SYURGA Yang Terkhianti

SYURGA Yang Terkhianti
Capture 11


__ADS_3

Ivan pun langsung terdiam dia menanyakan segala kebenarannya kepada Pinkan tentang kejadian tujuh tahun lalu.


"Terus apa lagi yang kamu tahu?"tanya Ivan dengan suara yang terdengar berat.


Pinkan pun langsung menarik nafas panjang dan membuangnya secara berlahan.


"Dulu aku melihat sendiri perselingkuhan Ambar dengan salah seorang teman dekat Bastian bahkan semenjak hari itu aku pun memutuskan hubunganku dengan Ambar. Mungkin bagi Mas Ivan aku itu bercanda atau apalah terserah tapi itulah kenyataannya."jelas Pinkan hal itu membuat Ivan merasa sangat berdosa dan bersalah..


Ivan pun diam seketika setelah mendengar semuanya dia tak pernah menyangka jika adiknya yang dia anggap polos tenyata memiliki sikap yang seperti itu bahkan Ambar berhasil membuat Ivan begitu membenci Bastian.


"Apa yang telah aku lakukan kepada laki laki yang justru ingin menyelamatkan Ambar tapi karena Ambar merasa malu sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri."pekik Ivan dalam hatinya.


Ivan pun merasa sangat bersalah terlebih lagi kini Bastian yang mengurus anaknya walupun Bastian tak pernah mengetahui rahasia itu.


"Maafkan aku Tian aku bersalah bahkan aku telah menghancurkan bisnis yang telah kamu bangun dengan sudah payah dan aku juga telah mengambil kebahagiaanmu dan juga mengambil istrimu."Ivan pun semakin menyesali semua perbuatannya...


"Mas Ivan are you oke."tanya Pinkan sembari menggoyangkan tangan Ivan yang nampak sedang memikirkan sesuatu.


Ivan pun tertegun mendengar suara Pinkan yang memanggilnya.


Sontak Ivan pun kaget melihat Pinkan yang sedang menatapnya.


"Maaf ada apa aku sedang memikirkan sesuatu dan aku harus pergi sekarang."Ivan pun beranjak bangun dari duduknya dan kemudian hendak meninggalkan Pinkan yang masih bingung dengan sikapnya.

__ADS_1


belum sempat Ivan bangun dari duduknya Pinkan menanyakan kembali tentang Ambar.


"Mas di manakah Ambar sekarang apakah dia baik-baik saja dan apakah sekarang mereka telah memiliki seorang anak? Aku ingin menemuinya dan aku ingin meminta maaf atas kejadian yang dulu kejadian di mana aku meninggalkannya di saat dia sedang hancur."Pinkan pun menitikan air mata mengingat semua yang telah mereka lalui bersama.


Ivan pun menarik nafas dan membuangnya secara perlahan, Ivan pun tak ingin menceritakan tentang Ambar namun Ivan tak memiliki pilihan lain..


"Ambar telah meninggal dia bunuh diri sesaat sebelum hari pertunangannya dengan Bastian, kami menemukan Ambar telah mengakhiri hidupnya di apartemen miliknya."Ivan pun terpaksa menjelaskan semua yang telah terjadi semua kesalahpahamannya dan semua yang telah dia lakukan.


Pinkan sangat terkejut setelah mendengar bahwa sahabatnya telah meninggal hal itu membuatnya menitikan air mata, Pinkan mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama sahabatnya di mana pada waktu itu mereka selalu menghabiskan waktu bersama.


Dimana mereka selalu melakukan hal-hal yang membuat mereka semakin dekat namun setelah kejadian itu Pinkan memilih untuk pergi menjauh namun di saat dia kembali justru kenyataan pahit yang harus diterima.


"Apakah Mas Ivan sedang bercanda mana mungkin Ambar pergi bukankah seharusnya gambar dan Tian menikah tapi kenapa itu terjadi apakah ada hal yang tidak aku tahu katakan Mas katakan."Pinkan pun menangis tersedu dia tak percaya bahwa sahabatnya telah tiada namun Pinkan ingin melihat pusara terbaik sang sahabat.


"Mas antarkan aku ke pusara Ambar Aku ingin melihat sahabatku aku ingin berbagi kisah dengannya aku ingin kembali kepadanya kembali sebagai sahabat yang selalu ada di sampingnya. Aku yakin Mas Ivan sedang berbohong tidak mungkin jika Ambar melakukan bunuh diri."Pinkan pun masih mencoba untuk tak mempercayai apapun yang dikatakan oleh Ivan.


"Aku tak berbohong itulah kenyataannya dan jika kamu mau aku akan membawamu kepusara Ambar.Tapi aku minta kamu berhenti menangis dan aku berharap rahasia ini hanya kita yang tahu."Ivan pun mengajak Pinkan pergi untuk menemui sang Bunda terlebih dahulu.


"jika kamu ingin ikut kita akan ke pusara Ambar namun aku harus menemui Bunda terlebih dahulu karena hari ini adalah hari ulang tahun Ambar dan kami berencana untuk berziarah ke makam Ambar ikutlah jika kamu mau."Ivan pun beranjak dari duduknya kemudian keluar dari cafe tersebut.


Pinkan pun mengikuti Ivan dari belakang hatinya masih terasa sakit mendengar semuanya Pinkan tak pernah percaya bahwa sahabatnya telah pergi untuk selamanya.


"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku bukankah kamu pernah berjanji untuk selalu bersamaku Aku tahu aku salah meninggalkanmu tanpa kabar dan berita tapi aku tetap menyayangimu sebagai sahabatku. Aku hanya kecewa dengan semuanya dengan semua yang telah terjadi yang seharusnya kita bahagia justru kita merasakan penderitaan yang tak ada ujungnya."Pinkan pun tak kuasa menahan air matanya dia menangis dan terus saja menangis..

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Di tempat lain Bastian sedang menatap itu yang kecilnya Bastian bahagia melihat Lusi yang begitu ceria namun pada saat yang sama tiba-tiba saja terus di demam hal itu membuat Bastian panik dan kemudian melarikan Lusi ke rumah sakit. sesampainya di sana Lusi menderita demam berdarah hal itu membuat Bastian bingung.


"Ya Allah kamu kenapa sayang? Jangan bikin Ayah cemas."ucap Bastian merasa sangat sedih.


Bastian pun menunggu sang Dokter yang sedang memeriksa sang putri..


Bastian nampak sangat cemas terlebih lagi sakit Lusi mendadak dan hal itu benar benar membuat Bastian merasa ketakutan..


"Ya Allah tolonglah putriku sembuhkanlah dia karena sesungguhnya aku sangat menyayanginya."pekik Bastian dalam hatinya.


Tak lama kemudian Dokter pun keluar dari ruangan Lusi dan beliau menyarankan untuk Lusi di rawat lebih intensif lagi karena ada kelainan di jantung Lusi.


"Dengan keluarga balita Lisi."ucap salah seorang Suster yang kebetulan sedang berdiri di ambang pintu..


Bastian pun langsung mendekat dan mengatakan bahwa Lusi adalah putri kandungnya..


"Baiklah Pak kalau begitu silahkan Bapak temui Dokter Graha di ruangannya. Ruangan Dokter Graha ada di sebelah sana."ucap Suster itu dengan lembut.


Bastian pun mengangguk dan kemudian mengikuti instruksi sang suster untuk menemui Dokter Graha..


"Selamat siang Dokter,saya Bastian Ayah dari balita bernama Lusi."ucap Bastian ketika memasuki ruangan Dokter tampan itu.

__ADS_1


"Mari silahkan masuk."ucap Dokter Graha sembari mempersilahkan Bastian untuk duduk. Ada yang ingin saya sampaikan mengenai kesehatan Lusi?" ucap Dokter Graha lirih.


Bastian pun langsung mempunyai pikiran yang kurang enak ada apa dengan putrinya? Apakah dia baik baik saja.


__ADS_2