Takdir Cinta HanAra

Takdir Cinta HanAra
Flashback


__ADS_3

Dua belas tahun yang lalu, di pertengahan bulan oktober. Di sebuah rumah yang cukup mewah, seorang gadis terlihat sedang tergesa-gesa. Sampai-sampai gadis tersebut menuruni anak tangga dengan setengah berlari.


"Jangan lari, Sayang, nanti kamu jatuh," larang mama Indri, ibunda dari Deandra.


"Tenang saja, Mah, itu tidak akan terjadi," Saut Deandra ketika ia sudah berada di anak tangga paling bawah. Kemudian berjalan beberapa langkah menghampiri ibunya yang saat itu tengah mengupas buah apel.


Deandra mendudukan tubuhnya di sofa, bersebelahan dengan sang mama. Kemudian mengambil sepotong apel yang sudah dikupas dan memasukannya ke dalam mulut.


"Memangnya kamu mau kemana, sih, De?" tanya sang mama.


"Mau jalan-jalan, Mah" jawab Deandra di sela kunyahannya.


"Jalan-jalan kemana? awas jangan jauh-jauh, loh, ya," ujar sang mama memberi peringatan.


"Iya, Mah."


Tiba-tiba Inara yang saat itu masih berusia 5 tahun menghampiri Deandra.


"Kakak..., ayo temani aku main," ajak Ara. Gadis kecil itu menarik-narik ujung rok yang di kenakan sang kakak.


"Kakak mau pergi, Dek..., Adek main sama Mamah saja, ya," tolak Deandra.


Ara menggeleng. "Tidak mau! Ara maunya sama Kak Dea," ucapnya memelas. Ia semakin erat mencengkram baju Deandra.


"Kakak mau pergi, Dek. Nanti saja, ya, mainnya?" bujuk Deandra.


"Tapi, Ara maunya sekarang, bukan nanti. Ayo, Kak," rengeknya.


"Mah...." Deandra melirik sang mama. Bermaksud meminta bantuan ibunya itu agar membujuk adiknya.


Indri pun menghampiri Ara, putri bungsunya.


"Anak mamah mau main apa, sih, Sayang?" ucap Indri, seraya menggendong Ara. Kemudian memberikan kecupan di pipi putri kecilnya yang gembil itu.


"Ara mau main rumah-rumahan sama Kak Dea, Mah."


"Oh, Ara mau main rumah-rumahan. Ya sudah, ayo mamah temani," ujar mama Indri.


"Tapi, Ara maunya sama Kak Dea."


"Kak Deanya mau pergi, Sayang. Sama mamah saja, ya? Nanti mamah buatkan rumah-rumahan yang besar sekali," bujuk Indri.


"Beneran, Mah?" saut Ara antusias. Matanya terlihat berbinar, sama seperti saat mendapatkan hadiah.


"Tentu, Sayang," ucap mama Indri. Ia pun membawa Ara menuju ke sebuah kamar yang biasa dipakai untuk bermain putrinya itu.


Sementara Deandra terlihat bangkit berdiri, bersiap untuk pergi.


"Dea pergi, Mah," teriaknya saat di ambang pintu.


"Iya, Sayang. Hati-hati di jalan dan jangan pulang malam," pesan mama Indri.

__ADS_1


"Iya." Deandra pun bergegas pergi menemui seseorang yang sudah menunggu di ujung jalan, tak jauh dari rumahnya.


"Sayang...," sapa Dea pada seorang pria yang sedang duduk di motornya.


Pria tersebut adalah Dendy, kekasih Deandra. Dendy menoleh, menatap Dea dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Dendy bangkit dari duduknya. Kemudian menghampiri Dea dan memberikan pelukan hangat pada kekasihnya itu.


Dea pun ikut mendekap Dendy, menghirup aroma wangi dari tubuh pria yang ia cintai itu. Setelah beberapa saat mereka pun melepaskan pelukannya.


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Dendy.


Dea mengangguk, menyetujui ajakan kekasihnya itu. Keduanya kini menaiki sepeda motor milik pria itu. Lalu berlalu pergi, membelah jalanan yang cukup padat dan meninggalkan tempat sebelumnya.


"Kita mau kemana, Sayang?" tanya Dea saat dalam perjalanan.


"Kau akan tau ketika kita sudah sampai," saut Dendy. Pria itu mengusap tangan Dea yang melingkar di perutnya dengan tangan kirinya. Sementara satu tangannya yang lain fokus mengemudi.


Dea kembali mengeratkan pelukan dan menyandarkan kepalanya di punggung kekasihnya itu. "Apa masih jauh," tanyanya lagi.


"Sebentar lagi sampai," saut Dendy. Ia menoleh sebentar, menatap Dea yang terlihat sangat manja. Kemudian kembali menatap ke arah depan. Ia juga mempercepat laju kendaraan yang sedang ditumpanginnya.


Sepuluh menit kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan. Dendy segera menepikan sepeda motornya dan berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil yang di dominasi dengan cat berwarna putih serta coklat muda.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, Dendy berjalan menuju rumah kecil itu. Diikuti oleh Dea yang mengekor di belakangnya.


"Rumah siapa ini?" tanya Dea saat kekasihnya itu sedang membuka pintu dengan sebuah kunci berwarna perak.


Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Dendy mempersilahkan Dea masuk dan memilih mengabaikan pertanyaan kekasihnya itu.


"Minumlah dulu." Dendy menyerahkan segelas jus jeruk yang baru saja diambilnya dari dapur. Kemudian duduk di samping Dea.


"Terima kasih," saut Dea seraya menerima pemberian kekasihnya itu. Ia segera meminum jus tersebut dan menyisakan isinya separuh. Dengan cepat cairan yang berwarna kuning tersebut meluncur ke seluruh rongga mulutnya, membasahi tenggorokannya yang cukup kering.


"Ahhh, sangat menyegarkan," imbuhnya, tersenyum.


"Kau menyukainya?" tanya Dendy.


Dea menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Kalau begitu habiskan minumannya."


Dea pun kembali meneguk jus jeruk itu. Sementara kekasihnya itu terlihat menikmati sekaleng minuman bersoda.


"Siapa pemilik rumah ini?" tanya Dea setelah meletakan gelas kosong di atas meja. Kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


Setelah meletakan minumannya, Dendy membelai rambut Dea dengan lembut. Kemudian memberikan kecupan di puncak kepalanya. "Ini rumah milik temanku," ucapnya.


Dea menoleh ke kanan, menatap wajah kekasihnya yang cukup tampan. Pun dengan Dendy. Laki-laki itu menatap lekat wajah cantik Dea yang kini berjarak hanya beberapa senti darinya. Sangkin dekatnya jarak di antara keduanya membuat mereka berdua bisa merasakan sapuan nafas satu sama lain.


Kedua bola mata mereka saling bertemu, saling memandang satu sama lain. Detak jantungnya pun berpacu lebih cepat, seiring dengan nafas keduanya yang kian memburu. Lambat laun tanpa mereka sadari keduanya terhanyut dalam suasana yang kian memanas. Kecupan yang semula lembut berubah menjadi lebih kuat bahkan kasar. Dekapan yang menenangkan berubah menjadi cengkraman yang menyakitkan. Dea mulai menyadari akan hal tersebut. Ia segera melepaskan diri.


"Kurasa kita sudah melewati batas," ucapnya seraya menyingkirkan kedua tangan sang kekasih yang masih melingkar di pinggangnya. Kemudian memalingkan wajah ke sembarang arah.

__ADS_1


Dendy membuang nafas berat, mencoba mengatur nafasnya yang masih memburu. Kemudian kembali memeluk Dea. Ia meletakan kepalanya di pundak gadis itu.


"Apa kau mencintaiku?" tanyanya lirih.


Tak ada penolakan dari Dea. Gadis itu justru kembali menatap kekasihnya. "Tentu saja, Sayang."


Dendy tertawa sinis. Ia mengubah posisinya. Tangannya kini meraih sebuah kaleng berisi minuman bersoda dan menenggak isinya.


"Mengapa tertawa?" tanya Dea, heran.


Dendy kembali meletakan kaleng tersebut di atas meja.


"Karna kau berbohong," jawabnya.


Dea semakin bingung. Ia tidak mengerti mengapa kekasihnya itu berkata demikian. Gadis itu mengubah posisi duduknya menyamping, menghadap tubuh sang kekasih.


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti," ucapnya.


Dendy pun ikut mengubah posisinya menyamping, sehingga kini keduanya saling berhadapan. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi semua perkataanmu itu bohong," jelasnya.


"Mengapa kau berkata demikian? aku tidak pernah berbohong padamu," bantah Dea.


"Semua yang kukatakan padamu itu benar adanya," imbuhnya meyakinkan.


"Apa kau serius?" tanya Dendy. Dea mengangguk, mengiyakan.


"Jika kau memang benar-benar mencintaiku, coba buktikan padaku," tantang Dendy.


"Apa yang harus kulakukan agar kau bisa percaya padaku?" tanya Dea frustasi.


Pria berusia dua puluh satu tahun itu meraih kedua telapak tangan Dea, menggenggamnya dengan erat. Kemudian sedikit memberikan usapan di punggung telapak tangan kekasihnya itu dengan ibu jarinya. Kedua matanya menatap dalam sepasang mata Dea yang berwarna hitam kecoklatan. "Jika kau ingin aku percaya, hari ini tidurlah denganku," ucap Dendy.


Dea melepaskan genggaman tangan kekasihnya itu dengan kasar. "Maaf, aku tidak bisa!" ucap Dea memalingkan wajah.


Dendy terlihat tak senang dengan jawaban Dea. Ia segera meraih wajah Dea dan mencumbu gadis itu dengan kasar.


Dea mencoba melepaskan diri tapi tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan kedua tangan kekasihnya yang mencengkram tengkuk lehernya. Semakin ia memberontak semakin kuat pula cengkraman di tubuhnya.


Semakin lama pria itu semakin tak terkendali. Rengekan dan rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Dea tak di perdulikannya. Ia justru semakin menggila.


Sementara semakin lama pemberontakan Dea justru semakin melemah. Rasanya seluruh tenaganya sudah habis. Ia hanya bisa menitikan air mata, menerima perlakuan tak pantas dari kekasihnya itu.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2