Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Surat undangan


__ADS_3

Malam itu Farhan tengah berbaring di sofa. Di sebuah ruang tamu di dalam rumahnya. Tatapannya terlihat kosong, menatap langit-langit. Hingga akhirnya suara ketukan pintu berhasil membuyarkan lamunannya itu. Farhan menoleh, menatap pintu rumahnya itu. 


"Siapa?" tanyanya tanpa berpindah posisi. Tak ada jawaban, hanya terdengar suara ketukan yang kembali berulang.


"Siapa sih yang bertamu malam-malam begini," gerutu Farhan. Pria itu bergegas turun dan berjalan menghampiri sumber suara. Ia memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan. Pintu pun terbuka, menampakan sesosok wanita yang ia kenal.


"Dinda," ucap Farhan.


"Hai mas Han," sapanya ramah.


"Ayo masuk dulu," ucap Farhan mempersilahkan. Farhan hendak berjalan masuk tapi Dinda menahannya.


"Tidak perlu, Mas. Di sini saja, aku hanya mampir sebentar."


"Mengapa terburu-buru?" Saut Farhan, tersenyum.


"Karna ada seseorang yang sudah menungguku." Dinda menoleh ke seberang jalan. Di sana ada sosok laki-laki yang sedang bersandar di mobil yang cukup mewah. Laki-laki itu tersenyum pada Dinda.

__ADS_1


Seketika raut wajah Farhan berubah menjadi masam. Akan tetapi ia kembali tersenyum ketika Dinda menatapnya lagi.


"Aku datang untuk memberikanmu ini." Dinda mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya. Kemudian menyerahkannya pada mantan kekasihnya itu. 


Farhan mengulurkan tangan, menerimanya tanpa mengatakan apapun. Meskipun belum membukanya, tapi ia sudah tahu apa isi dari kertas tersebut.


"Kuharap mas Han bisa hadir dan memberikan doa serta restu di hari bahagia kami," ucap Dinda.


Farhan begitu kesal mendengarnya. Bagaimana tidak, baru satu minggu mereka berpisah. Tapi tiba-tiba mantan kekasihnya itu datang membawa surat undangan pernikahannya dengan laki-laki lain. Dan satu hal lagi yang membuatnya semakin marah. Dinda menyuruhnya datang di hari bahagianya. Sedangkan bagi Farhan itu adalah hari kehancurannya. Meskipun demikian Farhan tetap menyembunyikan amarahnya dan berusaha bersikap biasa saja. Farhan kembali menatap Dinda, setelah beberapa saat yang lalu hanya menunduk, memandangi sebuah kertas yang tertera dua buah nama dan bertuliskan tinta emas itu.


"Baiklah, akan kuusahakan hadir," jawab Farhan.


"Hm," saut Farhan dengan senyum getir.


Dinda pun membalikan badan. Kemudian berjalan menghampiri calon suaminya yang sedari tadi sudah menunggu. Setelah sampai, keduanya masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi. Setelah sebelumnya menyembunyikan klakson pada Farhan.


Sementara Farhan hanya bisa memandangi kepergian mereka. Setelah mobil tersebut hilang dari jangkauan matanya, Farhan kembali menatap surat undangan yang masih ada di tangannya. Ia meremasnya dan membuangnya begitu saja. Kemudian masuk ke dalam kamarnya. Di sana, ia mengambil jaket serta kunci motor yang tergeletak di atas meja. Setelah itu bergegas keluar lagi.

__ADS_1


"Kau mau kemana malam-malam begini, Nak?" tanya ibunda Farhan, ketika mendapati putranya itu bersiap menyalakan mesin motor.


"Ada sesuatu yang harus kuurus, Bu," jawab Farhan.


"Tapi ini sudah malam, Nak. Mengapa tidak besok pagi saja. Ibu khawatir jika kau pergi sekarang." 


"Ibu tidak perlu cemas. Farhan pasti pulang dengan selamat. Lagi pula ini belum terlalu larut," ucap Farhan meyakinkan.


"Ya sudah, tapi kau harus berhati-hati di jalan. Jangan mengebut," pesan sang ibu.


"Iya. Farhan pergi dulu, Bu." 


Setelah berpamitan dengan sang ibu, Farhan segera menancap gas, membelah jalanan yang terlihat lenggang. Entah kemana arah tujuannya, Farhan pun tidak tahu. Ia hanya menelusuri jalanan dan mencari udara segar untuk membersihkan pikirannya yang sedang kacau. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah danau. Farhan memarkirkan sepeda motornya di sana. Ia berdiri di tepi danau itu, memandangi air yang terlihat tenang. Pikirannya kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu. Ketika Dinda datang menemuinya.


"Jadi inikah alasannya kau ingin berpisah denganku, hah!" teriaknya.


"Kupikir kau wanita yang berbeda, tapi ternyata kau sama saja dengan wanita lainnya. Yang kalian pikirkan hanya uang, uang dan uang." 

__ADS_1


Setelah puas melampiaskan kemarahannya ia terduduk lemah. Tanpa di sadari air matanya jatuh, membasahi kedua pipinya.


__ADS_2