
‘Drrt... Drrt... Drrt..” tanda ada pesan singkat yang masuk.
Dengan mata yang menahan kantuk dan lelah, Ana pun mengambil ponselnya dan melihatnya.
Ternyata isi pesannya...
‘Maaf. Ini siapa, ya? Kenapa sudah 3 kali ini selalu mengirim pesan ke nomorku? Apa kita saling mengenal?’
Membaca pesan singkat tersebut, Ana pun bergumam, “Apa-apaan sih ini si Raskal?! Pakai tanya sudah kenal apa belum. Sudahlah. Cuekin saja. Mending aku pakai tidur saja.”
***
Keesokan harinya saat hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba saja Raskal memanggil sambil berteriak, “Hai, An. Tunggu!!”
Ana pun menghentikan langkahnya lalu menengok ke arah Raskal.
Setelah Raskal mendekat, Raskal pun berkata, “An, aku minta maaf ya. Kemarin aku tidak memberi kabar padamu. Aku benar-benar dalam suasana repot, kemarin.”
“Ha?! Justru aku yang harusnya minta maaf padamu karena aku lupa kalau aku harus mengerjakan laporan bulanan.” Ucap Ana.
“Oh, syukurlah kalau begitu kamu tidak menungguku kan, kemarin?” tanya Raskal memastikan.
“Ya jelas aku tidak menunggumu lha, Ras. Lagi pula seharusnya kan kamu tahu kalau aku tidak akan menunggumu. Aku kan sudah mengirim pesan singkat padamu.” Ucap Ana.
“Ha?! Pesan singkat?! Perasaan kamu tidak ada kirim pesan apa-apa deh. Nih lihat.” Ucap Raskal sambil memperlihatkan ponselnya.
“Tapi aku juga serius, Ras. Aku beneran kirim pesan padamu. Nih buktinya.” Ucap Ana kekeh sambil memperlihatkan ponselnya juga.
Melihat ponsel Ana akhirnya Raskal pun berkata, “Kok bisa, ya?! Mana sini aku coba cek.”
Setelah beberapa saat mengecek ponsel milik Ana, akhirnya Raskal pun menyadari sesuatu.
“Na, kamu sepertinya salah menyimpan nomor telepon deh. Ini bukan nomorku.” Ucap Raskal.
“Ha?! Masa’ sih?” tanya Ana
“Iya, An. Nih coba kamu lihat sendiri dan bandingkan dengan nomorku ini.” Ucap Raskal yang menunjukkan nomor yang sudah di simpan oleh Ana dan menunjukkan nomor ponsel miliknya.
Setelah beberapa saat membandingkan, akhirnya Ana pun menyadarinya.
“Aih, Ras. Gimana donk, ini? Berarti kemarin aku sudah salah kirim pesan donk?! Pantas saja semalam ada pesan masuk dari nomor ini yang tanya apa kami saling kenal. Aih... rupanya ini penyebabnya.” Ucap Ana menahan malu dan rasanya ingin sekali bersembunyi di lubang yang paling dalam dan tidak mau keluar lagi.
“Sudah... sudah... sudah, An. Kalau kamu merasa tidak enak karena sudah salah kirim pesan, coba kamu balas pesannya itu dan bilang minta maaf karena ternyata kamu sudah salah tulis pada salah satu angka di nomor ponsel.” Ucap Raskal.
“Malu, Ras.” Ucap Ana.
“Buat apa kamu malu? Toh kamu kan tidak bertemu dengan orangnya.” Ucap Raskal santai.
“Ye... kamu sih enak bilang begitu. Tapi aku nih yang jalani. Rasanya malu setengah hidup deh.” Celetuk Ana.
__ADS_1
Mendengar jawaban dariku, Raskal pun tidak dapat berkomentar apa-apa. Dia hanya memasang muka datar.
“Eh ya, Ras. Kalau begitu aku berangkat dulu ya. Sudah mau telat nih.” Ucap Ana berpamitan.
“Ya sudah, An. Nanti sore aku jemput, ya. Kebetulan hari ini aku off. Sekarang aku mau pulang untuk tidur dulu.” Ucap Raskal dan Ana pun mengangguk.
“Nanti aku kirim pesan duluan deh dan kamu jangan sampai salah simpan nomor lagi, ya.” Ucap Raskal dan Ana pun lagi-lagi mengangguk.
“Ya sudah sana berangkat. Hati-hati di jalan.” Pesan Raskal.
“Iya, Ras. Makasih. Kalau begitu aku pergi dulu. Assalamu’alaikum...” ucap Ana berpamitan.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Raskal sambil tersenyum dan Ana pun pergi meninggalkan Raskal.
Saat Ana sudah barada agak jauh dari dirinya, Raskal pun bergumam, “Aku sangat ingin sekali melihatmu bahagia, An.”
***
Saat dalam perjalanan menuju kantor, tanpa sengaja sang sopir angkutan umum memutar sebuah lagu yang kalau tidak salah judulnya ‘Menuju surga-Mu’ lirik lagu El Banat (Ciptaan: H. Moch. Hafizh El-Yusuf / M. Hafiz)
Mendengar lagu ini, hati Ana menjadi tersadar akan dirinya yang sudah banyak khilaf.
“Astagfirullah Al Adzim.” Gumam Ana.
Beberapa waktu kemudian, Ana pun sampai di kantor dan dia pun melanjutkan laporan yang kemarin masih belum selesai dikerjakan.
Sementara di tempat lain dan di saat yang bersamaan...
“Aih.. Faisaaaaaal..!!” teriak Arief kesal.
“Apa sih, Rief?! Pagi-pagi sudah teriak. Aku tidak tuli, tahu.” Protes Faisal.
“Iya kamu memang tidak tuli, tapi kamu itu selalu saja mengagetkanku dan itu sangat membuatku kesal.” Sahut Arief dengan nada kesal.
“Iya... iya... maaf. Btw.. ada angin apa nih kamu jam segini sudah sampai di kantor?” tanya Faisal yang bingung karena Arief yang biasanya itu selalu datang mendekati jam masuk kantor, sesibuk apa pun dia.
“Semalaman aku tidak bisa tidur, Sal.” Sahut Arief.
“Tidak bisa tidur?! Kenapa?” tanya Faisal.
“Entahlah. Ya sudahlah, Sal. Aku lanjutkan pekerjaan dulu. Kamu sudah sana. Kerjakan pekerjaanmu. Jangan ganggu aku.” Ucap Arief sambil mendorong tubuh Faisal keluar dari ruang kerjanya.
“Hai, Rief. Iya... iya... aku pergi. Tapi nanti siang kita makan siang bareng, ya.” Ucap Faisal saat Arief hendak menutup pintu ruangannya.
“Iya. Cerewet.” Sahut Arief.
***
Siang harinya, Raskal menghubungi Ana.
__ADS_1
“Halo, An. Assalamu’alaikum..” Ucap Raskal saat telepon di angkat oleh Ana.
“Iya, Halo. Wa’alaikumsalam... Ada apa, Ras?” tanya Ana.
“Kamu sudah makan siang?” tanya Raskal.
“Ini baru mau makan, Ras. Ada apa memangnya?” tanya Ana.
“Tidak ada apa-apa, Na. Hanya tanya saja.” Sahut Raskal.
“Owh. Lha kamu sendiri sudah makan siang, Ras?” tanya Ana.
“Aku baru bangun tidur, An. Paling sebentar lagi aku makan. Tapi mau mandi dulu.” Jelas Raskal.
“Oh, begitu. Ya sudah.” Ucap Ana.
“Iya. Ya sudah ya, An. Nanti sore jangan lupa tunggu aku.” Ucap Raskal mengingatkan Ana.
“Iya, Ras. InsyaAllah nanti aku tunggu. Kamu kalau sudah sampai, jangan lupa bilang.” Ucap Ana.
“Iya. Ya sudah kalau begitu, An. Aku tutup ya. Assalamu’alaikum..” ucap Raskal.
“Wa’alaikumsalam..” sahut Ana dan telepon pun diakhiri.
****
Di saat yang sama dan di tempat yang terpisah, Arief sedang duduk memandangi ponselnya.
“Ada apa, Rief? Apa ada yang aneh dengan ponselmu itu?” tanya Faisal yang rupanya menyadari sikap temannya itu.
“Oh. Tidak ada apa-apa. Hanya sedang sedikit penasaran saja.” Sahut Arief.
“Penasaran?! Penasaran kenapa?” tanya Faisal yang kepo.
“Penasaran karena kemarin ada pesan singkat yang nyasar ke nomorku sampai tiga kali. Tapi giliran aku kirim pesan balik, eh sampai sekarang belum ada balasan.” Jelas Arief.
“Ya... mungkin saja memang dia sudah sadar kalau sudah salah kirim dan akhirnya dia malu lalu bingung cara jawab pesanmu itu.” Ucap Faisal menerka-nerka.
“Ya paling tidak bilang maaf lha karena sudah salah kirim pesan.” Ucap Arief.
“Yee... untuk apa juga dia harus minta maaf sama kamu. Memang kamu di rugikan?! Tidak kan?!” celetuk Faisal.
“Ya memang tidak dirugikan, sih. Hanya saja aku sudah terlanjur penasaran dengan siapa pengirimnya.” Ucap Arief yang masih saja memandangi ponselnya.
Melihat tingkah temannya itu, Faisal hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Arief, sahabatku. Kalau memang kamu penasaran dengan siapa yang sudah salah kirim, lebih baik kamu telepon. Supaya kamu bisa langsung dengar jawabannya tanpa harus menunggu seperti ini.”
Arief pun terdiam sesaat dan akhirnya bergumam, “Benar juga, ya.”
Setelah itu, dengan hati yang tidak menentu, Arief pun mencoba menelepon dan nada sambung pun sudah terdengar. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya....
__ADS_1
Kita lanjut di next ya..😘😘