Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Harusnya aku yang di sana


__ADS_3

Sebuah lagu berjudul perfect milik Ed Sheeran menggema di ballroom di salah satu hotel yang cukup mewah. Mengiringi sepasang pengantin yang tengah berdansa dengan raut wajah berseri-seri. Ratusan pasang mata tertuju pada kedua mempelai yang sedang berbahagia itu. Tak terkecuali sepasang mata milik seorang pria bernama Farhan. Pria yang saat ini tengah duduk di sudut ruangan itu tak luput memandangi sang pengantin. Terutama sang mempelai wanita, yang notabene adalah mantan kekasih Farhan. Ya, wanita itu adalah Dinda. Wanita yang dua minggu lalu memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.


Selama beberapa menit Farhan terus menatap pemandangan yang berada tak jauh dari jangkauan matanya. Namun, tatapannya terlihat kosong. Rupanya pria yang kerap di sapa Han itu tengah berhalusinasi bahwa dirinyalah yang saat ini menjadi pengantin bersama Dinda. Ia membayangkan tengah berdansa dengan istrinya yang terlihat sangat cantik bak seorang ratu dengan gaun bertabur payet dan juga sebuah tiara yang menghiasi ujung kepalanya.


Harusnya aku yang di sana. Berdiri di sampingmu dan juga menari denganmu, Dinda.


Selama beberapa menit Farhan masih terbuai dalam lamunannya itu. Hingga akhirnya sebuah tepukan di bahu berhasil menyadarkannya.


Farhan pun mencari seseorang yang menepuk punggungnya itu. Dan ketika menoleh, ia mendapati seorang gadis cantik tengah berdiri tepat di belakangnya. Gadis itu tersenyum, memamerkan giginya yang putih.


"Hai," sapa gadis itu.


Gadis itu adalah Ara. Saat itu Ia mengenakan sebuah gaun tanpa lengan sepanjang lutut. Rambut panjangnya di gulung ke atas, sehingga menampakan lehernya yang putih.


"Apa aku boleh duduk di samping Kakak?" tanya Ara yang saat itu membawa sepiring makanan di tangan kirinya.


"Tentu, silahkan," sahut Farhan.


"Terima kasih." Ara menarik kursi di depannya kebelakang. Lalu mengitari kursi itu dan mendudukan tubuhnya di sana, tepat di samping Farhan. Kemudian meletakan piring berisi makanan yang telah ia bawa di atas meja.


Farhan membalas dengan sebuah anggukan kepala. Kemudian kembali fokus menatap kedua mempelai yang tampak semakin mesra. Sang pengantin pria beberapa kali mengecup kening dan pipi istrinya secara bergantian. Kemudian mengecup bibir sang istri dengan kilat yang di ikuti oleh riuh tepuk tangan dan juga sorak sorai para tamu undangan. Aksinya itu berhasil membuat sang pengantin wanita tersipu malu.


Sementara Farhan terlihat mengalihkan pandangan saat prosesi tersebut berlangsung. Pria tampan itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kalut. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.


"Apa wanita itu yang mencampakan, Kakak?" tanya Ara di sela kunyahannya.


Farhan menoleh, menatap gadis di sebelahnya itu.


"Apa kau mengenalku?" tanya Farhan sedikit terkejut.


"Apa Kakak tidak mengingatku?" saut Ara, bertanya balik.


Farhan menggelengkan kepala. "Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"


Astaga, sepertinya dia memang lebih pantas dipanggil kakek. Padahal ganteng, masih muda tapi sayang, sudah pikun.


"Bukan hanya pernah, tapi kita sudah beberapa kali bertemu. Kakak bahkan pernah meminjamkan jaket padaku," jelas Ara.

__ADS_1


"Jaket?" Farhan mencoba mengingat. Setelah beberapa detik berlalu ia pun berhasil mengingat kejadian tempo hari. Ketika ia memberikan jaket kepada seseorang. Namun, ia yakin memberikan jaket itu pada orang lain. Seorang siswi SMA, bukan pada wanita yang saat ini ada di sampingnya.


Farhan menoleh, memperhatikan seluruh bagian tubuh Ara. Dari ujung kepala hingga ujung kakinya yang saat itu mengenakan sepatu hak tinggi. Kemudian kembali ke atas menatap wajah Ara. Ia tampak familiar dengan mata besar dan juga bibir tipis gadis itu.


"Apa kau gadis yang duduk di depan gedung bioskop itu?" tanya Farhan menyelidik.


Ara mengangguk. "Apa sekarang sudah ingat?"


Farhan mengangguk.


"Aku juga yang dulu pernah Kakak lempar dengan kaleng bekas minuman bersoda," jelas Ara dengan tawa kecil.


Farhan pun ikut terkekeh, mengingat kejadian beberapa minggu lalu.


"Sudah kukatakan, aku tidak sengaja melakukannya," ucapnya membela diri.


"Jadi, Kau benar-benar gadis SMA itu?" tanya Farhan berpura-pura belum yakin.


"Apa aku perlu menunjukan kartu pelajar, agar Kakak percaya?"


"Apa kau membawanya?" tanya Farhan kembali berpura-pura penasaran. Meskipun sebenarnya ia sudah tahu bahwa gadis tak mungkin membawanya. Sebab yang ia lihat gadis itu bahkan tak membawa tas ataupun dompet.


"Tapi, seharusnya Kakak bisa mengenaliku dengan mengingat wajah ini," imbuhnya. meletakan kedua telapak tangannya di bawah dagu seraya menepuk-nepuk kedua pipinya itu.


Begitu pula dengan Farhan. Pria yang saat itu mengenakan kaos turtle neck yang di balut dengan jas berwarna biru navi itu ikut mengubah posisi duduknya. Hingga keduanya kini duduk saling berhadapan. Ia menatap lekat Ara. Menelusuri setiap sudut wajah gadis itu. Mulai dari dahinya. Lalu turun ke mata belo dan juga hidung mancungnya. Hingga akhirnya terhenti di bibir merah merona Ara yang tampak menggoda. "Mata dan hidungmu memang terlihat sama dengan gadis itu. Tapi tetap saja, kau dan gadis itu berbeda," tutur Farhan. Kali ini ia berkata jujur. Penampilan Ara ketika memakai seragam sekolah dan tanpa riasan memang terlihat berbeda sekali jika di bandingkan dengan penampilannya saat ini.


Ara terlihat bingung sendiri. Dalam hatinya bertanya mengapa Farhan tak mengenali dirinya.


Mungkinkah karna aku mengenakan riasan? sehingga aku jadi terlihat berbeda?


Ara segera mengambil ponselnya yang ia letakan di atas meja. Kemudian mengarahkan ponsel itu ke wajahnya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajahnya sendiri.


"Astaga, Kak Sania!" pekiknya kesal. Bagaimana tidak, karna ulah kakak iparnya itu membuat wajahnya terlihat seperti tante-tante. Ya, yang meriasnya adalah Sania, istri dari Samsul, kakak pertama Ara. Saat dan setelah di rias Ara memang sama sekali tak melihat cermin. Ia mempercayakan semuanya pada kakak iparnya yang tengah mengandung itu. Hingga ia kini baru menyadari bahwa riasannya terlalu tebal dan juga lipstinya merah merona seperti darah. Pantas saja Farhan tak mengenali dirinya. Karna ia memang terlihat sangat berbeda dengan dandanan seperti sekarang.


Ara meraih tisu yang ada di meja. Kemudian mengusapkan kertas tipis nan lembut itu ke bibirnya untuk menghilangkan warna lipstik yang sudah menempel sempurna.


"Hei, mengapa kau menghapus riasanmu?" tanya Farhan.

__ADS_1


Ara menghentikan aktifitasnya. Ia menurunkan tisu itu dari bibirnya hingga terlihatlah warnanya yang sedikit memudar. Ya, hanya sedikit.


"Bagaimana aku tidak menghapusnya. Bibirku sudah seperti drakula yang baru saja meminum darah," Ucapnya. Setelah itu ia kembali mengusap bibirnya. Kali ini ia menggosoknya dengan kasar. Berharap agar warna di bibirnya itu lebih cepat hilang. Namun, entah lipstik apa yang di aplikasikan ke bibirnya itu, rasanya sulit sekali di bersihkan.


"Dan Kakak juga harus tau karna riasan bodoh ini juga yang membuatku terlihat sangat berbeda," imbuhnya.


Farhan mengulurkan tangan, meraih tangan Ara dan mencoba menghentikan tindakan gadis itu.


"Hentikan, jangan di hapus," ucap Farhan lembut.


Ara pun menurunkan tangannya, menuruti perkataan pria di hadapannya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Cantik."


"Bukankah aku justru terlihat tua?" tanya Ara.


"Tidak. Kau sama sekali tidak terlihat tua hanya terlihat sedikit lebih dewasa saja," jelas Farhan.


"Dan satu hal lagi yang harus kau tahu. Malam ini kau terlihat sangat cantik," imbuhnya.


Ara tersipu mendengarnya. Kedua pipinya tampak merona. Terlebih ketika Farhan mengusap ujung bibirnya, membersihkan lipstik yang belepotan. Tiba-tiba saja ia merasa seperti tersengat listrik. Tubuhnya terasa membeku. Berbeda dengan detak jantungnya yang seakan tengah berlari. Hingga ia tersadar ketika ia merasa kehabisan nafas. Bahkan setelah Farhan selesai mengelap bibirnya ia memalingkan wajah, tak berani menatap pria tampan itu.


Ada apa denganku. Mengapa aku seperti ini.


Ara memegangi dadanya. Ia masih merasakan detak jantungnya yang tak beraturan.


Sementara Farhan tampak tersenyum, melihat tingkah gadia di hadapannya itu. Namun, senyumnya seketika lenyap. Saat seseorang menghampiri mereka berdua.


.


.


.


.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2