Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Cinta pandangan pertama


__ADS_3

Di dalam mobil kedua tangan Dion fokus mengemudi. Sorot matanya menatap jalanan di hadapannya. Air mukanya terpancar kebahagiaan. Terbukti dengan adanya lengkungan di kedua sudut bibirnya. Ekor matanya beberapa kali melirik ke Ara, gadis mungil nan cantik yang kini duduk tepat di sampingnya.


Berbeda dengan Dion yang terlihat sangat menikmati perjalanan. Ara justru tampak gelisah. Sesekali ia mengubah posisi duduknya, mencari posisi yang nyaman. Gadis itu juga tak banyak bicara. Ia hanya menjawab apa yang di tanyakan oleh Dion. Selebihnya ia terdiam dan memandang keluar jendela. Beberapa kali ia menguap, pertanda rasa kantuk mulai menyerangnya. Maklum saja, jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Biasanya di jam itu ia sudah terlelap di dalam kamarnya dan terkadang memimpikan banyak hal. Namun, kali ini ia justru tengah menempuh perjalanan menuju rumahnya.


Meskipun Ara berusaha keras melawan kantuk, sayangnya usahanya itu sia-sia. Sedikit demi sedikit kelopak matanya semakin turun. Hingga akhirnya bola matanya itu tertutup dengan sempurna. Dengkuran halus pun mulai terdengar lolos dari mulut kecilnya.


Setelah tiga puluh menit mengemudi, kini kendaraannya memasuki perumahan cluster Mulia Sari yang merupakan tempat dimana keluarga Ara tinggal. Lingkungan tersebut tampak sepi karna memang sudah larut malam.


Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Dion memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah bercat putih dan juga abu tua.


Saat itu Ara masih terlelap. Dion tak tega jika harus membangunkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu saja. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran jok sembari memainkan ponselnya.


Sepuluh menit telah berlalu. Dion mulai merasa bosan. Pria itu meletakan ponselnya di dasbor. Kemudian mengubah posisi tubuhnya ke samping, menghadap gadis yang duduk di jok sebelahnya itu. Di pandanginya wajah Ara yang masih terlelap.


"Bahkan saat tidur pun kau tetap terlihat cantik," gumamnya. Lagi-lagi pria itu kembali tersenyum. Sepertinya hari ini ia memecahkan rekor karna terlalu sering tersenyum. Berbeda dengan hari-hari biasanya yang jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa. Suatu momen yang sangat langka, laki-laki kaku tersebut bisa tertawa lepas seperti saat di pesta tadi. Sebuah tawa yang mungkin hanya terjadi setahun sekali.


Dalam tidurnya acap kali ekspresi Ara berubah-ubah. Kadang tersenyum, mengerutkan dahi, lalu kembali datar. Mungkin gadis tersebut sedang bermimpi.


Dion yang melihatnya pun tak tahan untuk tidak menyentuhnya karna merasa gemas. Ia mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis itu. Lalu menyelipkannya di belakang telinga. pungung tangannya membelai setiap sudut wajah Ara. Mulai dari dahi, pelipis, pipi dan terus turun hingga terhenti di sudut bibir gadis itu.


Meski sempat ragu, akhirnya Dion memberanikan diri mengusap bibir tipis Ara yang merekah. Jujur saja, saat itu ia sedikit tergoda. Rasanya ingin sekali mengecupnya. Namun, niatnya tersebut ia urungkan tatkala sang pemiliknya bereaksi akibat sentuhannya itu. Sontak Dion buru-buru menarik tangannya. Sebelum Ara menyadari hal tersebut. Bisa-bisa ia mendapatkan bogem mentah kalau tertangkap basah sedang menyentuh gadis itu tanpa izin.


Ya, kala itu Ara menggeliat, ketika ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Kemudian ia mengerjap-ngerjap, mencoba membuka matanya yang terasa berat. Matanya tampak menyipit, menyesuaikan cahaya lampu yang meremang.


"Maaf, aku ketiduran," ucapnya ketika kedua matanya sudah terbuka dengan sempurna.


"Tidak apa-apa. Jika masih mengantuk, kau boleh lanjut tidur," jawab Dion.

__ADS_1


"Ah, tidak. Aku tidak mengantuk," sangkalnya. Namun, tiba-tiba saja ia kembali menguap. Bahkan sangat lebar. Membuat Dion tersenyum.


"Sepertinya tubuhmu tak sejalan dengan ucapanmu," ucap Dion.


Ara tersipu, malu. "Ya, sepertinya aku mulai mengantuk. Sedikit," ralatnya.


Ara mengedarkan pandangan, mengamati keadaan sekitarnya. Di hadapannya ada sebuah rumah yang tampak sangat familiar. Ya, sebuah bangunan dua lantai bernuansa modern tropis itu adalah rumahnya.


"Kita sudah sampai?" tanya Ara sedikit kaget. Ia bingung karna dirinya merasa hanya tertidur sebentar. Tapi mengapa kini mereka sudah tiba di rumah. Padahal jarak dari rumah sakit ke kediamannya lumayan jauh.


"Hemm," gumam Dion seraya menganggukkan kepala.


"Apa sudah lama? mengapa Pak Dion tak langsung membangunkanku?"


"Tidak. Kita baru saja sampai," saut Dion, bohong. Ya, sebenarnya mereka sudah sampai sejak dua puluh menit yang lalu.


Ara mengerti. Keduanya turun dari mobil. Dion mengantarkan Ara hingga ke teras rumah.


"Terima kasih sudah mengantarku, Pak."


"Jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja Dion, sesuai namaku," titah Dion.


"Tapi Pak Dion lebih tua dariku. Rasanya tidak sopan jika menyebut nama langsung," sanggah Ara, tak setuju.


"Kalau begitu panggil saja, Kak. bagaimana?" Dion menyarankan.


"Baiklah. Pak... Eh, maksudku Kak Dion," ucap Ara sedikit kikuk.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu, Inara," pamit Dion.


"Iya, hati-hati di jalan, Kak. Jangan mengebut," pesan Ara.


Dion tersenyum. Ia begitu senang mendapatkan perhatian kecil dari Ara.


"Baiklah, aku tidak akan mengebut," ucapnya mengiyakan.


"Selamat malam, Inara." imbuhnya.


"Selamat malam juga, Kak Dion."


Dion melangkah pergi. Kembali masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Ia menurunkan kaca jendelanya serta menganggukan kepala dan juga membunyikan klakson sebelum benar-benar pergi. Sementara Ara terlihat melambaikan tangan pada Dion, pria yang telah membantunya dan juga kakaknya.


Ya, sebelum mengantar Ara pulang, Dion terlebih dulu mengantar Samsul ke rumah sakit. Menemui istrinya yang akan melahirkan. Sebenarnya Ara ingin tinggal di rumah sakit juga, menunggu proses persalinan kakak iparnya itu bersama Abang dan juga ibunya. Namun, ia tidak di ijinkan oleh Samsul lantaran besok ia harus pergi ke sekolah. Samsul tidak mau adiknya itu tak fokus ketika jam pelajaran karena mengantuk akibat begadang.


Setelah mobil Dion hilang dari jangkauan mata, Ara segera masuk ke dalam rumah. Ia menaiki anak tangga satu persatu, menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sebelum pergi tidur ia terlebih dulu membersihkan diri, menghapus semua make up yang masih menempel di wajahnya, serta mengganti gaunnya dengan baju tidur.


Setelah selesai Ara membaringkan tubuhnya di kasur. Ia melirik jam kecil di atas nakas. Jam tersebut menunjukan pukul setengah dua dini hari. Gadis itu tak langsung tidur. Ia sedikit cemas memikirkan proses persalinan kakak iparnya di rumah sakit sana. Apakah semuanya berjalan lancar? apakah sekarang keponakannya sudah lahir? Ara meraih ponselnya, hendak menghubungi sang kakak. Akan tetapi niatnya tersebut ia urungkan, takut mengganggu, pikirnya.


Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Namun, tak berhasil. Pikirannya justru kembali ke momen beberapa jam yang lalu. Momen ketika ia bersama dengan Farhan.


Ara kembali membuka mata. Kemudian bangkit berdiri dan menyambar jaket milik Farhan yang menggantung di lemarinya. Lalu, kembali ke tempat tidur dan mendudukan tubuhnya di sana. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia tersenyum, memandangi jaket yang berada di pangkuannya itu.


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Dion pun melakukan hal yang hampir sama. Pria itu kini tengah berbaring sambil memikirkan setiap momen ketika bersama dengan Ara. Ia kembali tersenyum ketika mengingat wajah gadis itu. Baik saat sang gadis tengah membuka mata, maupun ketika gadis itu terlelap. Dulu ia menganggap cinta pandangan pertama hanyalah omong kosong belaka. Namun kini ia menyadari bahwa hal tersebut memang nyata. Dan saat ini ia mengalaminya sendiri. Baru kali ini ia begitu tertarik dan menginginkan seorang wanita. Padahal mereka baru bertemu untuk pertama kalinya.


Berbeda dengan Dion dan juga Ara yang masih terjaga. Farhan justru sudah tertidur nyenyak. Meskipun ia sempat galau saat menghadiri pesta pernikahan mantan kekasihnya, nyatanya hal tersebut tak berlangsung lama. Ketika pulang ia bersikap biasa saja. Pria itu bahkan bisa tertawa dengan teman-temannya tanpa menunjukan raut kesedihan sedikit pun. Bahkan rekan-rekannya itu pun merasa heran, mengapa Farhan bisa bersikap demikian. Padahal setahu mereka Farhan sangat mencintai Dinda.

__ADS_1


__ADS_2