System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 11


__ADS_3

“Iya... apakah Kak Rosita tidak memberikan sapu?” tanya Fillian. 


“Sapu?” tanyaku balik yang bingung. 


Aku merasa di sini tidak ada sapu. Memangnya di dunia yang canggih ini ada sapu? Sapu yang ada gagangnya dan bawahnya ada ijuknya. Jujur aku kebingungan. 


Mata Fillian sedang mencari keberadaan benda untuk membersihkan lantai. Ia berdiri sambil menyusuri di setiap ruangan. Tiba-tiba saja Fillian menemukan sebuah vacuum cleaner. 


“Mila!”


“Mila!” 


“Mila!”


Aku pun yang memandang Rio. Ingin rasanya aku berkenalan dengan pria tampan di depanku. Namun aku merasa sungkan. Sangking sungkangnya aku memilih diam. 


“Mila!”


“Mila!” 


“Mila!”


Sudah dua kali aku masih tidak bergerak. Bukannya aku malas bergerak. Aku memang menunggu kedatangan Giska. Namun Giska belum keluar juga. Akhirnya aku memutuskan untuk berdiri. Sebelum pergi meninggalkan pria tampan itu, aku pun berpamitan terlebih dahulu. 


“Maaf, aku mau pergi ke kamar terlebih dahulu,” pamitku. 


“Memangnya Giska kemana? Sedari tadi aku mencarinya,” ucapnya. 


“Kamu siapa?” tanyaku. 


“Masa kamu enggak tahu siapa aku?” tanyanya. 


Akupun bingung dengan apa yang dia tanyakan. Jujur aku sendiri tidak tahu siapa dia? Tapi kenapa dia bisa kenal dengan Giska?


“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku. 


“Kita sudah saling mengenal ketika di jaman sekolah,” jawabnya. “Bahkan aku yang mengantarkan kamu ke rumah sakit ketika kamu sedang sekarat.”


“Apa?” pekikku. 


Tak lama datang Fillian dengan wajah kesal. Matanya yang sipit itu melototiku hingga jengkel. Ingin rasanya tertawa tapi tetap aku tahan. 


“Ada apa Fillian?” tanyaku. 


“Ini loh yang namanya sapu,” jawabnya sambil menunjuk vacuum cleaner. 

__ADS_1



Akhirnya aku terdiam dan menatap wajah Gillian sambil bertanya, “Ini bukan sapu Bambang!”


“Idih... Masih ingat dengan sebutan Bambang?” tanya Fillian yang tiba-tiba mengejek. 


“Ya iyalah. Aku lebih suka memanggil orang memakai nama Bambang,” jawabku. 


“Ternyata kamu sudah ingat semuanya?’ tanya Fillian yang tersenyum manis. 


“Ya... ingatlah,” jawabku sambil tersenyum manis, 


“Lalu, apakah kamu mengenal dia?’ tanya Fillian sambil menunjuk Rio. 


“Hmmp.... siapa dia?” tanyaku. 


“Aku tidak mengenalnya,” jawabku sambil menatap wajah pria itu. “Dia siapa?” 


“Aish... kamu nggak tahu siapa dia?” tanya Fillian. 


“Nggak,” jawabku dengan jujur. 


“Kenapa kamu enggak mengingatnya? Padahal dia adalah teman sekolah kita,” tanya Fillian. 


“Maaf... aku nggak ingat sama sekali,” jawabku sekali lagi. “Memangnya ada apa sih? Dan siapa dia?”


Aku hanya menganggukkan kepalaku karena tidak mengenalnya. Aku hanya menegurnya saja dan berpamitan menuju ke kamar Giska. Namun sebelum aku pergi, Fillian meminta izin untuk pergi bekerja bersama Rio. 


“Sebentar... aku ,mau pergi ke kamar Giska terlebih dahulu,” pamitku. 


“Lebih baik kami pergi lebih terdahulu,” pamit Fillian. 


“Hmmp... kok cepet?” tanyaku. 


“Ya... jam sudah menunjukkan masuk ke kantor. Kami harus pergi dari sini. Bye!” balas Fillian. 


Aku mengantarkan mereka pergi ke depan. Di dalam hati aku meminta maaf karena belum ingat siapa Fillian sebenarnya. Ditambah lagi dengan kehadiran Rio. Ah... kapan-kapan aku mencari informasi tentang mereka. 


Teringat akan Giska yang masih mandi, aku langsung meluncur ke kamar. Namun sebelum masuk ke kamar, Giska membuka pintu dan melihatku sambil bertanya, “Ibu, nanti ibu pergi ke sekolah?” 


“Ya... ibu akan mengurusi liburan kamu,” jawabku sambil membungkukkan badannya sambil menggendong Giska. 


“Nanti ibu bertemu dengan Madam Gea ya,” pintanya. 


“Baiklah,.. aku akan menemuinya,” balasku yang menuju ke dapur. 

__ADS_1


“Apakah ini akan bekerja?” tanya Giska sekali lagi. 


“Tidak. Ibu tidak bekerja,” jawabku. 


“Apakah ibu menyayangiku?” tanyanya dengan sendu. 


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanyaku yang memasuki dapur. 


“Karena banyak sekali teman-temanku yang mengatakan kalau ibu tidak menyayangiku,” jawabnya. 


“Oh... ibu... selalu menyayangimu. Cinta ibu tak pernah pudar hingga akhir hayat,” ucapku yang membuat Giska tersenyum manis.


“Giska juga cinta ibu. Giska juga sayang ibu,” ucapnya sambil mencurahkan isi hatinya. 


“Begitu juga dengan ibu. Oh... ya... ibu mau memasak tumis dulu ya?” pintaku sambil menurunkan Giska sambil tersenyum. 


Sebelum memasak aku mengusap rambut lembut milik Giska. Aku segera melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Aku berharap bahwa hari ini akan ada pekerjaan baru. Sehingga aku harus menabung dan membiayai Giska hingga dewasa. 


“Ibu,” panggilnya. 


“Sebentar,” aku menyela pembicaraan Giska karena masih menumis. 


Tak butuh waktu lama, masakanku sudah selesai. Entah kompor apa yang kumiliki sekarang? Memang aku akui sudah canggih dan sangat berguna sekali. Bahkan kompor ini bisa menyelesaikan masakan dalam waktu lima menit. Pada awal aku sempat heran dengan kompor itu. Sebab kompor itu seperti dalam permainan game memasak pada zaman aku masih menjadi Sonia. 


Setelah memasak aku membaginya menjadi dua. Yang satu buat sarapan Giska. Yang satu lagi buat bekal sekolahnya. Di dalam masa pertumbuhan Bisa membutuhkan banyak gizi. Maka dari itu aku sudah fasih memasak menu makanan anak-anak. Jujur aku juga mengkonsumsi menu itu ketika banyak aktivitas di kantor. Karena di zaman dahulu aku sangat sibuk sekali. Tubuhku membutuhkan gizi yang cukup besar. 


Setelah memasak aku membantu Giska beres-beres. Inilah keseharianku setelah bereinkarnasi. Jujur saja aku lebih menikmati hidupku yang ini. Melihat Giska tertawa, menangis, tersenyum bahkan jahil. Rasanya aku tidak ingin kembali lagi ke asalku  dulu. 


Tepat jam 7 pagi, seperti biasa aku mengantarkan Giska ke depan. Untung saja Giska tidak ketinggalan bis sekolah. Sebab sebelum mengantarkannya aku harus mengembalikan barang-barang yang sudah diambil oleh Fillian. 


Selesai Giska naik ke bus, aku melambaikan tangannya sambil mengucapkan selamat belajar. Lalu aku mau balikan badanku dan bertanya-tanya. Apa benar yang dikatakan oleh Fillian sang pemilik tubuh ini tidak bisa membersihkan rumah? Ditambah lagi tidak bisa memasak. Ini sangat aneh sekali. Lalu Apakah sang pemilik tubuh ini memesan asisten rumah tangga? Ah sudahlah aku tidak memikirkannya lebih lanjut lagi.


Tiba-tiba saja ada sebuah mobil putih turun di hadapanku. Aku mengerutkan kening sambil bertanya di dalam hati. Siapakah dia? Apakah dia Tejo? Kalau kesini ngapain juga? Aku tidak habis pikir dengan kelakuan sang malaikat gila itu. Rasanya aku ingin memegangnya dan mencubitnya.


Beberapa saat kemudian seorang wanita sedang menggendong bayi berusia lima bulan. Wanita itu mendekatiku sambil menyodorkan bayi itu kepadaku..


“Bisakah kamu menjaga anakku selama satu jam saja?” tanya wanita itu.


“Bisa. Berikanlah kepadaku,” jawabku sambil meraih anak itu.


“Siapa nama kamu?” tanyanya lagi.


“Oh iya... Perkenalkan namaku Mila,” jawabku sambil tersenyum manis sambil melihat sang ibu sedang terburu-buru.


“Maaf, aku tidak sempat berkenalan denganmu. Jika kembali aku akan mengenalkan diriku kepadamu. Sekarang Aku harus pergi ke pasar dan membeli bahan-bahan makanan untuk seminggu ke depan,” ucapnya sambil meninggalkanku dan masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


“Hati-hati di jalan,” balasku sambil melambaikan tangan. 


Wanita itu tersenyum manis dan masuk ke dalam mobil. Aku memutuskan masuk ke dalam rumah dan menunda membersihkan rumah. Aku duduk bersama anak itu dan bercanda. Saat bercanda tiba-tiba saja Tejo hadir dan bertanya, “Apakah kamu membutuhkan sesuatu?”


__ADS_2