Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 10. Sakit


__ADS_3

Sudah hampir tiga hari Arief tidak menghubungi Ana, membuat Ana menjadi sangat rindu.


“Kak, bagaimana kabarmu?! Kenapa chatku tidak pernah kau balas?!” tanya Ana dalam hati.


Di saat yang bersamaan, entah mengapa tiba-tiba saja kepala Ana terasa sangat pusing sekali.


Ana pun dengan segera meminum obat yang biasa dia minum saat sedang pusing. Sebuah obat generik penghilang rasa sakit atau nyeri.


Saat itu sangat kebetulan sekali ibu sedang tidak ada di rumah. Ibu sedang menghadiri pesta pernikahan tetangga yang tidak jauh dari rumah.


Setelah beberapa saat meminum obat, kondisi Ana jauh lebih baik. Dia pun mencoba untuk beristirahat.


Namun, saat dia sedang merebahkan diri, dia pun bergumam, “Kenapa akhir-akhir ini pusingku rasanya jauh lebih sakit dari biasanya, ya? Untung saja hari ini hari Minggu, jadinya aku bisa beristirahat deh.”


Tak selang berapa lama, Ana pun tertidur. Dalam tidurnya, Ana bermimpi tentang seorang laki-laki yang sedang duduk termenung.


Dalam mimpinya itu, Ana merasa kalau saat itu Ana sangat mengenal sosok itu.


“Assalamu’alaikum, Kak. Kakak sedang menunggu seseorang?” tanya Ana dalam mimpi.


Laki-laki itu pun melihat ke arah Ana lalu tersenyum kemudian menjawab salam dari Ana. Setelah itu diam lagi. Itu membuat Ana menjadi bingung harus bagaimana.


Ana pun akhirnya hanya meminta ijin agar di perbolehkan duduk di sebelah laki-laki tersebut dan laki-laki tersebut mengangguk.


Sambil terus memperhatikan laki-laki tersebut, Ana pun bergumam dalam hati, “Tampaknya kakak ini orangnya pendiam dan tertutup.”


Ana pun akhirnya ikut terdiam dan duduk tenang di samping laki-laki tersebut. Hingga suatu saat...


“Kamu Ana, bukan?” tanya laki-laki tersebut tiba-tiba.


“Eh, kakak kok bisa tahu namaku? Memang kakak kenal aku?” tanya Ana bingung.


“Kamu tidak perlu tahu siapa aku. Tapi yang jelas aku ingin memberitahumu bahwa akan ada masanya kita harus melepaskan semua yang kita miliki sekarang dengan ikhlas.” Ucap laki-laki tersebut.


“Maksud kakak, apa?” tanya Ana dan laki-laki itu pun hanya tersenyum dan tiba-tiba menghilang.


Ana yang mengalami kejadian itu pun tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran karena ada perasaan takut saat itu.


Ana pun segera mengambil segelas air putih yang selalu ada di dalam kamarnya lalu meminumnya.


Setelah minum, Ana terdiam sejenak mencoba menenangkan dirinya dan juga mencoba untuk mengingat kembali mimpinya itu.

__ADS_1


Saat dia berhasil mengingat mimpinya tersebut, dia bergumam pada dirinya sendiri, “Laki-laki dalam mimpi itu tadi siapa? Dan apa maksud dari ucapannya padaku?”


Tak selang berapa lama, ibunya pun pulang dan mengetuk pintu kamar Ana. Tanpa menunggu lama, Ana pun membukakan pintu kamarnya.


“An, ini ibu bawakan kamu camilan. Tadi orang tua dari mempelai perempuan tiba-tiba saja memberikan ibu ini.” Ucap ibu sambil menyodorkan sekantong plastik berisi jajanan.


“Alhamdulillah, bu. Terima kasih. Kita makan sama-sama ya, bu.” Ucap Ana dan ibunya pun mengangguk.


***


Ke esokkan harinya, Ana pun berangkat kerja seperti biasa. Keadaan Ana pun sudah jauh lebih baik. Jadi dia putuskan untuk berangkat kerja.


Saat perjalanan, tiba-tiba saja Ana berpapasan dengan Raskal. Seperti biasa, Raskal pun menawarkan diri untuk mengantarkan Ana berangkat kerja.


Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini Ana menyetujui tawaran Raskal.


Namun dalam perjalanan, tiba-tiba saja...


“Kepalaku kenapa sakit lagi?” pikir Ana.


Raskal pun tetap menjalankan motornya tanpa mengetahui apa yang di rasakan oleh Ana saat itu.


“An, sudah sampai.” Ucap Raskal.


“Iya, Ras. Terima kasih banyak sudah mau mengantarku ke kantor.” Ucap Ana.


“Sama-sama, An. Ya sudah kalau begitu aku berangkat ke kantor dulu, ya.” Ucap Raskal dan Ana pun mengangguk lalu Raskal pun pergi.


Saat hendak memasuki kantor, tiba-tiba saja tubuh Ana sedikit oleng, pandangan kabur dan kepala pun terasa sangat sakit. Hingga akhirnya Ana pun membatalkan untuk masuk kerja dan segera pergi ke Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit, Ana pun melakukan beberapa prosedur Rumah Sakit terlebih dahulu sebelum akhirnya dia bertemu dengan dokter.


Setelah semua prosedur di lakukan, akhirnya Ana pun dapat bertemu dengan Dokter. Ana pun menceritakan semuanya hingga Dokter pun menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.


Ana akhirnya mengikuti anjuran Dokter. Dia pun akhirnya melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan. Namun hasilnya baru akan diketahui esok hari.


Di malam harinya Ana sangat gundah sekali memikirkan tentang hasil pemeriksaan esok hari. Dia berharap tidak akan terjadi sesuatu hal yang serius dengan dirinya.


Di saat ini pula, Ana sekali lagi merasa rindu pada Arief. Ana hanya bisa berdoa bahwa jika Arief adalah jodohnya, maka dekatkan. Dan jika Arief bukanlah jodoh yang terbaik, maka jauhkan dengan cara yang baik.


Sambil meneteskan air mata, dia hanya bisa pasrah pada sesuatu hal yang sudah di gariskan.

__ADS_1


Ke esokkan harinya, Ana pun kembali datang ke Rumah Sakit guna untuk mengambil hasil pemeriksaannya kemarin dan berkonsultasi pada Dokter tentang apa yang seharusnya di lakukan.


Tak berapa lama, Ana pun menerima hasil pemeriksaan. Dia pun segera mendatangi Dokter yang kemarin memberinya saran.


Beberapa saat kemudian, Ana pun bertemu dengan Dokter tersebut dan menyerahkan hasil pemeriksaan.


Setelah beberapa saat melihat hasil pemeriksaan yang di berikan Ana, Dokter pun akhirnya memberitahu bahwa Ana mengidap penyakit kanker stadium akhir.


Betapa terkejutnya Ana mendengar hasil yang di bacakan oleh Dokter tersebut dan Ana pun bertanya tentang berapa tingkat kesembuhan dari penyakit itu.


Namun lagi-lagi Ana pun terkejut karena ternyata tingkat kesembuhannya hanya sedikit atau kecil. Lalu Ana pun bertanya bagaimana cara agar dapat menghambat pertumbuhan sel kanker tersebut. Dokter pun menyarankan agar Ana melakukan cuci darah, kemoterapi dan operasi.


Mendengar saran Dokter tersebut, Ana akhirnya meminta waktu untuk mempertimbangkan kembali saran tersebut.


***


Saat perjalanan pulang, Ana berpikir keras.


“Bagaimana caranya melakukan semua pengobatan itu, sementara pengobatan itu harganya mahal? Sedangkan aku tidak punya uang sebanyak itu.” Gumam Ana.


Dia pun merasa bingung dan akhirnya memutuskan untuk duduk di taman terlebih dahulu sebelum pulang.


Dia memperhatikan dengan detail suasana taman itu dan menikmati embusan semilir angin. Dia berpikir kalau mungkin saja ini terakhir kalinya dia bisa menikmati ini semua.


Di saat yang bersamaan, Raskal datang dan langsung duduk di samping Ana sambil bertanya, “An, kamu tidak jadi kerja?”


“Tidak, Ras. Aku tiba-tiba kurang sehat. Lalu kamu sendiri kenapa ada di sini? Kamu juga sedang kurang sehat?” tanya Ana.


“Tidak, An. Aku sengaja ijin ingin pulang cepat saja.” Ucap Raskal.


“Enak sekali tempat kerjamu, Ras.” Ucap Ana.


“Hehehe...” Raskal pun hanya menyengir saja.


Setelah itu, mereka pun terdiam namun diamnya Raskal itu selalu memperhatikan Ana.


Sesaat memperhatikan Ana, Raskal pun menyadari bahwa ada yang salah dengan Ana. Lalu Raskal pun bertanya, “An, kamu sakit apa? Sudah periksa belum?


Lalu Ana pun.....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2