
Keesokan paginya, Ana seperti biasa hendak berangkat kerja. Saat itu pula seperti biasa Ana bertemu dengan Raskal.
“Mau aku antar, An?” tanya Raskal.
Belum juga sampai Ana menjawab tawaran dari Raskal, tiba-tiba...
“Kak Ana, tunggu!” teriak Aira.
Ana pun akhirnya tidak menjawab tawaran Raskal dan Raskal pun teralihkan dengan suara teriakan Aira.
“Kebiasaan deh tuh anak. Selalu saja mengacaukan suasana.” Gerutu Raskal namun masih bisa di dengar oleh Ana.
Ana pun tersenyum melihat ekspresi Raskal yang terlihat badmood dalam waktu seketika.
Di saat yang bersamaan, Aira pun sudah sampai mendekati Ana dan juga Raskal berdiri.
“Ada apa, Aira?” tanya Ana.
“Kak Ana... hmm... gini... kakak dapat salam dari kakak senior di sekolahku.” Ucap Aira terengah-engah akibat dari dia tadi berlari.
“Salam?! Kakak senior?! Maksudnya?” tanya Ana yang gagal paham dengan ucapan Aira.
“Iya. Jadi begini ceritanya, kak. Waktu tempo hari kan kakak pernah ikut aku untuk ambilkan rapor sekolahku sebagai ganti perwakilan dari orang tuaku yang sedang pergi. Nah... saat itu, ternyata kakak senior di organisasi yang aku ikuti itu melihat kakak.” Jelas Aira.
Sebagai catatan bahwa Aira ini masih duduk di bangku kelas 2 SMU.
“Owh. Tapi tunggu dulu. Maksud kamu kakak senior itu kakak kelas kamu?” tanya Ana.
“Bisa di bilang seperti itu sih, kak. Tapi dia sudah lulus. Mungkin kalau aku tidak salah ingat itu umurnya hampir sama seperti kakak.” Ucap Aira.
“Owh. Begitu. Ya sudah terimakasih ucapan salamnya.” Ucap Ana.
“Iya, kak. Nanti Aira sampaikan. Tapi...” ucapan Aira tidak dilanjutkan.
“Tapi apa lagi, Aira?” tanya Ana.
“Tapi dia juga minta nomor ponsel kakak, apa boleh aku kasih, kak?” tanya Aira meminta ijin.
Ana pun akhirnya terdiam sejenak, lalu berkata, “Janganlah, Aira. Jangan di kasih.”
__ADS_1
“Kenapa, Kak?” tanya Aira heran.
“Tidak apa-apa, Aira. Pokoknya jangan sampai kamu kasih, ya. Plis.” Ucap Ana.
Mendengar ucapan Ana, Aira pun tidak dapat memaksa. Karena Aira tahu, mungkin ada alasan di balik larangan itu.
“O ya sudah deh kalau begitu. Aira mengerti. Oh ya, kak. Aira pergi dulu ya. Aira sudah janjian dengan teman mau berangkat bareng.” Pamit Aira.
“Oh ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati di jalan.” Ucap Ana.
Di saat Aira sudah pergi menjauh, Raskal pun berkata, “Kamu kenapa, Na?”
“Kenapa apanya, Ras?” tanya balik Ana yang bingung dengan yang di maksud Raskal.
“Kenapa kamu tidak mengijinkan Aira memberitahukan nomormu pada kakak seniornya?” tanya Raskal.
“Tidak, Ras. Aku tidak mau. Aku sudah susah untuk membuka hatiku lagi.” Ucap Ana lirih.
“Tapi kenapa, An?” tanya Raskal.
“Itu karena kejadian tentang orang tuaku dan juga orang-orang yang dulu pernah aku kenal. Mereka semua mengecewakanku. Mereka selalu bermuka dua. Lain di depanku juga lain di belakangku. Aku tidak suka. Lebih baik seperti ini. Bebas. Tidak punya masalah dan tidak ada beban. Cukup kamu dan Aira saja yang jadi temanku. Aku sudah tidak mau yang lainnya.” Ucap Ana.
“An, maaf. Bukan aku tidak mau kamu jadikan teman, tapi aku dan Aira kan tidak selamanya bisa bersama denganmu setiap saat. Aku tidak ingin di saat kamu sedang sedih dan memerlukan kami, kami tidak bisa langsung menemanimu. Tolonglah An. Buka hatimu. Perbanyaklah mengenal orang di luar sana.” Ucap Raskal sedikit memohon.
“Hai, An. Mau ke mana? Tidak jadi mau aku antar nih?” tanya Raskal sambil berteriak.
Ana pun tidak menyahut. Dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan Raskal yang memanggilnya.
“An, andaikan saja kau tahu kalau aku seperti ini tuh karena aku peduli padamu.” Ucap Raskal yang kemudian mengendarai sepeda motornya.
Di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda...
“Bu.. Arief berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum.” Ucap Arief dengan nada penuh semangat dari pada biasanya.
“Wa’alaikumsalam. Tumben tuh anak ceria.” Ucap ibu heran.
“Sedang jatuh cinta kali, bu.” Ucap Ayah Raskal asal nyeletuk.
“Apa?! Jatuh cinta?! Jangan sampai deh ayah. Kalau Arief sampai jatuh cinta dengan perempuan lain, terus gimana dengan janji kita pada keluarga Kinan? Kita kan sudah sepakat akan menjodohkan mereka berdua.” Ucap ibu dengan rasa khawatir.
__ADS_1
“Sudahlah, bu. Mau bagaimana lagi. Arief kan sudah besar, kita sudah tidak bisa mengatur hidupnya lagi. Apalagi ini menyangkut masalah perasaan dan hati.” Ucap ayah.
“Tidak bisa begitu, yah. Janji ya tetap, yah. Pokoknya kita harus mempercepat pertunangan mereka sebelum Arief menemukan orang yang dia suka.” Ucap ibunya Arief.
“Iya... iya... ya sudah. Terserah apa kata ibu saja deh.” Ucap ayah yang pasrah dengan sifat keras kepalanya ibu.
***
Setelah beberapa saat, Arief pun sampai di kantor. Dia tidak tahu dengan apa yang sudah di rencanakan oleh ibunya untuk pendamping hidupnya kelak.
Dia menjalani kesehariannya seperti biasanya.
“Rief, bagaimana semalam? Apa kamu sudah menghubungi orang yang salah kirim pesan itu?” tanya Faisal saat bertemu dengan Arief di pintu masuk kantor.
“Aku tidak menghubunginya, Sal. Tapi semalam dia yang mengirimi pesan kepadaku terlebih dahulu.” Ucap Arief.
“Oh begitu. Terus kalian sudah berkenalan?” tanya Faisal yang membuat Arief menghentikan langkahnya sejenak.
“Eh, kok tiba-tiba berhenti?” tanya Faisal bingung.
“Sal, aku lupa bertanya siapa namanya.” Ucap Arief.
“Apa?! Bagaimana ceritanya kamu bisa lupa tanya sih?! Memangnya semalam apa saja yang sudah kalian bahas di pesan?” tanya Faisal.
“Ya... dia awalnya hanya mengirimi pesan permintaan maaf saja dan aku menjawabnya dengan jawaban tidak apa-apa. Sudah itu saja. Setelah itu kami tidak melanjutkan obrolan pesan kami.” Jelas Arief.
“Ya ampun... Arief... Kamu itu, ya. Ampun deh.” Ucap Faisal yang benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Arief, temannya itu.
“Kenapa, Sal? Memangnya ada yang salah, ya?” tanya Arief yang benar-benar membuat Faisal yang mendengarnya menjadi kesal.
“Dasar oneng. Pakai tanya segala lagi apa ada yang salah. Ya jelas ada yang salah lha, oneng. Di mana-mana tuh ya, orang kalau ketemu kenalan baru itu pasti tanya nama. Memangnya kamu tidak penasaran apa dengan orang itu? Memangnya kamu tidak ingin lanjut apa, berhubungan dengan orang itu? Kan siapa tahu saja dia itu jodoh kamu lho, Rief. Kita kan tidak tahu.” Ucap Faisal panjang kali lebar membuat Faisal terdiam sejenak.
“Ya sudah, Sal. Coba nanti malam aku hubungi dia lagi dan tanya siapa namanya.” Ucap Arief.
“Nah gitu donk. Awas kalau sampai tidak.” Ancam Faisal.
“Iya.. iya... cerewet sekali sih, jadi orang.” Ucap Arief.
“Biarin.” Sahut Faisal.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya sampai di ruang kerjanya masing-masing dan memulai pekerjaan mereka seperti biasanya.
Ok.. next lagi...