
Tit...
Tit...
Tit...
Sebuah layar monitor yang dinamakan elektrokardiograf sedang memberikan laporan. Layar monitor alat tersebut menandakan detak jantung manusia berjalan normal.
Seorang gadis kecil melihat layar itu tersenyum sumringah. Ia tidak menyangka wanita yang berbaring di atas brangkar menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Seorang dokter yang sedang menangani wanita itu tersenyum sumringah. Ia tidak menyangka kalau sang pasien sudah memiliki tanda-tanda kehidupan baru. Ia wanita itu sambil berkata dalam hati, "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Keajaiban yang di kutunggu-tunggu telah tiba. Selamat datang kembali. Akhirnya kamu memiliki tanda-tanda kehidupan kembali."
Seorang gadis kecil yang tidak sengaja melihat sang dokter tersenyum segera mendekatinya. Gadis kecil itu menatap wajah sang dokter dengan mengangkat wajahnya. Gadis kecil itu bertanya, "Bu dokter... Apakah ibuku baik-baik saja?"
Sambil tersenyum dokter membungkukkan badannya dan menggendong gadis kecil itu. Ia lalu memberitahukan kalau sang ibu baik-baik saja.
Sonia berusaha membuka mata. Lalu Sonia memutar bola mata hingga mengelilingi ruangan nampak serba putih. Ia tidak sengaja melihat sang dokter dan alat-alat medis yang sedang dipasang di tubuhnya.
Sontak saja Sonia sangat kaget. Ia hampir saja loncat dari ranjang. Matanya tidak sengaja menangkap gadis kecil yang berada di dalam gendongan sang dokter. Lalu ia bertanya, "Aku berada di mana?"
Tidak sengaja sang dokter melihat sang pasien sudah sadar. Ia lalu menurunkan gadis kecil itu sambil membisiki sesuatu, "Duduk di sofa terlebih dahulu. Nanti ibu akan memberitahukan bagaimana keadaan ibumu."
Gadis kecil itu menuruti keinginan sang dokter. Ia menuju ke sofa dan duduk dengan tenang. Matanya mengikuti tangan dokter sedang memeriksaku. Sedangkan Sonia sendiri bingung. Jujur ia tidak tahu bagaimana bisa sampai sini.
Dengan cepat dokter itu mengambil kesimpulan dan tersenyum. Sementara Sonia yang baru sadar mengerutkan keningnya. Ia semakin bingung sambil bertanya, "Ini di mana ya?"
"Nyonya sekarang berada di ruang perawatan," jawab dokter itu.
"Mana mungkin aku berada di ruang perawatan? Bukankah aku sekarang berada di dalam kantorku?" tanya Sonia. "Sebentar. Siapa nama dokter?"
"Nama saya Martha. Ah... iya... itu tidak benar nyonya. Anda sudah berada di kamar ini kurang lebih setahun yang lalu," jawab Martha nama sang dokter.
__ADS_1
Sontak saja Sonia terkejut. Ia tidak menyangka kalau dirinya berada di ruang perawatan. Ia pun bingung dan mengingat kejadian yang melintas di pikirannya.
"Bukannya aku sedang di ruangan meeting bersama klien?" tanya Sonia.
"Tidak nyonya. Anda berada di ruang perawatan ini," jawab Dr. Martha dengan jawaban yang sama.
Seketika Sonia terdiam. Para suster yang sedang bertugas membantu merawat Sonia menyatakan hal yang sama. Ia tertegun mendapat jawaban seperti itu.
"Ini rasanya tidak mungkin.Seharusnya aku berada di ruangan meeting bersama klien lain. Kenapa tiba-tiba saja aku di ruangan ini?" tanya Sonia dalam hati.
"Ibu... Ibu," panggil gadis kecil itu sambil mendekatiku.
Mata Sonia membola sempurna. Kenapa bisa gadis kecil itu memanggil dirinya ibu? Seharusnya Sonia belum memiliki seorang anak. Dari mana anak itu muncul secara tiba-tiba seperti ini?
Setelah diperiksa Dr. Martha mengatakan kalau Sonia baik-baik saja. Besok pagi alat-alat medis akan dilepaskan. Keadaan Sonia sangat normal. Bahkan ia mulai menggerakkan tangannya perlahan-lahan.
Sonia tidak sengaja melihat tubuhnya berubah. Sekarang tubuhnya menjadi kecil, mungil dan imut. Di titik inilah Sonia menjadi bingung.
Dokter mengangkat tubuh gadis mungil itu untuk duduk di atas brangkar bersamaku. Lalu Sonia melihat wajah gadis kecil itu. Wajah gadis kecil itu sangat lucu dan menggemaskan. Sonia tidak tahu nama gadis kecil itu. Ingin bertanya Sonia belum bisa.
Hatinya merasa tergerak dan mencoba memegang tangan mungil itu. Lalu Sonia melebarkan senyum manis untuk gadis kecil itu. Gadis kecil itu membalasnya dan membungkukkan badannya memeluk tubuh Sonia.
Tangis gadis kecil itu pecah. Ia meminta Sonia untuk tidak pergi lagi. Sonia semakin bingung. Kenapa gadis kecil ini menangis? Sonia juga tidak mengenalnya. Tapi gadis kecil ini selalu memanggilnya ibu. Di sinilah banyak kejanggalan di dalam hidup Sonia.
Dengan cepat Sonia berusaha untuk menenangkannya. Lalu ia berkata jangan menangis lagi. Ibu akan selalu bersamamu. Biasanya Sonia tidak seperti ini. Jujur ia tidak menyukai anak kecil.
Namun gadis kecil ini mencoba merayu Sonia. Ia mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis. Terlihat jelas di wajahnya gadis kecil ini berusaha untuk memanggil Sonia ibu dengan terisak. Sungguh ia tidak bisa mengatakannya lagi.
Setelah Sonia pikir dari tadi. Ia baru sadar kalau dirinya terjebak dalam tubuh wanita mungil. Mungkinkah wanita mungil Ini adalah ibu gadis kecil itu? Kenapa Sonia bisa terjebak di dalam tubuh wanita ini.
"Jujur aku masih mencari jawaban ini. Aku harus mencarinya. Jika aku menemukan tubuhku. Aku ingin kembali ke sana dan melanjutkan hidup sebagai wanita karir," ucap Sonia dalam hati.
__ADS_1
Salah satu suster mendekati Sonia sambil merentangkan kedua tangannya. Suster itu menatap wajah gadis kecil itu sambil berkata. "Sekarang sudah malam ya sayang. Lebih baik kamu tidur. Besok kamu harus sekolah."
Gadis kecil itu menuruti keinginan sang suster. Gadis kecil itu langsung berhamburan ke dalam pelukan sang suster itu. Sebelum pergi ia berpamitan kepadaku untuk meminta izin tidur. Akhirnya Sonia mengizinkannya dengan senyuman yang merekah.
Dokter Martha dan beberapa suster di sana berpamitan untuk keluar. Ketika Sonia ingin bertanya sesuatu sang dokter itu hanya tersenyum manis. Mereka langsung pergi meninggalkan ruangan perawatan.
Melihat gadis kecil itu tertidur, Sonia tersenyum manis. Ia melihat malaikat kecil itu yang tidak memiliki beban sama sekali.
Ketika otak Sonia teringat lagi dengan peristiwa terakhir dalam hidup. Ia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. Lalu ia menutup mataku dan terlihat jelas peristiwa itu.
"Apakah aku mati tertemper kereta?" tanya Sonia dalam hati.
Malam bergulir begitu cepatnya. Hingga tidak terasa waktu berganti pagi. Sonia melihat di sekeliling ruangan itu. Sonia melihat ada sepasang suami istri yang berada di di hadapannya. Sepertinya usia mereka tidak jauh berbeda. Sonia rasa orang itu sedikit lebih tua darinya. Ah... siapa lagi itu? Hidup Sonia seperti hidup seperti orang asing di sini.
"Hi... Dek Mila," sapa wanita itu.
"Mila," ucap Sonia dalam hati sambil mengerutkan kening.
"Syukurlah kamu sudah sembuh," ucap pria yang berada di samping wanita tersebut.
"Kalian siapa?" tanya Sonia.
"Kamu enggak mengenalku?" tanya wanita itu.
"Nggak," jawab Sonia dengan jujur.
"Mungkin ini dinamakan oleh efek koma selama setahun lebih," bisik pria itu.
Mata Sonia membulat sempurna. Bagaimana bisa pria tidak tahu malu itu mengatakan efek koma terlalu lama? Memang Sonia tidak mengenalnya. Ingin rasanya ia melemparkan pria itu ke sumur.
"Kalian siapa ya?" tanya Sonia.
__ADS_1