
Bel berbunyi tepat pukul setengah dua siang, menandakan jam pelajaran telah usai. Beberapa siswa tampak bersorak, tak sabar ingin segera meninggalkan sekolah yang membosankan. Satu persatu siswa mulai keluar dari kelasnya. Ada yang bergerombol, ada pula yang berjalan seorang diri.
Sementara itu, di dalam kelas Ara tampak sedang berkemas, bersiap untuk pulang.
"Hari ini dijemput, Ra?" tanya Sarah, teman sekelas Ara.
"Enggak, Sar. Soalnya abangku masih di rumah sakit," jawab Ara sambil memasukan buku ke dalam tas.
"Memangnya abangmu sakit apa, Ra? kok sampai dibawa ke rumah sakit?"
"Bukan begitu. Hari ini, kan, Kak Sania melahirkan, jadi bang Samsul harus nemenin sekaligus mengurus administrasinya," jelas Ara.
"Ohh." Sarah mengangguk mengerti.
Setelah semuanya beres, mereka berdua pun meninggalkan kelas tersebut. Keduanya berjalan beriringan bersama dengan beberapa temannya yang lain.
"Mumpung aku nggak di jemput, kita jalan-jalan, yuk, Sar," ajak Ara.
"Jalan kemana? Aku mah ayo saja," ujar Sarah.
"Emmm, enaknya kemana ya?" ucap Ara menimang.
"Gimana kalau ke rumahku saja, Ra? kamu kan belum pernah main ke tempatku," ucap Sarah menyarankan.
"Eh, iya juga ya, Sar. Boleh, deh, kalo gitu," saut Ara menyetujui.
"Oke." Ara dan Sarah terus melangkah maju, meninggalkan tempat dimana mereka menuntut ilmu.
Siang itu matahari sangat terik. Ara dan Sarah berteduh di bawah pohon mangga yang tumbuh di bahu jalan. Sembari menunggu angkutan umum, keduanya membahas tentang banyak hal. Mulai dari mata pelajaran hingga menggunjing beberapa siswa yang lewat di depannya. Terutama siswa laki-laki yang menurut mereka tampan.
"Inara!" teriak seseorang.
Mendengar namanya di sebut, Ara pun menoleh, mencari sumber suara. Dan betapa terkejutnya ia, ketika mendapati seseorang yang memanggil namanya itu. Di sana, di seberang jalan. Seorang pria berpakaian rapi tengah melambaikan tangan padanya.
"Kak Dion!" gumam Ara. Ia menyipitkan netranya, memastikan penglihatannya itu. Rupanya ia memang tak salah lihat. Ya, pria yang mengenakan kemeja biru langit itu memang Dion.
Sarah pun mengikuti arah pandangan temannya itu. Ia bisa melihat seorang pria jangkung sedang bersandar di mobil dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Dia siapa, Ra?" tanyanya.
Ara bergeming. Ia terus saja menatap Dion yang mulai melangkah dengan kaki jenjangnya, mendekat ke arahnya.
Belum selesai dengan kedatangan Dion yang tak terduga, tiba-tiba kejutan lain pun kembali menghampiri Ara. Farhan, si pria tampan yang telah mencuri hatinya itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Hai, Inara!"
"Hai, Ara!"
Dua suara dari dua orang yang berbeda menyapa Ara secara bersamaan. Dua orang tersebut tak lain adalah Farhan dan Dion. Keduanya saling pandang satu sama lain. Mereka berdua berdiri berjejer, tepat di hadapan Ara.
Ada apa ini? mengapa mereka berdua datang kemari, batin Ara. Ia tampak tak nyaman karna semua orang kini menatap ke arahnya.
"Hei, mengapa kau diam saja? mereka berdua menyapamu," bisik Sarah seraya menyenggol Ara yang masih tertegun.
__ADS_1
Ara menoleh ke Sarah sebentar. Kemudian kembali menatap dua lelaki di hadapannya itu.
"Hai, Kak Farhan. Hai juga, Kak Dion," sapanya secara bergantian.
Baik Farhan maupun Dion sama-sama terdiam. Mungkin keduanya masih menunggu salah satu di antaranya bicara lebih dulu, agar tak bersamaan seperti tadi.
Sarah kembali menyenggol Ara, memberi kode.
Ara yang sudah mengerti watak temannya itu pun langsung paham.
"Oh, iya, kenalkan ini Sarah, temanku," ucap Ara pada Farhan dan Dion.
Sarah berusaha tersenyum semanis mungkin. Meskipun pada kenyataannya justru terlihat aneh.
Dion menoleh sebentar, menganggukan kepala pada Sarah. Kemudian kembali menatap Ara.
Berbeda dengan Dion yang memandang Sarah tanpa ekspresi, Farhan justru memasang wajah ramah. Laki-laki itu tersenyum, menampakan gigi putihnya yang tertata rapi.
"Hai, Sarah," ucapnya. Ya, laki-laki tampan itu tak lupa menyapanya.
Seketika Sarah pun dibuat terpesona olehnya.
Ya ampun... sudah tampan, ramah, lagi. Mana senyumnya manis banget, lagi. Gula aja kalah manis, kayaknya.
Sebenarnya bukan hanya Sarah yang terpesona akan ketampanan Farhan. Tapi hampir semua wanita yang saat itu melihatnya, termasuk Ara. Ya, untuk kesekian kalinya, gadis itu kembali tersihir oleh ketampanan pria yang kini mengenakan kaos hitam itu.
"Oh, iya, Kak Dion, kenalkan juga..., ini Kak Farhan."
"Dan Kak Farhan, kenalkan ini Kak Dion, teman bang Samsul."
"Dion."
"Farhan." Ucap Dion dan Farhan bergantian. Keduanya berjabat tangan dengan tatapan saling menusuk, seolah sedang bersaing. Kemudian saling melepas jabatan tangannya.
"Oh, iya, ayo kita pulang, Inara," ajak Dion seraya meraih tangan gadis itu.
Farhan menatapnya, tak suka. Sementara Ara mengerutkan dahi.
"Ah, tadi abangmu memintaku untuk menjemputmu. Makanya aku datang kesini," jelas Dion.
"Bang Samsul?" tanya Ara.
Dion mengangguk.
Mau tak mau Ara pun mengikuti ajakan Dion. Karna ia tak bisa membantah jika menyangkut perintah sang kakak.
"Tapi, tunggu dulu, Kak," ucapnya seraya melepas genggaman Dion. Ia menatap Farhan.
"Ada apa Kak? apa ada yang ingin Kakak sampaikan?" tanyanya mengenai maksud kedatangan Farhan.
Farhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tujuan awalnya adalah ingin mengajak Ara pulang bersama. Namun, karna Dion lebih dulu mengajak gadis itu, jadi ia memilih mencari alasan lain. Rasanya gengsi bila ia mengakui memiliki alasan yang sama dengan Dion. Dan pada akhirnya ia yang kalah. Sebab Ara pasti lebih memilih pulang bersama Dion.
"Em, kebetulan aku lewat sini dan tak sengaja melihatmu. Jadi aku memutuskan untuk menyapa sekaligus menanyakan jaketku. Apa kau membawanya?"
__ADS_1
"Ah, maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu kita akan bertemu denganmu di sini, jadi aku tidak membawanya," Ucap Ara tak enak hati.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin lain waktu," saut Farhan, tersenyum.
"Sekali lagi aku minta maaf, Kak," sesal Ara.
"Tidak apa-apa, tak perlu di pikirkan."
"Kalau begitu, aku pergi lebih dulu, Ara," pamit Farhan.
"Iya. hati-hati, Kak," ucap Ara.
Farhan mengangguk. Kemudian membalikan tubuhnya dan berjalan menghampiri motornya. Setelah itu berlalu dengan hati kecewa.
Begitu juga dengan Ara. Gadis itu pun merasa berat ketika melepas kepergian Farhan. Ia terus saja menatapnya, hingga sosok laki-laki itu benar-benar menghilang dari jangkauan matanya.
"Ayo," Dion kembali mengajak Ara untuk segera pergi.
Ara menatap Sarah yang masih berdiri di sampingnya.
"Maafkan aku, Sarah. Hari ini aku belum bisa mampir ke rumah," ucap Ara sebelum pergi.
Sarah tersenyum. Ia bisa mengerti. Temannya itu memang tak bisa menolak jika itu menyangkut perintah sang kakak.
"Tidak apa-apa, Ra. Pergilah."
"Baiklah, sampai jumpa lagi, besok," ucap Ara seraya melambaikan tangan.
"Iya. Sampai jumpa," sahut Sarah. Gadis itu pun membalas lambaian tangan temannya itu.
Ara dan Dion berjalan beriringan. Dion tampak sumringah, karna kembali bisa bersama dengan wanita yang membuat hatinya berdebar.
Sementara Ara justru merasa tak nyaman. Sebab puluhan pasang mata menatapnya. Tak sedikit juga yang menggodanya.
"Cie-cie....," sorak beberapa temannya. Sontak Ara pun mempercepat langkahnya, mendahului Dion.
Dion terkekeh melihat tingkah gadis mungil itu.
"Inara!" panggil Dion pada Ara yang terus saja melangkah.
Ara menoleh. "Kenapa?" sahutnya ketus. Ia kesal karna Dion berjalan sangat lamban. Bahkan pria itu justru berhenti di depan gerombolan teman-temanya.
"Mobilnya di sini," ucap Dion seraya menunjuk mobil miliknya.
"Aish! kenapa dia tidak bilang dari tadi," gumam Ara. Ia kembali menuju mobil yang telah dilewati.
Dion sudah bersiap membukakan pintu untuk Ara. Dengan begitu ketika Ara sampai bisa langsung masuk.
"Terima kasih," ucap Ara ketika sudah duduk di jok depan.
"Sama-sama." Dion kembali menutup pintu mobil. Kemudian mengitari mobil tersebut dan masuk ke dalam. Ia duduk di balik kemudi, bersebelahan dengan Ara. Dion menghidupkan mesin mobil, bersiap untuk pergi. Perlahan ia mulai melajukannya, membelah jalanan yang cukup padat.
.
__ADS_1
.
.