
"Baiklah. Namaku adalah Rosita. Aku adalah kakakmu. Dan ini suamiku bernama Yanto," jawab Rosita nama wanita itu.
"Oh... lalu, siapa aku?" tanya Sonia.
"Kamu adalah Mila Wijaya. Setahun lebih kamu mengalami kecelakaan yang fatal. Ketika kamu dan suamimu pulang dari puncak," jawab Rosita.
Sonia mulai ternganga tidak percaya. Ia bingung apa yang harus dikatakan. Bagaimana tubuh wanita ini mengalami kecelakaan? Rosita bingung dan hampir tidak mempercayai semua ini.
"Kalau aku memiliki suami. Dimana suamiku?" tanya Sonia yang mengerutkan dahinya.
"Sumamimu sudah tidak bernyawa ketika saat ditemukan oleh tim SAR. Mobilmu juga hancur berantakan. Hanya kamu dan anakmu yang bisa diselamatkan," jawab Rosita yang membuat Sonia menelan saliva dengan susah payah.
Cobaan apa lagi ini buat Sonia? Apakah ia memiliki hidup menyedihkan seperti ini? Lalu bagaimana dengan anak itu? Dia telah kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Dia tidak tahu kalau tubuh ini ia pinjam. Ah... Sonia menjadi frustasi gara-gara ini.
"Maafkan aku Mila. Aku harus mengatakan ini semuanya. supaya kamu tidak mencari keberadaan Hari," ucap Rosita dengan menyesal.
"Baiklah," balas Sonia. "Sebenarnya aku bukan Mila."
"Jangan bercanda seperti itu," ucap Rosita yang tersenyum lebar.
"Aku tidak bercanda. Aku serius," sahut Sonia yang mulai serius lalu memilih diam.
Siapa lagi Hari? Sonia tidak mengenalnya. Ia hanya mendengar namanya saja. Apakah Hari adalah suamiku? Di kehidupan sebelumnya, Sonia belum menikah sama sekali. Sonia harus apa sekarang?
"Berarti aku adalah single mother?" tanya Sonia yang membuat mereka menganggukan kepalanya secara serempak.
"Iya... kamu sekarang single mother," jawab Yanto lagi.
Bagaimana bisa Sonia menjadi single mother dari anak kecil itu? Pertanyaan demi pertanyaan selalu bergulir di dalam otaknya. Ia tidak pernah merasa menjadi single mother. Lalu ia harus apa? Sementara itu Sonia sendiri tidak bisa merawat seorang anak?
"Baiklah," ucap Sonia dengan lemah sambil menundukkan wajahku.
"Oh... ya... seluruh tabunganmu habis untuk membiayai rumah sakit ini selama kamu koma. Dan untuk keperluan hidup Giska. Beberapa hari lagi kamu harus keluar dari rumah sakit ini. Karena aku sudah tidak sanggup lagi membiayai kalian berdua. Di ujung jalan aku membeli sebuah rumah yang cukup kecil. Aku rasa rumah itu bisa melindungi kalian dari hujan dan panas. Setelah ini kami aku dan Mas Yanto akan kembali ke Papua. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan lama-lama," jelas Rosita.
"Baiklah," balas Sonia. "Lalu di mana anak itu? Siapa namanya?"
"Kamu tidak mengenalnya? Apakah kamu amnesia?" tanya Yanto balik.
__ADS_1
Sonia bukan amnesia tahu. Ia bukan pemilik tubuh ini. Asal kalian tahu, kalau Sonia dihempaskan oleh malaikat untuk menempati tubuh ini. Ia sungguh kesal. Rasanya ia ingin melepaskan jiwanya dari raga ini.
"Namanya Giska. Bukannya kamu yang memberikan nama buat putrimu sendiri?" tanya Yanto.
"Iya sih, aku lupa," kilah Sonia dengan cepat.
"Kalau begitu kami pamit pulang. Nanti akan ada teman kamu yang bernama Filian ke sini untuk membawa Giska," ucap Rosita.
Sonia hanya menganggukan kepalanya. Ia tidak membalas apapun kepada mereka. Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah mereka pergi, Sonia merasakan sunyi. Yang di mana ia tidak memiliki seorang teman satupun. Lalu ia teringat dengan tubuh ini.
Sonia berusaha duduk di atas ranjang. Lalu ia melihat tubuh ini dan mengecek semuanya. Alangkah kagetnya tubuhnya mulai berubah menjadi semungil ini? Rasanya Sonia ingin meringis. Apakah tubuh ini bisa diajak kompromi dalam bekerja? Entahlah.
Jika Sonia mulai ada di tubuh ini hari ini? Lalu ia mati dengan konyol seperti itu kapan? Kenapa cepat sekali ia mendapatkan pengganti tubuhnya? Apakah ia orang di masa depan? Atau ia hanya orang di masa lalu? Ia masih bingung.
Namun setelah Sonia pikir. Jika iya orang dulu belum ada kereta. Tapi kalau dirinya jaman masa depan, kemungkinan besar ada kereta dan itu banyak.
Ini akan menjadi teka-teki yang belum bisa dipecahkan. Sonia hanya memilih diam dan tidak memperdulikan hal ini. Lebih baik ia akan menjalankan hidup bersama Giska. Sonia harus bisa bangkit. Sonia akan menjadi seorang ibu dan seorang ayah baginya. Lalu bagaimana dengan biaya hidupnya bersama Giska?
Sonia yang sedang melamun terkejut. Ia menatap wajah gadis itu. Ia ingin bertanya sesuatu. Tapi dirinya memutuskan untuk tidak bertanya. sudah cukup informasi yang ia dapatkan dari Rosita.
"Hi... Fillian," sahut Sonia sambil tersenyum manis.
"Apa kabarmu?" tanya Filian.
"Kabar baik," jawab Sonia.
"Sudah lama kita tidak berjumpa. Aku sangat merindukan kamu," ucap Filian.
"Aku juga," ujar Sonia.
Fillian akhirnya mengangkat tubuh Giska. Giska langsung memeluk Sonia dan menangis sesenggukan. Fillian bercerita kalau Giska sangat merindukan aku.
Sonia langsung memeluk tubuh mungil Giska dan membelai rambutnya. Ketika memeluknya, Sonia merasakan ada sesuatu magnet di dalam hati kami berdua. Kami merasakan ada kekuatan yang tidak bisa dipisahkan.
Malam pun tiba. lampu di ruang perawatan sudah menyala. Sonia mulai turun dari brankar. Entah kenapa tubuh mungil ini memiliki banyak energi. Namun ia merasakan ada sesuatu yang tidak bisa dikatakan secara langsung.
__ADS_1
"Ibu," panggil Giska yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah.
"Ya... ada apa?" tanya Sonia.
"Apakah Ibu baik-baik saja untuk sekarang?" tanya Giska dengan semangat karena melihat Sonia yang sudah bangun dari tidur panjangnya.
"Ibu baik-baik saja," jawab Sonia.
"Habis gini kita tinggal di mana?" tanya Giska yang membuat Sonia duduk di sampingnya.
"Mau ikut ibu tidak?" tanya Sonia.
"Ibu mau kemana?" tanya Giska balik.
"Ibu akan tinggal di sebuah rumah kecil yang berada di ujung sana," jawab Sonia yang menunjuk dengan asal.
"Bagaimana kita hidup?" tanya Giska yang menaruh pensilnya.
"Tenang saja. Ibu bisa hidup bersama kamu. Setelah keluar dari sini ibu akan mencari informasi tentang pekerjaan. Yang penting kamu tenang dan tetap belajar," pinta Sonia.
"Ibu tidak akan meninggalkan Giska lagi kan?" tanya Giska yang ketakutan. "Giska sekarang tidak memiliki siapa-siapa. Ayah sudah meninggal."
Trenyuh sudah hati ini. Sonia langsung memeluk tubuh mungil Giska sambil mengucapkan salam hati, "Ibu tidak akan pergi meninggalkan kamu selamanya. Ibu janji akan mencari pekerjaan yang baik."
Keesokan harinya, Sonia memutuskan untuk membantu Giska mandi sendiri. Ia diam-diam belajar bagaimana caranya memandikan anak kecil.
Tak pernah terbayang dalam hidup saat ini. Di masa lalu Sonia hidup tidak memiliki seorang putra maupun putri. Karena ia sendiri tidak menyukai anak-anak.
Awalnya Sonia bingung dengan keadaan ini. Keadaan yang memaksa untuk memandikan seorang gadis kecil. Ia mulai menuruti nalurinya. Dengan begitu Sonia mulai belajar merawat putra-putriku kelak.
Kemudian Fillian datang. Lalu Sonia mengerutkan keningnya. Entah kenapa Sonia merasa curiga akan kedatangannya. Apakah setiap hari gadis itu mengantarkan Giska ke sekolah dan menjemputnya? Rasanya ini sangat aneh sekali.
"Mila," panggil Fillian.
"Ada apa?" tanya Sonia.
"Apakah kamu baik-baik saja?' tanya Fillian.
__ADS_1