System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 5


__ADS_3

Jeder............


Sebuah kereta melaju dengan kencang dan menghantam tubuhku. Aku


tergulung sampai tubuhku hancur. Aku menangis tersedu-sedu hingga membangunkan


Giska. Untungnya aku sudah mematikan video itu dan menggantinya ke acara konser


jadul.


Sementara itu Giska mendekatiku dan memegang tubuhku dan


menggoyang-goyangkan. Aku serasa ada gempa bumi. Namun aku tersadar dan melihat


Giska lalu menghapus air mata. Aku mencoba melihat Giska dan tersenyum manis


dan memanggilnya, “Giska.”


Giska mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis. Aku langsung


mengangkat tubuh mungilnya sambil bertanya, “Kok kamu bangun? Padahak masih


malam sayang.”


Aku pun mulai memangkunya sambil tersenyum manis. Giska menatapku


dengan sendu dan memeluk tubuhku ini. Lalu Giska bertanya, “Ada apa bu? Apakah


aku nakal? Apakah aku memnbuat masalah di sekolah?”


“Ah... tidak. Kamu anak pintar dan csesrdas. Kamu anak baik dan


penurut,” jawabku dengan jujur.


Aku memang berkata jujur soal ini. Aku tidak bisa membohongi anak


kecil. Karena berbohong bukan budayaku. Di zaman dulu, aku sering disebut miss


ember. Yang dimana aku selalu berkata jujur ke setiap orang berada di depanku.


Aku juga tidak bisa berkata bohong sama sekali walau sama anak kecil sekalipun.


“Apaakah itu benar bu?” tanya Giska dengan mmata berbinar.


“Hmmpp,” jawabku sambill menganggukan kepala. “Kalau begitu ayo


kita kembali tidur.”


“Baiklah bu. Aku masih mengantuk,” balas Giska yang tersenyum


manis.


Aku pun mulai menggendong Giska. Aku baru sadar Giska sangat kurus


sekali. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu di dalam diri tubuh Giska? Aku


harus memeriksakan tubuhnya ke dokter. Firasatku mengatakan kalau tubuh Giska


tidak baik-baik saja.


Aku pergi ke kamar dan membaringkan tubuh Giska dan menarik selimut


itu hingga ke leher. Lalu aku memutuskan unutk berbaring di samping Giska. Aku


mulai melupakan kejadian di masa lalu. Masa lalu tidak perlu dipikirkan. Jika


ada kenangan yang indah. Maka kenanglah.


Pagi yang cerah. Aku melihat Giska yang selesai mandi. Aku membantunya


memberssihkan tubuhnya dan membereskan perlengkapannya. Ia menatapku dengan


sendu. Aku mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Ada apa?”


“Ibu nggak boleh sedih. Ibu enggak bokeh menangis seperti semalam,”


jawabnya yang masih dengan nada bergetar.

__ADS_1


Aku tidak tega mendengarnya. Lalu aku menggendongnya dan mencium


pipi Giska sambil berkata, “Ibu tidak menangis lagi. Sekarang ibu akan menjadi


ibu yang kuat buat kamu.”


“Semangat bu,” teriaknya sambil menatap wajahku.


“Bibi Fillia hari ini pergi ke Semarang,” ucapku.


“Tidak apa-apa bu,” katanya.


Tepat pukul 07.00 pagi. Seperti biasa aku mengantarkan Giska pergi


ke sekolah. Aku sengaja mengantarlan Giska ke depan. Biar Giska merasakan kalau


dirinya masih memiliki seorang ibu. Setelah masuk ke dalam bis, aku tersenyum


manis dan melambaikan tangan sambil berdoa agar semuanya lancar ketika


menjalani aktivitas buatku dan buat Giska.


Argh..................................


Bugh..................................


Tiba-tiba saja aku mendengar ada seeseorang yang jatuh dari langit


sambil mencium tanah. Aku mengerutkan keningnya sambil menatap orang itu.


Hingga orang itu terbangun dan mengomel.


“Yang bener saja. Kalau ngasih tugas jangan dihempaskan dari langit


ketujuh sampai ke bumi. Apalagi aku mencium tanah seperti ini. Hilang sudah


kewibawaanku dan ketampananku sebagai penolong sejuta umat di bumi ini,”


omelnya sambil melihatku.


“Kamu siapa?’ tanyaku saambil menunjuk ke arah pria itu.


unutk bertenu dengan kamu,” jawabnya sambil menatapku.


“Oh,” ucapku dengan lirih tapi memnganggukan kepala dan tersadar.


“Apa?” pekikku dan menatap tajam ke arah Tejo.


“Iya, aku memang malaikat. Lebih baik jangan bicarakan hal seperti


ini di sini. Nanti akan ada tetangga yang kepo ingin mengetahui kamu,”


jawabnya.


“Ya... sudah. Ikut aku masuk ke dalam!” ajakku sembari melangkahkan


kaki dan membuka pintu rumah.


Aku mempersilakan malaikat masuk ke dalam dan memyuruhnya duduk.


Setelah itu aku emnawarkan minuman. Namun Tejo menolaknya dan menyuruhku duduk.


“Mau minum apa?” tanyaku.


“Tidak usah,” jawabnya. “Aku tidak akan lama di sini hingga putri


kecilmu pulang,” jawabnya.


“Dia bukan putriku!” ucapku dengan tegas.


“Walau dia bukan anakmu. Tapi tubuhnya itu adalah tubuh ibunya,”


ujarnya.


“Bagaimana bisa aku terjebak ke dalam tubuh wanita ini?” tanyaku.


“Apa aku harus cerita kepadamu?” tanyanya balik.

__ADS_1


“Bukankah kamu adalah seorang malaikat? Harusnya kamu tahu apa yang


telah terjadi deenganku?’ tanyaku sambil menahan emossi. “Harusnya aku terlahir


menjadi bayi lagi atau elang! Lha... kenapa aku hidup di tubuh wanita yang


lemah ini?”


Aku sungguh kesal terhadap Tejo sang malaikat gila inni.


Bisa-bisanya aku tinggal di tubuh ini? Jujur setelah kejadian naas itu, aku


meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan kembali. Namun permintaaku tidak sesuai


kenyataan.


“Baiklah... apakah kamu sudah mendengar kisah sang pemilik tubuh ini


yang kecelakaan teragis meuju ke puncak?” tanyanya.


“Ya... aku sudah mendengarnya. Lalu kenapa aku hidup di tubuh


wanita lemah ini?” tanyaku.


“Baiklah aku akan memberitahukan kepada kamu. Setelah kejadian


kecelakaan itu. Giska berdoa kepada kami untuk tidak mengambil ibunya. Lalu


kami bingung apa yang diminta olehnya. Soalnya sang ibu sudah kehabisan kontrak


untuk hidup di dunia. Kami merasakan kasihan dan bergelut dengan waktu. Hingga


akhirnya kami sengaja membawa kamu kemari dan memasukkannya ke dalam tubuh sang


ibu. Lagian juga masa kontrakmu belum habis. Kamu harus menjalani hidup selama


tiga puluh delapan tahun ke depan. Kamu teledor sekali menjadi manusia sih.


Bisa-bisanya kamu menyebrang di palang pintu itu tanpa melihat ke kanan dan ke


kiri terlebih dahulu. Akhirnya kamu tertabrak kereta. Terpaksa aku yang membawa


kamu kesini demi menjaga Giska,” jelasnya panjang lebar membuatku terkejut.


“Lagian itu kereta nmgerem sedikit kek? Bukankah kereta bisa


mengerem sedikit?” kesalku yang menyalahkan kereta.


Tejo akhirnya menepuk jidatnya. Entah ssetan apa yang merasukiku


hari ini? Tejo pun enggak tahu. Hingga akhirnya Tejo bertanya, “Mana ada kereta


bisa mengerem mendadak? Apakah kamu paham?”


“Tetap enggak terima! Aku ingin kembali ke tubuh Sonia Barata,”


jawabku dengan tegas.


“Mana bisa kamu kembali? Sedangkan tubuhnu sudah hancur berantakan.


Kamu harus hidup disini menemani Giska hingga dewasa,” ucapnya dengan tegas dan


tidak ingin dibantah.


“Baiklah,” ucapku dengan pasrah. “Bagaimana dengan hidupku setelah


ini? Aku sekarang jatuh miskin dan biaya hidup di sini sangat mahal sekali. Dan


kamu perlu tahu satu hal! Bagaimana aku bisa bertahan? Jika aku tidak memiliki


uang? Sedangkan Giska sebentar lagi akan menjadi seorang gadis. Yang dimana dia


membutuhkan biaya tidak banyak.”


Tak lama Tejo merogoh lengan bajunnya sambil meraih sesuatu. Ia


menemukan sesuatu di lengan panjangnya sambil berkata, “Kamu tenanglah. Kamu

__ADS_1


akan cepat menjadi orang kaya setelah ini.”


“Bagaimana caranya?” tanyaku yang curiga.


__ADS_2