
Keesokan harinya, tepatnya hari Jum’at pukul 10 pagi. Tiba-tiba kondisi Ana drop.
Ibunya Ana pun panik dan akhirnya menghubungi Raskal untuk datang.
Beberapa saat kemudian, Raskal pun sampai di rumah Ana dan segera menemui ibunya Ana dan melihat keadaan Ana.
“Bu, Ana kenapa?” tanya Raskal.
“Ana tidak mau makan dan tidak mau minum obat. Ucapan yang keluar dari mulutnya pun hanya meracau.” Jelas ibunya Ana.
“Meracau bagaimana, bu?” tanya Raskal bingung.
“Dia bilang kalau sebentar lagi dia akan di jemput. Ibu di suruh siap-siap dan jangan menangis kalau dia pergi. Dia juga bilang kalau yang menjemputnya itu adalah orang yang sayang padanya.” Jelas Ibunya Raskal yang sambil meneteskan air mata.
Mendengar penjelasan ibunya Ana, Raskal pun langsung mendekati Ana dan duduk di sebelahnya.
“An.” Sapa Raskal.
Ana pun menoleh ke arah Raskal dan tersenyum lalu bilang, “Ras, sebentar lagi aku bahagia. Aku sembuh dan tidak merasa kesakitan lagi.”
Raskal yang mendengar ucapan Ana pun tiba-tiba merasa khawatir dan berkata, “An, istigfar. Maksud kamu apa?”
Ana pun hanya tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa.”
Ucapan Ana membuat ibunya dan juga Raskal menjadi takut sekaligus khawatir.
Mereka berdua saling pandang antara satu dengan lainnya dan mencoba membujuk Ana untuk mau makan dan meminum obatnya.
Namun ternyata, usaha mereka pun gagal. Ana masih tetap tidak mau makan.
__ADS_1
“An, tolonglah. Makan, ya. Kasihan ibumu.” Bujuk Raskal.
Namun Ana tidak menanggapi ucapan Raskal. Justru dia malah berkata, “Ras, tolong bilang ke ibu kalau orang yang mau menjemputku sudah datang. Aku pamit, ya.”
Raskal pun panik mendengar ucapan Ana. Dia pun berkata, “An, kamu ini bicara apa, sih? Tolong sadarlah. Istighfar..”
“Ras, aku sadar kok. Tapi memang aku sudah di jemput. Aku pamit ya, Ras. Assalamu’alaikum.”
Setelah bicara itu, nafas Ana seperti sedang tersengal-sengal. Dia berusaha keras untuk melafazkan kalimat ‘La Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah.’
Setelah berhasil mengucapkan kalimat tersebut, Ana pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan keadaan tersenyum.
Dengan segera Raskal memastikannya lagi. Apakah Ana masih memiliki kehidupan atau tidak. Setelah beberapa saat, Raskal pun berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Wa’alaikumsalam, An.”
Ternyata Ana sudah pergi untuk selama-lamanya pada hari jum’at pukul 13:10 siang.
Mendengar Raskal mengucapkan kalimat tersebut, ibunya Ana pun langsung berhambur datang memeluk anak gadisnya yang semata wayang tersebut dengan isak tangis yang tak tertahan.
Namun, oleh Raskal, Raskal mengingatkan ibunya Ana untuk tabah, ikhlas dan jangan terlalu meratapinya. Karena itu tidak baik untuk Almarhumah Ana.
Ibunya Ana pun akhirnya berusaha mengendalikan perasaannya dan juga suasana hatinya.
Ibunya Ana pun langsung menghubungi mantan suaminya dan juga keluarga besarnya serta memberitahu mereka perihal apa yang terjadi pada Ana.
Sedangkan Raskal membantu mempersiapkan semuanya untuk keperluan pemakaman Ana.
***
Di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, keluarga Arief sedang bersiap-siap pergi untuk melamar Kinan sebagai menantunya.
__ADS_1
Yang paling ribet adalah ibunya Arief. Dia selalu saja merasa kalau semuanya belum sempurna.
“Rief, coba kamu jangan pakai pakaian itu. Ada tidak, pakaian yang lebih bagus dari ini?” tanya ibu.
“Bu, ini sudah bagus. Mau bagus yang seperti apa lagi sih, bu?” tanya Arief bingung dengan ibunya.
“Iya, bu. Itu juga sudah bagus?” ucap ayahnya Arief yang juga sependapat dengan Arief.
“Ah, kalian ini. Tahu apa sih masalah beginian. Pokoknya ibu suruh ganti ya ganti. Jangan membantah.” Ucap ibunya Arief.
“Iya... iya... iya, ibuku sayang yang paling cantik di rumah ini. Aku ganti sekarang.” Ucap Arief yang kemudian pergi.
Sementara sesaat setelah Arief pergi, ibunya Arief pun melihat suaminya dari atas kepala hingga ujung kaki.
Melihat istrinya memandanginya seperti itu, ayahnya Arief pun bertanya, “Ada apa, bu? Kok cara ibu melihat ayah seperti itu?”
“Hmm... sepertinya ayah juga harus ganti deh pakaiannya ayah. Terlihat tidak serasi deh dengan pakaian ibu.” Ucap ibu.
“Memang harus serasi gitu ya, bu?” tanya ayah.
“Ya iyalah, yah. Kalau pakaian kita serasi, pastikan bakal akan terlihat kompak.” Jelas ibunya Arief.
“Ya ampun, bu. Jadi karena masalah itu? Ya sudah.. ya sudah. Ayah ganti.” Ucap ayah yang tidak mau urusan pakaian ini bisa jadi panjang urusannya.
Setelah beberapa saat, Mereka pun telah selesai mengganti pakaian mereka dan kemudian berangkat.
Sesampainya di rumah Kinan, acara pertunangan pun di langsungkan.
Dan pada saat acara pertunangan Arief sedang berlangsung, di saat yang bersamaan itu lha, acara pemakaman Ana di laksanakan.
__ADS_1
Bersambung...