System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati

System Kekayaan : Ibu Yang Baik Hati
BAB 12


__ADS_3

“Sebenarnya aku tidak membutuhkanmu. Tapi kamu tiba-tiba saja hadir di hadapanku. Oh ya ini bagaimana? Dia tidak memesan melalui aplikasi? Apakah aku harus menerimanya?” tanyaku dengan bingung. 


“Janganlah kamu menolak rezeki sendiri. Aku memang sengaja membuat dua peraturan. Dua peraturan ini bisa membuat orang-orang ingin menggunakan jasamu. Yang satu memakai aplikasi yang sudah aku program. Satunya lagi orang-orang bisa datang ke rumah ini dengan bahagia bersama anak-anaknya,” jelasnya. 


“Memang ada ya seorang malaikat bisa memprogram aplikasi khusus? Padahal malaikat itu tugasnya untuk menemani seseorang dan membantu seseorang,” tanyaku yang mulai curiga.


“Oh itu tidak benar. Aku memang malaikat terkece di dunia ini. Bahkan aku juga malaikat paling keren di surga maupun neraka,” jawabnya sambil membuatku bingung setengah mati. 


Jujur baru kali ini aku menemukan seorang malaikat yang narsis sekali. Saking narsisnya malaikat itu menunjukkan ketampanannya yang hakiki. Ingin sekali aku memukulnya namun tetap kutahan. Hingga akhirnya anak kecil itu tertawa melihat aku yang sedang jengkel. 


Dalam tawanya itu aku melihat senyuman yang indah. Saat aku memandang senyumnya, Tejo berkata, “Sekarang kamu lulus menjadi seorang perawat anak dan juga penjaga. Suatu hari nanti kamu akan ditakdirkan untuk menjadi seorang babysitter yang baik.”


“Jadi... Kemarin kamu menganggapku sebagai bahan percobaan?” tanyaku yang kesal terhadap Tejo.


“Nggak juga. Aku hanya mengetes seberapa cintanya kamu kepada anak-anak,” jawabnya. “Ternyata kamu bisa juga menjadi seorang perawat dan penjaga yang baik. Setelah ini akan ada dua bayi yang kamu jaga.”


“Apa?” pekikku.


“Tenang saja. Kamu harus melalui training lagi deh. Kamu harus mulai belajar sedikit demi sedikit untuk merawat anak lebih dari satu. Karena kamu akan membuat penampungan di rumah ini untuk menjaga mereka. Biasanya para ibu di kota ini akan memintamu untuk menjaganya selama bekerja,” jelasnya.

__ADS_1


“Apakah di sini tidak ada baby sitter lain? Kalau bisa aku ingin berkolaborasi dengannya?” tanyaku.


“Tidak ada. Di sini para wanitanya memilih untuk menjadi pekerja kantoran. Kalau masalah pabrik mereka mempercayakan pada robot yang sengaja diciptakan untuk menekan biaya pengeluaran produksi. Dan di kota ini sudah dipenuhi oleh para robot. Mereka seperti manusia normal. Tapi bedanya mereka itu tidak membutuhkan makan dan minum. Mereka hanya membutuhkan tubuhnya di charger saja. Maka dari itu kamu nggak perlu kaget jika melihat banyaknya robot yang berkeliaran di kota ini maupun di kota lainnya,” tambahnya. 


Memang benar apa yang dikatakan oleh Tejo. Di tahun ini semua pekerjaan rumah maupun pabrik, sudah digantikan oleh mesin robot. Banyak manusia yang memilih bekerja dari rumah atau bekerja sebagai orang kantoran. Kemudian aku mulai berpikir, apakah bisa robot jatuh cinta layaknya manusia? Apakah bisa robot merasakan hal yang sama? Sepertinya aku harus mencari informasi itu. Tapi Tejo mengetahuinya terlebih dahulu dan berkata, “Kamu nggak perlu mencari jawabanmu itu. Robot bukan manusia. Melainkan sebuah mesin yang sudah diprogram oleh manusia. Tidak ada yang namanya robot jatuh cinta maupun memiliki rasa. Mereka diciptakan untuk tujuan tertentu. Yang dimana tujuan itu bisa meringankan pekerjaan manusia.”


“Jika saja robot itu berkeliaran di sini. Apakah mereka bisa jatuh cinta seperti manusia?” tanyaku yang mulai penasaran sekali. .


“Di dalam kamus robot. Robot itu tidak akan pernah jatuh cinta kepada siapapun. Dia juga tidak memiliki rasa apapun kepada sesamanya. Sudah aku katakan robot tersebut sengaja di program untuk meringankan pekerjaan manusia. Tapi kamu harus mengetahui sesuatu hal. Jangan sampai kamu bertemu robot yang bentuknya mirip segitiga. Robot itu adalah robot mainan yang sengaja diciptakan menarik perhatian anak-anak. Mereka diciptakan untuk mendekati anak-anak dan mengajaknya bermain. Setelah itu robot itu membawanya ke tempat entah di mana. Banyak sekali kejadian kasus menghilangnya anak-anak kecil yang tidak berdosa itu. Ini penting bagimu. Kamu harus menjaganya dengan baik,” ucapnya yang membeberkan satu masalah yang pelik. 


“Baiklah. Aku akan menjaganya untuk mereka. Ini tidak akan bisa dibiarkan begitu saja. Jika memiliki uang lebih aku akan merenovasi rumah ini menjadi taman bermain anak-anak. Sekarang aku harus memenuhi kebutuhan Giska dulu,” ucapku yang berjanji untuk menjaga anak-anak. 


Baru mendapatkan dua pekerjaan yang belum genap sehari, aku sudah mendengar kabar tidak sedap. Tidak di masa lampau saja, penculikan anak sudah langsung terdengar di telingaku. Jujur aku lebih suka mendapatkan informasi terlebih dahulu. Ketimbang aku mendapatkan masalah besar. Aku lebih protektif lagi, demi menjaga anak-anak yang akan menjadi korban selanjutnya. 


Akhirnya aku mencari cara agar bisa melindungi mereka. Apakah kau harus membongkar kejahatan mereka? Di saat aku bertanya seperti itu, tiba-tiba saja Tejo muncul dan membuatku kaget. 


Baru beberapa detik menghilang, Tejo dengan rajinya mengunjungiku. Jujur aku tidak terkejut sama sekali melihat kehadiran Tejo.


“Kenapa kamu balik lagi Bambang?” tanyaku.

__ADS_1


“Kamu ingin menangkapnya? Tidak akan bisa kamu menangkapnya. Apalagi menghancurkan para robot itu. Karena robot itu sudah diprogram dengan sedemikian rupa. Jika kamu menemukannya lebih baik pukul saja. Pukulah dengan sekencang-kencangnya tepat berada di kepalanya. Sebab di kepalanya itu banyak program yang untuk mengendalikannya. Orang yang mengendalikannya itu tidak ada di negara ini,” jelasnya lalu menghilang dengan tiba-tiba. 


“Datang tak diundang. Pergi juga tidak diantar. Memang itu si Tejo kelakuannya seperti itu. Ya sudahlah,” ucapku yang menghembuskan nafas dengan kasar. 


Aku pun menggendong bayi tersebut sambil berjalan-jalan. Teringat akan pesan si Tejo, aku harus mencari solusi agar robot itu tidak mendekat. Tapi bagaimana caranya agar solusi ini bisa dipecahkan? 


Hampir sejam aku mengelilingi rumah. Meskipun rumahku kecil, aku sangat bersyukur sekali. Ternyata Rosita memberikan rumah mungil. Meskipun mungil banyak sekali tanaman sayuran dan juga pohon buah-buahan. 


Baru beberapa hari aku di sini. Tapi aku tidak menyadarinya sekali. Jika saja di sini banyak sayur-sayuran dan juga buah-buahan. Kenapa juga aku harus membelinya di pasar. 


Namun aku tidak boleh melupakan orang-orang di pasar. Jika saja ada waktu, aku akan menjualnya ke pasar. Ketimbang tempat ini dijadikan kebun. Lebih baik aku memilih untuk dijadikan sebuah pondokan. Yang di mana pondokan itu bisa menampung banyak anak. Aku harus menabung terlebih dahulu. Agar terciptanya pondokan yang nyaman bagi mereka.


Lantas aku berhenti di tempat tadi. Sebuah mobil putih turun ke bawah dan berhenti di hadapanku. Wanita tadi yang menitipkan anaknya keluar dari mobil dan mendekatiku. Seketika wanita itu melemparkan senyumnya sambil bertanya, “Apakah putraku tidak merepotkanmu?” 


“Tidak nyonya. Putra Ibu baik-baik saja dan anteng sekali,” jawabku. 


“Kalau begitu terima kasih. Oh ya namaku adalah Angelica. Panggil saja dengan nama Angel. Soal bayaran Sudah aku kirim ke aplikasimu. Aku mohon kamu tidak keberatan untuk menjaga putraku lagi,” ucapnya. 


“Tidak nyonya. Aku malah senang Nyonya menitipkan putranya di sini,” ujarku sambil menyodorkan anak bayi itu. 

__ADS_1


“Terima kasih banyak,” balasnya yang langsung meninggalkanku sendirian.


__ADS_2