
Setelah Ayahnya Arief menepuk punggung Arief dan mengatakan agar Arief bersabar, ayahnya pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati Raskal.
“Maaf, nak Raskal. Bapak boleh bertanya sesuatu?” ucap ayahnya Arief.
“Silahkan, pak. Bapak mau bertanya apa?” ucap Raskal.
“Begini, kalau boleh bapak tahu, di mana alamat orang tuanya Ana?” tanya Ayahnya Arief
“Oh. Tentu saja boleh. Bapak mau ke sana?” tanya Raskal dan ayahnya Arief pun mengangguk.
“Baiklah kalau begitu, pak. Mari pak, akan saya antarkan bapak sekeluarga untuk menemui orang tua Ana.” Ucap Raskal dan ayahnya Arief pun mengangguk.
Tak lama kemudian, mereka berempat pun berangkat menuju rumah ibunya Ana.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah ibunya Ana.
“Assalamu’alaikum, bu.” Ucap Raskal.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut ibunya Ana yang sambil melangkah ke luar.
“Bu. Ini ada keluarga dari Arief ingin menemui ibu.” Ucap Raskal.
“Keluarganya Arief? Arief yang mana, ya?” tanya ibu bingung setelah berada di luar dan merasa tidak mengenal ke tiganya.
“Oh. Begini, bu. Saya Arief. Temannya Ana dan ini orang tua saya.” Jelas Arief
“Oh, begitu. Silahkan masuk pak, bu. Maaf berantakan. Soalnya sedang mempersiapkan tujuh harinya Ana.” Ucap ibunya Ana.
“Iya. Tidak apa-apa, bu.” Sahut ibunya Arief.
“Maaf, bu. Memang kapan acara tujuh harinya Ana di laksanakan?” tanya Arief.
“Hari ini tepatnya ba’da Isa.” Sahut ibunya Ana.
“Oh begitu. Kira-kira apa yang bisa kami bantu, bu?” tanya ayahnya Arief.
“Tidak usah repot-repot, pak. Doanya saja sudah cukup untuk anak perempuan saya.” Ucap ibunya Ana.
“Kalau soal doa itu sih sudah pasti. Kami akan mendoakan anak ibu. Tapi yang kami maksud adalah adakah hal lain yang bisa kami bantu untuk keperluan persiapan tujuh harinya Almarhumah?” tanya ibunya Arief.
“InsyaAllah tidak ada, bu. Terima kasih.” Sahut ibunya Ana.
“Oh ya sudah kalau begitu. Ini terima ya, bu. Hanya sedikit yang bisa kami berikan. Mudah-mudah dapat bermanfaat untuk ibu.” Ucap Ayahnya Arief.
“Terima kasih banyak ya pak, bu. Jadi banyak merepotkan keluarga bapak dan ibu.” Ucap ibunya Ana.
“Tidak usah merasa sungkan seperti itu, bu. Anggap saja kami ini keluarga ibu dan anggap saja Arief ini juga seperti anak ibu.” Ucap ibunya Arief yang sebenarnya merasa bersalah dengan apa yang telah dia putuskan.
“Iya, bu. Terima kasih banyak.” Sahut ibunya Ana sambil tersenyum.
“Rief, mulai sekarang anggaplah ibunya Ana ini sebagai ibumu juga, ya.” Ucap ibunya Arief.
__ADS_1
Arief yang mendengar ucapan ibunya itu pun akhirnya melihat ke arah ayah dan oleh ayah, Arief di beri isyarat sebuah anggukan yang artinya agar Arief mengikuti kemauan ibunya itu.
“Baiklah, bu.” Sahut Arief pada akhirnya.
“Bu, bolehkah saya menganggap ibu sebagai ibu saya?” tanya Arief meminta ijin pada ibunya Ana.
“Iya, bu. Berarti sekarang ibu jadinya punya anak laki-laki dua orang. Kan hebat itu, bu.” Ucap Raskal yang tidak mau kalah.
Belum juga di jawab oleh ibunya Ana, Arief pun langsung menoleh ke arah Raskal dan bertanya, “Dua? Siapa saja?”
“Ya jelas aku lha. Masa’ orang lain. Gimana sih kamu ini?” celetuk Raskal.
Sontak membuat para orang tua yang ada di sana pun tertawa.
“Sudah.. sudah... semua teman Ana itu sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri. Gimana? Adil kan?” ucap ibunya Ana.
“Oh. Bagus kalau begitu. Bararti nak Raskal juga bisa memanggil kami dengan panggilan Ibu dan Ayah juga donk. Kebetulan kami ingin sekali punya anak lagi. Hanya saja sudah tidak mungkin ” Celetuk ibunya Arief.
“Waduh. Ya sudah deh. Banyak yang di anggap seperti orang tua sendiri berarti banyak juga kasih sayangnya. Hehehe..” sahut Raskal yang berusaha agak sedikit konyol.
Mereka yang ada di sana pun akhirnya tertawa mendengar jawaban Raskal.
Tak selang berapa lama, orang tua Raskal pun pamit pulang. Namun Arief masih ingin di sana dan menginap di rumah Raskal.
***
Saat malam harinya, seusai acara tujuh hari meninggalnya Ana, Arief pun ke rumah Raskal untuk menginap di sana.
Ketika mereka akan tidur, tiba-tiba saja Raskal berkata, “Rief. Maaf sebelumnya. Aku mau tanya satu hal sama kamu. Apakah boleh?”
“Hmm... Rief, sebenarnya bagaimana perasaanmu ke Ana? Kenapa kamu sampai tega bertunangan dengan perempuan lain?” tanya Raskal yang to the poin.
Tak selang berapa lama, Arief pun menjelaskan ke Raskal bahwa dirinya sebenarnya tidak mau seperti itu. Tapi apa daya. Dia sudah berusaha untuk menggagalkannya, namun tidak berhasil.
Sedangkan untuk perasaan Arief sendiri, dia menjelaskan bahwa dia masih sangat mencintai Ana sampai detik ini.
Mendengar penjelasan Arief, Raskal pun bergumam dalam hatinya, “Ternyata kalian berdua memang sama-sama saling mencintai. Namun pada akhirnya takdir lha yang menentukan arahnya.”
Di saat yang bersamaan, Arief pun bertanya, “Memang ada apa, Ras?”
“Oh. Tidak ada apa-apa.” Sahut Raskal yang tidak ingin membahasnya lebih jauh.
“Oh.” Sahut Arief.
“O ya, Ras. Sepertinya kamu juga mencintai Ana, ya?” tanya Arief.
“Iya. Aku mencintainya sudah sepuluh tahun ini. Tapi sampai detik-detik terakhir, aku tidak berani mengatakan padanya.” Ucap Raskal.
“Kenapa?” tanya Arief.
“Karena aku sudah kalah sebelum memulai. Hatinya ternyata sudah dia berikan padamu.” Sahut Raskal.
__ADS_1
Mendengar jawaban Raskal, membuat jantung Arief ‘deg’ dan hatinya pun terasa pedih seperti sedang di sayat-sayat pisau.
“Rief, apa rencanamu setelah ini?” tanya Raskal kemudian.
“Mungkin aku akan mengikuti pesan terakhir Ana. Lalu kamu sendiri bagaimana?” tanya Arief.
“Aku mungkin juga sama sepertimu. Mungkin aku akan mencoba membuka hatiku untuk perempuan lain.” Ucap Raskal
Arief pun mengangguk sambil berkata, “Memang harusnya kita seperti itu. Harus bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskan semua, walau pun hati tak sepenuhnya lupa.”
“Iya, Rief.” Sahut Raskal singkat.
***
Dua bulan kemudian, tepatnya satu minggu sebelum hari pernikahan dengan Kinan di langsungkan, Arief akhirnya menceritakan semuanya pada Kinan.
Walau terkesan jahat, tapi Arief tidak mau menutup-nutupi kenyataan dan berpura-pura mencintai Kinan padahal tidak pada Kinan.
Kinan pun syok mendengarnya. Dia bingung. Tapi pada akhirnya dia berkata, “Aku akan menunggumu sampai suatu saat nanti hatimu dapat merasakan ketulusanku dan menerimaku sebagai istri yang patut kamu sayangi.”
Mendengar jawaban Kinan seperti itu, Arief pun hanya dapat berkata, “Maafkan aku, Kinan.”
“Iya. Tidak apa-apa.” Sahut Kinan.
***
Satu minggu kemudian, tibalah acara hari pernikahan Arief dan Kinan. Di acara tersebut, orang tua Arief tidak lupa mengundang ibunya Ana dan juga Raskal untuk datang.
Acara pun berlangsung hikmat. Walau Arief terlihat di paksakan untuk bahagia, tapi dia selalu mengingat pesan terakhir Ana untuk dirinya.
***
Tak selang berapa minggu, tepatnya hari ke seratus Ana meninggal, Arief mengajak istrinya untuk mengunjungi makam Almarhumah Ana.
Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Raskal dan juga seorang perempuan.
“Hai, Ras. Assalamu’alaikum.” Ucap Arief begitu posisinya mendekat dengan Raskal.
“Eh kamu, Rief. Wa’alaikumsalam.” Sahut Raskal.
“Ras, siapa?” tanya Arief kepo sambil melirik.
“Oh ini. Dia pacarku yang oneng, Rief. Boleh nemu di jalan. Namanya Aira” Sahut Raskal yang sangat suka sekali mengganggu Aira.
“Kak Raskal..!! Awas, ya.” Ucap Aira sambil setengah marah juga setengah malu karena diakui pacar oleh Raskal.
“Oh. Alhamdulillah. Syukurlah, Ras. Kita berdua berusaha yang terbaik, ya. Sesuai harapan Almarhumah.” Ucap Arief dan Raskal pun mengangguk.
“Dengan begini, InsyaAllah, Almarhumah dapat bahagia di sana dan dapat beristirahat dengan tenang tanpa mengkhawatirkan apa-apa lagi.” Ucap Arief.
“Iya, Rief.” Sahut Raskal sambil ke duanya melihat ke arah makam Ana.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu, kita mulai berdoa untuk Almarhumah.” Ucap Arief dan mereka berempat pun akhirnya duduk jongkok di samping makam Ana dan berdoa.
**End**