
"Cepatlah. Mobil ini memiliki kecepatan satu kilometer dalam waktu setengah detik saja. Jadi aku membawa mobil ini dengan santai," jawabnya sambil membukakan pintu.
"Astaga, itu sangat cepat sekali. Apakah kamu tidak takut ditilang sama polisi?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Di sini sudah tidak ada polisi untuk mengatur lalu lintas. Manusia zaman sekarang sangat patuh sekali dengan rambu-rambu lalu lintas. Ditambah mobil seperti ini sudah bisa menghilang dari peredaran. Ditabrak pun juga tidak apa-apa. Tapi kalau bukan orang yang profesional mengemudi mobil seperti ini. Jangan harap kamu bisa memakai mode seperti itu," jelasnya.
Kepalaku semakin pusing saja. Aku langsung keluar dan melihat pintu gerbang sangat tinggi sekali. Aku langsung mendekati pintu gerbang itu dan menekan bel rumah.
Tak selang berapa lama ada seseorang yang membukakan pintu. Akupun terkejut dan menatap wanita paruh baya. Memang ada rasa deg-degan di dalam hati saat bertemu dengan orang asing.
Sebelum menyuruhnya masuk, aku melemparkan senyum hangat dan menyapanya sambil membungkukkan badanku, "Selamat siang nyonya."
"Siang juga," sapanya. "Apakah anda Mila Sanjaya?"
"Ya, saya adalah Mila Sanjaya," jawabku dengan sopan.
Enggak kenapa wanita paruh baya itu pun sangat kebingungan sekali. Ia mengerutkan keningnya sambil mempersilahkan masuk, "Masuklah ke dalam."
Aku pun masuk ke dalam. Tidak sengaja aku melihat rumah ini sangat rapi dan tertata. Aku berharap bisa memiliki rumah seperti ini.
Wanita paruh baya itu pun mengajakku masuk ke dalam. Ia menyuruhku untuk duduk sebentar. Sebelum masuk wanita paruh baya itu pun memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan nama saya Wulandari. Saya menyuruhmu untuk menjaga cucu saya hanya empat jam saja. Karena hari ini ada arisan keluarga. Aku tidak akan mungkin bisa membawanya."
"Di mana kedua orang tuanya?" tanyaku dengan jujur.
"Mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke London," jawabnya.
__ADS_1
Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Lalu aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Karena prinsipku tidak ingin tahu masalah orang lain.Prinsip ini sudah aku tanamkan ketika hidup di masa lalu. Semoga saja hari ini pekerjaanku lancar. Agar Giska bisa mengikuti liburannya.
"Nanti ada satu perempuan yang mengantarkan minuman buat kamu. Kamu tenang saja di sini. Tunggu aku kembali beberapa jam kemudian. Oh ya... Cucuku nggak pernah rewel dan nakal sekalipun. Tolong kamu jaga baik-baik ya," pintanya.
"Baik nyonya," jawabku.
Sebelum melakukan tugas, aku mulai membersihkan kedua tanganku. Sebab aku lebih mematuhi protokol kesehatan. Jujur sebelum melakukan tugas ini aku sudah membaca peraturan di aplikasi ajaib itu. Selesai membersihkan tangan, Aku disuruh masuk ke dalam kamar.
Di sana Aku menemukan banyak mainan yang berserakan. Aku melihat seorang gadis kecil yang sudah tertidur pulas. Aku pun tersenyum dan menatap wanita paruh baya itu.
"Kalau bisa tolong bersihkan tempat ini ya. Memang cucuku sering memberantakin peralatan mainnya," ucapnya. "Oh ya, nanti kalau sudah terbangun berikan susunya yang berada di atas nakas."
"Baik bu," balasku sambil tersenyum manis.
Sejam dua jam anak itu masih anteng tidak menangis. Pekerjaanku membersihkan alat-alat mainannya sudah beres. Aku duduk di sampingnya sambil menatap wajah anak itu.
Beberapa saat kemudian anak itu mulai membuka mata dan melihatku. Aku pun tersenyum sambil mengucapkan salam, "Selamat sore adik."
Begitulah aku menyapanya. Seharusnya sebelum pergi aku menanyakan nama anak ini ke neneknya. Jujur aku lupakan hal itu. Lain kali sebelum pergi aku akan bertanya kepada sang penyewa. Di sini aku kesulitan untuk memanggilnya nama. Tapi untung saja, di box ranjangnya tertera nama anak itu. Sebut saja namanya Margareth. Aku menatap wajahnya sambil bertanya, "Kamu mau apa?"
"Num," jawabnya.
Selama hidup di masa lalu, aku tidak melupakan anak-anak kantorku sering berbicara memakai bahasa bayi. Mereka lebih mengenal istilah bahasa bayi yang mudah diucapkan.
Diam-diam aku juga menyerap bahasa tersebut. Terkadang juga aku menyahutinnya. Ditambah lagi mereka sangat lucu sekali ketika sedang berbicara.
__ADS_1
"Baiklah. Tante akan mengambilkan susu itu. Kamu di sini saja ya jangan bergerak," ucapku.
Gadis kecil itu bernama Molly. Wajahnya sangat cantik dan matanya juga indah. Ia tersenyum manis sambil menatapku.
"Tunggu situ dulu," pintaku sambil menjauhi Molly. "
Aku langsung mengambil botol susu itu. Kemudian aku mendekati Molly dan memberikannya. Namun Molly menolaknya. Ia malah merentangkan kedua tangannya untuk memintaku menggendongnya.
Dengan senang hati aku menggendongnya. Setelah itu aku menepuk-nepuk pantatnya dengan lembut. Molly tertawa kegirangan dan sambil menatapku dengan lucu.
Dalam hatiku bertanya, apa benar jika anak kecil ditepuk pantatnya dengan lembut akan tertawa? Sepertinya ini akan menjadi sejarah dalam hidupku. Sebab hatiku yang keras dan tidak menyukai anak kecil. Akhirnya runtuh juga tembok ke arogan yang kumiliki. Ditambah lagi dengan senyumnya Giska. Ternyata aku benar-benar menjadi seorang ibu.
Aku akhirnya mengajaknya bermain sambil tertawa. Setelah itu aku menemukan sebuah catatan kecil. Yang di mana catatan itu dari seorang pelayan. Yang di mana catatan itu menyuruhku untuk memandikan Molly.
"Molly," panggilku dengan lembut.
Molly hanya bisa menyembunyikan kepalanya di dadaku karena malu. Entah kenapa Molly takluk kepadaku. Padahal kami tidak memiliki hubungan darah apapun.
Aku menaruh Molly di atas ranjang. Namun gadis kecil itu menangis. Ia tidak ingin aku meninggalkannya sendirian. Padahal aku sendiri ingin menyiapkan air hangat untuk mandi. Dengan terpaksa aku mengajak Molly ke toilet.
Di sana molly aku gendong di belakang. Aku mulai mengambil bak mandi dan mengisinya dengan air hangat. Selain itu juga aku mengambil peralatan mandinya. Sore ini aku sangat beruntung sekali. Molly tidak rewel sama sekali. Bahkan meminta apapun Molly sudah tidak. Mungkin saja saat meminum susunya Molly sudah kenyang.
Selesai diisi separuh, aku masuk ke dalam kamar dan meletakkan Molly di atas boxnya. Kemudian aku melepaskan baju Molly sambil mengajaknya, "Ayo kita mandi. Nanti selesai mandi tubuhmu akan menjadi harum."
Kemudian Molly tertawa. Entah kenapa aku sangat menyukai gadis kecil ini. Aku pun mengajaknya ke toilet dan menaruhnya di bak yang sudah diisi dengan air. Di sana aku memandikannya. Tak lupa juga aku memberikan sentuhan demi sentuhan di satu titik. Agar Molly akan nyaman tidur nanti malam tanpa terbangun maupun rewel.
__ADS_1