
Bulan purnama yang terang karena pantulan cahaya matahari, dengan ditemani oleh ribuan bintang di langit menghiasi suasana tengah malam yang sangat dingin.
Seorang pemuda berpakaian seperti murid sekte ternama sedang tertidur bersandar pohon di dalam hutan.
Sedangkan di depannya terlihat gadis yang cantik sedang duduk di depan api unggun untuk menghangatkan tubuh.
Gadis itu sesekali melirik sekitar untuk melihat apakah ada bahaya yang mendekat.
Tiba-tiba ia menguap karena ngantuk, matanya berkaca-kaca dan ekspresi lelah terlihat dari wajah gadis tersebut.
Ia ingin sekali berisitirahat tetapi waktu gantian berjaga masih lama.
Srekkk..
Mendengar sesuatu, secara reflek gadis tersebut mengambil satu kayu dari api unggun dan melemparkannya kesumber suara.
Merasa ada sesuatu yang mencurigakan, gadis tersebut berdiri dan mendekati semak-semak itu.
Saat ingin menyentuh semak, tiba-tiba pandangan nya menjadi sangat aneh. Ia merasa sekarang kepalanya terbang ke udara dan ia dapat melihat tubuhnya dengan jelas.
Namun, ia merasa ketakutan yang luar biasa karena melihat tubuhnya tanpa kepala saat ini.
Saat kepala gadis itu terjatuh tanah, sosok makhluk mengerikan dengan banyak tentakel muncul, ia kemudian menyeret kepala dan tubuh gadis tersebut ke dalam kegelapan.
Entah apa yang dilakukan monster itu dengan tentakelnya kepada tubuh gadis tersebut.
_______
Pagi hari yang cerah, Shuyi bangun dari tidurnya. Lalu meregangkan tubuhnya sebentar dan turun dari tempat tidur.
Ia membuka jendela kamarnya dan melihat seekor burung kecil yang sedang berkicau kepada burung lainnya di samping.
shuyi yang melihat itu mengabaikannya. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu, ia keluar kamar, pergi menuju kamar utama tempat ayah dan ibunya tidur.
__ADS_1
Setelah sampai, ia mengetuk pintu dan melangkah kedalam.
Disana ia melihat ibunya yang selalu cantik bersandar di dinding dan mengelus kepala ayah yang berbaring dipangkuan nya.
Melihat Shuyi masuk, Ibunya menoleh dan tersenyum melambaikan tangan. Seperti sudah tahu maksud kedatangan anaknya, ibunya menunjuk Meja tempat ia merias wajah. Disana sudah ada kantong yang berisi uang jajan nya sehari.
Shuyi mengambilnya dan pergi keluar begitu saja, takut menganggu kemesraan mereka berdua.
Menyimpan kantong uang kedalam saku, ia berjalan keluar Gerbang dan menuju tempat biasa nya ia membeli sarapan pagi.
Setelah beberapa saat berjalan, ia sampai ditempat tujuannya. Disana, ia melihat seorang gadis kecil berumur sembilan tahun sedang berjualan bubur.
"Aku pesan seperti biasa, Yin'er," kata Shuyi yang sedang duduk di kursi memandang Gadis kecil tersebut yang sedang melayani pelanggan.
"Ya, kakak. Sebentar," ucap gadis tersebut yang menoleh kearahnya dan senyum manis.
Beberapa saat kemudian, gadis tersebut membuat pesanan Shuyi dan mengantarkan ke mejanya.
Ia kemudian mengusap keringat diwajahnya menggunakan lap dan duduk di depan Shuyi untuk beristirahat karena kelelahan melayani pelanggan.
"Seperti biasa, ini enak," Shuyi tersenyum dan mengacungkan jempolnya ke Yin'er.
"Terima kasih, kak, " kata Yin'er yang berdiri dan bersiap untuk berjualan lagi karena ada pelanggan datang.
Melihat Yin'er yang bekerja keras di usia muda membuat Shuyi tersenyum mengagumi sosok gadis tersebut.
Setelah lima menit berlalu, Ia telah menghabiskan makanan nya. Mengambil uang dari kantong dan meletakkan nya di meja, lalu beranjak pergi ke tujuan selanjutnya.
Beberapa saat berjalan, ia merasa ada seseorang yang mengikuti nya. Ia berhenti dan menoleh kebelakang tetapi tidak melihat siapapun disana.
'mau main kejar-kejaran?' batin Shuyi yang merasa ini adalah ide bagus untuk berolahraga setelah sarapan pagi.
Ia kemudian berjalan dengan sangat cepat dan berputar-putar di beberapa gang kota Awan untuk menyesatkan orang yang mengikuti nya.
Setelah melihat tidak ada perasaan yang mengawasi nya, ia keluar kota Awan dan pergi menuju bukit belakang tempat ia biasa bermain.
__ADS_1
Setelah sampai, ia melompat keatas ranting pohon dan duduk bersandar sambil menikmati pemandangan kota Awan yang ada didepannya ini.
"System, bagaimana cara mendapatkan poin? " Tanya Shuyi.
[ Kriteria mendapatkan poin di setiap dunia berbeda. ]
Mendengar suara elektronik dan tanpa emosi itu, membuat Shuyi termenung dan berfikir. Namun, seberapa keras ia berfikir tetap tidak paham dengan maksud Dari system.
"Maksudmu? Aku tidak paham," tanya Shuyi Dengan wajah kebingungan.
[......]
Melihat tidak ada Jawaban dari system, membuat Shuyi merasa sedikit tidak puas di harinya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Biarlah waktu yang mengungkap segalanya. Pikir Shuyi di dalam hati.
Setelah puas menikmati pemandangan, Shuyi Turun dari Pohon dan mengambil katana 'murasame' nya.
Ia kemudian mengeluarkan katana 'murasame' dari Sarungnya. mengepalkan tangan kanannya yang memegang katana, lalu menebas udara dengan kekuatan penuh.
Swoshhhh
Gesekan antara bilah pedang dengan udara membuat bunyi yang merdu.
Setelah menebas, Shuyi merasa tidak puas dengan kekuatan nya saat ini. Ia merasa belum mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya dari katana yang dipegangnya saat ini
Shuyi juga belum mahir dalam berpedang. Jadi ia memutuskan untuk berlatih pedang selama beberapa hari di bukit belakang kota Awan ini.
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1