
"Harga wortel ini seratus dua puluh lima ribu. Rasanya sangat enak dan manis. Sebab wortel ini dikombinasikan dengan jeruk manis," jawabnya.
Mataku melotot sempurna. Jujur harganya sangat mahal sekali. Akhirnya jiwa tawar-menawar ku hadir kembali seperti dahulu.
"Apakah bisa kurang harga wortel ini?" tanyaku sambil memegang wortel ini.
"Bisa. Harganya berkurang sebanyak lima ribu saja," jawabku.
"Sama saja itu Pak nggak ada penawaran yang bagus buat aku. Bisa dikurangi sedikit nggak?" tanyaku yang mengeluh kemahalan.
"Memangnya neng mau harga berapa?" tanyanya balik.
"Seratus ribu. Jika tidak dikasih ya sudah. Aku akan mencarinya di tempat lain," jawabku.
Jujur, harga sayuran itu sangat mahal sekali. Tapi aku sangat membutuhkannya demi Giska. Aku akan berusaha mencarinya di pasar. Beberapa penjual wortel jumbo menawarkan aku dengan harga murah. Mereka mengatakan wortel itu sudah dikombinasikan dengan beberapa buah. Aku jadinya sangat tertarik sekali. Mau tidak mau aku membeli satu wortel ke setiap pedagang.
Jika mereka bilang wortel itu enak. Maka aku akan membelinya lagi. Semoga saja rasa wortel itu membuat Giska semakin semangat memakan sayur.
Saat aku kembali, penjual wortel itu memintaku datang lagi. Aku disuruh membelinya. Tapi sang penjual wortel itu telah menurunkan harganya. Aku merasa iba dan membelinya satu biji saja.
Setelah membeli wortel, aku berburu membeli ayam dan beberapa ikan laut dan beras beberapa kilo saja. Untung saja aku tidak meminta diskon untuk hari ini.
Bahan makanan yang aku catat sudah terbeli semuanya. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Di dalam perjalanan aku tidak menemukan siapa-siapa. Seperti biasanya jalanan masih sepi kayak dulu. Mobil-mobil pun masih jarang untuk terbang ke awan.
Sesampainya di rumah Aku mencari keberadaan Giska. Ternyata siang ini Giska masih tidur. Lalu aku mendekatinya dan memegang tangan mungilnya Giska.
"Giska bangunlah... Sudah siang... Ayo kita pergi ke sekolah," ucapku sambil membangunkan Giska.
Giska tersenyum dan bangun memeluk tubuhku. Kemudian Giska memutuskan untuk pergi ke toilet. Sedang dan diriku membersihkan rumah terlebih dahulu.
__ADS_1
Aku baru sadar jika hidup di masa ini. Tidak ada tetangga sama sekali. Kemungkinan besar orang-orang hidup di dalam apartemen. Sepertinya mereka ingin mendapatkan keamanan yang ekstra.
"Ibu," teriak Giska dari dalam toilet.
Aku bergegas berlari menuju ke toilet lalu masuk ke dalam, "Ada apa sih kamu kok teriak-teriak seperti itu?"
"Upz... Peralatan mandi kita tinggal sedikit," jawabnya.
"Tenang saja. Ibu sudah membelinya. Sebentar ibu akan mengambilnya untukmu," ucapku sambil meninggalkan Giska di dalam toilet.
Untung saja aku sudah membelinya semua. Jadi aku tidak perlu repot-repot lagi ke pasar. Itulah wanita yang langsung heboh ketika barang di rumah habis semua.
Saat aku membongkar belanjaanku, aku teringat akan pesan dari Rosita. Tapi aku belum bisa menghubunginya. Karena aku tidak memiliki ponsel sama sekali.
"Untung saja aku sudah membelinya. Jika tidak Bagaimana dengan Giska mandi?" tanyaku dalam hati.
"Sekarang kamu sudah mulai protect terhadap anak kecil ya? Masih ingat nggak kamu sewaktu Ada anak kecil yang mendekatimu. Kamu menolaknya dan mengusirnya dari rumah," ledek Tejo.
"Perubahan kamu sangat signifikan sekali. Baru berapa hari kenal saja, kamu seperti perangko dan lem," tambahnya.
"Memang pada waktu itu aku tidak menyukai anak-anak. Anak-anak zaman dahulu sangat merepotkan sekali. Tapi aku sadar sekarang mereka mewarnai hariku. Semoga saja aku bisa merawatnya hingga Giska menjadi orang sukses," jawabku sambil berdoa agar Giska menjadi orang sukses.
"Baguslah. Kalau begitu aku pergi dulu," udah punya yang tiba-tiba saja menghilang.
Aku pun hanya memutar bola mataku dengan malas. Aku tidak paham dengan si Tejo. Tiba-tiba saja hadir lalu pergi lagi. Untung saja tidak ada Giska di hadapanku.
Aku langsung menuju ke toilet dan memberikan perlengkapan mandi. Setelah itu aku mulai memasak dengan santai.
Tak selang beberapa menit kemudian, datang Fillian bersama Rio. Sebelum masuk mereka mengetuk pintu. Aku langsung menyuruhnya masuk dari arah dapur. Mereka akhirnya masuk dan mencariku ke sembarang tempat.
__ADS_1
"Beginilah tempatnya Mila sekarang. Semua asetnya dijual untuk pengobatan hingga sadar. Aku harap Mila bisa bertahan hidup tanpa apa suaminya itu," ucap Fillian.
"Hidupnya sangat mengenaskan sekarang. Aku mendengar kabar terakhir kalau Mila memang benar-benar kecelakaan murni. Kasus ini akan ditutup untuk selamanya," jelas Rio.
Ketika sampai di dapur mereka melihatku yang sedang memasak. Jujur Fillian terkejut karena aku memasak sayur-sayuran.
"Kamu kok bisa masak ya?" tanya Fillian sambil menaruh paper bag di atas meja.
Aku menatap Fillian yang bingung. Jujur semenjak aku menjadi CEO di perusahaan ayahku, Aku tinggal di tempat terpisah sama kedua orang tuaku. aku memang sengaja memisahkan diri karena ingin menjadi wanita mandiri.
Kenapa Fillian terkejut melihatku ketika sedang memasak? Apakah aku salah selama ini? Inilah yang menjadi pertanyaan di dalam hatiku sendiri.
"Sebentar, memangnya ada yang salah ya jika aku memasak seperti ini?" tanyaku.
Fillian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Ia sepertinya menyembunyikan sesuatu dari aku. Lalu aku menatap wajahnya sambil bertanya, "Fill, memangnya aku tidak bisa memasak ya?"
"Nih aku kasih info sama kamu. Sepertinya kamu benar-benar amnesia. Kamu dulu tidak pernah bisa memasak sama sekali. memegang bumbu dapur pun kamu menyerah setengah mati. Sekarang aku benar-benar terkejut sama kamu. Sebab kamu sekarang pandai memasak," jawabnya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sang pemilik tubuh ini ternyata tidak bisa memasak sama sekali. Ketika aku ingin bertanya, suara hatiku menghentikan itu semuanya.
"Hmmp... Masa aku nggak bisa masak?" tanyaku.
"Jujur saja kamu nggak bisa memasak sama sekali. Memegang pisau pun atau bawang, Kamu menyerah dan ingin menangis saja. Tapi hari ini aku terkejut melihatmu memegang pisau dan mengiris bawang seperti Orang yang ahli," jawabnya sambil menjelaskan keadaan diriku sebenarnya.
Aku benar-benar bingung mau menjawab apa. Aku tidak akan mungkin menceritakan siapa diriku sebenarnya? Aku juga tidak ingin membuka identitas rahasiaku. Meskipun aku hidup di masa lampau. Namun aku bisa melakukan apapun.
Bagaimana dengan tanggapan Giska? Giska yang serumah denganku tidak memperdulikan soal itu.Ia hanya memintaku untuk tinggal bersamanya. Ia tidak ingin kehilangan sosok ibu tunggalnya itu.
"Apakah dulu aku juga tidak bisa bersih-bersih rumah?" tanya aku yang penasaran.
__ADS_1
Fillian menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Jangankan membersihkan rumah. Memegang sapu pun tidak pernah sama sekali."
"Memangnya ada ya di sini sapu?" tanyaku yang bingung.