
Jeder............
Sebuah kereta melaju dengan kencang dan menghantam tubuhku. Aku
tergulung sampai tubuhku hancur. Aku menangis tersedu-sedu hingga membangunkan
Giska. Untungnya aku sudah mematikan video itu dan menggantinya ke acara konser
jadul.
Sementara itu Giska mendekatiku dan memegang tubuhku dan
menggoyang-goyangkan. Aku serasa ada gempa bumi. Namun aku tersadar dan melihat
Giska lalu menghapus air mata. Aku mencoba melihat Giska dan tersenyum manis
dan memanggilnya, “Giska.”
Giska mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis. Aku langsung
mengangkat tubuh mungilnya sambil bertanya, “Kok kamu bangun? Padahak masih
malam sayang.”
Aku pun mulai memangkunya sambil tersenyum manis. Giska menatapku
dengan sendu dan memeluk tubuhku ini. Lalu Giska bertanya, “Ada apa bu? Apakah
aku nakal? Apakah aku memnbuat masalah di sekolah?”
“Ah... tidak. Kamu anak pintar dan csesrdas. Kamu anak baik dan
penurut,” jawabku dengan jujur.
Aku memang berkata jujur soal ini. Aku tidak bisa membohongi anak
kecil. Karena berbohong bukan budayaku. Di zaman dulu, aku sering disebut miss
ember. Yang dimana aku selalu berkata jujur ke setiap orang berada di depanku.
Aku juga tidak bisa berkata bohong sama sekali walau sama anak kecil sekalipun.
“Apaakah itu benar bu?” tanya Giska dengan mmata berbinar.
“Hmmpp,” jawabku sambill menganggukan kepala. “Kalau begitu ayo
kita kembali tidur.”
“Baiklah bu. Aku masih mengantuk,” balas Giska yang tersenyum
manis.
Aku pun mulai menggendong Giska. Aku baru sadar Giska sangat kurus
sekali. Entah kenapa aku merasakan ada sesuatu di dalam diri tubuh Giska? Aku
harus memeriksakan tubuhnya ke dokter. Firasatku mengatakan kalau tubuh Giska
tidak baik-baik saja.
Aku pergi ke kamar dan membaringkan tubuh Giska dan menarik selimut
itu hingga ke leher. Lalu aku memutuskan unutk berbaring di samping Giska. Aku
mulai melupakan kejadian di masa lalu. Masa lalu tidak perlu dipikirkan. Jika
ada kenangan yang indah. Maka kenanglah.
Pagi yang cerah. Aku melihat Giska yang selesai mandi. Aku membantunya
memberssihkan tubuhnya dan membereskan perlengkapannya. Ia menatapku dengan
sendu. Aku mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Ada apa?”
“Ibu nggak boleh sedih. Ibu enggak bokeh menangis seperti semalam,”
jawabnya yang masih dengan nada bergetar.
__ADS_1
Aku tidak tega mendengarnya. Lalu aku menggendongnya dan mencium
pipi Giska sambil berkata, “Ibu tidak menangis lagi. Sekarang ibu akan menjadi
ibu yang kuat buat kamu.”
“Semangat bu,” teriaknya sambil menatap wajahku.
“Bibi Fillia hari ini pergi ke Semarang,” ucapku.
“Tidak apa-apa bu,” katanya.
Tepat pukul 07.00 pagi. Seperti biasa aku mengantarkan Giska pergi
ke sekolah. Aku sengaja mengantarlan Giska ke depan. Biar Giska merasakan kalau
dirinya masih memiliki seorang ibu. Setelah masuk ke dalam bis, aku tersenyum
manis dan melambaikan tangan sambil berdoa agar semuanya lancar ketika
menjalani aktivitas buatku dan buat Giska.
Argh..................................
Bugh..................................
Tiba-tiba saja aku mendengar ada seeseorang yang jatuh dari langit
sambil mencium tanah. Aku mengerutkan keningnya sambil menatap orang itu.
Hingga orang itu terbangun dan mengomel.
“Yang bener saja. Kalau ngasih tugas jangan dihempaskan dari langit
ketujuh sampai ke bumi. Apalagi aku mencium tanah seperti ini. Hilang sudah
kewibawaanku dan ketampananku sebagai penolong sejuta umat di bumi ini,”
omelnya sambil melihatku.
“Kamu siapa?’ tanyaku saambil menunjuk ke arah pria itu.
unutk bertenu dengan kamu,” jawabnya sambil menatapku.
“Oh,” ucapku dengan lirih tapi memnganggukan kepala dan tersadar.
“Apa?” pekikku dan menatap tajam ke arah Tejo.
“Iya, aku memang malaikat. Lebih baik jangan bicarakan hal seperti
ini di sini. Nanti akan ada tetangga yang kepo ingin mengetahui kamu,”
jawabnya.
“Ya... sudah. Ikut aku masuk ke dalam!” ajakku sembari melangkahkan
kaki dan membuka pintu rumah.
Aku mempersilakan malaikat masuk ke dalam dan memyuruhnya duduk.
Setelah itu aku emnawarkan minuman. Namun Tejo menolaknya dan menyuruhku duduk.
“Mau minum apa?” tanyaku.
“Tidak usah,” jawabnya. “Aku tidak akan lama di sini hingga putri
kecilmu pulang,” jawabnya.
“Dia bukan putriku!” ucapku dengan tegas.
“Walau dia bukan anakmu. Tapi tubuhnya itu adalah tubuh ibunya,”
ujarnya.
“Bagaimana bisa aku terjebak ke dalam tubuh wanita ini?” tanyaku.
“Apa aku harus cerita kepadamu?” tanyanya balik.
__ADS_1
“Bukankah kamu adalah seorang malaikat? Harusnya kamu tahu apa yang
telah terjadi deenganku?’ tanyaku sambil menahan emossi. “Harusnya aku terlahir
menjadi bayi lagi atau elang! Lha... kenapa aku hidup di tubuh wanita yang
lemah ini?”
Aku sungguh kesal terhadap Tejo sang malaikat gila inni.
Bisa-bisanya aku tinggal di tubuh ini? Jujur setelah kejadian naas itu, aku
meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan kembali. Namun permintaaku tidak sesuai
kenyataan.
“Baiklah... apakah kamu sudah mendengar kisah sang pemilik tubuh ini
yang kecelakaan teragis meuju ke puncak?” tanyanya.
“Ya... aku sudah mendengarnya. Lalu kenapa aku hidup di tubuh
wanita lemah ini?” tanyaku.
“Baiklah aku akan memberitahukan kepada kamu. Setelah kejadian
kecelakaan itu. Giska berdoa kepada kami untuk tidak mengambil ibunya. Lalu
kami bingung apa yang diminta olehnya. Soalnya sang ibu sudah kehabisan kontrak
untuk hidup di dunia. Kami merasakan kasihan dan bergelut dengan waktu. Hingga
akhirnya kami sengaja membawa kamu kemari dan memasukkannya ke dalam tubuh sang
ibu. Lagian juga masa kontrakmu belum habis. Kamu harus menjalani hidup selama
tiga puluh delapan tahun ke depan. Kamu teledor sekali menjadi manusia sih.
Bisa-bisanya kamu menyebrang di palang pintu itu tanpa melihat ke kanan dan ke
kiri terlebih dahulu. Akhirnya kamu tertabrak kereta. Terpaksa aku yang membawa
kamu kesini demi menjaga Giska,” jelasnya panjang lebar membuatku terkejut.
“Lagian itu kereta nmgerem sedikit kek? Bukankah kereta bisa
mengerem sedikit?” kesalku yang menyalahkan kereta.
Tejo akhirnya menepuk jidatnya. Entah ssetan apa yang merasukiku
hari ini? Tejo pun enggak tahu. Hingga akhirnya Tejo bertanya, “Mana ada kereta
bisa mengerem mendadak? Apakah kamu paham?”
“Tetap enggak terima! Aku ingin kembali ke tubuh Sonia Barata,”
jawabku dengan tegas.
“Mana bisa kamu kembali? Sedangkan tubuhnu sudah hancur berantakan.
Kamu harus hidup disini menemani Giska hingga dewasa,” ucapnya dengan tegas dan
tidak ingin dibantah.
“Baiklah,” ucapku dengan pasrah. “Bagaimana dengan hidupku setelah
ini? Aku sekarang jatuh miskin dan biaya hidup di sini sangat mahal sekali. Dan
kamu perlu tahu satu hal! Bagaimana aku bisa bertahan? Jika aku tidak memiliki
uang? Sedangkan Giska sebentar lagi akan menjadi seorang gadis. Yang dimana dia
membutuhkan biaya tidak banyak.”
Tak lama Tejo merogoh lengan bajunnya sambil meraih sesuatu. Ia
menemukan sesuatu di lengan panjangnya sambil berkata, “Kamu tenanglah. Kamu
__ADS_1
akan cepat menjadi orang kaya setelah ini.”
“Bagaimana caranya?” tanyaku yang curiga.