Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Hanya orang biasa


__ADS_3

Pagi telah tiba. Sinar mentari tampak memancar dari ufuk timur. Gumpalan awan putih seakan menambah keindahan langit ibu kota.


Dibalik selimut tebal, Dion menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Mulutnya terbuka lebar ketika pria itu menguap. Setelah beberapa kali mengerjap, kini kedua mata sipitnya terbuka sempurna.


Dion menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Kemudian beranjak ke kamar mandi dengan langkah gontai. Di kamar kecil itu Dion membasuh wajahnya di wastafel. Kucuran air dingin terasa begitu menyegarkan kala menyentuh kulitnya. Setelah berkumur, Dion segera menyambar handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya. Ia bercermin sebentar, merapikan rambutnya yang acak-acakan. Setelah itu barulah keluar dan bergegas turun ke lantai bawah.


Dari lantai atas Dion bisa melihat sang ayah tengah duduk di ruang makan. Sambil bersenandung ia bergegas menuruni anak tangga satu demi satu. Ia menghampiri meja makan, bergabung dengan sang ayah yang sedang menikmati croissant, kue yang berasal dari prancis itu.


"Pagi, Ayah," sapa Dion seraya menarik kursi. Ia mendudukan tubuhnya disisi kiri sang ayah.


"Pagi, Nak," sahut Hendri, ayah Dion.


"Oh iya, bagaimana perkembangan proyek yang sedang kau kerjakan?"


Dion mengulurkan tangan, meraih sandwich di hadapannya. Kemudian mengigitnya dengan potongan besar.


"Sejauh ini semuanya berjalan lancar, Yah. Tak ada masalah," jawab Dion.


"Baguslah, kalau begitu. Tapi kau tak boleh lengah. Tetap awasi proses pembangunanya hingga selesai," pesan Hendri.


"Siap, ayah," sahut Dion, tersenyum.


Jika diamati secara seksama wajah ayah dan anak tersebut tampak sangat mirip. Keduanya sama-sama memiliki mata sipit serta hidung yang mancung. Hanya saja Hendri memiliki tone kulit yang sedikit lebih gelap, jika di bandingkan dengan putranya itu.


"Bi... Bibik..." teriak Diana dari dalam kamar.


Suara cempreng wanita itu terasa memekakan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Iya, Nyah," sahut Bi Ningsih dari dapur. Dengan langkah tergopoh-gopoh, wanita paruh baya itu menghampiri Diana, sang majikan.


"Lihatlah, kelakukan ibumu. Setiap hari hobinya teriak-teriak terus," gumam Hendri.


Dion tertawa kecil. Tanpa perlu diberitahu pun ia sudah mengerti kebiasaan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Apa sejak dulu ibu seperti itu, Yah?" tanyanya.


"Tidak. Dulu saat pertama kali kami bertemu, ibumu tak banyak bicara dan ketika bicara pun nadanya sangat lembut," kenang Hendri. Pria yang berusia hampir setengah abad itu tersenyum, mengingat kembali masa-masa mudanya bersama Diana, yang kala itu masih menjadi kekasihnya.


"Tapi, semakin lama kami saling mengenal, sedikit demi sedikit perangainya mulai terlihat," imbuhnya.


"Jadi menurut Ayah, ibu itu sosok yang seperti apa?" tanya Dion, lagi.


"Ya seperti yang kau lihat, cerewet dan suka merajuk dan kadang menyebalkan." tutur Hendri, tertawa.


"Kurasa Ayah memang benar." Dion mengangguk setuju.


Kedua pria tersebut tertawa bersama. Sepertinya mereka sangat klop dalam hal menggunjingkan wanita tercantik di rumah tersebut. Wanita yang mereka cintai setulus hati.


"Tapi, Dion jadi penasaran, Yah. Apa yang membuat Ayah yakin dan memutuskan menikahi ibu? padahal ibu cerewet dan menyebalkan. Bukankah ayah tak menyukai orang yang seperti itu?"

__ADS_1


"Apa kau tahu, Nak. Alasan utama ayah menyukainya adalah karena ibumu memiliki hati yang lembut. Terlepas dari sikapnya yang cerewet menurut ayah itu hal yang lumrah. Setiap wanita sepertinya memang bersifat seperti itu. Lagi pula, jika kita mencari pasangan yang sempurna, Ayah rasa sampai mati pun kita tidak akan pernah menemukannya. Karna setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing," jelas Hendri.


Dion mengangguk setuju.


Hendri terlihat menyeruput kopinya. Setelah itu meletakan kembali cangkir tersebut di atas meja. "Lalu, bagaimana denganmu, apa kau sudah menemukan wanita yang kau suka? Ayah dengar, kemarin kau pergi bersama seorang gadis," tanya Hendri, penasaran.


Dion tersipu. Pria itu tampak salah tingkah.


"Melihat ekspresimu, sepertinya berita yang Ayah dengar memang benar."


Dion mengangguk. "Iya, Ayah. Dion sedang menyukai seseorang," ucapnya malu-malu.


"Siapa gadis yang kau sukai itu? apa Ayah mengenalnya?"


Dion menggeleng. "Kurasa tidak. Aku saja belum lama mengenalnya."


Hendri mengangguk mengerti.


"Oh, iya, Yah. Dion ingin bertanya sesuatu."


"Silahkan, tanyakan saja. Apa yang ingin kau ketahui?" ucap Hendri.


"Gadis itu bukan anak dari pengusaha ataupun pejabat, dia hanya orang biasa. Apa Ayah tidak apa-apa?" Dion bertanya dengan mimik serius.


Hendri tertawa. "Mengapa kau bertanya seperti itu, Dion. Yang menyukai gadis itu adalah kau. Semuanya terserah padamu," tuturnya.


"Tentu saja, Nak. Apa kau pernah melihat Ayah membeda-bedakan seseorang karna statusnya?"


Dion menggeleng. "Ayah selalu merangkul siapapun. Mau itu pejabat atau gembel sekalipun," ucapnya.


"Nah, itu kau tahu," timpal Hendri.


"Kau berhak menyukai siapapun, Dion. Ayah tidak peduli dengan status sosial gadis yang kau cinta. Apa pekerjaannya atau siapa orang tuanya. Bagi Ayah, yang terpenting adalah attitude gadis itu. Jika kau mencari pendamping hidup sebisa mungkin carilah wanita yang baik, bukan yang hanya cantik parasnya saja," imbuhnya.


"Iya, Ayah," saut Dion.


"Ayah yakin, kau pasti akan mendapatkan wanita terbaik." Hendri menepuk bahu putra kebanggaannya itu.


"Semoga saja, Yah," ucap Dion mengaminkan.


"Jadi, seperti apa gadis itu? ceritakan pada Ayah. Apa gadis itu cantik?" tanya Hendri, penasaran dengan sosok wanita yang telah mencuri hati putranya itu.


Dion kembali tersenyum. Pria itu menganggukan kepala, menjawab pertanyaan sang ayah.


"Sudah Ayah duga. Gadis itu pasti cantik. Sebab kau terlihat sangat menyukainya," goda Hendri.


Dion semakin tersipu. Pipinya sedikit merona. Dion adalah tipe pria yang ekspresif. Sehingga mimiknya sangat mudah ditebak. Baik ketika ia sedang bahagia, sedih, ataupun marah.


"Siapa yang cantik?" sambar Diana yang tiba-tiba muncul dengan wajah cemberut. Wanita beranak satu itu mendudukan tubuhnya di sisi kanan suaminya, berseberangan dengan Dion. Tatapan tajamnya tertuju pada Hendri, laki-laki yang sudah 25 tahun menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


Dion dan Ayahnya saling melirik sebentar. Sebelum akhirnya Hendri menoleh, menatap sang istri.


"Tentu saja kamu, Bu. Siapa lagi yang cantik di rumah ini selain dirimu," ucap Hendri, bohong.


"Bohong! Ayah pasti sedang membicarakan wanita lain, kan?" cecar Diana, tak percaya.


"Tidak, Sayang. Sungguh, kali ini Ayah tidak berbohong. Yang sedang kami bicarakan itu kamu, bukan wanita lain. Kalau ibu tak percaya, tanyakan saja pada Dion."


Diana kini beralih menatap Dion, putra kesayangannya itu. "Benarkah itu, Dion?" tanyanya meminta penjelasan.


Dion mengangguk. "Betul, Bu. Kami memang sedang membicarakan Ibu," tuturnya.


"Sungguh?"


Dion kembali mengangguk. Raut wajah Diana seketika menjadi sumringah. Ia memang lebih mempercayai putranya dibanding sang suami.


"Lalu, apa yang kalian bicarakan tentang Ibu?" tanya Diana, penasaran.


"Ayah menceritakan tentang kenangan bersama ibu saat masih muda, dulu," saut Dion, jujur. Ya, sebelumnya mereka memang membahas hal tersebut.


"Benarkah?" tanya Diana, sekan tak percaya. Tapi, raut wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Iya. Kata Ayah, Ibu adalah wanita yang bukan hanya cantik parasnya saja, tapi juga cantik hatinya. Dan itulah alasan utama kenapa Ayah sangat menyukai Ibu," ucap Dion meyakinkan.


Diana tersenyum, menatap sang suami.


"Maafkan Ibu, Yah. Tadi sempat berprasangka buruk padamu," sesal Diana.


Hendri tersenyum. Satu hal lagi yang membuat Hendri begitu menyukai Diana, istrinya itu tak gengsi untuk meminta maaf jika dirinya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Sayang," ucapnya.


Obrolan mereka terus berlanjut. Diana terus mengoceh, menceritakan masa mudanya dulu. Sesekali suami istri itu sedikit berdebat. Meskipun akhirnya kembali akur dan tertawa bersama.


Sementara Dion hanya menyimak dan ikut tertawa ketika ada hal yang lucu. Dion merasa sangat beruntung karna memiliki orang tua seperti ayah dan ibunya itu. Bukan karna kedua orang tuanya itu kaya. Sungguh, meskipun kedua orang tuanya itu hanyalah orang sederhana, ia akan tetap bangga.


Bagi Dion, kedua orang tuanya itu sosok panutan. Terutama Hendri. Dari sang ayah, Dion belajar tentang banyak hal. Mulai dari bagaimana cara memulai bisnis, hingga cara memperlakukan seorang wanita. Ayahnya itu selalu berpesan agar dirinya selalu bersikap sopan dan rendah hati. Ia juga tak boleh memandang rendah orang lain.


Dan untuk urusan wanita, ayahnya itu selalu berpesan agar Dion jangan sampai menyakiti hati wanita manapun, terutama pasangannya. Sebab, wanita itu mudah memaafkan tapi sulit melupakan. Jika sekali saja kita menyakiti hatinya, maka wanita itu akan selalu mengingatnya hingga akhir hayat.


Dan sebagai lelaki sebisa mungkin harus selalu berusaha membuat pasangannya bahagia. Tidak harus dengan memberikan hadiah mewah untuk membuat wanita bahagia. Tapi berikanlah kasih sayang dan juga perhatian. Sebab, bagi wanita itu lebih berharga dibandingkan materi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2