System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 7


__ADS_3

"Tenang saja. Ibu sudah mendapatkan pekerjaan. Nanti kita tidak kekurangan uang sama sekali. Ya sudah kalau begitu. Kamu makan sekarang ya? Setelah itu kamu pergi tidur siang," jawabku.


Giska akhirnya menurut dan pergi ke dapur. Lalu aku mengikutinya dan mengambilkan makan siangnya. Setelah itu aku meninggalkan Giska sendirian di dapur. Aku teringat pada ponsel ajaib yang telah diberikan oleh Tejo. Aku bertekad untuk mencari uang agar kehidupan kami lebih baik lagi.


Di saat melihat benda pipih itu, aku mengambilnya dan melihat ponsel tersebut. Alangkah terkejutnya aku melihat ponsel yang sangat mahal sekali. Jujur baru kemarin aku melihat ponsel tersebut. Harganya tidak tanggung-tanggung bisa membeli rumahku ini. Ah sudahlah... Yang penting bisa dipakai untuk mencari pekerjaan.


Aku mengaktifkan ponsel tersebut dan mendapatkan satu pesan. Aku buka pesan itu lalu membacanya. Aku terkejut karena pesan itu berisikan, selamat datang di sistem terbaru kami. Yang di mana kamu mendapatkan banyak challenge. Melalui challenge itu kamu akan memiliki uang banyak.


Sontak saja aku terkejut. Aku tidak paham apa yang dimaksud sistem dan challenge tersebut. Akhirnya tanganku menekan sebuah kotak biru. Yang artinya aku mengaktifkan kotak tersebut.


Sedetik, dua detik, tiga detik ada sutu aplikasi. Kemudian aku mengklik aplikasi tersebut dan membacanya. Ternyata oh ternyata aplikasi tersebut adalah aplikasi menjaga anak. Tanpa pikir panjang aku mengambilnya.


Ting.


Sebuah pesan masuk di dalam aplikasi tersebut. Aku mulai bingung dan membukanya. Jujur pertama kali mengaktifkan ponsel itu langsung mendapatkan pesanan. Kemudian hatiku berkata, "Cepat sekali sih mendapatkan orderan baru."


Tiba-tiba saja suara Tejo menyahut. Tejo pun membalasnya, "Sudah dibilangin. Nomor kamu sudah tersebar di kota ini.mereka sangat membutuhkan manusia untuk menjaga anak-anaknya. Selamat bekerja!"


Aku membaca pesan itu dan pergi ke dapur. Ternyata Giska sudah selesai makan. Aku kembali membaca pesan itu berulang kali. Lalu menatap wajah Giska yang sedang murung.

__ADS_1


"Ibu sekarang sudah mendapatkan pekerjaan. Kamu tenang saja. Lusa kamu bisa menikmati liburan ke pantai," ucapku.


Mata Giska mulai berbinar dan tersenyum manis. Ia langsung menatap wajahku sambil bertanya, "Memangnya Ibu kerja di mana?"


"Ibu akan menjadi pengasuh anak. Ya sudah kalau begitu. Ibu akan pergi dahulu. Kamu di sini saja. Jangan pernah membuka pintu sebelum Ibu kembali. Di dalam kulkas ada puding untukmu. Kamu bisa memakannya setelah bobok siang."


Giska menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya. Setelah berpamitan aku langsung meninggalkan Giska. Untung saja sebelum Fillian pergi ke Semarang, aku sudah mendapatkan banyak informasi tentang Giska.


Dahulu sang pemilik tubuh ini adalah wanita karir. Sering sekali Mila sering meninggalkan Giska sendirian di rumah. Namun Giska tidak pernah keberatan sedikitpun. Bahkan dirinya sudah menjadi anak yang mandiri.


Sesampainya di depan gang, Aku mencari tukang ojek. Tapi aku lupa, sebab aku hidup di zaman ini. Di masa lalu tukang ojek banyak berkumpul di pos ronda. Atau juga mereka mangkal di warung wi-fi. Dengan terpaksa aku melihat mobil terbang tepat berada di atasku. Terpaksa aku melambaikan tangan agar salah satu mobil itu berhenti. Namun mereka tidak ada yang berhenti satupun.


Dengan terpaksa aku balik badan. Karena tidak mendapatkan satu mobil untuk mengantarkanku ke sana. Akhirnya Tejo menegurku lagi. Agar aku membuka satu aplikasi khusus. Yang di mana untuk memesan taksi. Aku pun menurutinya dan memesan satu taksi tersebut.


Ketika aku ingin memberitahukan kemana tujuanku. Sang sopir segera mengangkat tangannya dan membentuk huruf o. Yang artinya sang sopir sudah mengetahui kemana tujuanku.


Saat mobil itu berjalan, aku tidak sengaja melihat sang supir melalui kaca spion dalam. Mataku membulat sempurna. Ternyata yang menjadi sopir adalah si Tejo. Aku hanya menghembuskan nafasku dengan kasar. Lalu aku bertanya, "Kenapa tiba-tiba kamu menjadi sopirku?"


"Sebelum kamu memiliki mobil, aku ditugaskan untuk menjadi maaf aku belum menjelaskan semuanya. Jika zaman ini sudah tidak ada ojek online. Di sini masyarakatnya sudah memiliki mobil sendiri-sendiri. Makanya kenapa di kota ini sudah tidak macet lagi? Karena sistem layang sudah diterapkan. Jadi jalan raya di sini sudah tidak ada guna lagi. Selain menghemat waktu dan biaya, mobil tersebut juga bisa disimpan di dalam kantong. Lahan parkir di sini sudah tidak ada sama sekali," jelas Tejo yang mulai menaikkan mobil tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kereta api?" tanyaku.


"Jangan bilang kamu ingin bunuh diri lagi. Kalau kamu melakukannya, Apa kamu nggak kasihan sama Giska?" tanyanya dengan nada kesal.


"Aku nggak bilang pengen bunuh diri. Aku ingin tanya di mana kereta itu berada?" tanyaku.


"Sudah tidak ada yang namanya kereta. Semua orang memiliki mobil mesinnya sama dengan pesawat terbang. Bisa dikatakan orang-orang bepergian jauh hanya memakai mobil saja. Apalagi mobil zaman sekarang lebih canggih. Kamu bisa melakukan perjalanan Jakarta ke New York city. Dengan cara kamu mengaktifkan tombol autopilot. Maka dari itu kamu bisa istirahat di jalan," jelasnya.


Well, jujur aku masih bingung dengan teknologi zaman sekarang. Aku belum bisa mencerna apapun yang sedang terjadi ini. Bagi Mila sang pemilik tubuh ini sudah biasa. Bagiku Aku masih bingung. Untung saja yang menjadi supirku adalah si Tejo. Makanya aku tidak segan-segan bertanya sesuatu hal atau banyak hal.


"Kalau jalan kaki menuju ke customer jauh apa nggak?" tanyaku.


"Jauh. Dari rumahmu menuju ke rumah customer mencapai dua puluh kilo meter. Aku saranin kamu membeli mobil saja," jawabnya yang masih fokus dalam menyetir.


Mataku membulat sempurna. Hatiku merasa kejang-kejang. Bagaimana bisa aku membeli mobil dalam waktu dekat ini? Sedangkan uang saja aku tidak memilikinya.


Tejo yang mengetahui hanya bisa tertawa. Ia seakan mengejekku dan ngeledekku habis-habisan. Aku mengangkat wajah dan ingin menghajarnya. Namun Tejo berkata, "Kalau kamu ingin menghajarku percuma saja. Sebab aku sendiri adalah seorang malaikat. Bukan seorang manusia. Jadi kamu tidak akan bisa memukul bahkan membantingku. Lebih baik kamu simpan saja tenagamu. Agar fresh merawat anak-anak kecil itu."


Benar juga apa yang dikatakan oleh Tejo. Jangankan memukul, memegangnya aku tidak bisa. Ya sudahlah... Aku akan mengurungkan niatku untuk menghajar Tejo.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah customer. Mataku kembali membulat sempurna. Aku tidak sengaja melihat jam di ponsel. Jujur aku sangat terkejut sekali. Perjalananku menuju rumah hingga ke rumah customerku hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Padahal Tejo membawa mobil tidak mengebut sama sekali.


"Cepet banget ya?" tanyaku.


__ADS_2