Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Pertemuan


__ADS_3

INARA, seorang gadis yang kini duduk di bangku kelas 3 sma. Ia gadis yang ceria dan juga berhati tulus. Wajahnya begitu ayu, dengan mata belonya yang memiliki manik berwarwa hitam dan hidungnya pun sangat mancung bak perosotan TK. Setiap wanita yang melihatnya mungkin akan merasa iri. Karna bukan hanya parasnya saja yang sangat cantik tapi ia juga terlahir dari keluarga yang cukup berada. Ia merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Tak heran, jika gadis itu begitu di manja.


Kendati demikian hakikatnya manusia tidak ada yang sempurna. Karna kesempurnaan memang hanya milik Tuhan. Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu pula dengan Inara. Gadis itu juga memiliki kekurangan, yaitu bentuk tubuhnya yang terbilang tak begitu ideal. Tingginya hanya mencapai 150 cm. Tak hanya itu, meskipun semua keinginannya selalu terpenuhi tapi ia juga di jaga sangat ketat oleh kedua kakak lelakinya. Sehingga ia tak sebebas teman-teman seusianya yang bisa pergi kemana saja dan bergaul dengan siapa saja.


****


Sore itu langit sudah terlihat gelap. Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Saat itu Ara tengah berjalan di sekitaran rumah, mencari kucing kesayangannya yang ia beri nama Cindy. Sudah beberapa rumah Ara lewati. Namun, Cindy tak kunjung menampakan batang hidungnya. Ara menunduk, membelah pagar yang terbuat dari pepohonan kecil. Barang kali kucingnya itu bersembunyi di sana. Akan tetapi ia tak menemukan apapun, Cindy tak ada di tempat tersebut. Dengan berat hati Ara pun harus kembali mencari di tempat lain.


Alangkah terkejutnya Ara, ketika ia bangkit berdiri. Tiba-tiba saja sebuah kaleng melayang di hadapannya. Secepat kilat kaleng tersebut membentur dahinya cukup keras.


"Aduh ...!" pekik Ara kesakitan. Reflek ia mengusap dahinya yang terasa nyeri.


Di saat bersamaan seorang pria datang menghampirinya.


"Kau tidak apa-apa?" teriak pria itu panik. Ia meraih wajah Ara dengan kedua telapak tangannya yang besar. Sorot matanya tertuju pada semburat merah di sudut kiri dahi Ara. "Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya," imbuh pria itu.


Ara hanya diam, menatap aneh pria di hadapannya itu, yang tanpa permisi menyentuh wajahnya.


Tak kunjung mendapat jawaban, pria itu kini menepuk-nepuk kedua pipi Ara.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu lagi.


"Hei, mengapa kau hanya diam dan menatapku seperti itu? bicaralah! Apa jangan-jangan kau geger otak? sehingga lupa caranya berbicara?" imbuhnya.


Ara mengernyitkan dahi, masih menatap pria asing itu. Dasar laki-laki bodoh, gila!


Pria itu kembali mengguncancang tubuh Ara, mencoba menyadarkannya kalau-kalau gadis di hadapannya itu tak sadarkan diri.


Setelah beberapa saat menahan diri. Akhirnya Ara tak sanggup lagi menahan kekesalannya. "Bisakah kau berhenti mengguncang tubuhku?" pintanya.


"Syukurlah, ternyata kau masih bisa berbicara." Laki-laki itu menghela nafas lega.

__ADS_1


Tentu saja aku masih bisa bicara. Kau pikir aku jadi bisu hanya karena terbentur kaleng. Dasar pria aneh!


"Tapi tunggu, coba tebak ini berapa?" pria itu melipat ketiga jari tangan kanannya, menyisakan telunjuk dan jari tengahnya.


Ara memutar bola matanya. Ia tak habis pikir dengan apa yang ada dalam pikiran pria asing itu. Apalagi ini! apa ia pikir aku ini buta? jelas-jelas itu dua.


"Tujuh," sahut Ara berpura-pura.


Pria itu kembali terkejut. Ia segera membopong tubuh Ara. "Ayo kita ke rumah sakit," ucapnya.


Sontak Ara memberontak. "Hei, pria bodoh! turunkan aku," teriak Ara.


"Tidak bisa. Kau harus mendapatkan perawatan sekarang, sebelum semakin parah." Pria itu terus berjalan dengan langkah cepat, seperti tak membawa beban apapun. 


"Tadi aku hanya bercanda, aku baik-baik saja," ujar Ara.


Pria itu menghentikan langkahnya. "Sungguh?"


Laki-laki itu terlihat masih tak percaya.


"Aku juga bisa melihat dengan baik. Kau memakai kaos putih di balut jaket jeans berwarna krem. Jadi cepat turunkan aku, sekarang!" imbuh Ara.


Akhirnya pria itu pun melepaskan Ara dari gendongannya.


"Mengapa kau berbohong padaku?" tanyanya.


Ara merapikan baju dan juga rambutnya yang sedikit berantakan.


"Aku tidak berniat membohongimu, hanya saja kau yang sangat bodoh," ucap Ara tanpa menatap pria itu.


"Hei, apa kau tidak punya tata krama? mengapa kau selalu mengatakan 'kau' kepada orang yang lebih tua darimu," ucap pria itu kesal.

__ADS_1


Ara mendongak, menatap wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya. "Lalu, apa aku harus memanggilmu 'kakek'?" ledeknya.


Pria itu terlihat semakin kesal tapi ia bisa memaklumi. Menurutnya anak-anak sekarang memang kurang sopan kepada orang yang jauh lebih tua di atas mereka.


"Apa kau sungguh baik-baik saja? dahimu terlihat memar." 


Reflek Ara memegang dahinya. "Agak sakit sedikit, tapi tidak apa-apa."


"Mengapa Kakak melempar kaleng padaku?" tanya Ara.


"Sudah kubilang, aku tidak sengaja."


"Lalu, apa alasannya kakak melemparkan kaleng tersebut?"


"Aku hanya sedang kesal saja."


"Mengapa kesal? apa karna kakak di campakan?" tanya Ara, menatap sembarang arah.


"Bagaimana kau bisa tahu?" pria itu terkejut.


"Jadi itu benar? padahal aku hanya asal bicara," saut Ara ikut terkejut.


"Kakak tenang saja. Suatu saat Kakak pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari wanita yang mencampakan Kakak," ucap Ara menyemangati. Kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, menciptakan sebuah senyuman yang begitu manis. 


Pria itu tersenyum simpul. Ia tidak menyangka dirinya di semangati oleh anak-anak.


"Kalau begitu aku pergi dulu, Kak. Aku harus mencari Cindy," pamit Ara. Ia melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan pria itu.


"O iya, jangan melemparkan kaleng lagi, dia tidak bersalah," teriak Ara membalikan badan sebentar. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Pria itu hanya tertawa kecil sambil memandangi kepergian Ara. Lalu ia kembali menghampiri sepeda motornya dan meninggalkan tempat tersebut, menuju tempat tinggalnya.

__ADS_1


__ADS_2