
"Aku baik-baik saja," jawabku.
""Kapan kamu akan pulang dari sini?" tanya Fillian sambil menghempaskan bokongnya di kursi.
"Selesai Giska pergi meninggalkan aku. Aku akan pergi meninggalkan rumah sakit ini. Kak Rosita sudah membelikan rumah kecil di ujung jalan sama," jawabku yang tidak mau berlama-lama.
Sedari dulu aku memang tidak ingin berlama-lama di rumah sakit. Aku sering memutuskan untuk rawat jalan. Mungkin saja saat itu imunku kuat. tapi bagaimana dengan tubuhku ini? Sampai detik ini aku masih ragu dengan tubuh kecilku.
"Rumah kamu sudah dijual untuk menebus perawatan kamu. Apa yang kamu miliki sekarang sudah tidak bersisa," ucap Fillian.
"Aku tahu itu," sahutku sambil menutup tasnya Giska. "Setelah ini aku akan berjuang untuk menghidupi Giska."
"Apakah kamu tidak kerja?" tanyaku. "Perasaanku kamu selalu bersama Giska."
"Kamu lupa. Jika sebelum terjadi kecelakaan itu. kamu memintaku untuk menjaga Giska?" tanya Fillian.
Mataku membulat sempurna. Bagaimana aku bisa membuat janji seperti itu. AKu ingin menampiknya saja. Tapi itu tidak mungkin. Kemungkinan besar sebelum ada aku, Sabang pemilik tubuh ini sudah meminta Fillian untuk menjaga Giska.
Setelah itu aku mulai membantu Giska. Pelan-pelan aku memiliki banyak ilmu sedikit demi sedikit merawat seorang anak.
Tepat pilih 07.00 pagi Giska meminta izin ke aku untuk berangkat ke sekolah. Sengaja aku tidak mengantarkannya ke sekolah. Sebab hari ini aku harus membereskan semua barang-barang milikku dan Giska.
__ADS_1
Selesai membereskan pakaianku, aku mulai keluar dari kamar perawatan. Entah kenapa aku merasakan ada yang aneh. Aku merasakan hidup di masa depan. Yang di mana semua orang sudah memiliki sistem keamanan di dalam tubuhnya.
Entah apa itu namanya. Aku pernah membaca artikel itu di beberapa berita berada di internet.
Para profesor berbondong-bondong memasukkan sistem keamanan itu di dalam bayi yang baru lahir. Bahkan mereka menciptakan alat itu dengan sangat canggih namun imut.
Alat itu sengaja ditanam di dalam tubuhnya. Dengan adanya alat itu, manusia lebih mudah mengakses seluruh informasi melalui telapak tangannya. Mereka juga tidak perlu membeli koran demi membaca informasi.
Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Bisa-bisanya aku bisa nyasar ke tahun 2850. sementara aku hidup saat itu di tahun 2023. Ah... rasanya itu tidak mungkin.
Aku mempercepat langkahku agar bisa keluar. Sesampainya di sana aku melihat dunia sangat berbeda. Banyak sekali kendaraan-kendaraan bisa terbang rendah. Sementara di jalan raya, tidak macet sama sekali. Bahkan area parkir di sekitar rumah sakit tidak ada. Aku mulai bingung. Di mana mereka menyimpan mobil-mobil pribadinya? Menurutku ini sungguh keren sekali.
Seketika ada sebuah mobil mewah baru saja mendarat. Sang pemilik keluar dari mobil. Lalu ia mengambil ponselnya dan mengarahkan ke mobil itu. yang aku heran adalah mobil itu bisa mengecil. Saking kecilnya sang pemilik mengambil mobil itu dan menaruhnya di kantong celananya.
Aku memutuskan untuk berjalan menuju ke ujung jalan. Aku mencari keberadaan rumah kecil dan mungil itu. Sungguh aku sangat bahagia sekali. Aku tidak pernah merasakan adanya kemacetan para seperti dulu. Polusi udara yang membuat aku pusing sudah tidak ada.
Ketika melewati papan nama mataku melotot. Ternyata jalanan yang lenggang dan sepi ini ditujukan untuk para pejalan kaki. Namun pagi ini tidak ada yang berjalan kaki dengan santai sepertiku. Kemungkinan, jam ini adalah jam sibuk.
Tidak sengaja aku menemukan sebuah rumah yang dimaksud Rosita. Aku bingung melihat rumah itu. Depannya kecil dan tidak terurus. Hingga akhirnya aku membuka pintu. Tapi aku tidak bisa membukanya memakai kunci yang diberikan olehnya. Aku mencoba mengingat apa kata Rosita. Akhirnya Rosita berkata jujur. kalau rumah ini di kunci dengan kode rahasia. Ini sangat merepotkan sekali bagiku.
Dengan terpaksa aku mengingat kode itu. Yaitu tanggal lahir sang pemilik tubuh ini. Setelah itu aku baru dapat membuka pintu itu.
__ADS_1
Jadi aku tersesat di tahun dia ribu delapan ratus lima puluh? Semakin lama teknologi semakin canggih. Sebelum masuk ke dalam aku tidak sengaja beberapa mobil melayang di atas rumahku. Namun anehnya mobil itu tidak memiliki suara apapun. Apakah mobil itu tidak memiliki mesin?
Sepertinya tidak. Aku tidak terlalu memikirkan masalah itu. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya rumah ini sangat kotor. Aku teringat tentang Rosita. Ternyata rumah ini sangat murah sekali. Bentuk rumah itu sangat kuno. Bahkan aku bisa menyebutnya rumah jadul.
Rumah ini pernah jaya di tahun 2000an. Entah kenapa rumah itu bisa menyasar ke sini. Apakah ini hasil halusinasiku? Sepertinya aku tidak perlu memikirkan itu.
Ketimbang bergulat dengan hati, aku memutuskan untuk menyimpan koper itu di kamarku. Aku harus membersihkan rumah ini sebelum Giska datang.
Untung saja Rosita meninggalkan satu alat canggih di sana. Seperti vacum cleaner yang bisa bekerja sendiri. Ya... itu saja yang ditinggalkan olehnya. Aku tersenyum manis dan sangat beruntung sekali.
Meski begitu aku tetap membersihkan dengan caranya memegangnya. Inikah yang dinamakan single parents yang hidup sendiri tanpa ada siapapun?
Wait, aku kok lebih bahagia di sini? Padahal di sini aku hidup sendiri di jaman ini sama jaman dulu? Entahlah.
Tepat jam 12.00 aku sudah menyelesaikan semua tempat itu hingga bersih. Aku sangat lega bisa membuat rumah ini menjadi normal kembali. Sudah saatnya aku memasak. Aku pergi ke dapur dan melihat kulkas mungil yang berada di atas meja.
Apalagi ini? Apakah Rosita tidak tahu kalau kulkas ini hanya mainan. Jika Giska tahu, ini kulkas bisa dibuat mainan. Ditambah dengan desainnya seperti belah ketupat. kakinya hanya dua. Satu di depan sama satu di belakang. Apakah ini yang dinamakan alat canggih? Ah... sudahlah. Aku tidak mengerti.
Sebelum membuka kulkas itu aku melihat beberapa lembar kertas atas meja. Aku mengambilnya dan membacanya. mataku membulat sempurna dan menuju ke kulkas. Aku sengaja menaruh kulkas itu di bawah. Tinggal memegang tombol di samping kanan, kulkas itu berubah menjadi besar. Di catatan itu tertulis, Rosita bersama sang suami membelikan barang-barang baru. Namun keluaran yang lama sekitar lima tahun belakang ini.
Aku bisa menerima keadaan ini. Aku juga tidak ingin menuntut apa-apa ke Rosita. Aku memang tersasar ke abad ini. Aku mulai menaruh kulkas itu di bawah sambil menekan tombol power tersebut. Akhirnya aku melihat kulkas itu menjadi besar. Ada-ada saja kelakuan orang sekarang. Bisa membuat barang besar menjadi kecil. Bagaimana jadinya itu kulkas dibawa liburan ke pantai? Pasti sangat mengasyikkan.
__ADS_1
Bagaimana dengan tabungan yang dimiliki sang pemilik tubuh ini?