
“Hmm... itu...” ucap Ana yang ragu-ragu untuk di lanjutkan.
“Main rahasia-rahasiaan nih sekarang.” Ucap Arief yang memang sudah terbiasa dengan Ana yang jujur dan apa adanya.
“Bukan begitu. Tapi aku takut kakak salah paham nantinya.” Ucap Ana.
“Justru kalau kamu seperti ini, pikiranku jadinya aneh-aneh.” Ucap Arief.
“Oh gitu. Tapi maaf ya kak, sebelumnya. Sebenarnya tadi yang aku maksud kalian itu kakak dan sahabatku.” Jelas Ana.
“Sahabat? Perempuan apa laki-laki?” tanya Arief.
“Iya, dia sahabat. Dia laki-laki. Tapi beneran deh, dia itu hanya sahabat dan tidak lebih.” Ucap Ana mencoba meyakinkan Arief.
“Iya... iya... aku percaya, kok. Tapi tadi bilang kalau kami aneh. Aneh apanya?” tanya Arief.
“Ya aneh. Kalau kakak itu tadi tahu-tahu tanya tentang apa pun yang terjadi nanti dan juga jikalau kita ada kemungkinan tidak untuk berjodoh bertemu. Lha kalau sahabatku itu, jelas-jelas ada yang suka sekali dengannya tapi dia sama sekali tidak suka dan cuek. Aneh kan?!” ucap Ana.
“Oh. Aku kira aneh kenapa. Mungkin dia sudah menyukai orang lain. Jadinya dia cuek dengan orang yang menyukai dia.” Ucap Arief.
“Mungkin juga, ya. Kenapa aku tidak ke pikiran tentang hal itu, ya?!” ucapku pada diriku.
“Entahlah. O iya, An. Aku mungkin beberapa hari ini tidak akan menghubungi kamu. Aku sedang ada urusan keluarga.” Ucap Arief yang mencoba ingin menenangkan diri untuk berpikir lagi.
“O ya sudah kalau begitu, Kak. Tidak apa-apa. Semoga semuanya lancar ya, kak.” Ucap Ana.
“Amiiin. Ya sudah kalau begitu. Ini kan sudah malam, kapan-kapan kita lanjutkan lagi, gimana? Besok kan kamu harus kerja.” Ucap Arief.
“Oh begitu. Ya sudah kalau begitu. Aku tidur duluan. Assalamu’alaikum.” Ucap Ana.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Arief yang kemudian telepon pun diakhiri.
Sesaat setelah mendapatkan telepon dari Ana, Arief pun termenung. Dia akan sangat bersalah sekali jika dia harus bertunangan dengan perempuan lain.
***
Ke esokkan harinya, Arief bekerja seperti biasa. Namun yang membedakan dia kali ini adalah raut wajahnya yang terlihat kusam.
Hal ini ternyata di perhatikan oleh ayahnya.
__ADS_1
“Lihat tuh, bu. Arief sepertinya tidak bahagia.” Ucap ayahnya Arief namun tak di hiraukan oleh ibunya Arief.
Sementara itu saat di kantor, Arief sedang meletakkan kepalanya di atas meja. Dia benar-benar sangat tidak bersemangat lagi untuk menjalani hari.
Di saat yang bersamaan, Faisal datang dan seperti biasa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Faisal duduk di hadapan Arief sambil memperhatikan tingkah laku Arief dan bertanya “Ada apa lagi, Rief?”
“Ha?! Eh kamu, Sal. Tidak ada apa-apa.” Sahut Arief yang kemudian kembali meletakkan kepalanya di atas meja.
Melihat tingkah Arief, Faisal pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu tak selang berapa lama kemudian...
“Sal, aku boleh minta saran kamu, tidak?” tanya Arief.
“Ya... tentu saja boleh lha, Rief. Mau minta saran apa?” tanya Faisal.
Lalu Arief pun menceritakan semuanya pada Faisal dan Faisal pun mendengarkannya dengan seksama.
Setelah semuanya sudah di ceritakan, Arief pun bertanya pada Faisal tentang bagaimana pendapatnya dan juga sarannya.
Tampak Faisal seperti sedang berpikir dan beberapa saat kemudian dia pun berkata, “Rief, aku mau tanya, apa orang tuamu tidak pernah kamu ceritakan perihal Ana?”
“Nah ini letak salahnya. Seharusnya kamu itu cerita dari awal tentang Ana pada orang tuamu.” Ucap Faisal sambil melihat-lihat buku yang ada di atas meja.
“Oh gitu, ya?! Jadi aku yang salah, ya?!” ucap Arief dan Faisal pun mengangguk.
“Lalu sekarang aku harus bagaimana, Sal?” tanya Arief.
“Ya... gimana ya, Rief. Soalnya dalam hal ini tuh orang tuamu tidak bisa di salahkan sepenuhnya. Sekarang coba deh begini.. coba kamu bilang pada ke dua orang tuamu kalau sebenarnya sudah ada perempuan lain yang kamu sayangi.” Ucap Faisal.
“Oh, begitu ya. Ya sudah aku coba.” Ucap Arief.
“Tapi ingat, Rief. Serahkan kembali semuanya pada yang di Atas. Apa pun yang terjadi nanti, itu adalah ketentuan dari-Nya.” Ucap Faisal dan Arief pun mengangguk.
“Thanks ya, Sal.” Ucap Arief.
“Yo’i.. sama-sama, Rief. Kamu yang sabar, ya.” Ucap Faisal dan Arief pun mengangguk.
***
__ADS_1
Saat malam harinya, Arif pun mencoba untuk bercerita pada ke dua orang tuanya. Khususnya pada ibunya.
“Ayah, Ibu...” ucap Faisal yang saat itu ke dua orang tuanya sedang asik menonton televisi.
“Eh kamu, Rief. Ada apa?” tanya Ayah.
“Ayah, ibu. Ada hal yang sebenarnya ingin aku sampaikan pada kalian.” Ucap Arief.
“Ada apa? Katakan saja, Rief. Jangan ragu.” Ucap Ayah.
“Hmm begini, Yah, bu. Aku sebenarnya... sebenarnya sebelum kalian memutuskan untuk menunangkan aku kemarin, terlebih dahulu ada perempuan yang sudah sangat aku sayangi.” Jelas Arief.
“Benarkah?” tanya Ayah.
“Halah.. paling itu alasan kamu saja kan untuk menolak pertunangan ini.” Ucap ibu.
“Tidak, bu. Aku jujur. Memang itu apa adanya. Aku sudah mencintai orang lain, bu. Maaf.” Ucap Arief.
“Tidak bisa. Kamu lebih baik putuskan hubunganmu dengan perempuan itu.” Ucap ibu kekeh.
“Tapi, bu.” Ucap Arief.
“Tidak ada tapi-tapian. Ibu tidak mau tahu, pokoknya kamu harus tetap bertunangan dengan Kinan dan segera putuskan hubungan kamu dengan perempuan itu.” Ucap ibu yang kekeh dan langsung pergi.
Mendengar jawaban ibu, membuat Arief syok. Karena bagi dia, walau dia meminta waktu berapa lama pun untuk berpikir, tetap saja hasilnya sama. Dia harus tetap menyerah dengan hubungannya bersama Ana dan menerima pertunangan ini.
Ayah yang melihat keadaan Arief pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dia paham sekali dengan karakter istrinya yang keras kepala.
“Rief, lebih baik coba kamu bicarakan baik-baik dengan perempuan yang kamu sukai itu. Siapa tahu saja, segala kegundahan hatimu bisa terjawab.” Ucap Ayah.
“Oh begitu ya, Yah?! Tapi apa itu tidak melukai hatinya?” tanya Arief.
“Rief, Ayah tidak bisa bilang itu akan melukainya atau tidak. Tapi menurut ayah, sebuah hubungan yang baik adalah hubungan yang di landaskan kejujuran. Dari pada dia harus mengetahuinya dari orang lain. Itu akan sangat menyakitkan, Rief jika di bandingkan kalau kamu itu jujur.” Jelas Ayah.
“Oh begitu ya, yah?! Ya sudah, aku akan pelan-pelan bilang padanya.” Ucap Arief yang sebenarnya berat dan tidak ingin melakukannya.
Setelah berkata jujur pada orang tuanya, hati Arief pun menjadi lebih gundah. Pasalnya dia mau tidak mau harus menerima pertunangan ini dan mengatakannya pada Ana.
“Haiz... An, aku harus bagaimana sayang? Di satu sisi, aku tidak bisa melepaskanmu. Di sisi yang lain, aku di haruskan menerima pertunangan ini. Aku bingung, sayang. Aku sangat lha bingung. Aku harus bagaimana?” gumam Arief pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung..