System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 9


__ADS_3

Selesai mandi Aku membawa Molly ke dalam kamar. Di sana Ibu Wulan sudah menyiapkan satu pakaian hangat. Aku mengambilnya dan memakaikan pakaian itu ke tubuh Molly.


Meskipun tugasku pertama aku sangat menikmatinya. Aku sudah memakaikan pakaian tersebut. Tak lupa juga aku menyisir rambutnya dan mengajaknya bermain lagi.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Ibu Wulandari masuk ke dalam dan melihat kami yang sedang bermain. Ibu Wulan tidak sengaja melihat Molly tertawa terbahak-bahak. Ia segera mendekati kami dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Memang waktu itu jam tugasku sudah berakhir. Untung saja Ibu Wulandari tidak terlambat untuk pulang.


"Terima kasih Mbak," ucapnya.


"Sama-sama Bu," balasku sambil tersenyum hangat.


"Uangnya sudah aku kirimkan ke dalam aplikasi ya," ucapnya lagi.


"Oh iya Bu nggak apa-apa. Saya juga terima kasih telah disambut dengan baik di sini," sahutku.


"Kalau aku panggil, bisa nggak ke sini lagi?" tanyanya.


"Selalu," jawabku. "Tapi aku boleh minta kompensasi."


"Kompensasi apa?" tanyanya.


"Ibu boleh memanggilku kapan saja. Pas waktu malam aku akan mengajak putriku ke sini. Karena di rumah putriku sendirian," jawabku dengan jujur.


"Oh, jadi kamu memiliki seorang putri?" tanyanya sambil tersenyum manis.


"Iya Bu. Jadi sewaktu-waktu ibu bisa memanggilku pada malam hari. Aku sanggup melakukannya. Dengan syarat aku akan mengajak putriku agar tidak kesepian di rumah," jawabku yang meminta kompensasi.


"Oh tidak apa-apa... Sekalian menjadi teman buat cucuku ini," ucapnya Bu Wulan kembali.


"Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Putri saya sudah menunggu di rumah," ucapku sambil berpamitan.


"Hati-hati di jalan," balasnya.

__ADS_1


Aku segera melangkahkan kakiku keluar dari rumah itu. Hatiku sangat bahagia sekali karena sudah menolong Ibu Wulandari. Semoga saja Ibu Wulandari mau menerima aku apa adanya.


Sesampainya di luar ada mobil yang sama turun di hadapanku. Aku segera masuk dan menatap Tejo. Sebelum menancapkan gasnya, Tejo bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Aku sangat senang hari ini telah membantu ibu Wulandari," jawabku dengan semangat.


"Baguslah," pujinya. "Apakah kamu membuat perjanjian sama ibu Wulandari?"


"Iya," jawabku. "Aku harus membuat perjanjian sama ibu Wulandari. Atau dengan yang lainnya. Mereka bisa memanggilku kapan saja. Tapi dengan satu syarat. Jika mereka memanggilku pada malam hari. Aku harus mengajak Giska ke sana. Aku tidak akan meninggalkan Giska begitu saja."


"Baguslah. Kamu harus membuat perjanjian kepada setiap customermu. Jika kamu tidak memiliki anak. Itu tidak jadi masalah. Kamu harus membagi cintamu kepada Giska dan lainnya. Setelah liburan dari pantai, kamu akan mendapatkan banyak job di mana-mana. Bahkan seluruh orang akan menghubungimu untuk menjaga anak-anaknya," ucapnya.


"Jika aku menghindar bagaimana?" tanyaku.


"Kamu akan kehilangan banyak reward yang telah diberikan pada aplikasi ajaib itu. Kamu harus tahu hidup di zaman ini adalah kebutuhan pokok sedang mahal. Jangan samakan hidupmu yang dulu sama yang sekarang. Jika kamu malas bekerja. Nanti kamu akan tahu akibatnya seperti apa," jawabnya.


Kalau dipikir apa kata Tejo itu benar. Aku harus bisa bertahan hidup bersama Giska di tahun ini. Andai saja kalau ada ruang waktu yang bisa membuatku kembali. Pasti aku akan mengajak Giska kembali ke duniaku. Namun itu tidak akan mungkin terjadi. Portal kehidupan sudah dipegang oleh sang pencipta. Mau tidak mau aku harus menikmatinya.


Tak sampai lima menit, Aku sudah kembali ke rumah. Senja pun sudah mewarnai langit dan membuatku tersenyum. Tugas pertama mendapatkan seorang anak kecil suka tersenyum. Aku menjadi semangat untuk mengerjakan tugas selanjutnya.


Aku pun masuk ke dalam rumah dan langsung mencari keberadaan Giska. Aku menemukan Giska saat mengerjakan tugas sekolahnya. Di sisi lain aku bahagia karena putriku sudah mandiri.


"Giska," panggilku.


"Ada apa Bu?" tanyanya sambil menaruh pensilnya di meja.


"Kamu jadi liburan ke pantai bersama teman-temanmu itu?" tanyaku sambil menghambatkan bokong di hadapannya.


"Jadi Bu," jawabnya. "Bukankah Ibu sudah memberikan izin kepadaku?"


"Baiklah. Besok pagi Ibu urus semua administrasinya," jawabku.


"Tapi Ibu harus ikut ya," ucapnya.


"Ah baiklah," balasku. "Ibu mau mandi dulu habis gitu menyiapkan makan malam."

__ADS_1


Giska hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar. Teringat pada ponsel ajaibku itu, aku segera mengambilnya di dalam tas mungilku.


Ting.


Aku membukanya dan melihat uang yang masuk ke dalam aplikasi ajaib tersebut. Mataku membulat sempurna. Uang yang aku dapatkan sangat banyak sekali. Rasanya aku harus mengumpulkan uang agar masa depan Giska terjamin.


"Kalau dihitung-hitung membeli bahan pokok untuk sebulan sepertinya mesin sisa banyak. Kapan-kapan saja deh. Aku akan membelinya di waktu libur saja," batinku.


Setelah itu aku langsung memutuskan untuk membersihkan tubuhku. Tak lama aku keluar dari toilet dan menuju dapur. Seperti biasa wanita pada umumnya, aku langsung memasak.


Teringat pada menu favoritku, Aku mulai mengambil bahan makanan. Malam ini aku akan memasak mie rebus saja.


Ternyata aku pelupa sendiri. Bahan makanan di kulkas sudah habis. Untungnya aku menyetok mie rebus. Tapi aku harus menguranginya untuk Giska. Karena Giska tidak boleh terkontaminasi makanan yang mengandung bahan pengawet.


"Ibu," panggil Giska sambil berlari ke arahku.


"Iya ada apa?" sahutku sambil meraih mie rebus itu.


"Bisakah Ibu membuatkan aku tumis sayur?" Tanyanya sambil duduk di atas kursi.


"Apapun untukmu semuanya bisa. Asal kamu meminta kepada ibu. Agar Ibu bisa memasaknya untuk kamu," jawabku sambil meminta Giska untuk merequest makanan favoritnya.


Jujur aku belum begitu paham dengan Giska. Namun aku harus banyak bertanya dan agar bisa memahaminya. Maafkan Aku. Karena aku bukanlah ibumu.


"Tapi maaf. Ibu sudah kehabisan bahan makanan untuk malam ini. Jadi terpaksa kita memakan mie rebus saja," jawabku.


Giska teringat akan keluhanku pagi tadi. Sebab pagi ini aku tidak berbelanja sama sekali. Hari ini aku memang bilang kepada Giska untuk mencari pekerjaan. Giska juga berharap agar aku mendapatkan pekerjaan.


"Nggak apa-apa Bu. Lagian juga masih ada nasi. Kalau besok Ibu berbelanja, belikan aku buku tulis. Sebab buku tulisku sudah habis semuanya," pintanya.


"Baiklah. Sekalian membelikan baju untukmu agar kita bisa berlibur bersama," ucapku.


Malam itu juga kami makan malam bersama. Aku melihat Giska makan dengan lahap. Entah kenapa hatiku sangat sedih sekali? Akan tetapi aku bisa menepisnya dengan jauh. Aku berjanji tidak akan sedih di hadapan Giska.


Pagi yang cerah. Aku langsung pergi ke pasar. Di sana aku memborong bahan makanan. Semoga saja aku tidak khilaf untuk memborong seisi pasar.

__ADS_1


Tiba-tiba saja mataku tertarik pada wortel berukuran jumbo. Aku mengambilnya dan menanyakan harganya, "Pak, harga wortel ini berapa ya?"


__ADS_2