Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 4. Pertama kali berbalas pesan


__ADS_3

Saat itu, Ana yang sedang beristirahat di kantin pun tiba-tiba terkejut dengan sebuah panggilan masuk. Di lihatnya layar ponsel tersebut dan akhirnya Ana pun mendadak ‘blush’ malu seketika karena ternyata yang meneleponnya adalah orang yang sudah dia kirimi pesan namun salah.


“Aih... gimana nih? Kenapa jadi sudah di telepon duluan? Angkat jangan ya?!” tanya Ana dalam hati.


Dengan hati bingung campur dengan malu, akhirnya Ana pun memutuskan untuk tidak mengangkat telepon tersebut.


Dan di sisi lain, Arief pun tampak kecewa sekaligus penasaran.


“Bagaimana, Rief?” tanya Faisal.


“Apanya yang bagaimana?” Arief pun malah balik tanya.


“Itu... tadi di angkat tidak?” tanya Faisal lagi.


“Tidak di angkat.” Sahut Arief singkat namun sebenarnya dalam hati sangat penasaran.


“Owh... tidak di angkat rupanya. Mungkin dia sedang sibuk kali, Rief.” Ucap Faisal yang lagi-lagi menerka-nerka.


“Ya mungkin saja. Ya sudahlah. Nanti malam saja aku coba telepon dia lagi.” Ucap Arief.


“Hmm. Memang harus begitu. Daripada penasaran terus.” Ucap Faisal sambil mengunyah makanannya.


Dan akhirnya mereka pun melanjutkan makan siangnya setelah itu mereka balik ke kantor dan bekerja di ruangan masing-masing.


***


Sore harinya sepulang kerja, Raskal pun sudah menunggu Ana di depan kantor tempat Ana bekerja. Dan tak selang berapa lama, Ana pun keluar.


“Hai, Ras. Sudah lama nunggunya?” tanya Ana.


“Tidak kok, An. Barusan saja aku sampai.” Sahut Raskal sambil memberikan helm pada Ana.


“Oh syukurlah.” Ucap Ana sambil memakai helm yang diberikan Raskal dan kemudian naik ke atas motor Raskal.


“Sudah siap, An?” tanya Raskal memastikan.


“Hmm...” sahut Ana dan kemudian motor pun dijalankan.


Dalam perjalanan pulang, ternyata Raskal mengajak Ana untuk mampir ke minimarket terlebih dahulu.

__ADS_1


“Ras, untuk apa kita ke sini?” tanya Ana.


“Kita beli camilan, lha.” Sahut Raskal santai sambil memarkirkan motornya di halaman depan minimarket.


“Camilan?! Kamu tidak takut tambah chubby, nanti?” tanya Ana yang sebenarnya melihat Raskal seperti ini pun sudah menyiksa hasratnya untuk mencubit pipi Raskal yang chubby.


Sebagai catatan, Raskal ini, selain dia memiliki karakter yang hampir sama seperti Ana, dia juga memiliki postur tubuh yang lumayan tinggi dan dia juga memiliki perawakan yang sedikit agak gemuk. Tidak heran jika pipi Raskal ini terlihat Chubby.


Sebaliknya... jika bicara postur tubuh, Ana memiliki tubuh yang kecil dengan tinggi badan hanya 152 cm.


“Tidak tuh. Tidak takut. Lagi pula aku ingin membelikanmu juga kok. Supaya kamu itu tidak kurus kering seperti ini.” Ucapnya.


“Sial kamu, Ras. Malah membalikkan kata-kataku.” Ucap Ana.


“Wkwkkwk... sudah ah. Ayo kita masuk.” Ajak Raskal.


“Tapi kamu yang bayar, ya.” Ucap Ana.


“Iya. Beres. Yuk ah.” Ucap Raskal.


Kemudian mereka pun langsung masuk ke dalam minimarket tersebut dan memilih camilan yang mereka inginkan.


“Iya, Ras. Aku ini saja. Kalau pun ada yang lain yang mungkin mau kamu belikan untukku, lebih baik tidak usah.” Ucap Ana.


“Kenapa, An? Aku kan ikhlas. Aku benar-benar ingin membelikanmu camilan.” Ucap Raskal yang heran dengan ucapan Ana.


“Ras, tidak usah. Daripada uang kamu buat belikan aku makanan, lebih baik uang itu bisa kamu belikan sesuatu yang lebih kamu perlukan. Ingat, Ras... jangan suka menghambur-hamburkan uang. Gunakan seperlunya saja. Sisanya di tabung. Siapa tahu, tahun depan kamu nikah. Ya tidak?!” goda Ana.


“Ya ampun, An. Otakmu itu, ya. Sudahlah. Pokoknya tidak usah banyak protes. Aku tetap akan belikan camilan untukmu. Kamu harus mau menerimanya.” Paksa Raskal.


“Ish... maksa sekali, sih?!” ucap Ana.


“Biarin.” Sahut Raskal sambil tangan mengambil satu persatu camilan yang di lihat oleh matanya.


Ana pun tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Ana tahu pasti kenapa Raskal seperti itu.


“Terimakasih, Ras.” Ucap Ana sambil tersenyum.


***

__ADS_1


Saat malam harinya, Ana pun tidak bisa tidur. Entah mengapa seperti di pikirannya ada yang mengganjal.


Dilihatnya ponsel dan akhirnya dia menemukan apa yang membuatnya gelisah.


“Oh iya. Aku tadi sudah salah tidak mengangkat telepon dari orang ini.” Ucap Ana saat melihat ada panggilan masuk namun tak dia jawab.


“Ya sudahlah... aku coba bicara baik-baik saja dan minta maaf.” Ucap Ana lagi.


Akhirnya di tulisnya pesan singkat yang isinya...


‘Maaf baru membalas pesanmu yang kemarin dan maaf juga aku tidak bisa mengangkat teleponmu siang ini. Aku sedang banyak kerjaan. Jadi belum sempat. Aku juga minta maaf karena aku sudah salah mengirim pesan ke nomormu ini. Sekali lagi maaf.’


Lalu di kirimnya pesan tersebut dan Ana pun tidak mengharapkan balasan. Dalam hatinya berkata, “Yang penting aku sudah minta maaf. Perkara dimaafkan atau tidak, itu terserah.”


Di taruhnya ponselnya di samping bantalnya dan dia pun mulai merebahkan diri bersiap untuk tidur. Namun, ketika dia hendak memejamkan mata, tiba-tiba...


‘drrt.. drrt... drrrt...’


Ada pesan yang masuk dan dia pun langsung melihatnya. Betapa terkejutnya dia ternyata pesan yang tadi dia kirim itu di balas oleh yang punya nomor.


‘Iya. Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Aku sendiri juga sedang banyak pekerjaan jadi tahu situasimu di sana seperti apa.’


Begitulah isi balasan pesannya.


Lalu Ana pun membalas lagi dengan isi...


‘Terimakasih karena sudah mau mengerti.’


Dan di balas lagi...


‘Iya. Sama-sama.’


Setelah chat seperti itu, akhirnya Ana pun dapat bernafas lega karena ternyata dia tidak marah.


Kini Ana pun entah mengapa dapat tidur dengan nyenyak sampai keesokan harinya.


Sementara di tempat lain, Arief pun juga sama seperti Ana... dia pun dapat tidur nyenyak.


Bersambung lagi ya...😉

__ADS_1


__ADS_2