
[Iya, ayah. Sebentar lagi Dion berangkat ke sana]
[Kapan ayah dan ibu pulang?]
[Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan]
Setelah beberapa menit mengobrol, Dion kini menutup panggilan tersebut. Dalam percakapan singkat itu sang ayah meminta putranya untuk menggantikannya menghadiri resepsi pernikahan anak dari salah satu koleganya.
Awalnya Dion menolak, karna ia tak mengenal rekan bisnis ayahnya itu. Ditambah ia juga tak memiliki partner yang bisa di ajak untuk menemaninya menghadiri acara tersebut. Namun, karna situasinya mendesak, mau tak mau ia pun harus menuruti perintah sang ayah. Meskipun ia lakukan dengan terpaksa.
Dion melepas kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian melemparkannya di keranjang tempat baju kotor. Setelah itu ia menuju ke kamar mandi. Membersihkan tubuhnya yang terasa lengket oleh keringat. Maklum saja, akhir-akhir ini ia lebih banyak bekerja di luar ruangan. Sebab saat ia sedang mengawasi proses pembangunan sebuah gedung empat lantai milik kliennya.
Lima belas menit telah berlalu. Akhirnya Ia selesai membersihkan diri. Dengan di balut handuk yang melingkar di pinggangnya, Dion melangkahkan kakinya keluar, menuju ke ruang pakaian.
Di ruangan tersebut sudah berjejer beberapa lemari besar yang berisi pakaian, sepatu dan juga aksesoris lainnya. Seperti jam tangan, dasi dan juga topi miliknya. Setelah beberapa saat memilah-milah, akhirnya ia mengambil sebuah kemeja putih yang di padukan dengan celana panjang berwarna biru navy.
Setelah keduanya terpakai, kini Dion sudah berdiri di depan meja rias. Di sana ia menyisir rambutnya yang hitam pekat, serta menyemprotkan parfum beraroma citrus yang menyegarkan. Aroma yang identik dengan pribadinya yang sporty dan optimistis.
Setelah semuanya selesai, ia menyempurnakan penampilannya dengan menambahkan sebuah dasi kupu-kupi di kerah kemejanya. Kemudian melangkah keluar kamar. Setelah sebelumnya menyambar sebuah tuksedo berwarna senada dengan celananya.
Kali ini ia menggunakan mobil BMW. Dengan kecepatan cukup tinggi ia membelah jalanan yang tak begitu ramai. Setelah dua puluh menit mengemudi, akhirnya ia pun tiba di sebuah hotel bintang lima yang berada pusat kota, tempat dimana rekan bisnis ayahnya itu menggelar pesta pernikahan putranya.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Dion melenggang keluar menuju venue. Setibanya di sana ia di sambut oleh beberapa pagar ayu yang menyapanya dengan ramah.
Beberapa tamu undangan berdecak kagum saat Dion memasuki ballroom. Samar ia mendengar orang-orang membicarakannya. Ia menyunggingkan senyum ketika ada seseorang yang berbisik, mengira dirinya seorang selebritis.
Dion terus melangkahkan kaki jenjangnya, menuju pelaminan. Mengabaikan pasang mata yang semakin banyak menatapnya.
Ia sedikit mengantri ketika hendak menyalami sang pemilik hajat berserta kedua mempelai. Setelah beberapa saat menunggu, kini gilirannya pun tiba. Dengan wajah sumringah ia menjabat tangan pak Prasetyo, ayah dari Hito yang merupakan kolega ayahnya.
"Selamat ya, Pak. Atas pernikahan putra Bapak. Saya mewakili ayah saya yang tidak bisa hadir karna masih di luar kota," ucapnya.
"Apakah ini, Dion? putra pak Hendri?" tanya Prasetyo, masih menjabat tangan Dion.
"Betul, Pak. Saya Dion."
"Owalah, ternyata kamu lebih tampan dari yang difoto, ya. Bapak sampai pangling," sahut Prasetyo, tertawa.
"Terima kasih, Pak," ucap Dion, tersenyum.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu? baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulilah, ayah dan ibu sehat, Pak. Beliau juga tadi menitipkan salam untuk Pak pras dan keluarga, serta meminta maaf karna tak bisa menghadiri acara Bapak," jawab Dion.
"Tidak apa-apa, Nak Dion. Tak perlu minta maaf seperti itu."
"Justru seharusnya bapak yang berterima kasih karna Nak Dion mau menyempatkan diri menghadiri acara ini di tengah kesibukanmu," tutur Prasetyo.
"Sekali lagi terima kasih, ya, Nak Dion. Sudah mau repot-repot datang kemari," imbuhnya.
"Tidak perlu berterima kasih, Pak. Saya sama sekali tak merasa di repotkan," bantah Dion.
"Justru saya merasa senang bisa ikut menyaksikan acara bapak yang luar biasa ini." imbuhnya meyakinkan.
"Ya sudah, kalau begitu semoga Nak Dion menyukai hidangan serta hiburan yang telah kami suguhkan, ya," harap Prasetyo.
"Tentu, Pak. Terima kasih." Setelah mengakhiri percakapan tersebut. Dion menggeserkan tubuhnya kesamping. Menyalami kedua mempelai dan juga besan dari pak Prasetyo secara bergantian.
__ADS_1
Dion berniat langsung pulang. Karna di tempat ini ia tak mengenal siapapun. Rasanya malas sekali jika harus menikmati pesta seorang diri. Saat ia sedang melangkah, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang sepertinya sedang menghubungi orang lain. Ponsel milik seseorang tersebut pun terjatuh ke lantai karna Dion menubruknya cukup keras.
"Maaf, aku tak sengaja," ucap Dion tak enak hati.
"Ah, tidak apa-apa," sahut orang tersebut tanpa memandang Dion. Ia menunduk, memungut ponsel miliknya.
"Apa ponsel Anda tidak apa-apa? jika ada kerusakan, biarkan aku menggantinya."
Pria itu membolak-balikan ponselnya, mengecek kondisi benda pipih itu. "Tidak perlu, ponselku baik-baik saja," jawabnya seraya menoleh, menatap pria yang menabraknya.
"Bang Samsul!" ucap Dion, terkejut.
"Dion...." ucapnya tak percaya. Setelah sekian lama akhirnya ia kembali bertemu dengan teman satu grup futsalnya itu.
Keduanya tampak akrab. Mereka tertawa bersama dan saling menanyakan kabar satu sama lain.
"Kau datang bersama siapa?" tanya Samsul.
"Aku datang sendiri, Bang. Menggantian ayahku yang tak bisa menghadiri acara ini," jawab Dion.
Samsul menganguk mengerti.
"oh iya, ayo kita duduk dulu." Samsul membawa Dion menuju ke kursi tamu, bergabung bersama temannya yang lain.
"Hai semuanya, perkenalkan ini Dion, teman saya," ucap Samsul pada rekan kerjanya.
"Selamat malam, semuanya," sapa Dion, ramah.
"Pak Dion. Silahkan duduk Pak." Novi menarik kursi di sampingnya, mempersilahkan Dion duduk di sebelahnya.
"Terima kasih, saya duduk di sini saja," tolak Dion, halus. Pria itu justru duduk di kursi yang bersebelahan dengan Samsul.
"Oh, iya. Pak Dion mau minum apa? biar saya ambilkan." tanyanya.
"Ah, tidak perlu. Saya bisa ambil sendiri," tolaknya, lagi.
"Kenapa kau selalu memanggilnya 'Pak' padahal sudah jelas usianya jauh di bawahmu," tutur Sisca.
"Sisca benar, Nov. Panggil saja Dion, dia memang masih sangat muda," timpal Samsul.
"Mana mungkin aku berani memanggil putra komisaris kita dengan namanya langsung," jelas Novi.
"Siapa yang kau maksud komisaris kita? apa maksudmu pak Hendri?" Tanya Wahyu.
"Ya, betul," sahut Novi membenarkan.
"Benarkah itu, Dion?" tanya Samsul, masih tak percaya.
Dion mengangguk, mengiyakan perkataan Novi. Sontak jawabannya itu membuat yang lainya terkejut, terutama Samsul.
"Hei, mengapa kau tak pernah mengatakan padaku. Kalau kau putra pak Hendri?" tanya Samsul.
"Kan Bang Sam tidak pernah bertanya," jawab Dion.
"Mengapa kau masih memanggilnya seperti itu? kau harus memanggilnya 'Pak' mulai sekarang." Wahyu menyikut lengan Samsul, menegur serta mengingatkan rekan kerjanya itu.
"Ah, iya, aku lupa."
__ADS_1
"Maafkan aku, Pak Dion," ucapnya pada Dion.
Dion tertawa kecil. "Tidak perlu seperti itu. Panggil saja namaku. Meskipun aku putra dari ayahku, tapi bukan berarti aku juga menjadi bos kalian," pinta Dion pada Samsul dan juga yang lainnya.
Mereka semua pun menuruti permintaan putra dari atasannya itu.
"Ternyata Dion ini orangnya asyik ya, tidak seperti desas-desus yang beredar," ucap Santo.
"Memangnya desas-desus yang beredar seperti apa?" tanya Samsul penasaran. Ia memang belum pernah mendengar gosip apapun tentang putra tunggal komisarisnya itu.
"Banyak orang yang bilang putra komisaris kita itu orangnya angkuh dan sombong," tutur Santo.
"Betul. Aku juga pernah mendengarnya. Bahkan aku sempat mempercayainya," timpal Novi.
"Sama. Malah aku pernah dengar rumor lain kalau Dion ini penyuka sesama jenis."
"Wah, jahat sekali mereka menuduhku seperti itu." Dion menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir. Ia mengambil gelas miliknya. Kemudian menuangkan isinya ke dalam mulut.
"Haruskah aku meminta ayah untuk memecat semua orang yang pernah bergosip tentangku?" tanya Dion seraya meletakan gelasnya kembali. Ucapannya tegas dan ekspresinya terlihat serius. Membuat Novi, Sisca dan Santo terdiam. Ketiganya menelan salivanya secara bersamaan.
"Aku hanya bercanda," ucap Dion dengan tawa kecil. Di ikuti oleh yang lainnya yang ikut tertawa. Meskipun bagi mereka itu tidaklah lucu.
Tak lama kemudian Ara bergabung bersama mereka semua. Menambah suasana lebih meriah dengan karakter cerianya. Mereka semua membicarakan banyak hal. Mulai dari hal serius sampai ke sebuah lelucon yang membuat mereka semua terbahak. Waktu bergulir begitu cepat. Hingga tanpa di sadari mereka sudah mengobrol selama satu setengah jam lebih.
Satu demi satu diantara mereka mulai pamit undur diri. Hingga tersisa Dion, Samsul dan juga Ara. Ketiganya pun sepakat untuk pulang bersama.
Saat sedang berjalan menuju parkiran. Ponsel milik Samsul berdering. Sebuah panggilan masuk dari istrinya. Samsul segera menggeser layar ponselnya ke atas, mengangkat panggilan tersebut.
[Hallo] ucap Samsul ketika benda pipih itu sudah menempel di telinga kananya.
[Iya, Sayang, ada apa?]
Samsul menghentikan langkah, mendengarkan suara istrinya di seberang sana dengan seksama. Wajahnya tampak panik.
[Bertahanlah, Sayang. Aku akan segera ke sana]
Setelah panggilannya berakhir Samsul memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Ada apa, Bang?" tanya Ara.
"Kakakmu akan melahirkan, sekarang dia dan ibu sudah berada di rumah sakit," jelas Samsul.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru. Eh, tidak. Bukan mereka yang melangkah terburu-buru. Hanya Ara yang berjalan seperti itu. Sebab, kedua lelaki di sampingnya itu sama-sama memiliki kaki yang panjang. Otomatis langkahnya pun lebih cepat. Berbeda dengan dirinya yang memang terlahir kurang tinggi, tapi bukan bogel. Jadi untuk mengimbangi Kakaknya dan Dion, ia harus mempercepat langkahnya.
Sesampainya di parkiran, Samsul tampak terkejut. Tiba-tiba saja ban mobilnya kempes. Padahal saat berangkat mobilnya baik-baik saja. Ia tampak kesal. Mengapa di saat-saat genting seperti ini justru ada saja hal tak terduga terjadi.
Sementara Dion justru menyunggingkan senyum. Namun, ketika Ara menatapnya, senyuman itu seketika lenyap.
Sontak Ara memandang Dion dengan tatapan penuh tanya.
Aku yakin! tadi melihat dia tersenyum, sekilas. Tapi kenapa? mengapa dia justru terlihat senang ketika kami mendapat masalah. Apa jangan-jangan pria ini....
.
.
.
__ADS_1
.