Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Dion, si anak konglomerat


__ADS_3

"Inara," panggil seseorang yang terdengar sangat familiar di telinga Ara. Suara yang cukup lantang dan juga tegas. Ara menoleh, mencari sumber suara tersebut. Setelah beberapa detik mengedarkan pandangan, ia pun menemukan si pemilik suara tersebut.


Di sana, di sebuah meja bulat yang di kelilingi oleh beberapa kursi, Samsul melambaikan tangan, meminta Ara untuk mendekat ke arahnya. Di sampingnya sudah berjejer tiga orang lelaki dan dua perempuan. Mungkin mereka adalah teman ataupun rekan kerja Samsul. Jika di taksir, sepertinya usia mereka semua tak jauh berbeda dengan Samsul. Kecuali satu orang. Yaitu seorang laki-laki yang duduk persis di sebelah kiri Samsul.


Laki-laki tersebut terlihat lebih muda dan juga tampak mencolok di banding yang lainnya. Wajahnya tak begitu tampan tapi terlihat imut. Terlebih ketika dia tertawa, sampai-sampai matanya tak terlihat karna terlalu sipit. Kulitnya pun tampak bersih bercahaya, meskipun tak seputih Farhan.


Ara melangkahkan kakinya mantap, menghampiri kakak lelakinya itu.


"Selamat malam, Om..., Tante," Sapanya ramah. Tanpa harus di perintah Ara langsung menyalami semua teman kakaknya itu secara bergantian, sebagai bentuk rasa hormat kepada yang lebih tua. Seperti yang selalu di ajarkan orang tuanya. Bahwa ia harus bersikap sopan dan juga menghormati orang yang lebih tua, siapapun itu.


Setelah itu ia mendudukan tubuhnya di salah satu kursi kosong yang tersisa, di deretan tersebut. Tepatnya di samping laki-laki muda bermata sipit itu. Laki-laki itu cukup perhatian. Ia membantu Ara merapikan tempat duduk gadis itu.


"Terima kasih," ucap Ara.


"Sama-sama," balasnya, lembut.


Samsul memperkenalkan Ara ke semua rekan kerjanya yang berada di tempat tersebut. Sehingga Ara pun kini mengetahui semua nama orang-orang tersebut. Wanita yang duduk bersebelahan dengannya bernama Sisca dan Novi. Seorang teller dan Customer Service yang bekerja di tempat yang sama dengan kakaknya.


Di sebelah Sisca, seorang laki-laki berkulit sawo matang yang tampak seumuran dengan Samsul, 29 tahun. Beliau bekerja di bagian Back Office. Di sebelahnya lagi, seorang bapak beranak dua yang bernama Wahyu. Beliau merupakan Marketing di bank Mandala. Bank dimana Samsul beserta teman-temannya itu mencari nafkah.


Sementara pria yang satunya lagi, pria yang duduk di apit oleh Samsul dan Ara bernama Dion. Seorang putra dari pengusaha sukses yang bergerak di bidang finansial, ritel dan juga sumber daya manusia. Ayahnya itu bernama Hendri Mandala. Seorang konglomerat yang merupakan pendiri Mandala Group.


Sebagai putra tunggal dalam keluarganya, tentu saja Dion adalah satu-satunya kandidat yang akan mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Sebuah keberuntungan, pria itu terlahir dari keluarga kaya raya. Dimana tanpa perlu repot-repot bekerja pun dia sudah bisa hidup berkecukupan bahkan mewah. Mungkin kekayaan keluarganya itu takkan habis hingga tujuh turunan. Apapun keinginannya pasti terpenuhi.


Kendati demikian, Dion tak pernah bermalas-malasan. Pria itu justru sangat mandiri. Bahkan di usianya yang terbilang masih sangat muda itu, beliau sudah berhasil mendirikan usahanya sendiri. Meskipun perusahaannya itu belum sebesar milik orang tuanya. Bahkan masih sangat kecil, seperempatnya saja tidak ada. Bisa di bilang usahanya itu masih merangkak. Beruntung ia di topang oleh ayahnya, yang merupakan salah satu pemilik saham terbesar di perusahaannya.

__ADS_1


Berbeda dengan usaha sang ayah, perusahaan Dion bergerak di bidang arsitektur. Ya, dia adalah seorang arsitek muda lulusan Harvard University, Amerika Serikat. Salah satu universitas terbaik dunia.


Bisa di bilang Dion adalah sosok pria yang sangat sempurna. Tidak hanya wajahnya yang rupawan, secara material pun beliau tak perlu di pertanyakan lagi. Sudah pasti Dion merupakan pria idaman setiap wanita. Bukan hanya di kagumi oleh wanita muda seusianya saja, tapi juga di kalangan remaja, bahkan para emak-emak.


Namun, sepertinya saat ini Dion belum begitu tertarik dengan wanita. Terbukti sampai saat ini ia belum memiliki kekasih. Pria itu terlalu sibuk untuk mengejar mimpinya. Yaitu menjadi orang sukses, yang mampu mengembangkan perusahaannya sendiri tanpa embel-embel nama besar ayahnya.


Akan tetapi sepertinya sebentar lagi sikapnya akan berubah. Seketika ia merasa tertarik dengan seorang gadis yang kini duduk bersebelahan denganya. Ya, gadis itu adalah Ara. Satu-satunya wanita yang berhasil membuat hatinya berdesir kala gadis itu menyalaminya. Baginya itu adalah momen pertama kali, seseorang mencium tangannya. Ada perasaan bangga ketika orang lain begitu menghormatinya.


"Ara cantik sekali," puji Siska, wanita berusia sekitar 30 tahun itu.


"Terima kasih, Tante. Tante juga cantik."


"Ah, kamu bisa saja," saut Siska tersipu. Ia begitu senang ketika Ara memujinya balik.


"Ara kelas berapa sekarang?" Kini giliran Novi yang bertanya.


"Oh, sebentar lagi lulus, dong?" tanya Novi, lagi.


"Iya, Tante," saut Ara mengangguk.


"Rencananya setelah lulus mau kuliah di mana?" tanya Wahyu.


"Tidak tahu, Om. Ara belum memikirkannya."


"Kenapa belum di pikirkan? ujiannya tinggal beberapa bulan lagi, loh. Apa kakakmu tidak membantu memilihkan universitas untukmu?" tanya Wahyu, seraya melirik Samsul.

__ADS_1


"Rencananya setelah adikku ini lulus, aku akan langsung menikahkannya dengan pengusaha kaya," gurau Samsul.


"Kalau begitu jodohkan saja dengan, Dion. Sepertinya putra mahkota komisaris kita belum memiliki calon," timpal pak Santo, si pria berkulit sawo matang.


"Sepertinya ide bagus," sahut Samsul.


"Agar nanti setelah adikku menikah dengannya aku tak perlu lagi capek-capek lagi menjadi Auditor di kantor. Tinggal minta saja sahamnya sedikit, bukankah begitu adik ipar?" imbuhnya sambil terkekeh.


Dion ikut tertawa. "Ya, Kakak ipar," sahut Dion mengiyakan.


"Apa mulai sekarang aku harus memanggilnya calon suami?" Ucap Ara ikut menimpali.


"Tentu, calon istriku," sahut Dion.


Semuanya pun ikut tertawa dengan lelucon yang di buat oleh Samsul, Ara dan juga teman-temanya. Kecuali satu orang, yaitu Dion. Laki-laki itu tak hanya menganggap sebagai lelucon. Ada sebuah harapan yang tergambar di matanya. Meskipun perkataanya selalu di selipkan dengan tawa tapi sebenarnya ia bersunguh-sungguh saat mengucapkannya.


Ya, pria itu memang sudah mulai tertarik dengan adik dari salah satu karyawan ayahnya itu. Terbukti ketika yang lainnya sedang mengobrol. Pria itu terlihat beberapa kali mencuri pandang pada Ara.


Namun, sepertinya gadis cantik itu tak menyadarinya. Lalu, kira-kira siapakah yang akan dipilih Ara? laki-laki yang akan menjadi tambatan hatinya. Apakah Dion, si anak konglomerat yang mulai jatuh hati padanya. Atau, ia justru memilih Farhan, laki-laki sederhana yang diam-diam telah mencuri hatinya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2