System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 14


__ADS_3

Aku tersadar kalau sekolah Giska bernama Cinta dan Abadi. Aku hanya mengerutkan kening dan bertanya-tanya, kenapa sekolah ini bernama Cinta dan Abadi? Ah… mungkin saja sang pemilik ingin sekolah ini abadi untuk selamanya. Ah… sudahlah.


Aku melihat gerbong sekolah terbuka. Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam. Namun aku melihat Pak Satpam yang sedang duduk santai di posnya. Jujur aku lupa bertanya kepada Giska menemui siapa pada pagi ini. Aku harus mencari informasinya terlebih dahulu. 


"Pak, dimana ruangan administrasinya ya?" tanyaku. 


"Oh… ingin bertemu dengan pihak administrasi?" tanya Pak Satpam yang tersenyum. 


"Iya pak," jawabku dengan cepat sambil membalas senyuman Pak Satpam itu. 


"Dari sini nona berjalan ke samping kiri. Habis gitu belok kanan lurus lagi. Habis gitu lurus ke kiri dan nanti ada tiga ruangan.Ruangan kepala sekolah, ruangan guru dan juga ruangan administrasi. Di sana ibu bisa membayar semua keperluan sekolah. 


Akhirnya aku hanya menganggukan kepalaku. Aku berjalan menuju ke sana sambil mengikuti Pak Satpam tadi. Aku melihat sekolah Giska yang sangat besar sekali. Bahkan besarnya melebihi sekolah jamanku dulu. Aku tidak habis pikir dengan jaman sekarang. Jaman yang dimana penuh dengan keanehan.. 


Sesampainya di sana aku melihat ruangan administrasi. Aku masuk ke dalam dan menemui seorang robot yang mirip sekali manusia. Aku bingung harus berkata apa? Tapi aku mencoba untuk berkomunikasi dengan robot itu. Aku terdiam sejenak dan bertanya dalam hati. Apakah robot itu bisa memakai bahasa Indonesia? 


"Selamat pagi Ibu Mila Sanjaya," sapa robot itu. 


Mataku membelalak sempurna. Ternyata robot itu biasa mengenaliku. Aku pun tersenyum tipis dan kembali menyapanya, "Selamat pagi. Ternyata kamu mengenalku?" 


Sang robot itu menganggukan kepalanya. Lalu robot itu menjawab, "Aku memang diprogram mengingat seluruh wali murid dan para orang tua siswa yang berada di sini." 


"Ah… baguslah. Aku sangka tidak ingat aku," celetukku. 


Wajah robot itu memerah di pipinya. Rasanya aku ingin sekali membawanya pulang dan menjadikannya sebagai teman di rumahku ketika Giska tidak ada, Tiba-tiba saja Tedjo berteriak jangan pernah membawa pulang robot satupum. Itu bisa membahayakan keselamatan dirimu dan juga Giska. 


Aku menyimpan pertanyaanku itu dan akan menanyakan kepada Tejo. Memang terdengar sangat aneh sekali bagiku.


"Memangnya pihak sekolah mau mengadakan liburan ke mana?" tanyaku. 


"Ke Phuket Thailand," jawabnya. 


Sontak saja aku terkejut dengan pernyataan dengan robot itu. Aku menatapnya dan menanyakan kembali. Robot itu menjawabnya dengan jawaban yang sama. Lantas aku hanya bisa menggelengkan kepalaku saja. Aku tidak menyangka kalau Giska sudah liburan hingga ke luar negeri segala. 

__ADS_1


Selesai membayar biaya perjalanan menuju ke Phuket, aku membalikkan badanku. Namun sebelum pergi robot itu memperingatkanku untuk ikut serta demi menjaga Giska. Aku mengiyakan saja. Karena aku sendiri sudah lama tidak ke sana. 


Aku berjalan menuju ke luar. Akan tetapi jam istirahat pertama berbunyi. Aku mulai melihat Giska yang sedang berlari ke arahku. Aku langsung berjongkok sambil merentangkan kedua tanganku. Sebab Giska sedang berlari menuju ke arahku. 


"Ibu," teriaknya dengan ceria sambil menabrakkan hingga dirinya terjatuh ke lantai. 


Aku memeluk Giska dan mencium aroma strawberry yang sangat manis itu. Lantas aku dibisiki sesuatu dengan nada bergetar. Aku menatap wajah Giska sa dan melihatnya. 


"Gadis kecilku," panggilku dengan lembut. 


"Ada apa Bu?" tanyanya yang menunduk. 


"Ada apa sayangku? Kenapa tiba-tiba saja kamu ingin menangis?" tanyaku. 


"Teman-teman kelasku pada mengejekku. Karena aku sendiri tidak mengikuti liburan esok hari ke Phuket Thailand," jawabnya yang matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir kristal yang indah. 


Dengan cepat aku memeluknya. Lalu aku berbisik kepada Giska dan memberitahukan kabar gembira ini. 


"Tenanglah, ibu sudah membayar administrasinya. Jadi besok pagi kita bisa pergi kesana bersama para teman-temanku," bisikin sambil mengelus rambutnya yang hitam itu. '


Lantas aku menggelengkan kepalaku untuk tidak berkata apapun. Namun. saat itu Giska sangat keberatan. Sebab ia harus mengatakannya kepada mereka. Aku tidak ingin Giska pamer kepada semua orang. Aku hanya ingin Giska diam-diam saja. Aku akan mengajari Giska menjadi sosok anak yang unik dan penuh kejutan terhadap teman-temannya. 


"Kenapa aku tidak boleh mengatakan itu kepada mereka?" tanyanya. 


"KIta akan memberikannya kejutan buat teman-temanmu. Bahwa besok pagi kamu akan pergi ke sana bersama ibu," jelasku. 


Giska pun tersenyum menyetujui permintaanku. Giska mengacungkan jempolnya ke arahku sambil berkata, "Terima kasih Bu." 


Akupun tersenyum manis dan mengecup kening Giska dan melepaskannya. Sebelum aku berdiri, 


Ting. 


Aku mengambil ponselku dan membaca isi pesan tersebut Aku mendapatkan orderan untuk pergi ke ujung timur jawa Barat. Di sana ada seorang ibu yang akan pergi mengunjungi kedua orangtuanya ke Manado. Ia memintaku untuk menjaganya selama pergi kesana. Aku langsung mengambilnya. Sebelum pergi aku berpamitan pada Giska. 

__ADS_1


"Hmm… Giska," panggilku.


"Iya," sahutnya, 


"Ibu pergi dulu ya," ucapku yang sekalian berpamitan. 


"Iya Bu. Ibu hati-hati ya," ucapnya. 


"Siap," balasku lalu berdiri meninggalkan Giska. 


Aku hanya melambaikan tangan ke arah Giska. Aku langsung pergi meninggalkan sekolah itu. Tiba-tiba saja aku melihat mobil mewah berwarna hitam sudah terbuka pintunya. Aku mengerutkan keningku sambil bertanya, "kenapa ada mobil yang sudah terbuka dengan pintunya? Apakah mobil itu akan mengangkut orang lain?" tanyaku dalam hati. 


Plak. 


Aku pun terkejut dengan siapa yang memukulku. Aku melihat wajah wanita yang sangat cantik sekali. Lantas aku bertanya-tanya siapa wanita cantik ini? Wajahnya bak bagaikan boneka. 


"Kakak siapa?" tanyaku.


"Masuklah terlebih dahulu," ucapnya sambil mempersilahkan masuk dengan suara lembut. 


Aku pun menuruti keinginan wanita iu. Aku duduk ketika pintu itu terbuka. Aku langsung duduk dengan manis. Sedangkan wanita itu langsung duduk di sampingku. 


Ketika ingin menyalakan mobil, aku menghentikannya terlebih dahulu. Aku memandangnya lalu bertanya, "Kakak ini siapa?" 


"Aku adalah Michelle. Yang di mana Aku ditugaskan oleh kak Tejo untuk mengantarkan ke mana saja. Kamu belum boleh memakai mobil. Karena pihak aparat sudah mencatat namamu di skor berapa tahun agar tidak memakai mobil terlebih dahulu," jawabnya. 


Lantas aku terkejut. Dari mana ada peraturan seperti itu? Aku lancar menjalankan mobil manual maupun matic. Lalu kenapa aku dilarang untuk membawa mobil?


"Sejak kapan itu?" tanyaku yang bingung setengah mati.


"Semenjak kamu kecelakaan di puncak. Hingga membuatmu koma," jawabnya dan menyalakan mobil tersebut.


"Memangnya aku tidak boleh membawa mobil berapa tahun?" tanyaku yang berdasarkan mobil ini perlahan naik ke atas.

__ADS_1


"Kurang lebih dua tahun saja. Setelah itu kamu harus mengurus surat izin mengemudi kembali," jawabnya.


"Lalu kalau aku mendapatkan orderan seperti ini. Bagaimana dengan nasibku yang tidak memiliki mobil?" tanyaku sekali lagi.


__ADS_2