System Anime Di Dunia Kultivator.

System Anime Di Dunia Kultivator.
bangunan hancur!!


__ADS_3

" lebih cepat nona, kita akan segera sampai ke gudang."


Suara seorang prajurit yang membawa obor menerangi gelapnya malam, membawa seorang gadis bangsawan menjauh dari mansion.


Ekspresi Gadis itu terlihat sangat sangat cemas, ia mengepalkan tangannya dengan sangat keras hingga berdarah sambil berlari melewati beberapa pohon rindang yang gelap.


"Dimana ayah dan ibu?" Tanya Aria Dengan nafas terputus-putus karena tidak kuat.


"Nyonya, dan tuan sedang dikawal oleh orang lain," jawab Prajurit itu dengan menoleh ke sekitar, mencari tahu apakah ada sesuatu yang mengikuti mereka.


Saat mereka istirahat sejenak, tiba-tiba sebuah suara muncul dari semak-semak terdekat. Prajurit itu langsung mengarahkan obornya ke dekat semak itu untuk penerangan.


Ia berdiri di depan Aria dan memandang semak-semak itu. " Siapa itu, muncul lah, Jangan bersembunyi."


Mendengar suara prajurit, tiba-tiba sesosok manusia muncul dari kegelapan, ia berjalan maju dan terlihat seorang pemuda dengan jaket coklat, rambut coklat serta pedang di pinggangnya.


Tatsumi! Seru Aria setelah mengetahui sosok di depannya ini.


"Akhirnya tersusul juga," ujar Tatsumi dengan tergesa-gesa, ia mengusap keringat yang ada di wajahnya.


"Bagaimana kamu sampai disini?" Tanya prajurit yang penasaran.


"Aku melihat cahaya obor yang semakin menjauh, lalu aku mengejarnya," jawab Tatsumi sambil memandang sekitar yang gelap gulita. " Kemana kita pergi?"


"Kita akan ke gudang, di sana mungkin tempat yang baik untuk persembunyian, menunggu tentara patroli kekaisaran datang," ujar prajurit yang mulai berjalan diikuti dengan Aria dan Tatsumi dibelakang.


Beberapa saat, mereka akhirnya telah mencapai pohon terakhir. Disana mereka melihat gudang kayu yang gelap dan kumuh.


"Ayo kita pergi."


Saat melangkah, tiba-tiba seorang gadis muncul menghadang mereka bertiga melangkah.


"Apa yang-"


"Night raid!!!" Seru keras prajurit Dengan Tatsumi mengenal sosok gadis didepannya.


Gadis itu memiliki rambut hitam panjang dan memiliki poni yang hampir menutupi dahinya. Ia memakai kemeja tanpa lengan dan berdasi, dengan katana yang terlihat di tangan kanannya siap menebas siapapun.

__ADS_1


Hawa dingin mulai menjalar keseluruhan tubuh mereka bertiga yang hanya melihat mata tanpa tanpa emosi Akame yang memandang mereka seperti benda mati.


Dengan keringat dingin dan perasaan takut, Tatsumi mengeluarkan pedangnya dari sarung. " Kalian berdua pergi terlebih dahulu, sekarang aku akan menghadangnya untuk menunda waktu."


"Terima kasih," jawab Aria yang memiliki mata berkaca-kaca memandang Tatsumi yang siap menghadang Akame.


Prajurit dan Aria langsung berbalik, mengambil jalur memutar untuk sampai ke Gudang. Saat berlari terlihat senyum tipis di wajah Aria yang memikirkan tindakan Tatsumi.


" Apa yang kau lakukan disini," tanya Tatsumi yang mencoba mengulur waktu dengan berbincang dengan Akame.


"Kau bukan target," Sebuah kata tanpa emosi Akame menatap Tatsumi. Ia langsung melesat melewati Tatsumi dengan mudah lalu mengejar Aria dan prajurit yang melarikan diri.


" Tunggu, sial," melihat Akame dapat melewati nya dengan mudah membuat Tatsumi mendecak lidahnya, ia segera mengejar Akame.


_____


Di luar kamar Aria, terlihat seorang pemuda yang menundukkan kepalanya memandang wanita dibawahnya.


Wanita itu berbaring di tanah, dengan pupil mata yang mengecil seperti ketakutan. Tubuh nya bergetar hebat serta tangannya tidak dapat memegang senjata nya yaitu gunting besar.


" Apakah ini batas mu?" Kata Shuyi dengan nada rendah tetapi dapat terdengar di telinga Shelee.


"Cih, lemah."


Shuyi mengambil gunting besar dari tangan Shelee dengan sangat mudah, ia mengibas-baskan gunting itu di udara. Setelah beberapa saat, ia kehilangan minatnya dengan senjata itu.


Ia melempar senjata itu ke pojok ruangan dan melirik pintu yang tidak jauh dari sana. "Kenapa tidak keluar, Leone."


Mendengar suara Shuyi, pintu segera terbuka. Terlihat Leone yang memandang Shuyi dengan sangat waspada. " Bagaimana kamu menemukan ku?"


" Dengan benda ini," Shuyi mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya dan menunjukkan nya kearah Leone.


"Sebuah kartu?" Leone memiringkan kepalanya dan bingung dengan perkataan Shuyi.


Tanpa menjelaskan, Shuyi melesat kearah Leone dengan sangat cepat, mengepalkan tangan kanan nya dan meninju wajah Leone dengan sangat keras.


Bammmmm...

__ADS_1


Leone tidak sempat menghindari pukulan Shuyi dan ia terlempar jauh kebelakang menabrak dinding hingga retak.


Belum sempat bernafas, Leone di bormbardir pukulan oleh Shuyi tanpa henti. Ia merasakan sakit yang luas biasa disekujur badan nya.


Dinding-dinding kamar hancur dan mansion seperti bergetar hebat karena ulah mereka berdua.


Bommmm


Akhirnya Leone menembus dinding terakhir mansion itu dan terlempar keluar. Bangunan mansion yang awalnya berdiri kokoh sekarang seperti termakan rayap dari dalam. Semuanya didalam hancur.


"Lihat itu," dari atas Lubbock menunjuk Leone yang terlempar dari dalam mansion hingga menabrak pohon.


" Astaga," kata Mine yang terkejut.


Dari bekas Leone menembus dinding, terlihat Shuyi yang berjalan keluar dengan santai. Saat berjalan keluar, seluruh bangunan mansion rubuh seketika.


Ia menepuk bahunya seperti membersihkan debu, dan lanjut menuju Leone.


Mine dan Lubbock yang melihat itu langsung memiliki ekspresi horor, mereka segera turun dan berdiri di depan Leone yang tidak sadar diri karena tidak tahan dijadikan samsak tinju Shuyi.


Tanpa pikir panjang, Mine dengan sniper cahaya nya, membidik Shuyi. Sedangkan Lubbock, dengan menggunakan benang nya, ia membuat jaring yang mengelilingi mereka bertiga untuk upaya bertahan.


Shuyi dengan mudah dapat menghindari serangan dari Mine, di saat menghindar ia mengeluarkan tiga kartu sari sakunya. Ketiga Kartu itu mulai bersinar terang dan perlahan menghilang dari udara tipis.


[ Anda telah menggunakan kartu 'cakra angin' ]


[ Anda telah menggunakan 'shuriken' ]


[ Anda telah menggunakan kartu 'fuuton : kagebunshin' ]


Tiba-tiba setelah tiga kartu menghilang, di tangan kanannya muncul sebuah shuriken. Ia melemparkannya kearah mereka bertiga. Lalu, kedua tangannya membentuk sebuah segel.


"Fuuton: Shuriken kagebunshin."


Di udara Shuriken yang awalnya Shuyi melempar hanya satu, sekarang menjadi sangat banyak.


Mine dan Lubbock yang menyaksikan itu menjadi ngeri, mereka segera menarik tubuh Leone untuk bersembunyi. Tapi sayangnya, tubuh Leone sangat berat hingga mereka tidak bisa menariknya.

__ADS_1


Puluhan Shuriken semakin dekat dan mereka tidak bisa menghindari. Mine dan Lubbock kemudian menutup mata berharap ada seseorang yang menolong mereka saat ini.


.


__ADS_2