System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 17


__ADS_3

Setelah mengantarkan anak-anak ke sekolah, aku merasa lega. Aku merasa kalau mereka hanya tersesat. Mungkin karena kenakalan remaja. 


Kok aku jadi ingat masa-masa remajaku ya? Ya… aku ingat masa laluku. Yang dimana aku saat itu sering membolos sekolah. Aku memang saat itu sangat bandel dan nakal. 


 Aku berjalan menuju ke luar sekolah. Aku tersenyum manis dan tidak menatap ke belakang. Tiba-tiba saja aku melihat anak kecil yang menangis. Aku mengerutkan kening dan bertanya, "Anak siapa itu?" 


Aku mulai mendekati dan menggendongnya sambil tersenyum manis. Aku mulai menepuk-nepuk bokongnya dengan lembut sambil bernyanyi Nina Bobo. Alhasil anak itu berhenti menangis. Ia mulai melihatku sambil menguap dan menyembunyikan kepalanya di dadaku. Ia mulai tertidur pulas dan aku bingung. 


"Adik kecil," panggilku. 


Anak itu tidak bergeming dan tidak bergerak sama sekali. Aku hanya menggelengkan kepalanya sambil bertanya dalam hati, "Padahal aku ingin sekali menanyakan dimana keberadaan orang tuanya. Ujung-ujungnya malah tidur. 


Aku memutuskan untuk berdiri di tempat semula. Aku tidak akan bergerak sedikitpun. Aku pastikan kalau orang tuanya akan mencarinya. 


Di sudut kiri, ada seorang wanita muda sedang kebingungan mencari sesuatu. Ia mulai berkeliling sambil mencari keberadaan seseorang. Ia kesana kemari sambil kebingungan  dan berteriak memanggil nama seseorang. 


"Marty... Marty," teriak wanita itu yang berdiri sambil ketakutan.


Aku mengerutkan kening sambil membawa anak itu. Lalu aku mulai mendekatinya dan menyapanya, "Kak... ada apa?"


Wanita muda itu langsung melihatku sambil tersenyum dan menahan rasa ketakutannya itu. Sambil menarik nafasnya dengan pelan, wanita itu bertanya, "Apakah kakak melihat anak kecil? Kira-kira usianya kurang lebih tiga tahun. Tubuhnya kecil, rambutnya berwarna ikal berwarna coklat dan wajahnya bulat."


"Kok aku merasakan kalau anak ini adalah anak wanita itu ya? Semua ciri yang disebutin mengarah ke anak ini," tanyaku dalam hati.


"Memakai baju apa ya kak? Kalau saya boleh tahu?' tanyaku.


"Memakai baju biru dan celana jeans," jawabnya.


"Apakah ini anak kakak?" tanyaku yang memperlihatkan wajah sang anak.

__ADS_1


Wanita itu melihat anak kecil yang aku gendong. Ia segera menganggukkan kepalanya sambil menjawab, "Iya, ini anak saya."


"Berarti ini anak kakak?" tanyaku sekali lagi.


"Iya... ini anak saya," jawabnya sekali lagi sambil tersenyum sumringah sambil menahan airmatanya.


"Syukurlah," ucapku dengan penuh rasa syukur.


"Kakak menemukannya di mana?" tanyanya.


"Tadi aku menemukannya di jalanan ini sambil menangis. Aku tidak tega melihat dia menangis. Lalu aku menggendongnya dan membiarkannya berada di dalam pelukanku untuk sementara," ucapku dengan jujur.


"Hadeh ini anak. Suka kabur-kaburan jika diajak belanja," ujarnya dengan kesal.


"Sebelum Kakak berbelanja, lebih baik kakak mengajak seseorang untuk menjaganya," pesanku.


"Ah... iya... baiklah," ucapnya. "Aku tadi lupa membawa troli bayi."


"Terima kasih. Kamu telah menjaga putraku di sini.


"Tidak apa-apa Kak. Selama aku berada di sini, anak Kakak tidak akan hilang. Kalau begitu ini," ucapku yang menyodorkan anak kedua itu ke ibunya. 


"Terima kasih banyak," ucapnya berkali-kali yang meraih putranya dengan wajah bahagia.


"Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu Kak," pamitku. 


Namun sebelum pergi wanita muda itu mengambil amplop di dalam tasnya dan diberikan kepadaku. Sempat kutolak karena aku hanya ingin menolongnya. Akan tetapi wanita itu terus memaksa agar aku menerimanya. Dengan terpaksa aku menerima amplop tersebut. 


Tak lama aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku teringat bahwa esok kami akan pergi jalan-jalan. Aku memikirkan barang-barang apa saja yang bisa dibawa? Aku pun memesan mobil online dan memintaku mengantarkan ke pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Di dalam perjalanan menuju ke pusat perbelanjaan, aku meraih ponselku. Beberapa saat kemudian ada pesan dari sekolah. Pesan itu memberitahukan bahwa barang apa saja yang akan dibawa untuk liburan dua hari ke depan. Aku pun paham dan segera mencari barang-barang itu.


Tak butuh waktu lama aku sampai di pusat perbelanjaan. Mataku terbelalak dan hampir saja keluar dari tempatnya. Aku baru tahu kalau pusat perbelanjaan di zaman sekarang sangat mewah melebihi zaman dahulu. Tempatnya juga sangat besar. Kemungkinan besar pusat perbelanjaan itu sudah di desain dengan epic.


"Apakah ini yang namanya pusat perbelanjaan?" tanyaku.


"Itu benar. Pusat perbelanjaan ini didirikan oleh seorang konglomerat yang berasal dari kota ini juga. Pusat perbelanjaan ini memang didesain bergaya klasik Eropa. Di dalam sana banyak sekali diskon yang sedang bertebaran. Nyonya pasti sangat menyukainya," jawabnya.


"Ah iya… jiwa berburu diskon ku bergelora. Terima kasih Pak sopir yang telah mengantarkanku ke sini. Aku sudah membayarmu melalui aplikasi," balas ku sambil tersenyum dan keluar dari dalam mobil.


Aku melihat suasana berbelanjaan itu sangat menyenangkan. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam sana dan benar saja. Ketika masuk banyak sekali orang-orang yang mendekatiku untuk membeli semua barang-barangnya. Aku pun mulai tidak berdaya. Aku mencoba untuk lari dari sana. Aku harus kuat untuk menghadapi mereka.


Entah kenapa aku bertemu dengan Tejo. Ya… Tejo si malaikat kece itu ternyata sudah berada di pusat perbelanjaan ini. Tejo mendekatiku dan menarik tanganku untuk segera pergi dari sini. Aku pun hanya terdiam dan mengikuti langkahnya. Jujur saat ini aku bingung sama perlakuan Tejo.


"Ba-Bagaimana kamu ada di sini? Bukankah kamu sedang berada di langit untuk membuat laporan?" tanya aku yang menatap wajah Tejo.


"Memangnya kalau aku di sini Kenapa? Aku sedang berteduh di sini," jawabnya.


"Memangnya kalau aku di sini Kenapa? Aku sedang berteduh di sini," jawabnya.


Aku pun semakin bingung. Bukankah di langit sana hawanya sangat dingin sekali. Ketimbang bingung aku bertanya, "Bukankah di langit sana hawanya sangat dingin?"


"Sangat dingin bagaimana? Matahari sedang bersinar dengan teriknya. Banyak sekali raja-raja di langit sana dan para malaikat turun ke bawah menyebar ke seluruh pusat perbelanjaan di dunia ini. Mereka sedang berteduh dari teriknya panas matahari. Aku pun sama. Lebih baik Aku berteduh di sini saja. Sembari melihat banyak perempuan cantik di sini."


"Mana ada malaikat jatuh cinta sama manusia? Kamu itu sangat aneh sekali jadi malaikat," kesalku.


Aku nggak jatuh cinta sama manusia. Aku hanya melihat para wanita sedang berjalan-jalan saja. Sekali-sekali mataku harus dicuci agar tidak kotor," ucapnya yang membuat aku menggelengkan kepala. 


Aku baru tahu kalau ada malaikat memiliki mata nakal seperti itu. Apakah aku harus mengadu kepada sang pencipta? Sepertinya itu tidak mungkin. Tapi ada benarnya juga yang dikatakan oleh Tejo. Dia ingin sekali melepaskan penat agar tidak terlalu stress untuk menjalani tugas selanjutnya. 

__ADS_1


"Berarti kamu butuh istirahat total," ucapku yang memberi saran kepada Tejo.


"Bagaimana aku butuh istirahat? Jika saja pekerjaanku banyak menumpuk di mejaku," tanyanya balik. 


__ADS_2