Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Sold out


__ADS_3

"Sayang," teriak seseorang yang tiba-tiba datang dan memeluk Ara dari belakang.


"Ternyata kau di sini, Abang mencarimu kemana-mana," imbuhnya sambil memainkan dagu serta pipi Ara dengan gemas.


Seketika Farhan tertunduk malu. Sebentar lagi kebohongannya pasti akan segera terbongkar, pikirnya. Sekarang Ia tak sanggup lagi menatap Dinda. Jangankan menatap, melirik saja ia tak berani melakukannya.


Dasar bodoh! mengapa aku baru menyadari sekarang. Seharusnya aku tahu sejak awal, kalau gadis ini tidak mungkin datang seorang diri. Dia pasti datang bersama pasangannya.


"Memangnya Bang Sam mencariku kemana? sedari tadi aku hanya diam di sini," jelas Ara.


"Benarkah? mengapa Abang tidak yakin kalau adikku ini hanya berdiam diri di sini," ucap Samsul, kakak pertama Ara.


Apa! adik?


Jadi, ternyata pria itu kakaknya Inara. Syukurlah, aku selamat.


Sebuah angin segar kembali menyelimuti Farhan. Pria itu menghela nafas dalam. Lalu melepaskannya perlahan, merasa lega. Ia kembali menegakan kepala dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Kalau Abang tidak percaya, tanya saja sama Kakak-kakak di sampingku ini." Ara melirik Dinda dan Farhan secara bergantian.


Samsul pun mengikuti arah pandangan adiknya itu. Ia mendapati dua orang yang kini tersenyum padanya.


"Bukankah kau mempelai wanitanya? wanita yang kini sudah sah menjadi istri dari Hito," tanya Samsul pada Dinda.


Dinda menganggukan kepala. Masih dengan senyuman manisnya. "Betul, Mas," ucapnya.


Samsul mengulurkan tangan, menjabat tangan Dinda untuk memperkenalkan diri dan memberikan ucapan selamat.


"Saya Samsul, rekan kerja Hito."


Dinda segera menyambut uluran tangan rekan kerja suaminya itu. "Saya Dinda," sahutnya.


"Oh iya. Selamat menempuh hidup baru, Dinda. Semoga pernikahanmu dengan Hito langgeng sampai maut memisahkan dan juga semoga keluarga kalian selalu di lingkupi kebahagian," ucapnya tulus.


"Amin. Terima kasih, Mas," jawab Dinda seraya menjabat tangan rekan kerja suaminya itu.


"Ngomong-ngomong dimana suamimu? kenapa kalian tidak bersama-sama?" tanya Samsul seraya menoleh ke sekitarnya, mencari keberadaan sang mempelai pria.


Dinda pun ikut memperhatikan sekelilingnya.


"Tadi dia pergi menemui tamu undangan yang lainnya. Ah itu dia," seru Dinda ketika mendapati sang suami sedang berjalan ke arahnya.


"Hai, Sam," sapa Hito ketika ia sudah berdiri di hadapan Samsul. Mereka berdua saling berjabat tangan dan juga memberikan pelukan hangat.


"Selamat, Bro. Akhirnya sold out juga," ucap Samsul dengan tawa kecil.


"Terima kasih sudah datang ke acaraku, Bro."


"Ah, tak perlu berterima kasih seperti itu. Sudah seharusnya aku menghadiri hari bersejarah ini. Kalau tidak, mungkin aku akan menyesal. Karna tak bisa ikut menyaksikan betapa indah dan megahnya acara hari ini," gurau Samsul.


"Ah, kau bisa saja Sam."


"Oh iya, apa kau datang seorang diri? aku tidak melihat istrimu," tanya Hito.


"Tidak. Aku kemari bersama adikku," bantah Samsul seraya menoleh ke kiri.


Hito mengikuti arah pandangan temannya itu, yang mengarah ke Ara.


"Oh, jadi ini adikmu? pantas saja terlihat sangat cantik."


"Tentu saja, siapa dulu, dong, kakaknya," jawab Samsul seraya menepuk dada kirinya, bangga.

__ADS_1


"Tapi tetap saja, Sam. Istriku lebih cantik," puji Hito.


Dinda tersipu, kedua pipinya tampak merona. Ia pun tak segan mencubit pinggang Hito karna malu. Namun, di saat bersamaan ketika ia memandang Ara. Ia tersenyum sinis. Seolah mengejek dan mengatakan 'lihat, akulah yang lebih cantik di banding dirimu'.


"Aakh, sakit, Sayang," pekik Hito, manja.


"Makanya, jangan ngegombal terus," saut Dinda, kembali menatap suaminya.


"Memangnya siapa yang menggombal, Sayang? aku serius. Istriku memang cantik sekali," puji Hito. Ia meraih wajah Dinda. Kemudian mengecup pipi dan juga puncak kepala istrinya itu berulang kali.


Farhan memalingkan wajah, menghindari pemandangan yang membuatnya jengkel. Rahangnya mengeras dan telapak tangannya mengepal, menandakan pria itu sedang menahan emosi. Bagaimana tidak, Hito seolah sengaja meledeknya dengan bermesraan tepat di depan matanya.


Karna tak ingin berlama-lama lagi dengan situasi tak mengenakan itu, akhirnya ia pun memilih pergi. Meninggalkan acara tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun. Di ikuti oleh Ara yang mengekor di belakangnya.


Akan tetapi karena perbedaan postur tubuh, membuat gadis itu tak bisa mengimbangi langkah panjang Farhan. Ia tertinggal beberapa langkah di belakang. Beberapa kali ia berteriak, memanggil Farhan. Akan tetapi sepertinya Farhan tak mendengar. Pria itu tetap melangkah semakin jauh.


Ara pun semakin mempercepat langkahnya. Bahkan gadis itu berjalan setengah berlari. Sampai akhirnya ia berhasil mengejar Farhan.


"Kakak," ucapnya seraya menarik lengan Farhan.


Farhan pun menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap seseorang yang menahannya.


"Ya, ada apa?" tanyanya.


Ara segera melepaskan lengan Farhan dari genggaman tangannya.


"Apa Kakak baik-baik saja?"


Farhan mengerutkan dahi, merasa bingung. Mengapa gadis itu tiba-tiba menanyakan keadaannya. "Tentu. Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja dan sehat," jawabnya.


"Syukurlah." Ara menghembuskan nafas lega.


"Apa aku terlihat seperti sedang sakit? sehingga kau menghawatirkanku?" tanya Farhan penasaran.


"Lalu, mengapa kau bertanya seperti itu?"


Ara terdiam. Wajahnya tertunduk, seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya ia sendiri pun tidak tahu. Mengapa dirinya begitu peduli dan juga menghawatirkan Farhan.


"Aku...,aku hanya ingin tahu saja," jawabnya ragu-ragu.


Farhan maju selangkah. Semakin mendekatkan tubuhnya ke Ara. Mereka kini berjarak kurang dari satu meter. Ia meletakan kedua tangannya di dinding, mengunci tubuh Ara di bawah kungkungannya. Pria itu sedikit membungkuk, menyamakan tingginya dengan gadis di hadapannya itu. Ia mendekatkan wajahnya, persis di depan wajah Ara. Sangkin dekatnya keduanya bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.


"Mengapa kau ingin tahu?" tanyanya menyelidik. Ia mengamati seluruh bagian wajah gadis di hadapannya. Dari bibirnya yang kecil, hidungnya yang mancung hingga kedua bola matanya yang besar. Semuanya tak luput dari pandangannya.


Ara membuang muka ketika tatapan mata mereka saling bertemu. Rasanya ia tak sanggup berlama-lama menatap pria yang belum lama ini ia kenal. Jantungnya berdegup tak karuan. Entah apa sebabnya ia pun tak tahu pasti. Apakah karna merasa terintimidasi atau justru karna hal lain. Suatu hal yang baru pertama kali ia rasakan, sepanjang hidupnya.


Setelah beberapa menit berlalu. Farhan kembali menarik tubuhnya.


"Apa kau takut? bisiknya, tersenyum. Seperti biasa, senyumnya begitu menawan. Hingga membuat Ara kembali terpesona untuk kesekian kalinya.


"Sedikit," sahut Ara, jujur.


"Maaf, aku tidak bermaksud demikian."


"Oke, dimaafkan," jawab Ara, tersenyum.


"Kalau begitu, apa aku boleh pergi sekarang?" tanya Farhan.


"Mau kemana?" saut Ara bertanya balik. Entah mengapa ia sedikit kecewa saat Farhan hendak pamit pergi.


"Pulang," jawab Farhan.

__ADS_1


Tak ada alasan lain untuk menahan Farhan lebih lama. Meskipun enggan, ia pun harus merelakan laki-laki tampan itu pergi.


"Kalau begitu hati-hati di jalan, Kak."


"Oke. Kau juga, Inara." Farhan kini mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan Ara.


Sementara Ara hanya terdiam, menatap punggung Farhan yang bergerak kian menjauh.


Namun, saat baru beberapa meter, langkahnya kembali terhenti. Ia membalikan badan dan kembali menghampiri Ara yang masih setia berdiam diri di tempat. Sejurus kemudian ia sudah kembali berhadapan dengan gadis mungil itu.


"Kenapa balik lagi?" tanya Ara. Ketika Farhan sudah berada satu meter di depannya.


"Aku melupakan sesuatu."


"Apa itu?"


"Bolehkah aku meminta nomor telfonmu?" tanya Farhan.


"Untuk apa?"


Farhan sedikit panik dengan pertanyaan tersebut. Seketika ia mati gaya. Bingung dengan jawaban apa yang harus ia katakan. Sungguh, ini adalah pertama kalinya seorang wanita mempertanyakan alasan untuk apa ia meminta nomornya. Sebelumnya tidak pernah demikian.


"Untuk menghubungimu. Jika nanti aku ingin mengambil jaket yang pernah kupinjamkan padamu," jawabnya setelah menemukan ide.


"Ah, iya, aku lupa. Belum mengembalikan jaket Kakak."


"Kalau begitu kemarikan handphone Kakak, biar aku saja yang menuliskan nomornya," pinta Ara.


Farhan merogoh saku celana, mengambil ponsel miliknya. Setelah itu menyerahkan benda pipih itu pada Ara.


Setelah smartphone tersebut berpindah tangan, Ara segera mengetik dan juga menyimpan nomornya di ponsel Farhan. Lalu menyerahkannya kembali pada si empunya.


"Ara?" ucap Farhan saat melihat nama itu di kontaknya.


"Ya, panggil saja Ara, Kak. Jangan Inara."


"Baiklah. Kalau begitu aku jalan sekarang," pamit Farhan, lagi.


"Ya, hati-hati di jalan," pesan Ara.


"Hemm." Farhan pun beranjak pergi.


Tak berselang lama ia kembali membalikan tubuh dan berjalan mundur.


"Oh, iya. Terima kasih, Ara," ucapnya sedikit kikuk saat mengucapkan nama panggilan gadis itu.


"Terima kasih, Untuk...?"


"Untuk semuanya," sahut Farhan sedikit berteriak. Ia melambaikan tangan.


"Sampai bertemu lagi," imbuhnya.


"Iya, sampai jumpa, Kak."


Akhirnya mereka pun benar-benar berpisah. Farhan berjalan menuju parkiran. Sementara Ara kembali masuk ke dalam Ballroom. Semenjak kepergian Farhan, senyumannya tak pernah lepas, selalu mengembang di wajahnya. Seiring dengan hatinya yang sedang berbunga.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2