
Farhan tampak sedikit terkejut ketika Dinda dan juga suaminya menghampiri mejanya. Meskipun ia sudah ikhlas untuk merelakan mantan kekasihnya itu. Akan tetapi tetap saja, rasanya masih menyakitkan. Melihat orang yang masih ia cintai bersanding dengan laki-laki lain dan bermesraan di depan matanya. Sebuah senyuman yang sedari tadi mengembang di wajah Farhan seketika lenyap. Di gantikan dengan ekspresi yang sukar di tebak.
Sementara Ara, gadis itu berpura-pura seolah tak melihat apapun. Ia memilih menyibukan diri dengan makanannya. Kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri saat mengunyah sepotong daging yang masuk ke dalam mulutnya, seperti
anak kecil yang tengah menikmati makanan favoritnya.
Kedua mempelai itu berdiri tepat di depan Farhan dan Ara. Jarak diantara mereka begitu dekat, hanya terpisah oleh sebuah meja bundar berukuran lumayan besar.
"Terima kasih sudah hadir di acaraku, mas Han," ucap Dinda.
Farhan menanggapi perkataan Dinda dengan sebuah anggukan kepala. Raut wajahnya tampak datar. Tak ada lagi senyuman yang seperti dulu. Senyum yang selalu menghiasi wajahnya ketika mereka berdua bertemu, saat keduanya masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
"Tadinya kupikir mas Farhan tidak akan datang." ucap Dinda tersenyum. Di sampingnya tampak sang suami yang setia merangkul erat pinggang rampingnya itu.
Oh, jadi namanya mas Farhan. Batin Ara yang saat itu menangkap semua pembicaraan Farhan dan Dinda. Namun, Lagi-lagi gadis itu berpura-pura seolah tak melihat atau mendengar apapun. Ia terus saja menyumpalkan makanan ke dalam mulutnya. Tanpa memperhatikan sekelilingnya. Kecuali telinganya yang memang tetap berfungsi dengan sempurna, menangkap semua percakapan yang masih bisa di jangkau.
Farhan tersenyum kecut. "Tentu saja aku hadir, Dinda. Mana mungkin aku tidak hadir di hari bahagia mantan kekasihku yang dua minggu lalu masih sempat memintaku untuk melamarnya," ucapnya penuh penekanan.
What! Dua minggu lalu minta di lamar tapi sekarang justru menikah dengan laki-laki lain.
Apa wanita ini gila? mengapa dia begitu tega mempermainkan perasaan orang lain?
Ara tampak sedikit terkejut. Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan keterkejutannya itu. Ia hanya bisa berkutat dengan pikirannya sendiri. Sesekali ia melirik Farhan, menatap sebentar laki-laki itu melalui sudut matanya. Tiba-tiba rasa iba menghinggapi dirinya. Ia bisa ikut merasakan kekecewaan yang di alami Farhan.
Dinda tampak gugup. Ia buru-buru mengalihkan pembicaraan yang membuatnya tak nyaman.
"Ah, aku tidak melihat teman-teman kita yang lain, apa mereka tidak datang? padahal aku sudah mengundang mereka semua." Dinda memperhatikan sekelilingnya, mencari keberadaan teman-temannya yang dimaksud. Akan tetapi yang ia cari sepertinya memang tidak ada.
"Entahlah," ucap Farhan mengangkat bahu.
"Mungkin sebentar lagi mereka akan datang," imbuhnya.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri Hito, suami Dinda. Orang tersebut membisikan sesuatu di telinga sang pengantin pria itu. Yang kemudian di jawab dengan sebuah anggukan kepala.
"Maaf, Sayang. Seseorang ingin menemuiku sebentar, apa kau mau ikut?" tanya Hito pada Dinda.
"Tidak perlu, Mas. Kau pergi sendiri saja. Aku masih ingin mengobrol dengan temanku."
__ADS_1
"Baiklah." Hito mengecup kening Dinda sebelum pergi.
"Kalau begitu saya permisi dulu, mas Farhan. Maaf tidak bisa menemanimu lebih lama," pamit Hito.
"Ah, tidak apa-apa, Bang. Aku tahu kau pasti sangat sibuk, karna harus menemui semua kolegamu," ucap Farhan ramah.
Hito pun berlalu, meninggalkan istrinya, Farhan dan juga Ara.
"Jadi, mas Farhan datang ke sini seorang diri?" tanya Dinda kembali membuka percakapan seraya mendudukan tubuhnya di kursi.
"Tentu saja tidak." Farhan menatap Dinda sebentar. Kemudian menoleh, menatap Ara yang masih sibuk menikmati makananya.
"Aku datang bersama kekasihku," saut Farhan seraya merangkul Ara.
"Iya, kan, Sayang?" imbuhnya tersenyum.
Uhuk...uhuk...uhuk.
Ara tersedak makanannya sehingga ia terbatuk-batuk karenanya.
"Minum dulu, Sayang." Farhan mengulurkan tangan, menyerahkan segelas air mineral pada Ara.
"Hati-hati, dong, Sayang. Pelan-pelan makannya. Tidak akan ada yang meminta makananmu," ucap Farhan seraya mengusap-usap punggung Ara.
Kedua mata Ara tampak membulat. Ia menoleh, menatap Farhan dengan sebuah kerutan di dahinya. Sorot matanya sarat akan pertanyaan yang bercampur dengan sedikit rasa kesal.
Hei, kau pikir aku tersedak karna makan terlalu rakus? aku tersedak karna ucapanmu!
Dan juga sejak kapan aku jadi kekasihmu?
Kedua mata mereka saling bertemu. Farhan tersenyum. Kemudian mengerlingkan mata, mengisyaratkan sesuatu.
Kumohon, bantulah aku. Berpura-puralah menjadi kekasihku, sebentar saja.
Selama beberapa saat keduanya saling menatap satu sama lain, saling berbicara dalam hati. Hingga akhirnya Farhan menyudahi adegan saling tatap itu.
Ia menggeser tanganya dari pundak Ara. Lalu, beralih ke bawah meja. Meraih telapak tangan gadis itu dan membawa ke pangkuannya.
__ADS_1
Meskipun Ara sedikit tak nyaman. Namun, anehnya ia tak menolak apalagi memberontak. Ia menurut saja dengan perlakuan Farhan yang kini menggengam erat telapak tangannya dengan sedikit penekanan.
Aku yakin, dia sedang memberikan kode kepadaku. Tapi apa? aku tidak mengerti apa maksudnya?
Sudahlah, aku tak mau memikirkannya. Lebih baik aku diam saja, dari pada nanti salah persepsi malah menyulitkan mas Farhan.
Dinda tampak tak senang dengan pemandangan di hadapannya. Ia merasa cemburu dengan sikap manis dan perhatian yang di berikan Farhan pada orang lain, selain dirinya.
Apa yang spesial dari gadis itu. Mengapa mas Farhan menjadi sosok yang begitu perhatian. Bahkan ia tak segan mengusap bekas lipstik gadis itu. Padahal saat bersamaku dia cuek dan tak pernah mau menunjukan perhatiannya, terlebih saat kami berada di keramaian.
Ya, tanpa Farhan sadari tadi Dinda pun terus memperhatikan Farhan. Ia juga melihat saat Farhan mengelap bekas lipstik di bawah bibir Ara.
"Jadi, ternyata mas Farhan sudah menemukan penggantiku. Kupikir akan sulit bagi mas Farhan untuk melupakan kenangan kita selama dua tahun," Ucap Dinda. Ia tampak menunduk, seolah tak percaya diri.
"Ku akui memang sulit melupakanmu, Dinda," sahut Farhan.
Dinda kembali mengangkat wajahnya. Ia tersenyum lebar. Kepercayaan dirinya kembali meningkat. Kini ia merasa sangat yakin jika Farhan masih memiliki rasa cinta untuknya.
"Tapi, bukan berarti aku tidak bisa melupakanmu, Dinda. Aku memang sangat mencintaimu, tapi itu dulu. Sebelum kau mencampakanku dan sebelum aku bertemu dengan kekasihku saat ini," Ucap Farhan menatap Dinda dan Ara secara bergantian.
Ara begitu tertegun mendengar pernyataan Laki-laki di hadapannya. Selama beberapa detik ia tak berpaling dari wajah Farhan. Sorot matanya yang tajam serta senyumnya yang begitu menawan seakan membiusnya.
"Aku mencintaimu, Inara," ucap Farhan, lagi. Yang berhasil membuat gadis di hadapannya itu kembali tertegun. Wajahnya tampak merona dan detak jantungnya semakin cepat seperti ingin melompat dari sarangnya.
Begitu pula dengan Dinda. Wanita itu juga tampak terkejut dengan pengakuan mantan kekasihnya itu. Hatinya terasa berdenyut. Ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau Farhan telah melupakannya.
"Sayang, ternyata kau di sini. Kakak mencarimu kemana-mana," Ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan langsung mengalungkan tangannya di antara leher dan dada Ara.
Matilah kau, Farhan!
Batin Farhan merutuki dirinya sendiri. Ia menunduk, tak berani lagi menatap Dinda yang kini memasang wajah mengejek.
.
.
.
__ADS_1
.