
"Siapa gadis itu, Han? apa dia pacar barumu?" tanya Anton.
"Jangan konyol, mana mungkin aku berkencan dengannya," bantah Farhan.
"Memangnya kenapa? bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin?"
Farhan tak menjawab. Ia terlihat sibuk memakai seragam kerjanya. Ya, saat ini ia tengah bersiap-siap untuk menjalankan kewajibannya. Yaitu pergi bekerja. Kali ini Farhan masuk di shift tiga, yang jam kerjanya di mulai dari pukul dua siang, hingga pukul sepuluh malam.
"Lagipula gadis itu cantik dan juga sangat menggemaskan," ucap Anton.
Farhan menoleh, menatap Anton yang sedang mengancingkan baju.
"Apa kau benar-benar seorang pria?" tanya Farhan menyelidik.
Anton mendongak, menatap Farhan. "Tentu saja."
"Tapi..., kenapa aku merasa tidak yakin," ucap Farhan seraya meremas dagunya seolah merasa bingung.
"Hei, apa maksudmu. Kau bahkan sudah pernah melihat milikku."
"Ah, kau benar." Farhan mengangguk setuju.
"Mengapa kau tiba-tiba menanyakan itu, Han?" tanya Anton, penasaran.
"Menanyakan apa?" jawab Farkan tak mengerti.
__ADS_1
"Yang baru saja kau tanyakan, tentang apa aku benar-benar seorang pria. Memangnya aku terlihat seperti wanita, kah?"
"Oh, itu," saut Farhan. Ia melirik Anton, mengamati seluruh bagian tubuhnya. Dari ujung kepala hingga mata kakinya.
"Jika di lihat dari penampilanmu, kau terlihat sangat gagah, kau sangat jelas seorang pria. Tapi jika melihat sikapmu, kurasa orang pun tak yakin jika kau benar-benar laki-laki sejati," imbuhnya.
"Memangnya apa yang salah dengan sikapku? aku tidak melambai dan juga cara bicaraku biasa saja, tidak seperti lelaki jadi-jadian," tutur Anton.
"Hei, apa kau tidak sadar? saat melihat kelinci, kucing ataupun anak-anak matamu selalu berbinar dan kau bertingkah sangat menggelikan." Farhan bergidig saat membayangkannya.
"Apa aku bersikap seperti itu?" tanya Anton tak percaya.
"Tentu saja."
"Aku bahkan masih ingat dengan sangat jelas bagaimana ekspresimu saat kau menyapa gadis yang kita jumpai tadi. Kau melambaikan tanganmu sambil tersenyum lebar," tutur Farhan seraya memperagakannya.
"Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada temanmu yang lain," ucap Farhan menyarankan.
"Tapi, bukankah gadis itu memang menggemaskan, Han? gadis itu sangat cantik. Matanya besar dan bibirnya juga sangat kecil, dia itu seperti boneka hidup."
Farhan menatap Anton dengan serius.
"Apa kau sangat terobsesi dengan sesuatu yang lucu dan menggemaskan? mengapa seleramu selalu anak-anak."
"Hei, gadis itu bukan anak-anak lagi, Han. Dia mengenakan seragam SMA, itu artinya gadis tersebut sudah dewasa," bantah Anton.
__ADS_1
"Ya, tapi tetap saja, Ton. Meskipun dia sudah SMA tapi rentang usianya terlalu jauh dengan kita. Jika dia sekarang kelas 3, berarti umurnya berkisar 18 tahun. Sedangkan usiamu sudah hampir kepala tiga," jelas Farhan.
"Cinta itu tidak memandang usia, Han. Buktinya banyak sekali pasangan suami istri yang usianya terpaut cukup jauh. Bahkan ada yang selisihnya hingga lima belas tahun. Jika di bandingkan usia kita dengan gadis itu paling selisihnya sekitar tujuh atau delapan tahun saja."
"Terserah apa katamu saja, Ton. Tapi bisa kupastikan jika hal tersebut tidak akan pernah terjadi dalam hidupku. Aku tidak mungkin mencintai, apalagi sampai menikahi wanita yang menurutku masih anak-anak, seperti gadis itu. Bagiku seseorang yang ku anggap wanita adalah seseorang yang usianya hanya terpaut dua atau tiga tahun denganku, tidak lebih," ucap Farhan sambil berjalan keluar, menuju ke ruang kerjanya.
"Hei, jangan bicara seperti itu. Kita tidak akan pernah tahu, kepada siapa hati ini akan berlabuh. Siapa tahu, gadis itu akan menjadi pasangan dari salah satu di antara kita. Bisa saja, kan?" tutur Anton.
"Jika gadis itu akan menjadi pasangan dari salah satu di antara kita, aku yakin pasangannya itu pasti kau, bukan aku," saut Farhan.
"Aku juga berharap begitu," timpal Anton, tertawa. Di susul oleh Farhan yang juga ikut terkekeh.
Jam menunjukan pukul 13.50 keduanya pun bersiap memulai pekerjaannya. Saat itu kafe cukup ramai, Farhan terlihat sibuk melayani pengunjung yang datang.
Sementara itu, di tempat yang berbeda. Ara dan juga Sandra baru saja selesai nonton. Keduanya keluar dari studio dengan riang.
"Sekarang kita mau kemana lagi, Ra?"tanya Sandra.
Ara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum, sepertinya masih banyak waktu baginya untuk bermain. Ya, hari ini kakaknya sedang ada acara, jadi beliau tak bisa datang menjemputnya. Ara pun memanfaatkan momentum tersebut untuk bermain dengan temannya. Sebab, jika sudah berada di rumah, Ara tak bisa pergi kemanapun. Kecuali jika pergi bersama keluarganya.
Begitulah kehidupan Ara. Orang lain mungkin merasa iri padanya. Ara terlahir dari keluarga berada. Ia juga merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarganya itu. Dengan demikian ia sangat di manja. Apapun keinginannya selalu di turuti. Teman-temannya mengatakan jika kehidupanya itu sangat sempurna. Bukan hanya cantik tapi Ara juga memiliki segalanya.
Ya, Ara sangat bersukur akan hal tersebut. Tapi ada satu hal yang tak bisa ia dapatkan di kehidupannya itu. Hal tersebut ialah kebebasan. Selama ini ia hidup terkekang oleh aturan keluarga. Ia tak bisa bebas bermain seperti halnya teman-temannya yang lain. Bukan hanya itu, pergaulannya pun di batasi. Ia tidak bisa berteman dengan sembarang orang. Ia hanya boleh berteman dengan seseorang yang di kenal oleh keluarganya.
Mungkin orang berpikir keluarga Ara kejam dan terkesan sombong. Tapi sebenarnya tidak. Keluarganya sangat baik dan juga dermawan. Hanya saja mereka terlalu protektif terhadap Ara. Hal tersebut mereka lakukan bukan tanpa alasan. Mereka hanya ingin melindungi anggota keluarganya. Mereka sangat takut jika sesuatu yang buruk kembali menimpa keluarga mereka. Seperti peristiwa beberapa tahun yang lalu. Peristiwa yang sangat mengerikan, peristiwa yang telah merenggut nyawa salah satu keluarga mereka.
__ADS_1
bersambung...