
“Ibu,” panggil Giska.
“Apa sayang?” sahutku.
“Aku lapar bu,” jawab Giska yang wajahnya memelas.
Aku pun terdiam dan melihat Giska . Jujur aku menatap Giska karena
bingung. Aku tidak tahu apa makanan favorit Giska.
“Kamu mau makan apa sayang?’ tanyaku yang duduk di hadapan Giska.
“Masa ibu enggak tahu makanan favoritku?” tanyanya.
“Mungkin saja ibu lupa. Ibu baru saja sadar hari ini. Kemungkinan
besar ibu lupa,” kilahku.
“Aku hanya ingin memakan nasi putih dan telur ayam rebus ditambah
kecap,” ucapnya yang memelas.
Akupun menganggukan kepala dan berdiri. Aku mulai membuka kulkas
dan mencari bahan-bahan makanan.
“Baiklah. Kamu akan mendapatkan makanan enak. Aku ridak akan
membuat kamu menderita,” ucapku dalam hati.
Aku mulai menyiapkan bahan makanan. Aku akan membuat makanan yang enak buat gadis
kecil itu.
Tidak butuh waktu sejam aku membuat menu yaitu nasi putih dan sosis
tumis. Kemungkinan besar anak kecil pasti banyak menyukainya. Setelah jadi aku
menyiapkan makanan buat Giska. Aku juga ikutan makan siang sekalian mengisi
perutku.
Aku harus mencari cara untuk mengetahui kebiasaan Giska dan apa
yang meenjadi favoritnya. Tidak lucu buatku, jika aku tidak mengetahui apa saja
kegemaran anak kecil.
Sungguh ini sangat aneh sekali bagi tubuhku. Dahulu aku tidak
mengetahui apa-apa soal anak. Padahal aku saat itu sudah berusia tiga puluh
tahunan. Menikah aku sangat menghindarinya. Aku sendiri juga tidak ingin
menikah. Menurut pandanganku sendiri pria itu sama saja dan sering membuat aku
kecewa. Akankah aku akan menikah di tahun ini? Mengingat aku memiliki seorang
gadis kecil dan tidak lupa juga dengan isi tabungan wanita ini.
Beberapa hari ini sangat ama bagiku.Aku belum keluar rumah sama
sekali. Aku harus memebersihkan seluruh rumah ini. Aku juga tidak boleh menjadi
kaum rebahan. Soal Giska, Giska sudah dijemput sama Fillian. Aku mmerasa tenang
karena sudah menjadi tanggung jawabnya.
Sempat aku berpikir bagaimana aku sendiri aku yang mengantarkannya
__ADS_1
ke sekolah. Kata Fillian tidak perlu. Sebab aku sendiri sering sekali
membantunya. Ditambah lagi aku bekum pulih dari sakit. Aku harus rehat selama
sebulan. Ya sudah aku memilih tidak melakukannya.
Tiba-tiba saja aku teringat pada tabungan wanita ini. Aku harus
mencarinya dan menemukan buku tabungannya. Aku harus menghitung beberapa uang
yang dimilikinya. Jika ia tidak memiliki uang sama sekali, aku harus melakukan
apapun agar Giska bisa makan. Kasihan gadis kecil itu. Ia harus menjalani hidup
tanpa siapapun.
Sempat bertanya pada Fillian tentang buku tabunganku. Fillian
bercerita kalau buku tabungan milik wanita ini tersimpan di tumpukan-tumpukan
baju. Mataku membulat sempurna. Orang ini kok sama seperti orang di zamanku.
Suka menyimpan barang-barang penting di bawah baju. Ini sangat aneh sekali.
Hingga akhirnya aku menemukan buku tabungan itu di bawah tumpukan
baju. Aku mengambilnya dan melihat banyaknya buku tabungan. Aku tidak sengaja
melihat nominalnya yang sedikit. Jujur aku bekum survey pasar tentang bahan
makanan apapun. Aku tidak tahu beberapa harga makanan pada tahun ini dan
selanjuttnya.
Menjadi ibu dadakan itu tidak muda melakukannya. Aku harus mencari
Giska. Fillian hanya bertanya, kok kamu tidak tahu tentang putrimu sendiiri?
Untung saja saat itu aku bisa berkilah dan mengingat kejadian tentang kronologi
tentang kecelakaan itu. Aku bisa bilang kepada Fillian yaitu “KEMUNGKINAN BESAR
AKU TERKENA AMNESIA.” Syukurlah, Fillian
paham dengan aku.
Buku tabungan aku sudah diambil. Aku melihat isi tabungannya hanya
sedikit. Kemungkinan besar uangnya dipakai untuk perawatan selama di rumah
sakit. Aku mulai inisiatif untuk bekerja. Aku memulai membuat surat lamaran.
Akan tetapi aku mengingat ini kan zaman canggih. Seharusnya membuat surat
lamaran itu melalui digital dan menyebarkan ke sejumlah perusahaan. Lantas aku
teringat dengan beberapa benda elektronik yang berada di rumah ini. Akankah
semua benda elektronik bisa tersambung ke internet? Jawabannya belum tentu. Aku
hanya menemukan hanya sedikit benda eletronik. Palingan hanya tiga saja.
Sekesai membuat lamaran aku lemparkan ke sejumlah perussahaan di
kota ini. Mau jauh mau dekat aku pun menitipkan ke perusahaan. Untung saja
wanita ini sudah memiliki beberapa ijazah jenjang perkuliahan. Jadi aman buatku
agar tidak susah-susah mengambil atau meminta semesta alam mengambilkan ijazah
__ADS_1
di masa lalu.
Beberapa hari tidak ada panggilan satupun perusahaan. Aku sudah
keluar mengecek dan beberapa bahan makanan yang ternyata lebih mahal pada
zamanku dahulu. Contohnya saja harga beras yang harganya mahal banget. Yang
harganya dua belas ribu perkilo. Ini malah delapan ratus ribu. Aku sangat
terkejut dengan harga tersebut. Maklumlah zaman aku dahulu bisa dikatakan masih
murah. Zaman sekarang beda lagi harganya. Ya... sudahlah aku mulai berputus asa
untuk mencari uang. Tidak mungkin aku mengandalkan tabungan dari wanita ini.Aku
harus mencari uang untuk menghidupi Giska.
Saat Giska keluar dari sekolah, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan
di kafe dan restoran. Mereka menolakku mentah-mentah karena merekaa sendiri
sudah memakai tenaaga robot. Mereka lebih megirit pengeluaran yang digunakan
untuk masa depan. Aku sendiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Giska
saat itu. Aku harus menjadi wanita super sekaligus menjadi seorang ayah.
Aku mulai berputus asa karena tidak ada pekerjaan buatku. Padahal
aku sendiri saat ini membutuhkan pekerjaan. Aku tidak bisa menggunakan uang tabungan itu sampai habis. Aku tidak mau
melakukannya. Aku harus mencari uang.
Malam ini aku melihat Giska sudah tidur pulas. Jiwaku mulai merasa
iba terhadap Giska. Bagaimana caranya aku jatuh pada bocah kecil ini. Senyumnya
yang merekah, tutur lembut dari mulut mungilnya, bahkan pangggilan ibu yang
tidak pernah aku dengar dari anak manapun. Rasanya aku bahagia saat ini. Apakah
aku akan terjebak di tubuh ini hingga selamanya? Lalu apakah aku harus kembali
ke masa lalu. Dengan cara terlahir kembali namun beda tubuh. Ah... entahlah.
Aku mulai teringat dengan hidupku yang dulu. Aku mulai bangun dan
mencari berita di masa lalu. Yaitu tepatnya di tahun 2022. Yang di mana
peristiwa itu mengantarkan aku ke tubuh ini. Aku mulaai mencari informasi
tentang Sonia Barata. Tentu aku sangat penasaran sekali dengan tubuh asliku.
Beberapa saat kemudian aku menemukan berita tentang kematian atas
nama Sonia Barata. Aku membaca artikel itu dan membacanya. Jujur aku sangat
terkejut membaca berita itu. Ternyata aku beneran mati tertabrak kereta. ‘
Lalu aku menscroll hingga ke bawah dan melihat ada video kejadian
masa lalu itu. Jantungku berdegup kencang dan takut melihat kejadian tersebut.
Aku ragu ingin melihat kejadian itu. Namun aku penasaran sekali. Dengan tekad
yang kuat akhirnya aku buka.
Lalu.....
__ADS_1