
Malam itu rembulan bersinar terang. Kerlap-kerlip bintang tampak bertaburan, menghiasi langit yang cerah. Ditemani dengan secangkir kopi hitam yang masih mengepul, Farhan terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.
"Han, menurutmu cantik apa tidak?" tanya Dani, teman sekaligus tetangga Farhan. Laki-laki bertubuh gempal itu menunjukan beberapa foto seorang wanita pada Farhan.
Farhan merebut ponsel milik Dani. Ia menggeser slide demi slide, mengamati foto wanita tersebut. "Wow, Ini, sih, bukan cuma cantik, tapi juga seksi," tuturnya.
"Benarkah? siapa, Han?" tanya Reno, teman Farhan yang satunya lagi. Pria berambut cepak itu selalu bersemangat jika menyangkut wanita seksi.
"Nih, lihat saja sendiri." Farhan melemparkan ponsel tersebut pada Reno.
Reno menangkapnya dengan tepat. Setelah itu menggeser layar ponsel itu slide demi slide, untuk melihat foto wanita yang dimaksud.
"Emmm, seksi," ucap Reno dengan logat mendesah.
"Sepertinya sangat cocok jika dia jadi pacarku," imbuhnya.
Dani segera merebut ponselnya dari Reno, si otak mesum. "Enak saja. Kalian harus tau, ya, wanita ini adalah milikku, calon ibu dari anak-anakku nanti," sahut Dani.
Reno dan Farhan saling pandang. Kemudian sama-sama terbahak. Terutama Reno, pria itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Hei, mengapa kalian tertawa?" tanya Dani, kesal.
"Bagaimana kami tidak tertawa, coba lihat dirimu. Jelek dan juga miskin. Kau pikir wanita itu mau denganmu?" ejek Reno, masih diiringi tawa.
"Apa yang di katakan Reno itu benar, Dan. Jika kau tidak tampan setidaknya dompetmu harus tebal. Iya, kan, Han?" timpal Adit. Pria kurus itu menepuk paha Farhan, yang duduk di sebelahnya.
Farhan menggeleng, tak setuju dengan penyataan Adit. "Tidak juga. Jika dulu mungkin orang masih mengedepankan cinta. Jadi meskipun kau tidak kaya asalkan tampan, wanita masih mau denganmu. Tapi jika sekarang jangan harap. Sekarang bagi wanita yang terpenting adalah uang. Wanita manapun mau denganmu jika kau memiliki banyak uang. Jika kau hanya mengandalkan ketampanan saja tidak akan cukup, ujung-ujungnya kau akan dibuang ketika wanita itu menemukan pria lain yang lebih mapan," jelas Farhan panjang lebar.
Reno berdehem, menggoda Farhan.
"Ehem. Pengalaman, nih," sindirnya.
"Sialan!" ucap Farhan seraya melempar kulit kacang pada Reno. Tak bisa di pungkiri, ucapan temannya itu memang benar. Apa yang di katakan sebelumnya memanglah sebuah pengalaman pribadinya. Dimana mantan kekasihnya dulu lebih memilih pria lain yang lebih mapan dan juga kaya. Meskipun pria tersebut tidak lebih tampan darinya.
"Tuh, Dan. Renungkan apa yang dikatakan Farhan, barusan. Jika kau ingin mengejar wanita, gemukan dulu isi rekeningmu. Setelah itu baru kau bisa memilih wanita manapun yang kau mau. Kau bahkan bisa menikahi 2 atau 3 wanita sekaligus jika kau mampu secara financial," timpal Adit.
"Ini, kau saja pengangguran. Tapi semua wanita kau bilang adalah calon istrimu, ckckck, bukan main!" imbuhnya berdecak.
Dani hanya menyeringai.
"Tapi, apa benar wanita sekarang matrealistis semua?" ucap Adit penasaran. Ia tidak yakin jika semua wanita di dunia ini bersifat demikian.
"Tentu saja. Aku bisa menjamin hal itu," ucap Farhan yakin.
"Kau benar, Han. Hampir semua wanita yang pernah kutemui seperti itu. Apalagi kalau wanita itu cantik. Pasti hal pertama yang mereka tanyakan adalah status sosialmu. Apa pekerjaanmu atau apa jabatanmu" timpal Reno.
"Jika katamu 'hampir semua wanita' berarti tidak semuanya, dong, Ren. Kemungkinan masih ada wanita yang benar-benar tulus," sanggah Dani.
"Mungkin satu atau dua masih ada. Tapi wanita itu pasti tidak cantik," saut Reno, tertawa.
"Nah, aku setuju denganmu, Ren. Jika suatu saat aku menemukan sesosok wanita cantik yang juga berhati tulus, akan kupastikan dia menjadi istriku," ucap Farhan.
"Seandainya, nih, Han. Misalkan ada wanita cantik dan juga berhati tulus yang mencintai dan menerimamu apa adanya tapi keluarga wanita tersebut tak merestui hubungan kalian. Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Adit.
"Tentu saja aku akan memperjuangkannya. Meskipun harus mendaki gunung ataupun menyebrangi lautan akan kulakukan," ucap Farhan, serius.
__ADS_1
Dani terkekeh. "Aku tidak percaya dengan ucapanmu, Han. Bagaimana caranya kau akan menyeberangi lautan? berenang saja tidak bisa," ejeknya.
"Hei, kau pikir Farhan bodoh, seperti dirimu? Dia berani mengatakan hal itu karna memang tidak ada wanita yang seperti itu," ucap Reno.
"Reno nemang selalu pintar," puji Farhan.
"Tentu saja," saut Reno menyombongkan diri.
Drrt Drrt, suara getar dari gawai Farhan yang berada di atas meja. Sebuah panggilan masuk tertera di ponsel tersebut. Ia segera menggeser ikon gagang telpon berwarna hijau itu. Kemudian menempelkan benda pipih tersebut di telinga kirinya.
[Hallo]
[Hallo, Kak]
[Iya, ada apa, cantik?]
[Sebelumnya aku minta maaf jika mengganggu waktu, Kak Farhan]
[Tidak apa-apa, aku sedang santai. Lagipula meskipun sibuk, aku akan tetap senang jika yang menggangguku itu kau]
Seperti biasa, mau ketika berbicara langsung maupun melalui sambungan telepon Farhan tetap mengeluarkan jurus rayuan gombalnya.
Ara terkekeh. Seperti wanita pada umumnya, meskipun ia tahu itu hanyalah sebuah bualan belaka, tapi tetap saja dirinya merasa bahagia ketika mendengarnya.
Mendengar tawa kecil Ara, Farhan pun tersenyum.
[Kenapa tertawa? padahal aku sedang tidak melucu] ucap Farhan, lembut.
[Maaf]
[Aku sedang menelponmu, Kak Farhan]
[Ah, iya, aku lupa] Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
[Kalau Kak Farhan, sedang apa?]
[Sedang memikirkanmu]
[Apa yang Kakak pikirkan tentangku?]
[Rahasia]
[Mengapa harus ada rahasia diantara kita?]
[Lalu, apa kau lebih ingin ada cinta diantara kita?]
Ara kembali terkekeh.
[kenapa kau terus tertawa?]
[Karna sejak tadi Kakak terus saja menggombal]
[Aku tidak menggombal. Aku serius]
[Ya...ya...ya]
__ADS_1
[Oh, iya, Kak. Kapan Kak Farhan ada waktu? Aku ingin mengembalikan jaket, Kakak]
[Terserah kau saja, tak perlu terburu-buru]
[Kalau begitu, bagaimana kalau besok siang, Kak? setelah aku pulang sekolah]
[Besok siang aku masih bekerja. Bagaimana kalau malamnya saja?]
[Jika malam hari aku tidak bisa keluar, Kak]
[Kenapa? apa kau mengalami rabun senja?]
[Bukan begitu]
[Lalu, kenapa? apa kau takut di julik, jika keluar di malam hari?]
[Mungkin itu salah satu alasannya?]
[Salah satu alasan? apa maksudmu, aku tidak mengerti]
[Mungkin itulah salah satu alasan aku tidak boleh keluar saat malam, Kak. Keluargaku takut seseorang menculikku. Aku hanya bisa pergi saat pagi hingga sore hari saja]
[Bagaimana kalau minggu depan saja? kamis nanti, aku tidak bekerja]
[Oke. Kalau begitu sampai jumpa di hari kamis, Kak]
[Apa kau akan menutup telepon sekarang?]
[Iya, Kak. Sudah malam. Aku harus segera tidur. Jika tidak nanti abangku bisa marah]
[Baiklah. Selamat malam, Cantik]
[Selamat malam juga, Kak Farhan]
Akhirnya keduanya saling memutus sambungan telepon. Meskipun percakapan mereka telah usai, tapi senyum di wajah keduanya masih saja mengembang.
"Ehem! cie...cie... ada yang baru, nih," goda Dani yang sedari tadi memperhatikan Farhan yang hampir sepanjang percakapan terus saja tersenyum.
"Siapa itu, Han? pacar barumu?" tanya Adit.
"Bukan siapa-siapa, hanya anak-anak," saut Farhan.
"Hei, jangan berbohong. Aku tadi mendengar suara wanita dewasa, bukan anak-anak," timpal Dani
"Jika kalian tak percaya, silahkan lihat saja," ucap Farhan seraya meletakan ponselnya dimeja.
Ketiga temannya itu tampak berebut. Sama-sama ingin melihat lebih dulu. Mereka begitu penasaran siapakah wanita tersebut. Wanita yang telah berhasil membuat temannya itu terlihat sangat bahagia.
.
.
.
.
__ADS_1