
Di ruang tamu Indri terlihat gelisah. Beberapa kali ia melirik jam besar yang menggantung di dinding. Tanpa ia sadari sepasang mata tengah mengamatinya sejak tadi.
Pemilik mata tersebut ialah Feri. Suami Indri yang sekaligus menjabat sebagai ayah dari Ara dan juga Dea, serta kedua anak lelakinya yang lain.
"Mamah kenapa, sih? dari tadi mondar mandir terus," tanyanya. Pria berusia 45 tahun itu meletakan kacamatanya di atas meja.
Indri menghampiri feri dan mendudukan tubuhnya di samping sang suami.
"Mamah sangat khawatir, Pah. Sudah jam segini tapi anak kita belum pulang juga."
Feri melirik jam di pergelangan tangannya. "Baru juga jam sembilan. Mamah tidak perlu khawatir, namanya juga anak muda," sautnya enteng. Kemudian mengambil remot dan menyalakan TV.
"Tapi, Pah. Dea itu, kan, perempuan. Mamah takut terjadi sesuatu dengannya."
"Apa!" Feri terlihat sangat terkejut saat menyadari bahwa anak yang di maksud istrinya adalah Deandra. Sebelumnya ia pikir yang belum kembali ke rumah adalah kedua anak lelaki mereka.
"Dimana dia sekarang?" tanyanya.
"Mamah juga tidak tahu, Pah. Sejak tadi nomornya tak bisa di hubungi," ucapnya, cemas.
"Kemana dan dengan siapa dia pergi?" tanya Feri.
Indri menggeleng. "Mamah tidak tahu dia pergi kemana dan dengan siapa,"
"Bagaimana bisa kau tidak tahu kemana perginya anak itu! kau ini ibunya, memangnya kau kemana saja seharian ini, sampai-sampai tidak tahu anakmu pergi dengan siapa," bentak Feri, marah.
Indri terdiam membisu. Ia tak berani mengatakan sepatah kata pun. Bahkan untuk menatap wajah suaminya saja ia tidak sanggup. Deandra adalah putri kesayangan suaminya. Tak heran jika Feri sangat marah. Dan ia juga menyadari apa yang di katakan suaminya itu benar. Sebagai ibunya seharusnya ia tau kemana dan dengan siapa anaknya pergi.
Malam itu semua anggota keluarga mencari Deandra. Satu persatu teman dekatnya sudah mereka datangi. Namun, hasilnya nihil. Tak satu pun di antara mereka yang mengetahui keberadaan Deandra.
Pagi telah tiba. Namun, Deandra tak kunjung di temukan. Akhirnya Feri dan Indri memutuskan meminta bantuan pada polisi untuk menemukan putri mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya mereka mendapatkan kabar tentang keberadaan Deandra. Saat ini Deandra berada di rumah sakit Soesilo yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Feri dan Indri bergegas menuju rumah sakit tersebut. Sementara Ara dan kedua kakak lelakinya tinggal di rumah.
Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Dengan langkah tergesa, mereka melewati koridor yang cukup panjang. Hingga tibalah mereka di depan sebuah kamar paling ujung. Petugas mempersilahkan pasangan suami
istri tersebut masuk ke dalam.
Feri membuka kenop pintu tersebut perlahan. Dan terlihatlah isi di dalamnya. Di sana ia mendapati seseorang tengah terbaring di atas ranjang dengan selimut tipis yang membalut seluruh tubuhnya. Dengan langkah gontai Feri segera melangkah, menghampiri ranjang itu. Di ikuti oleh Indri yang terlihat berkaca-kaca. Dengan sedikit gemetar Feri memberanikan diri membuka selimut yang menutupi wajah seseorang tersebut.
Seketika Indri histeris. Air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya tumpah juga. Ia mendekap tubuh putrinya yang sudah terbujur kaku.
Begitu pula dengan Feri. Laki-laki yang sekilas terlihat garang itu pun tak kuasa menahan tangis. Di balik kacamatanya terlihat buliran air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
"Dea..., apa yang terjadi padamu, Nak. Mengapa kau seperti ini?" ucap Indri masih dengan tangis tersedu-sedu. Ia membelai wajah Deandra yang di penuhi luka lebam.
"Maafkan mamah, Sayang..., maaf karna mamah tidak bisa menjagamu dengan baik. Seandainya saja saat itu mamah tak membiarkanmu pergi, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu," sesal Indri. Ia teringat siang itu Ara memaksa ingin bermain dengan kakaknya. Mungkin itu sebuah firasat tapi ia tak menyadarinya.
Feri merasa tak tega melihat Indri yang terus saja menangis dan menyalahkan diri sendiri. Ia segera memeluk istrinya itu, mencoba menenangkannya.
Mendengar hal tersebut Feri sangat marah. Ia bersumpah akan menghukum si pelaku dengan ganjaran yang setimpal. Bahkan jika pihak berwajib tak berhasil menemukannya, ia sendiri yang akan turun tangan mencarinya. Meski pelaku tersebut berada di ujung dunia sekalipun.
*****
Tiga hari telah berlalu, setelah kepergian Deandra. Raut kesedihan masih nampak jelas tergambar di wajah Indri. Berbeda dengan Feri yang terlihat tegar.
Malam itu Indri tengah menidurkan Ara di kamarnya. Tiba-tiba saja Feri masuk dan memberitahu jika polisi sudah menemukan pelaku yang telah membunuh putri mereka. Dan ia akan ke kantor polisi untuk menemuinya.
"Aku ikut," ucap Indri seraya bangkit berdiri.
"Tapi ini sudah malam, Ara juga sudah tidur. Bagaimana jika nanti ia bangun dan kau tidak ada di rumah."
__ADS_1
"Kita bisa meminta Haris atau Samsul untuk menjaganya."
"Tapi, Mah...."
"Ayo kita pergi sekarang!" sela Indri sebelum suaminya itu menyelesaikan kalimatnya.
Mereka berdua pun akhirnya pergi bersama-sama ke kantor polisi. Saat dalam perjalanan Indri hanya diam. Sesekali ia memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong.
Feri mengulurkan tangan kirinya, menggenggam tangan istrinya yang terkepal. "Tenangkan dirimu, jangan membuat keributan di sana," pesannya. Ia menoleh sebentar. Kemudian kembali fokus memandang ke depan.
"Aku mengerti," jawab Indri.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan. Keduanya segera memasuki kantor tersebut dengan terburu-buru. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya mereka di pertemukan dengan si pelaku.
Pelaku tersebut adalah Dendy, kekasih Deandra. Dendy berjalan di dampingi oleh seorang polisi. Saat itu kondisi kedua tangannya terikat borgol.
Indri yang saat itu tengah duduk, seketika bangkit berdiri dan menghampiri Dendy. Tanpa aba-aba ibu dari empat anak itu melayangkan sebuah tamparan di pipi kanan pemuda tersebut. Tamparan yang sepertinya cukup keras. Terbukti dari ekspresi Dendy yang tampak meringis, menahan sakit.
"Mengapa kau membunuh anaku, kenapa!" teriak Indri histeris. berulang kali ia melayangkan pukulan di dada Pemuda itu.
"Apa salah anakku, mengapa kau tega sekali padanya," imbuhnya dengan suara bergetar. Ia tak kuasa menahan tangis.
Dendy hanya tertunduk, tak berani menatap kedua orang tua dari kekasihnya yang telah tiada. Jangankan untuk menatap, meliriknya saja ia tak berani melakukannya. Ia pun hanya diam saat ibunda Dea melayangkan pukulan padanya berkali-kali. Ya, ia sadar diri. Ia memang tak berhak melawan ataupun membela diri. Apapun alasannya ia tetaplah bersalah. Deandra, gadis yang sangat ia cintai mati karena ulahnya.
"Maafkan aku, Tante. Aku tidak sengaja melakukannya," sautnya penuh penyesalan.
Feri pun terlihat sangat geram. Terlebih saat ia mengetahui bahwa Dendy merupakan kekasih dari putrinya. Saat itu dadanya terasa bergemuruh. Ingin sekali rasanya ia membunuh pemuda yang terlihat kalem tersebut. Sama seperti apa yang telah Dendy lakukan pada Deandra. Akan tetapi ia sadar, itu semua tak akan mengembalikan keadaan. Jika ia menghabisi pemuda tersebut, putrinya pun tak akan kembali hidup. Yang ada justru akan menambah masalah baru. Sebisa mungkin ia mencoba tetap tenang, menahan emosinya agar tak meledak. Feri menyerahkan semuanya pada pihak kepolisian, agar memproses kasus tersebut di jalur hukum.
Setelah menjalani rangkaian proses hukum yang ada, akhirnya Dendy pun mendapatkan ganjaran setimpal. Ia di hukum sesuai dengan hukum pidana yang berlaku.
Setelah peristiwa tersebut terjadi, sikap keluarga Feri menjadi lebih protektif. Feri tak membiarkan sembarangan orang masuk ke dalam rumah. Ia juga membatasi pergaulan ketiga anaknya yang tersisa. Terlebih pada Inara, bahkan gadis kecil itu tak lagi di perbolehkan bermain dengan teman-temannya. Kecuali jika di dampingi oleh orang tua maupun kakak lelakinya.
__ADS_1
Awalnya semua berjalan sesuai harapan. Ara tak pernah memprotes peraturan tersebut. Namun, seiring bertambahnya usia, anak kecil yang kini beranjak remaja itu, mulai merasa jengah dengan aturan yang ada. Gadis cantik itu mulai merasa jika hidupnya terkekang, tak ada kebebasan. Ia tak bisa seperti teman-temannya yang lain, yang bisa bergaul dengan siapapun dan bisa pergi bermain kemanapun yang mereka inginkan. Terkadang ia ingin memberontak, tapi nyalinya terlalu ciut menghadapi kedua kakak lelakinya yang kini tumbuh menjadi pria dewasa yang sedikit menakutkan.
Akhirnya Ara hanya bisa pasrah menjalani kehidupannya. Meskipun peraturan di keluarganya cukup ketat, tapi ketika ia sudah menginjak di bangku sma, ia sudah mulai bisa menyesuaikan diri. Tak jarang jika ada kesempatan, ia berbohong kepada ibu dan kakak-kakaknya hanya sekedar untuk bermain dengan teman-temannya.