Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 8. Cerita


__ADS_3

“Hai, Ras.” Ucap Ana saat melihat Raskal sedang duduk sendiri di taman.


“Oh kamu, An. Tidak kerja?” tanya Raskal dan Ana pun menggelengkan kepalanya.


“Kenapa? Kamu sakit?” tanya Raskal.


“Tidak, Ras. Aku sedang ingin istirahat saja.” Ucap Ana yang sebenarnya kepalanya terasa pusing.


Mereka pun terdiam beberapa saat. Saat itu udara terasa sangat sejuk. Tidak panas juga tidak dingin. Semilir angin pun turut berembus membawa suasana hati menjadi tenang.


Setelah beberapa saat mereka terdiam, akhirnya Ana berkata, “Ras, ada yang ingin aku ceritakan.”


“Mau cerita apa, An?” tanya Raskal menengok ke arah Ana.


“Ras, kamu masih ingat tidak nomor yang kemarin aku salah sambung itu?” tanya Ana.


“Masih. Ada apa memangnya?” tanya Raskal.


“Waktu kamu pergi ke luar kota kemarin, aku sering chat dia dan kami sekarang sudah menjadi lebih dekat.” Ucap Ana.


“Oh. Bagus donk.” Sahut Raskal.


“Hehehe.. iya lumayan, Ras.” Ucap Ana.


Namun di sisi lain, dalam hati Raskal, “An, sebenarnya aku sangat menyayangimu. Namun jika dekat dengannya mampu membuatmu bahagia, aku ikhlas.”


Menyadari Raskal sedang termangu, Ana pun menegurnya, “Hai, Ras. Kamu kenapa? Seperti sedang ada masalah yang sedang kamu pikirkan.”


Mendengar ucapan Ana, Raskal pun menyadari satu hal yaitu mereka memang mungkin ada baiknya hanya menjadi seorang sahabat dan tidak lebih.


Melihat Raskal yang tidak merespon, akhirnya Ana mencoba menyenggol bahunya sambil berkata, “Ras... kamu kenapa?”


“Eh iya.. iya... ada apa, An?” tanya Raskal yang memang dari tadi kurang fokus dengan apa yang di ucapkan Ana.


“Ish.. kamu ini, Ras. Kamu itu kenapa? Apa kamu sedang ada masalah?” tanya Ana mencoba mengulangi pertanyaannya.


“Oh. Tidak kok. Aku tidak sedang ada masalah apa-apa.” Ucap Raskal.


“Beneran kamu tidak ada masalah apa-apa?” tanya Ana seolah-olah dia sedang memastikannya lagi dan Raskal pun mengangguk.


“Kalau memang benar tidak ada, lalu kenapa kamu tadi melamun saja?” tanya Ana lagi.


“Oh itu. Begini, An. Kamu tahu kan perempuan yang katanya suka padaku?” tanya Ana.


“Iya. Teman kerja kamu itu, kan?” tanya Ana memastikan dan Raskal pun mengangguk.


“Ada apa memang dengan dia?” tanya Ana.

__ADS_1


“Dia cemburu sama kamu, An.” Sahut Raskal.


“Lha kok bisa cemburu sama aku, sih?” tanya Ana bingung dan Raskal pun hanya mengangkat ke dua bahunya.


“Terus gimana, donk? Kamu sebenarnya suka tidak dengan dia?” tanya Ana dan Raskal pun menggeleng.


“Kenapa?” tanya Ana namun Raskal hanya terdiam tidak menjawab. Dalam hatinya bilang kalau dia hanya bisa mencintai Ana dan bukanlah orang lain.


“Ish... lagi-lagi tidak di jawab. Ya sudahlah. Kalau begitu aku balik duluan. Kamu juga cepat pulang, Ras. Jangan melamun di sini sendirian. Nanti kesenggol yang alus lho.” Ucap Ana yang niat menjaili Raskal namun ternyata Raskal hanya mengangguk saja sementara itu kepalanya Ana pun terasa sangat sakit.


Mendapatkan respon seperti itu, Ana pun bergumam sambil melihat ke arah Raskal sebelum pergi, “Ish... aneh sekali sih ni orang satu.”


***


Di kediaman keluarga Arief


Malam itu adalah malam kenyataan yang terbilang sangat pahit yang dirasakan oleh Arief. Pasalnya... saat itu...


“Rief, bisa kita bicara dulu di ruang keluarga.” Ucap ibu dari depan kamar Arief.


“Memang ada apa, bu?” tanya Arief.


“Ada hal yang hendak kami bahas denganmu.” Ucap Ibu.


“Baiklah, bu. Arief akan ke sana.” Ucap Arief.


“Iya, bu.” Sahut Arief.


Beberapa saat kemudian, Arief pun sudah ada di ruang keluarga. Namun entah mengapa, Arief merasakan perasaan kalau akan terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan hati.


“Sini, Rief. Duduklah.” Ucap ibu yang ternyata di sana juga ada ayah.


“Ada apa sih, bu? Kok kelihatannya serius sekali.” Ucap Arief.


“Begini, Rief. Kamu tahu Kinan, kan?” tanya ibu.


“Iya, bu. Aku tahu. Ada apa dengan Kinan, bu?” tanya Arief yang sebenarnya jadi merasa curiga dengan arah pembicaraan ini.


“Begini, Rief. Kami dan orang tua Kinan sebenarnya sudah berencana akan menunangkan kalian berdua.” Jelas ibu.


“Apa, bu? Kenapa untuk hal ini, ibu tidak bertanya dulu tentang pendapatku? Kenapa langsung akan menunangkan kami?” protes Arief.


“Soalnya waktu itu kami melihat kalau kalian itu terlihat akrab. Jadinya kami menyimpulkan kalau kalian berdua itu cocok.” Ucap Ibu.


Mendengar ucapan ibunya, Arief pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia heran, kenapa ibunya punya kesimpulan seperti itu tanpa bertanya dulu kepada dirinya.


Mendengar ucapan istrinya dan juga melihat ekspesi Arief, akhirnya ayahnya pun menengahi, “Ya sudah, Rief. Kamu tidak usah menjawabnya sekarang. Kamu pikirkan saja dulu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan suaminya, ibunya Arief pun protes namun langsung di tahan oleh ayahnya Arief supaya tidak di lanjutkan lagi pembahasannya.


Sementara Arief hanya terdiam sesaat dan kemudian berkata, “Baiklah, Yah. Beri aku waktu untuk memikirkannya.”


“Baik. Hanya 3 hari saja kamu ibu beri waktu untuk memikirkannya.” Ucap ibu dan Arief pun mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


Sementara itu, ayah berkata pada ibunya Raskal bahwa dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.


***


Di dalam kamar, Raskal merasa kalau kebahagiaannya sesaat lagi akan menghilang lalu berganti dengan belenggu.


“An, kenapa takdir mempermainkan kita?” gumamnya sedih.


Lalu di saat yang bersamaan, tiba-tiba ponsel Arief berbunyi.


“Ana? Tumben telepon?” ucapnya namun akhirnya telepon pun di angkatnya.


“Hallo, Assalamu’alaikum, An.” Ucap Arief setelah telepon diangkat.


“Wa’alaikusalam, kak.” Sahut Ana.


“Ada apa, An? Tumben telepon. Biasanya kan hanya chat saja.” Tanya Arief bingung.


“Hehehe... iya, nih. Aku juga bingung kenapa tahu-tahu aku tuh ingin sekali mendengar suara kakak.” Ucap Ana membuat Arief menjadi seperti merasa bersalah.


“Hmm, An. Kamu tahu tidak kalau apa pun yang terjadi esok hari itu tidak ada yang tahu.” Ucap Arief.


“Iya, kak. Aku tahu benar tentang masalah itu. Memang ada apa, kak?” tanya Ana.


“Tidak ada apa-apa, An. Aku cuma sedang berpikir, apakah suatu saat nanti kita bisa benar-benar bertemu atau tidak.” Ucap Arief.


“Mengalir saja, kak. Kalau kita memiliki jodoh untuk bertemu, ya.. kita pasti akan bertemu. Karena semua itu ada jalannya masing-masing.” Ucap Ana.


“Iya, An. Kita lebih baik berdoa dan juga lakukan yang terbaik saja yang bisa kita lakukan.” Ucap Arief.


“Iya, kak. Aku mengerti.” Sahut Ana.


Saat itu pun Arief terdiam sejenak membayangkan tentang bagaimana hancurnya hati seorang Ana, jika mengetahui bahwa dirinya benar-benar harus bertunangan dengan perempuan lain.


Sesaat kemudian, Ana pun berkata, “Kenapa sih kalian berdua aneh.”


“Lha... kami berdua? Aku dan siapa? Lalu kenapa kamu menyebut kami ini aneh?” tanya Arief bingung.


“Hmm... itu...”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2