Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Berikan hatimu padaku


__ADS_3

Siang itu di sebuah pusat perbelanjaan. Tampak dua gadis yang masih mengenakan seregam sekolah menyusuri luasnya bangunan tersebut. Matanya sibuk melirik ke kanan dan kiri, melihat berbagai gerai yang menjajakan dagangannya. Mulai dari fashion, elektronik, hingga makanan semua tersedia di dalam gedung yang memiliki lima lantai itu.


Hingga akhirnya mereka berdua berhenti di depan bioskop yang berada di lantai empat. Gadis itu ialah Ara, bersama dengan teman sekelasnya yang bernama Sandra.


"Aku mau ke toilet dulu, Ra."


"Oh, ya sudah aku tunggu di sini," saut Ara. Ia duduk di sebuah kursi panjang, depan studio bioskop. Sementara Sandra menuju toilet yang terletak di sudut ruangan.


Saat sedang menunggu, tiba-tiba seorang pria menghampirinya. Pria itu adalah Farhan. Laki-yang tempo hari sempat bercengkrama dengan Ara.


"Bisa geser sedikit?" tanyanya.


Ara pun menggeser tubuhnya, tanpa menoleh. Matanya masih sibuk menatap layar ponselnya.


Farhan segera menjatuhkan tubuhnya di kursi, bersebelahan dengan Ara. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya pria itu.


Ara menoleh sebentar, menatap pria yang duduk di sampingnya.


"Apa kau mengenalku?" tanyanya.


"Tentu saja, Inara," ucapnya tersenyum.


Mengapa laki-laki ini bisa tahu namaku. Apa dia punya indra ke enam atau jangan-jangan dia ini penguntit? batin Ara terkejut. Mendadak ia bergidik membayangkan jika laki-laki itu benar penguntitnya. Ia kembali menggeser tubuhnya, membuat jarak di antara keduanya.


"Apa kau berfikir aku ini penguntit?" tanya Farhan.


Ara menatap heran Farhan. OMG, apa dia bisa membaca pikiranku?


"Sepertinya tebakanku benar." Farhan kembali tersenyum, memandang sembarang arah.


"Bagaimana kau bisa tahu? apa kau bisa membaca pikiran orang lain?" tanya Ara penasaran.


Pertanyaan tersebut berhasil membuat Farhan terkekeh. Sementara Ara menatapnya heran.


"Mengapa tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Ara.


Farhan memutar sedikit posisi tubuhnya, sehingga posisi mereka kini saling berhadapan.


"Iya. Kau memang lucu," sahutnya.


Ara memalingkan wajah, menghadap ke arah lain. Diikuti dengan gerakan bibirnya yang mengerucut, kesal. Memangnya aku ini badut.


Farhan kembali terkekeh. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"


"Apa kau tidak bisa melihat, kalau aku sedang duduk?" jawab Ara, acuh. Ia menunduk, menatap kedua kakinya yang di balut sneaker berwarna putih itu saling beradu.

__ADS_1


"Mengapa kau menatap ke arah lain? sedangkan aku sedang mengajakmu bicara."


Ara mengubah posisi tubuhnya, kembali berhadapan dengan Farhan.


"Apa yang kau inginkan?" tanyanya tak ingin berbasa-basi.


Farhan mengangkat bahu. "Tidak ada. Aku hanya ingin berbincang denganmu."


"Mengapa kau tiba-tiba ingin mengobrol denganku? kita bahkan tidak mengenal satu sama lain," ucap Ara merasa aneh.


Farhan menggelengkan kepala. "Kau salah. Bukankah tadi aku sudah menyebutkan namamu? itu artinya aku mengenalmu. Hanya kau saja yang tidak mengenalku," tutur Farhan.


"Eh salah, bukan tidak mengenal tapi belum mengenal," ralatnya.


Ara mengangguk setuju. Namun, ia masih penasaran bagaimana laki-laki di hadapannya itu bisa mengetahui namanya. Kali ini Ara mengamati wajah Farhan dengan seksama. Wajah tampan yang tampak familiar. Sepertinya ia pernah melihat wajah itu sebelumnya, tapi lupa. Maklum saja, ingatannya tak begitu bagus dalam mengenali wajah orang asing.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya menyelidik.


Belum sempat Farhan menjawab, seseorang berteriak ke arahnya. Tak lama kemudian orang tersebut menghampiri mereka berdua. Orang itu berdiri tepat di depan Farhan.


"Kau dari mana saja, Han? Aku tadi mencarimu hingga ke dasar laut," celoteh Anton, teman Farhan.


"Kau pikir aku ini squidward (karakter animasi)!" sahut Farhan, tertawa.


"Oh, ternyata ada gadis cantik di sini. Hai, Inara," sapa Anton ramah. Ketika ia menyadari ada orang lain di samping temannya.


"Tentu saja," jawab Anton, tersenyum.


Wahhh, apa dua pria ini punya indra ke enam? bagaimana mungkin keduanya bisa tahu namaku, padahal kami tidak saling mengenal. Ara bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Semuanya sudah selesai?" tanya Farhan pada Anton.


"Belum."


"Jika belum selesai, mengapa kau kemari!" tanya Farhan.


"Tapi bohong," Anton terbahak melihat ekspresi Farhan yang terlihat sangat kesal.


"Semuanya sudah selesai," imbuhnya.


"Sialan!" ucap Farhan dengan tawa kecil.


"Ayo kita kembali," ajak Anton.


"Ayo." Farhan bangkit dari duduknya, bersiap pergi.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi, Inara." Anton melambaikan tangan. Kemudian membalikan badan dan berlalu pergi.


Sementara Farhan masih berdiri di sana. Ia melepas jaketnya. Kemudian meletakannya di pangkuan Ara. "Pakai ini untuk menutupi kedua kakimu," ucapnya.


Ara mengerutkan dahi, menatap Farhan bingung. Mengapa pria di hadapannya itu memintanya untuk menutup kakinya. Sedangkan saat itu ia memakai rok bukan telanjang.


Farhan menunduk, mendekatkan wajahnya ke Ara. Reflek Ara pun menghindar.


Farhan tertawa melihatnya. "Pakaian dalammu terlihat saat kau duduk menghadap ke depan. Itulah sebabnya mengapa sedari tadi aku mengajakmu bicara. Aku tidak ingin kau menjadi tontonan pria brengsek di seberang sana," bisik Farhan di telinga Ara.


Ara pun mengedarkan pandangan sesuai dengan perkataan Farhan. Di sana ia mendapati dua laki-laki yang tengah menatapnya. Kedua lelaki itu pun langsung menunduk, saat mata mereka saling bertemu. Kini Ara baru menyadari hal tersebut. Ara kembali menatap Farhan.


"Terima kasih," ucapnya tulus. Ia merasa sangat beruntung Farhan sudah sangat membantunya.


Farhan tersenyum. "Hati-hatilah, banyak pria brengsek di dunia ini. Jangan kenakan rok yang terlalu pendek saat di tempat umum," pesan Farhan sebelum melangkahkan kakinya.


Ara bangkit dari duduknya, berdiri sejajar dengan Farhan. Ia sedikit mendongak, menatap lekat wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya. Begitu pun dengan Farhan. Ia mengamati wajah serta sorot mata gadis mungil itu.


"Kurasa kau pria yang berbeda. Kau pasti bukan salah satu bagian dari mereka (pria brengsek), " ucap Ara yakin.


"Jangan berkata seperti itu, kau tidak akan pernah tahu pikiran laki-laki," ucap Farhan menyeringai. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, memamerkan gigi putihnya yang tertata rapi. Kemudian beranjak pergi.


Ara hanya diam terpaku, menyaksikan kepergian Farhan. Entah mengapa sejak saat itu dadanya terasa bergemuruh. Detak jantungnya tak beraturan, seperti ingin melompat keluar.


"Bagaimana caranya aku mengembalikan jaket ini?" teriak Ara saat Farhan sudah menjauh beberapa langkah darinya.


Farhan membalikan badan, berjalan mundur.


"Kembalikanlah saat kau sudah siap memberikan hatimu padaku," goda Farhan, masih dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Ia menatap Ara yang juga tersenyum kepadanya. Kemudian kembali membalikan badannya dan melangkahkan kaki jenjangnya, menyusul temannya yang sudah pergi terlebih dahulu.


Sementara Ara masih berdiri di tempat. Memandangi punggung Farhan yang kian menjauh. Hingga akhirnya menghilang dari jangkauan matanya. Kedua tangannya memegang erat jaket pemberian Farhan.


Tak lama kemudian, Sandra datang menghampirinya. Ia menepuk pundak Ara.


"Apa yang kau lihat?" tanyanya sambil mengikuti arah pandangan temannya.


"Tidak ada," jawab Ara singkat. Ia terus saja tersenyum, memandangi jaket Farhan yang ada di tangannya.


"Apa kau sudah gila! mengapa sejak tadi kau tersenyum terus?" tanya Sandra.


"Dan juga ini jaket siapa? bukankah ini jaket pria?" Sandra merebutnya dari tangan Ara dan membentangkannya.


Bukannya menjawab Ara justru kembali tersenyum. Kemudian merebut jaket itu kembali. "Ayo kita pergi," ucapnya sambil berlalu.


"Ada apa dengannya? mengapa dia seperti orang gila," gumam Sandra bertanya-tanya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sangat aneh dengan perubahan sikap Ara.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2