
BAB 6
"Caranya kamu bisa mengakses suatu aplikasi. Yang di mana aplikasi tersebut adalah suatu orderan harus kamu kerjakan. Nama aplikasinya adalah merawat anak usia nol hingga sepuluh tahun ke depan," jawabnya.
"Apakah itu sejenis ojek online? Yang di mana aplikasi itu pernah menjamur di masa aku," ucapku.
"Hmmmp... yupz... aku kira kamu melupakan masa lalumu," ledeknya.
"Aku enggak lupa masa laluku. Aku sangat merindukannya," ujarku dengan serius.
"Jangan sedih. di tahun ini kamu bisa merasakan alat-alat canggih yang tidak bisa kamu temui," ucapnya. "Bahkan kamu menemukan banyak robot."
Gara-gara robot Aku mengingat masa lalu. Yang di mana masa lalu itu menjelaskan. Akan ada suatu saat nanti di masa depan dipenuhi oleh robot buatan manusia.
"Aku jadi teringat akan sebuah artikel. Yang di mana artikel itu di masa sekarang banyak robot-robot hidup di dunia ini. Mereka merajalela di mana-mana. Mereka bisa menggantikan pekerjaan manusia dengan mudah," jelasku.
"Ada satu pekerjaan yang tidak bisa mereka lakukan," ucapnya.
"Pekerjaan Apa itu?" tanyaku.
"Menjadi baby sitter alias merawat seorang anak," jawabnya yang membuatku terkejut.
"Rasanya itu benar," kataku.
"Itu benar. Mereka memiliki anak dan bekerja di perusahaan dengan gaji yang besar. Mereka menitipkan anak-anaknya di rumah agar bisa tetap terawat. Namun yang merawat mereka bukanlah manusia asli. Dia adalah robot. Manusia-manusia itu mengeluh akan kinerja sang robot ketika merawat anak-anaknya. Bisa dikatakan robot tidak bisa merawat anak-anak," jelasnya.
"Bagaimana mereka bisa merasakan? Jika mereka adalah mesin buatan manusia itu sendiri? Dia tidak bisa merasakan sakit, bahagia ataupun tersenyum. Bahkan mereka juga tidak memiliki hati sedikitpun," tambahku.
"Itu benar. Yang dibutuhkan adalah rumah selalu bersih dan rapi. Tidak ada debu yang menempel di ruangan. Intinya suruh pekerjaan rumah bisa dilakukan oleh robot," sambungnya.
__ADS_1
"Aku harus ngapain?" tanyaku.
"Kamu bisa membaca peraturannya di sana. Kamu harus siap jika mereka membutuhkanmu di setiap saat," jawabnya. "Waktu berkunjung ke dunia ini sudah habis. Aku harus kembali untuk memberikan berkah kepada orang lain lagi."
Aku menganggukkan kepalaku dan menyuruhnya pergi dari sini. Sebab pekerjaanku belum selesai sama sekali. Setelah pergi aku masih belum mempercayainya. Yang di mana sang malaikat membawa ponsel. Dan benda BB itu berada di mejaku.
"Mana ada sih malaikat dari surga pergi ke bumi membawa ponsel?" tanyaku dalam hati.
"Di surga ada semuanya termasuk ponsel canggih yang sedang kamu pegang itu," sahutnya meski si Tejo sudah tidak ada di hadapanku.
"Kenapa dia bisa menyahut? Padahal dia kembali ke surga?" tanyaku dalam hati.
"Meskipun kamu menggerutu seperti itu. Aku masih bisa mendengarnya. Karena kamu adalah tanggung jawabku. Yang di mana selalu melindungi kamu di dalam bahaya. Itulah tugasku," jawabnya.
"Terserah apa katamu," sahutku.
Kenapa manusia menciptakan robot? Padahal manusia sendiri itu bisa melakukan sesuatu. Pekerjaan ringan maupun berat manusia itu bisa mengerjakannya. Kalau seperti ini manusia akan punah dengan sendirinya.
"Memang manusia itu akan punah. Karena bumi ini akan digantikan oleh robot," ucapnya.
Yang dikatakan oleh Tejo itu benar. Meskipun dia tidak ada di hadapanku. Dia selalu menyahuti perkataanku.
Di luar nalar manusia sendiri sudah memiliki malaikat pendamping selama hidupnya. Malaikat itu akan membimbing menjadi manusia yang baik. Bahkan melindunginya dari bahaya apapun.
Ketimbang memikirkan hal yang lebih jauh lagi. Aku akan berusaha untuk mencari pekerjaan normal. Jujur aku ingin bekerja di tempat yang bisa menerimaku sebagai karyawan. Uang tabunganku sudah mulai menipis. Seluruh harga-harga di sini menurutku tidak masuk akal.
Kalau aku diam-diaman seperti ini. Bagaimana nasib Giska selanjutnya? Dia sedang berada di masa pertumbuhan. Aku harus memberikan nutrisi yang lengkap untuk mendukung pertumbuhannya itu.
Siang ini Giska belum pulang sama sekali. Aku mulai bersiap-siap untuk mencari pekerjaan. Aku sudah membuat surat lamaran memakai tulisan tangan. Mudah-mudahan saja aku bisa menemukan pekerjaan tersebut. Aku harus semangat untuk menjalani hidup ini.
__ADS_1
Aku mulai berangkat berjalan kaki. Lalu aku menyusuri setiap jalan. Agar aku bisa menemukan lowongan kosong. Di sana, aku mulai memasuki pusat perbelanjaan. Di sana yang mengerjakan tugas-tugasnya kebanyakan robot. Yang beli orangnya tanpa banyak bicara sedikitpun. Aku mulai heran dan memasuki beberapa toko. Namun mereka langsung menolakku. Padahal yang aku bawa adalah ijazah ketika kuliah dulu.
Namun sampai saat ini tidak ada satupun tokoh-tokoh yang mau menerima aku. Dengan terpaksa aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku teringat akan Giska. Aku mulai berlari kecil dan keluar dari pusat perbelanjaan itu.
Aku berlari kecil hingga sampai ke rumah. Di saat berlari otakku mulai berpikir. Otakku mulai mengingat dengan perkataan si malaikat yang bernama Tejo itu. Apakah bisa aku mengambil pekerjaan tersebut?
Sesampainya di rumah benar saja Giska sudah duduk di depan. Aku mendekati Giska dan memeluknya. Entah kenapa wajahnya sangat murung sekali.
"Kamu kenapa pulang-pulang wajahmu sangat jelek seperti itu?" tanyaku.
"Besok lusa akan ada liburan bersama orang tua di tepi pantai. Tapi aku tidak bisa mengikutinya. Bibi Fillian tidak memberikanku izin ke sana. Jadinya aku tidak bisa berkumpul dengan teman-temanku," jawabnya.
Oh Tuhan cobaan apa lagi ini. Uangku sudah sangat tipis sekali. Jika memintaku untuk berlibur di tepi pantai. Jalan satu-satunya adalah aku harus bekerja untuk mendapatkan uang. Dengan terpaksa aku akan memakai ponsel tersebut untuk mencari orderan. Tapi aku nggak tahu tarif yang dipasang oleh Tejo. Rasanya aku ingin menangis saja.
Aku mengajak Giska masuk ke dalam. Aku membantunya untuk menggantikan bajunya itu. Di sana Gista merasakan kenyamanan yang tidak pernah dirasakan. Sebelum orang tuanya meninggal dirinya bercerita.
"Ibu," panggilnya.
"Ada apa memangnya?" tanyaku.
"Apakah ibu memiliki uang?" tanyanya sambil menatap wajahku dengan sendu.
Ingin rasanya aku mengatakan kepada Giska. Namun hatiku menjerit dengan hebat. Jika Giska tahu itu akan menjadi beban hidupnya. Lalu aku memilih diam untuk sementara waktu. Giska akhirnya paham apa yang sedang ku pikirkan. Giska memutuskan untuk memeluk dan berkata, "Jika Ibu tidak memiliki uang. Aku tidak jadi ikut. Biarkan aku di rumah saja bersama ibu."
Hati wanita mana yang mendengar anaknya seperti itu? Jika aku mengorbankan uang tabunganku, maka aku harus mencari uang cadangan. Agar kami bisa hidup dan menikmati hari.
"Ikutlah liburan ke sana. Nanti ibu akan mencari uang untukmu," ucapku dengan jujur.
"Dari mana Ibu mendapatkan uang?" tanyanya.
__ADS_1