
Anastasia Larasati
‘Prang... Prang... Prang’
Begitulah bunyi berbagai macam pecah belah selalu di banting ke sana kemari. Hampir setiap hari terjadi percekcokan di rumah ini.
“Ayah, sudah. Cukup, ayah. Jangan sakiti ibu lagi.” ucap Ana yang memohon pada ayahnya sambil memegang kaki ayahnya dan menangis.
“Hai, kamu!! Kamu mengerti apa?! Ini urusan kami, orang tua. Sudah sana, kamu lebih baik pergi dan jangan ikut campur lagi.” ucap Ayah dengan nada membentak pada Ana.
Ana yang sudah tidak kuat dengan semua ini pun akhirnya berlari ke arah taman dekat rumahnya sambil menangis. Di saat yang bersamaan, ternyata ada sesosok Raskal yang sedang berada di sana.
“Raskal..!” teriak Ana yang langsung berhambur memeluknya dan menangis.
“Ada apa, An?” tanya Raskal, sahabat Ana.
Ana pun tidak mampu menjawab apa-apa. Yang Ana bisa hanyalah menangis. Melihat Ana seperti ini, Raskal pun berkata, “Sudah, An. Sudah.”
Setelah puas Ana meluapkan kepedihannya di pelukan Raskal, akhirnya Ana pun berkata, “Mereka bertengkar lagi, Ras.”
“Mereka?! Maksud kamu itu orang tuamu?” tanya Raskal memastikan namun dengan nada berhati-hati lalu Ana pun mengangguk.
“Ya ampun, An. Kamu sabar, ya.” ucap Raskal yang bingung bagaimana cara menghadapi Ana.
“Iya, Ras. Maunya sih aku bisa terus sabar. Tapi lama-lama aku merasa tidak kuat dan tidak sanggup lagi menghadapi situasi di rumahku, apalagi melihat cara ayahku memperlakukan ibuku.” Ucap Ana dengan nada menahan tangis.
Raskal pun hanya mampu terdiam dan tak dapat mengatakan apa-apa. Raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi terlihat sedih.
“Ras, kamu kenapa jadi ikutan sedih seperti itu?” tanya Ana bingung.
“Na, sebenarnya dulu, sebelum aku mengenalmu, aku pun juga pernah menghadapi situasi yang sama sepertimu saat ini.” Jelasnya.
“Terus?” tanya Ana.
“Terus... Ya tidak ada terus. Kamu kan tahu sendiri kelanjutannya.” ucap Raskal yang seperti biasa tertutup dan enggan membicarakan masalah pribadinya.
“Jadi mereka berpisah?” tanya Ana yang memastikan.
“Hmm... Begitulah, Na.” sahutnya singkat.
“Owh.. Maafkan aku, Ras. Aku tidak tahu kalau kamu pun ternyata juga sama sepertiku.” ucap Ana dengan nada penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa, Na. Itu sudah masa lalu kok. Aku juga sudah melupakan kejadian itu.” ucap Raskal sambil tersenyum.
__ADS_1
“Sekali lagi, maaf.” ucap Ana yang benar-benar merasa bersalah.
“Haizz... Aku bilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa.” ucap Raskal mencoba meyakinkan Ana.
“Oh. Syukurlah kalau begitu. Tapi intinya aku minta maaf ya, Ras.” ucap Ana kekeh.
“Ish. Ya sudah. Iya... Iya..” sahutnya yang selalu saja mengalah terhadap Ana.
Skip...
Beberapa bulan kemudian...
‘tok... tok... tok...’ pintu kamar Ana pun diketuk oleh seseorang dari luar.
Ana yang saat itu sedang libur bekerja pun akhirnya membukakan pintu kamar.
“Na.” Ucap ibu lirih.
“Ibu?! Ada apa, bu?” tanya Ana bingung.
“Na, maafkan ibu.” ucap ibu lirih yang masih berada di luar kamar Ana.
“Maaf?! Maaf untuk apa, bu? Ayo bu, masuk dulu. Kita bicara di dalam saja.” ucap Ana sambil merangkul pundak ibu masuk.
“Sudah, bu. Sekarang ibu cerita. Sebenarnya ada apa? Kenapa ibu minta maaf Padaku?” tanya Ana bingung.
Ibu pun terdiam. Namun tak lama setelah itu, ibu berkata, “Na, maafkan ibu. Ibu harus mengambil jalan untuk berpisah dari ayahmu.”
Mendengar ucapan ibu, Ana pun langsung syok dibuatnya. Bagaikan tersambar petir di siang hari.
“Ibu tahu. Ini pasti sulit bagimu untuk menerima keputusan ibu. Tapi ibu benar-benar sudah tidak kuat dengan perlakuan ayahmu ke ibu.” ucap ibu yang terlihat sedang menahan sedih dan juga pedih.
Ana yang melihat ibu pun akhirnya tidak tega dan mencoba mengerti serta memahami keadaan ibunya.
“Ya sudah, bu. Ibu jangan merasa bersalah seperti itu. Aku paham kenapa ibu memutuskan hal itu. Aku akan selalu ada di sisi ibu dan mendukung ibu. Ibu tidak usah sedih dan juga merasa bersalah seperti ini lagi, ya.” Ucap Ana mencoba meyakinkan ibu.
Ibu yang terlihat murung pun tiba-tiba memeluk Ana dan mengucapkan, “Terimakasih, Na. Terimakasih karena kamu mau mengerti keadaan ibu.”
“Iya, ibu. Sudah seharusnya kan, aku seperti ini. Aku kan anaknya ibu. Aku sayang ibu.” ucap Ana sambil tersenyum dan mengelus-ngelus punggung ibu sambil masih berpelukan.
***
Satu bulan kemudian, akhirnya ayah dan ibunya Ana pun resmi berpisah. Sementara Ana sendiri saat ini pun lebih memilih ikut dengan ibunya. Karena dia tahu, tak lama lagi ayahnya akan segera menikah lagi dengan perempuan lain.
__ADS_1
“Na, kamu mau berangkat kerja?” tanya Raskal yang saat itu kebetulan berpapasan dengan Ana di jalan.
“Iya, Ras.” Sahut Ana.
“Ayo aku antar.” ucap Raskal menawari Ana tumpangan.
Saat Ana hendak mau naik ke atas sepeda motornya Raskal, tiba-tiba terdengar ada seseorang yang berteriak.
“Kak Raskal, tunggu!! Jangan bawa kak Na.” Teriak orang itu yang ternyata Aira, sahabat imut mereka berdua.
“Haizz... Ada apa lagi sih tuh anak?” gerutu Raskal.
Tak lama kemudian, Aira pun sampai di dekat mereka dan berkata, “Kak Raskal. Jangan bawa kak Na.”
“He? Apa maksudnya tidak boleh bawa kakak Na mu ini? Memangnya kamu mau apa?” celetuk Raskal.
“Ya... Aira mau bareng juga lha sama kak Na.” Sahut Aira.
“Tidak boleh. Kakak Na mu ini cuma bisa bareng sama kakak. Kamu sana. Berangkat sendiri saja.” ucap Raskal.
Entah mereka ini sedang becanda atau serius, tapi Ana bisa melihat kalau ada kesedihan dan kekecewaan di wajah Aira.
“Hai, Raskal. Sudah sudah... Mengalahlah pada Aira. Kamu kan nanti bisa jemput aku. Sekarang biar aku berangkat bersama Aira dulu. Bagaimana?” tanya Ana sambil tersenyum.
“Hmm... Ya sudah, deh. Kalau begitu nanti pulang kerja tunggu aku, ya. Jangan pulang duluan.” pesan Raskal dan Ana pun mengangguk.
“Dan kamu, Aira. Dah tuh bawa kakak Na mu ini. Awas. Jangan sampai lecet.” Pesan Raskal.
“Tenang, kak. Aira bakal jaga kakak Na. Tapi Aira tidak bisa jamin kalau kakak Na tidak akan kecantol sama orang lain di jalan.” celetuk Aira namun Raskal pun hanya tersenyum.
Melihat adegan itu, Ana jadi merasa ada yang aneh.
“Sudah... Sudah... Ayo berangkat Aira. Kakak sudah telat nih.” ucap Ana sambil melihat jam tangannya.
“Ayo, kak.” ucap Aira yang kemudian menarik tangan Ana berjalan menjauhi Raskal.
“Na, ingat!! Nanti tunggu aku. Jangan pulang dulu!!” teriak Raskal.
“Siap, bos!!” sahut Ana yang juga sambil berteriak.
Bersambung...
💖 Persahabatan yang indah... (Author🤗)
__ADS_1