaja jatuh ke tanah.
Bruakk.
Pakaian lusuhnya dan wajahnya menjadi kotor karena terjatuh di tanah, namun ia tidak peduli sekarang. Ia pun mencoba bangkit namun tubuhnya kaku.
Ia tidak bisa menggerakkan nya lagi karena perasaan takut menyelimuti dirinya. Memandang kebelakang ia melihat monster itu semakin dekat dengan dirinya.
"Siapa pun tolong... Tolong," ucap gadis itu dengan gemetar dan keringat dingin mulai mengalir di wajah cantiknya.
"Manusia, kemana kamu akan lari?hahahahaha," Ujar monster aneh itu dengan nada lucu memandang mangsanya yang tidak bisa bergerak lagi.
Jarak gadis kecil itu dengan monster aneh itu sekarang hampir dapat dijangkau oleh tangan.
Segera monster aneh itu menggunakan tangannya untuk menggapai gadis tersebut.
Melihat ini di depannya, hati gadis itu tersebut penuh dengan keputusasaan. Ia menutup matanya dan pasrah dengan keadaan nya saat ini.
Tiba-tiba, sebuah tebasan pedang muncul di detik-detik terakhir menebas tangan monster aneh itu yang hampir sampai di baju gadis kecil.
Monster aneh itu tertegun melihat tangan kanannya dipotong oleh seseorang. Ia melirik sosok yang membawa pedang dan menatapnya dengan kemarahan yang membawa di hatinya.
"Kauuuuuu-" sebelum selesai mengucapkan sesuatu, ia merasa kesakitan yang luas biasa dari tangan kanannya dan menjalar keseluruh tubuhnya.
Tiba-tiba sebuah retakan kecil muncul di kulitnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya disertai rasa sakit yang luar biasa.
"Aaaaaaaaa," teriak monster aneh itu dengan penuh kesakitan, ia berfikir setelah menjadi iblis akan kebal dengan rasa sakit. Namun, ia sekarang merasakan hal yang tidak ingin dia rasakan.
Selang dua detik berlalu, monster aneh itu terbaring ditanah dan tubuhnya mati rasa. Ia akhirnya tidak tahan lagi dan menusuk jantungnya berharap rasa sakit ini mereda.
Namun, bukannya mereda. Ia malah mati begitu saja karena racun yang mematikan dari katana 'murasame'.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya shuyi yang memasukan katana nya kedalam sarung, lalu ia membantu gadis itu berdiri.
"Aaahuuuuuuuuuu, kakak rooo" tiba-tiba mata Gadis itu berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata. Ia memeluk Shuyi dengan sangat erat, takut bahwa ini hanyalah imajinasi nya.
Shuyi yang dipeluk gadis itu merasa kaku, semasa hidupnya, ia tidak pernah memeluk seorang gadis kecuali ibu dan kakak keduanya saja.
__ADS_1
Mendengar gadis itu yang mungkin memanggil namanya di dunia ini membuat Shuyi memiliki tebakan di hatinya.
Tiba-tiba dari kejauhan beberapa iblis muncul dan memandang temannya yang mati karena katana Shuyi.
Gelombang amarah muncul, mereka menatap Shuyi dengan mata merah.
Shuyi yang melihat itu tanpa ragu menggendong gadis tersebut ke punggung nya dan melarikan diri menuju hutan di depan.
Ia tidak ingin melawan monster itu sekarang karena belum mengetahui alur waktu dunia ini.
Ia takut mengacaukan alur lagi dan membuat Masa depan dunia itu berubah dari yang semestinya terjadi.
Bisa saja, bos besar antagonis tidak sengaja lewat dan melihat kekuatan aneh nya ini. Jika itu terjadi, mungkin ia akan diperbudak menjadi iblis ataupun dibunuh.
Tidak ada yang membicarakan keselamatan dihadapan Muzan, mungkin ada pengecualian untuk tanjiro karena dilindungi oleh identitas protagonis.
Mengandalkan system cuek itu? Shuyi lebih baik main aman terlebih dahulu.
Selama misi di dunia akame ga kill, system nya sangat monoton dan tidak dapat diajak berbicara ataupun melakukan sesuatu yang membantunya.
Ia akan berusaha seminim mungkin untuk menggunakan kartunya, mencegah Alur dunia ini tidak bergeser terlalu jauh karena kedatangan nya.
Mungkinkah protagonis dunia ini Kamado Tanjirou akan mati seperti Tatsumi karena kesalahan nya?
Kembali ke cerita, melihat Shuyi pergi dengan gadis tersebut, para iblis lalu mengejarnya dengan sekuat tenaga untuk membalas dendam karena temannya terbunuh.
Shuyi terus lari melewati berbagai pohon dan masuk kedalam Hutan tanpa mempedulikan para iblis yang masih mengejarnya.
"Kakak, kakak. Itu disana ada Goa," tunjuk Gadis itu.
Ia menoleh kearah yang ditunjukkan gadis itu lalu melihat sebuah Goa yang lumayan besar. Terlebih lagi, goa itu berjarak lumayan dekat dengan posisinya saat ini.
Shuyi kemudian menuju Goa itu dengan kecepatan tercepatnya. Setelah tiba, Ia menurunkan gadis itu.
Tiba-tiba kepalanya sangat pusing, ia merasa ada sebuah jarum yang menusuk di kepalanya, Ia kemudian menutup matanya secara tidak sadar.
Badannya hampir kehilangan keseimbangan karena paksaan ingatan yang masuk, namun gadis itu menahan tubuhnya sebisa mungkin untuk tidak jatuh ketanah.
Setelah lima detik, rasa sakit mulai mereda dan menghilang. Ia kemudian membuka matanya dan menatap gadis di depannya ini.
"Layla," suara Shuyi yang dicampur emosi, memeluk tubuh gadis kecil itu dengan erat.
"Ada apa kakak?" Melihat Shuyi yang memeluknya dengan erat, Layla bertanya.
"Tidak apa-apa, maafkan kakak, ya. Karena datang terlambat dan tidak menyelamatkan orang tua kita," ujar Shuyi mengelus kepala kecil Layla Dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak, mungkin ayah dan ibu Senang melihat kita selamat," kata Layla dengan mengusap sedikit air matanya.
Nama tubuh Shuyi di dunia ini adalah Moro, ia mempunyai keluarga yang terdiri dari empat orang yaitu ayah, ibu, dia dan Layla adik kandung nya.
Moro berumur lima belas tahun, ia mengikuti ayahnya untuk menebang kayu di hutan sedangkan adiknya, membantu ibu dirumah.
Moro adalah kakak yang penyayang, ia selalu menuruti permintaan adiknya selama mampu melakukan nya.
Tiba-tiba saat bekerja menebang kayu dengan ayahnya, Moro melihat ekspresi ayah nya yang tiba-tiba cemas.
Moro lalu menyuruh ayahnya pulang terlebih dahulu, mungkin ada sesuatu dirumah yang membutuhkan ayah untuk pulang.
Beberapa saat setelah ayahnya pergi, ia merasa ada yang janggal. Moro pun pulang ke desa. Tiba-tiba, ia melihat pemandangan mengerikan, dimana monster-monster aneh muncul dan memakan manusia.
Moro lalu pergi kerumahnya dan melihat rumah keluarga nya terbakar. Ia tidak masuk kedalam karena apinya sangat besar, ia hanya berdiam diri disana seperti orang bodoh.
Ia merasa segaak sesuatu terjadi begitu cepat, membuat Moro sulit menerima fakta ini.
"Yah, kakak berjanji akan mencari orang tua kita beberapa Minggu kedepannya. Mungkin orang tua kita sekarang sedang bersembunyi," Ujar Shuyi kepada adiknya.
"Sekarang, Kamu disini terlebih dahulu. Kakak akan melawan iblis itu ya~~," lanjutnya.
Ia kemudian mengambil katana 'murasame'yang terjatuh ditanah dan melangkah pergi.
Setelah beberapa saat melangkah, ia mendengar Suara teriakan Layla dari Goa.
"Kakak, jangan mati. Layla tidak ingin sendirian ditinggal."
"Tentu."
Shuyi tersenyum senang, ia merasa ada kehangatan yang mengalir di dalam hatinya. Lalu ia melambaikan tangannya, dan berjalan menuju beberapa Iblis yang akan sampai ditempat nya.
Ia mengeluarkan katana 'murasame'dari Sarungnya, melihat bilah mengkilap katana nya, ia memandang beberapa iblis yang sudah terlihat di depan matanya.
"Nahhh, karena kalian membuat adikku sedih, maka kalian harus merasakan akibatnya."
Swoshhhhh
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1