Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Kepastian


__ADS_3

FARHAN, seorang pria berwajah tampan yang kini berusia 25 tahun. Rambutnya sedikit bergelombang, berwarna hitam pekat. Warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Tingginya mencapai 182 cm, dengan berat badan 64 kg. Penampilannya yang sempurna, membuat pria yang kerap di sapa Han itu di gandrungi oleh wanita-wanita cantik. Kendati demikian, hal tersebut tak menjadikan Farhan pria playboy. Ia justru lelaki yang setia. Akan tetapi bagi beberapa wanita ketampanan dan kesetiaan saja tidak cukup. Ada beberapa hal lain yang juga dibutuhkan dalam sebuah hubungan. Salah satunya yaitu kepastian. Jika tak ada kejelasan dalam sebuah hubungan, bukankah bisa saja akan berakhir sia-sia?


****


suatu sore Farhan dan Dinda sedang berada disebuah rumah makan. Tepat dihadapan mereka, sudah tersaji dua porsi ikan bakar beserta nasi, aneka lalapan dan juga sambal tentunya. Tak lupa dua gelas minuman pun sudah berada di meja makan mereka.


Farhan menikmati makanannya dengan lahap. Sementara Dinda hanya menunduk, menatap pringnya tanpa menyentuh sedikitpun.


"Ada apa? apa kau tidak menyukai makanannya?" tanya Farhan.


Dinda mengangkat kepala, menatap wajah Farhan yang sedang memandanginya.


"Aku ingin bicara," ucapnya.


"Makanlah dulu ... setelah itu baru kita bicara." Farhan kembali memasukan makanan ke dalam mulut-- mengunyahnya.


"Tapi aku ingin bicara sekarang!" ucap Dinda. intonasinya meninggi, membuat beberapa pengunjung lain menoleh kearah mereka.


Farhan meletakan sendoknya. Ia mengambil segelas air putih-- yang ada di hadapaannya-- Lalu meminumnya hingga tersisa separuh. Setelah itu meletakannya lagi di atas meja.


Farhan menyandarkan punggungnya di kursi, "Apa yang ingin kau bicarakan? katakan-lah," ucap Farhan, tenang.


Dinda meremas jemarinya, gusar. Wanita itu menunduk, matanya berkaca-kaca.


"Aku ... Aku ingin putus," ucapnya lirih.


"Apa!" Farhan terlihat kaget. Keningnya berkerut.


"Kenapa? apa aku melakukan kesalahan?" tanyanya.


Dinda bungkam. Wajahnya terus menunduk. Sebuah Isakan lolos dari mulutnya.


Farhan ikut menunduk, menatap wajah Dinda.


"Jangan menangis ... banyak orang yang memperhatikan kita," bisiknya. Ia mulai merasa tak nyaman dengan situasi saat itu. Hampir semua pengunjung memandang ke arahnya.


Tak hanya itu, samar-samar telinganya menangkap pembicaran orang-orang di sekitarnya. Mereka mencoba menerka-nerka apa yang terjadi di antara dirinya dan Dinda.


"Tunggu di sini sebentar ... aku akan membayar makanannya dulu. Setelah itu baru pulang. Kita bicarakan lagi di rumah." Farhan bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan beberapa langkah menuju kasir.

__ADS_1


Setelah selesai, Farhan kembali menghampiri Dinda. "Ayo," ajaknya. Farhan menggandeng tangan kekasihnya itu.


Keduanya berjalan keluar, meninggalkan restoran tersebut. Setelah memakai helm, Farhan melajukan sepeda motornya pelan. Keduanya sama-sama bungkam, hanya suara bising kendaraan lain yang mengiringi perjalanan mereka.


Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai tujuan. Farhan membantu melepaskan helm Dinda. Kemudian mengajak kekasihnya itu duduk di kursi taman, tepat di seberang rumah wanita itu.


"Ada apa? mengapa kau tiba-tiba minta putus?" tanya Farhan.


Dinda mendongak, menatap wajah Farhan--yang berada tepat di hadapannya.


"Apa kau mencintaiku?"


Farhan mengerutkan dahi, bingung.


"Mengapa kau bertanya sperti itu? kau sudah tau jawabannya."


"Aku ingin memastikan lagi. Apa kau memang benar-benar mencintaiku ... atau hanya ingin mempermainkanku."


Farhan meraih kedua telapak tangan Dinda, menggenggamnya dengan erat. "Aku mencintaimu, Dinda. Dan aku serius denganmu. "Percayalah ... sedikit pun aku tak pernah berpikir untuk mempermainkanmu."


Selama beberapa saat Dinda menunduk, menatap genggaman tangan Farhan. Sebelum akhirnya kembali menatap lekat wajah kekasihnya itu.


"Jika kau memang benar-benar mencintaiku, kumohon berikan aku kepastian, Mas. Datanglah ke rumah, lamar aku," pintanya.


"Maafkan aku, Dinda. Kali ini aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu," ucap Farhan.


"Kenapa, Mas? kenapa tidak bisa ... Bukankah permintaanku tidak sulit? mengapa kau tak bisa melakukannya? kenapa!"


"Kumohon mengertilah, Sayang. Kau tahu ... saat ini aku belum memiliki apapun. Tunggulah sebentar lagi."


"Sampai kapan aku harus menunggu, Mas? kau selalu bilang tunggu dan tunggu. Tapi mau sampai kapan aku terus menunggu?"


"Usiaku terus bertambah, orang tua dan keluargaku terus bertanya kapan aku menikah. Orang-orang bahkan terus menggunjingku, mengolok-olok jika aku ini perawan tua."


Farhan terdiam membisu. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Dinda saat ini. Tapi di sisi lain ia pun tidak bisa mengiyakan permintaan Dinda saat ini. Ia belum siap dalam segala hal.


Dinda memejamkan mata, mencoba menguatkan diri. Meskipun air matanya tak berhenti mengalir, membasahi wajahnya. 


"Kalau begitu..., ayo kita putus. Aku tak bisa menunggu lagi," ucapnya.

__ADS_1


Farhan menghela nafas berat. Ekspresinya berubah-ubah, bingung, kecewa, sedih secara bergantian. Setelah beberapa saat terdiam, Farhan kembali berbicara.


"Maaf karna selama ini aku selalu memintamu untuk menungguku. Tapi mulai saat ini aku tak akan memintamu menungguku lagi."


"Carilah laki-laki lain, Dinda. Laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Laki-laki yang tidak akan membuatmu menunggu, laki-laki yang bisa memberikanmu kepastian," Tutur Farhan.


Dinda semakin berderai air mata. Meskipun ini adalah keinginannya dan ia pun sudah menduga hal ini akan terjadi. Akan tetapi tetap saja, ia begitu terpukul saat mengalaminya. Rasanya begitu berat berpisah dengan Farhan, melepaskan laki-laki yang sangat ia cintai selama dua tahun terakhir. 


Dinda membungkam mulutnya, menahan tangis yang semakin tak terbendung. Ia berpaling dan berlari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Farhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Sementara Farhan terlihat duduk berjongkok, mengusap wajah dan juga kepalanya. Perasaannya campur aduk. Ada rasa sedih, marah dan juga kecewa. Ia mengambil sebuah kaleng yang ada di hadapannya. Lalu bangkit berdiri dan melemparkan keleng tersebut, melampiaskan emosinya.


Naas, tak jauh dari tempat Farhan berdiri. Seorang gadis tampak melintasi jalanan di hadapan Farhan dan tanpa sengaja kaleng tersebut justru menimpa kepala gadis itu.


"Aakh," pekik gadis itu ketika kaleng tersebut tepat mengenai dahinya. Sontak Farhan menjadi panik, ia segera berlari menghampiri gadis itu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Farhan sambil memegangi wajah sang gadis. Ia bisa melihat dengan jelas ada semburat merah di dahi gadis  itu.


"Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya," ucapnya menyesal. 


Gadis itu hanya terdiam, menatap pria asing yang ada di hadapannya.


Farhan menepuk-nepuk kedua pipi gadis itu.


"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.


"Mengapa kau hanya diam dan menatapku seperti itu? bicaralah!"


"Apa jangan-jangan kau geger otak? sehingga lupa cara berbicara?" ucap Farhan cemas.


Gadis itu masih terdiam.


Farhan kini mengguncangkan tubuh gadis itu. Berusaha menyadarkannya, kalau-kalau gadis itu tak sadarkan diri. "Hei, bicaralah."


"Bisakah kau berhenti mengguncang tubuhku?" pinta gadis itu.


"Syukurlah, ternyata kau masih bisa bicara." Farhan menghela nafas lega.


"Tapi tunggu, coba tebak ini berapa?" Farhan melipat ketiga jari tangan kanannya, menyisakan jari telunjuk dan jari tengahnya.

__ADS_1


Gadis itu menatap aneh Farhan.


"Tujuh," sahutnya.


__ADS_2