Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Sahabat lama


__ADS_3

Di ruang makan, Ara dan keluarganya terlihat berkumpul. Semuanya sibuk menikmati sarapan.


"Abang ..." ucap Ara disela kunyahannya.


"Hemm," sahut Samsul tanpa menoleh. Pria itu sibuk menjejalkan makanan ke dalam mulut.


"Apa aku boleh pergi?" tanya Ara.


Samsul menoleh, menatap sang adik. "Mau kemana?" tanyanya.


"Ke rumah teman. Tadi aku juga sudah izin pada ibu ...." Ara menjelaskan terlebih dahulu. Sebelum kakaknya itu menyuruhnya pergi ke ibunya--meminta izin--tanpa memberitahukan dulu, kakaknya itu mengijinkan atau tidak. Sehingga Ara harus bolak balik.


"Teman mana yang kau maksud?" tanya Samsul.


"Siska, Bang. Temanku yang sering berkunjung kemari--yang berambut keriting," jelas Ara.


Samsul mengingat sebentar. Kemudian mengangguk mengerti. Ya, teman yang dimaksud Ara memang beberapa kali datang ke rumah. Gadis berambut kribo itu--Samsul menyebutnya keribo bukan keriting--sering mengajak Ara belajar kelompok. Samsul juga sudah tahu alamat gadis itu.


"Abang hari ini ada urusan. Jadi tidak bisa mengantarmu," tutur Samsul.


"Tidak apa-apa, Bang. Ara pakai ojek online, saja."


"Baiklah ...." Akhirnya Samsul mengizinkan.


"Terima kasih, Bang," ucap Ara, senang. Ia kembali melanjutkan makannya.


Setelah selesai sarapan, semuanya kembali ke aktifitas masing. Ibu dan kakak iparnya di subukan dengan mengurus Angga--putra Samsul dan Sania--cucu pertama dikeluarga itu. Sedangkan Samsul tengah bersiap untuk pergi.


Sementara itu, di dalam kamarnya. Ara terlihat mengeluarkan beberapa dres dari dalam lemari. Sepertinya gadis itu sedang dilema dengan dua pilihan. Kedua tangannya memegang pakaian yang berbeda. Yang satu sebuah dres polos sepanjang lutut, berwarna hijau Army. Sementara yang satunya lagi, sebuah tunik ala korean style, yang memiliki khas dengan sebuah kerah dibagian leher.


Keduanya sama-sama merupakan pakaian favorit Ara. Sehingga ia bingung harus memakai yang mana. Ia bercermin, mencoba kedua baju tersebut tanpa memakainya.


Tok tok tok.


Sania mengetuk pintu kamar adik iparnya seraya memanggil nama gadis itu.


"Ara ...."


"Iya, Kak, masuk saja. Pintunya tidak dikunci," saut Ara. Gadis itu meletakan kedua bajunya di atas kasur.


Sania memutar kenop pintu, hingga akhirnya terbuka. Kemudian mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam. Ia menghampiri adik iparnya itu.


"Ada apa, Kak?" tanya Ara ketika mereka berdua sudah berhadapan.


"Kamu, kan, mau keluar ... apa kakak boleh titip sesuatu?" ucap Sania.


Ara mengangguk. "Tentu," katanya.

__ADS_1


"Kak Sania mau titip apa?"


Sania tersenyum. Ia senang karna memiliki adik seperti Ara--yang sudah menganggapnya seperti kakak kandungnya sendiri.


"Tolong belikan pembalut di minimarket ... persediaan di rumah sudah habis," ucapnya.


"Tapi aku mungkin pulang sore, Kak."


"Tidak apa-apa. itu untuk besok, kalau hari ini masih cukup," jelas Sania.


"Oh, baiklah ...."


"Oh iya, ini uangnya. Beli saja lima kotak." Sania menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.


"Ini terlalu banyak, Kak," ucap Ara ketika menerima uang tersebut. Ya, uang lima ratus ribu terlalu banyak jika hanya membeli lima kotak pembalut saja. Sedangkan harga satu kotaknya hanya berkisar dua puluh lima ribu.


"Biarlah ... sisanya untuk uang jajanmu," sahut Sania.


"Terima kasih, Kak," ucap Ara, tersenyum.


"Sama-sama," Balas Sania.


"Oh iya, Kak. Menurut Kakak, aku lebih bagus pakai yang mana?" tanya Ara. Gadis itu mengambil dua pilihan baju yang akan dipakai.


"Yang ini ...." Ara mengangkat tangan kanannya, yang memegang dres hijau army. "Atau yang ini ...," imbuhnya seraya mengangkat satu tangannya yang lain, yang memegang sebuah tunik.


"Emmm ...." Sania terlihat menimang.


"Kalau menurut Kakak, sih, bagus yang ini." Menunjuk tunik yang ada di tangan kirinya.


"Oh ya, kalau begitu aku pakai yang ini saja," ucap Ara, menyetujui saran sang kakak.


"Kalau begitu ... Kakak keluar, ya. Mau nemenin Zidan," ucap Sania.


"Iya, Kak," balas Ara.


Sania pun melangkah keluar dari kamar adik iparnya itu. Setelah pintu kembali di tutup, Ara mulai melepas baju santainya, lalu menggantinya dengan baju yang telah dipilih oleh Sania.


Lima belas menit telah berlalu. Ara keluar dari kamar. Ia terlihat cantik dengan dress hijau army pilihannya. Ya, ternyata gadis itu justru memakai baju yang satunya lagi. Awalnya Ara memang berniat memakai baju yang di sarankan oleh sang kakak. Namun, setelah mencoba baju tersebut, ia justru berubah pikiran.


Sebenarnya hal seperti ini bukan kali pertama terjadi. Akan tetapi sudah berulang kali. Ya, Ara memang biasa seperti itu. Gadis itu sering meminta pendapat pada orang lain, tapi ujung-ujungnya pendapat orang lain tak dipakai melainkan menggunakan pendapatnya sendiri.


Setelah pamit pada ibu dan kakaknya, Ara segera keluar rumah, menemui pengemudi ojek online yang telah menunggunya di luar.


"Ayo Pak, jalan," ucapnya setelah duduk di jok belakang.


"Iya, Neng," saut sang supir. Ia mulai melajukan sepeda motornya, menuju lokasi yang sudah tertera di aplikasi.

__ADS_1


Tiga puluh menit telah berlalu. Kini Ara sudah sampai di kediaman Siska. Untuk pertama kalinya ia menginjakan kaki di rumah sahabat lamanya itu.


Setelah turun Ara melepaskan helm yang melindungi kepalanya saat berkendara. Kemudian memberikannya pada pengemudi ojek online yang ia sewa.


"Ini Pak, uangnya," ucap Ara seraya menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu.


"Kembaliannya ambil saja, Pak," imbuhnya.


"Iya, Neng. Terima kasih." Pria paruh baya itu tersenyum. Lalu pamit pergi.


Kedatangan Ara sudah disambut oleh Siska, sahabatnya yang sudah berteman dengannya sejak sekolah dasar. Hanya saja mereka kini jarang bertemu. Sebab terhalang oleh jarak dan juga waktu.


Dulu, saat keduanya masih kecil, mereka sempat tinggal di lingkungan yang sama. Namun, saat mereka SMP, Siska dan keluarganya pindah rumah. Dan sekarang di sinilah ia tinggal, di sebuah perumahan yang cukup padat.


"Ara ...," teriak Siska


"Hai, Siska ..." saut Ara.


Keduanya terlihat sangat bahagia karna bisa bertemu lagi. Mereka saling berpelukan.


"Ayo, masuk," ajak Siska setelah melepas pelukannya.


"Iya."


Keduanya berjala beriringan, masuk ke dalam rumah. Siska mengajak Ara duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Mau minum apa, Ra?" tanya Siska.


"Tidak usah repot-repot, Siska."


"Sama sekali tidak merepotkan, Ra," bantah Siska.


"Tunggu sebentar, ya."


Siska pergi ke belakang, berniat membuatkan minuman untuk temannya itu. Sementara Ara masih duduk di ruang tamu.


Saat sedang menunggu, samar-samar Ara mendengar suara seeorang yang tak asing di telinganya. Ia menoleh kebelakang, menyingkap gorden yang menghalangi pandangannya. Di balik jendela ia bisa melihat dua orang pria tengah mengobrol. Ara tersenyum, memperhatikan salah satu pria di sana. Pria yang saat ini mengenakan setelan jersey bola.


Ara memegangi dadanya, ia bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.


Ada apa denganku? mengapa jantungku selalu seperti ini jika melihatnya, batin Ara bertanya-tanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2