Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 12. Belum ada yang terbuka


__ADS_3

Di malam harinya, suasana kamar Ana terlihat sangat gelap. Hanya jendela kamarnya yang dia buka. Sehingga cahaya bulan pun dapat masuk.


Malam itu kebetulan sekali cuaca sedang cerah dan bulan pun dalam kondisi purnama.


Saat itu, Ana duduk di dekat jendela dan menatap ke langit malam.


“Ya Allah, jika penyakitku ini adalah caramu meluruhkan dosaku, maka akan berusaha menerimanya dengan ikhlas dan penuh ketabahan.” Ucapnya.


Tak selang berapa lama, tiba-tiba...


‘Drrt.. drrt..’ ponsel Ana berbunyi dan Ana pun langsung melihatnya.


Saat melihatnya, Ana pun menyadari ternyata Arief mengiriminya sebuah pesan yang isinya...


‘Assalamu’alaikum, An. Kamu sedang apa?’


Ana pun langsung membalasnya..


‘Wa’alaikumsalam, Kak. Aku sedang duduk santai saja. Gimana kabarnya, kak? Apakah urusan kakak sudah selesai?’


Arief membalas..


‘Alhamdulillah kabarku baik, An. Urusanku belum kelar. Tapi berhubung aku rindu padamu, aku jadinya menghubungimu sekarang. Lha terus bagaimana keadaanmu sendiri?’


Ana membalas...


‘Alhamdulillah, keadaanku juga baik-baik saja. Terus... kalau urusan kakak belum kelar, apa kakak nanti juga kembali tidak akan menghubungiku lagi?’


Arief membalas...


‘InsyaAllah, aku akan coba tetap menghubungimu walau mungkin hanya sebentar saja. Tidak apa-apa, kan?’


Ana mambalas...


‘Tidak apa-apa, kak. Aku bisa mengerti kok. Kalau memang kakak tidak sempat juga tidak apa-apa. Jangan di paksakan ya, kak.’


Arief membalas...


‘Iya, An. Terima kasih banyak atas pengertianmu.’


Ana membalas..


‘Sama-sama, kak.’


Arief membalas...


‘Ya sudah kalau begitu. Aku mau melanjutkan lagi urusanku yang belum selesai.’


Ana membalas lagi...


‘Iya, kak. Aku doa kan semoga urusan kakak cepat selesai, ya.’


Arief pun membalas...


‘Amiin. Iya, An. Terima kasih doanya.’


Ana pun membalas...


‘Sama-sama, kak.’

__ADS_1


Arief pun berpamitan...


‘Ya sudah kalau begitu, An. Aku pamit. Assalamu’alaikum.’


Ana pun membalasnya...


‘Wa’alaikumsalam..’


Setelah itu, telepon pun diakhiri dan Ana pun kembali termangu menatap langit dan berkata, “Andai aku di beri umur panjang.”


Di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda, setelah mengakhiri chat dengan Ana, Arief pun bergumam, “Rasanya tidak tega mau mengatakan yang sebenarnya padamu, An.”


***


Dua hari setelah Arief menghubungi Ana terakhir kali, keadaan Ana tiba-tiba saja menurun.


Ana pingsan saat sedang bekerja. Pihak perusahaan tempat Ana bekerja pun mau tidak mau menghubungi orang tua Ana.


Saat ibu Ana mendapatkan kabar dari kantor Ana, ibunya Ana pun langsung datang dan melihat keadaan anaknya.


Tentunya ibunya Ana pun memberitahu kabar ini kepada Raskal selaku sahabat dekat Ana.


Mereka berdua pun sampai di kantor Ana secara bersamaan. Dari raut wajah Raskal terlihat kalau dia sangat khawatir sekali.


Sesampainya di dalam, ibunya Ana bingung kenapa anaknya bisa jadi seperti ini.


“Bu, maaf. Lebih baik kita bawa Ana ke Rumah Sakit.” Ucap Raskal.


“Rumah Sakit?!” ucap ibu dan Raskal pun mengangguk.


Lalu ibunya Ana pun melihat ke arah Ana dan bilang, “Baik lha, Ras. Kita bawa Ana ke Rumah Sakit.”


Sesampainya mereka di Rumah Sakit, Ana pun langsung di masukkan ke ruang UGD guna mendapatkan penanganan medis.


Setelah beberapa saat di lakukan pemeriksaan, akhirnya Dokter pun menjelaskan semuanya dan saat itu, ibunya Ana syok mendapati kenyataan kalau anaknya ternyata mengidap penyakit parah.


Hal ini membuat Raskal bingung dan akhirnya bertanya, “Apakah ibu belum di ceritakan masalah ini oleh Ana?”


Ibunya Ana pun menggeleng lalu berkata, “Ras, ibu mau tanya. Sejak kapan Ana mengetahui penyakit ini?”


Raskal pun menyahut, “Sekitar dua hari yang lalu, bu.”


“Oh, begitu. Mungkin saja dia lagi mencari waktu yang tepat untuk memberitahu ibu.” Ucap ibu.


“Mungkin saja, bu. Ibu yang tabah dan sabar, ya.” Ucap Raskal.


“Iya, Ras. Ibu akan berusaha tabah dan ikhlas.” Sahut ibu sambil memandangi wajah Ana yang belum sadarkan diri.


Tak selang berapa lama, Ana pun sadarkan diri. Dia terkejut karena di sana ada seorang ibu yang dengan penuh kasih sayang mengelus-elus pucuk kening rambutnya.


“Ibu? Ini di mana?” tanya Ana dengan suara lemah.


“Ini di Rumah Sakit, sayang. Tadi kamu pingsan di kantor.” Ucap ibu.


“Ibu jadi sudah tahu?” tanya Ana dan ibunya pun mengangguk.


“Maafkan aku, bu. Aku tidak tega kalau harus mengatakannya ke ibu.” Ucap Ana.


“Iya, An. Ibu paham. Ya sudah.. sekarang kita banyak berdoa saja semoga kamu di beri mukjizat kesembuhan dari Allah Swt. Amiin.” Ucap ibu.

__ADS_1


“Amiin...” sahut Ana.


“O ya, tadi Dokter mengatakan kalau dalam dua hari ini, kamu harus melakukan pengobatan lanjutan.” Ucap Ibu.


“Tapi, bu. Biayanya dari mana?” tanya Ana.


“Kamu tidak usah mengkhawatirkan masalah itu. Yang penting kamu sekarang harus kuat dan optimis kalau kamu akan sembuh.” Ucap ibu.


“Baiklah, bu. Maaf, bu kalau aku sudah banyak merepotkan ibu.” Ucap Ana.


Mendengar ucapan Ana, ibunya pun menyahut, “An, kamu ini bicara apa?! Mana ada seorang ibu yang akan merasa di repotkan jika itu semua demi anak-anaknya.”


“Terima kasih, bu.” Ucap Ana dan ibunya pun mengangguk.


“Ya sudah, An. Jika kondisimu sudah stabil dan tidak pusing lagi, kita akan pulang ke rumah.” Ucap ibu


“Iya, bu.” Sahut Ana.


Setelah satu jam kemudian, keadaan Ana pun stabil dan akhirnya mereka pulang.


***


Sore harinya, Raskal kembali datang mengunjungi Ana. Dia ingin mengetahui keadaan Ana.


Saat Raskal sampai di rumah Ana, Raskal pun meminta ijin pada ibunya Ana untuk bisa melihat Ana dan oleh ibunya Ana, Raskal pun di ijinkan.


Di dalam kamar Ana, Raskal melihat Ana sedang duduk bersandar lemah di tempat tidurnya. Dia terlihat sangat pucat sekali dan wajahnya pun sudah tak terlihat pancaran kehidupan.


Dalam hatinya, dia bergumam, “An, wajahmu mengisyaratkan jika kamu akan benar-benar pergi.”


“Haiz.. aku ini sedang kepikiran apa, sih?” gumam Raskal lagi dalam hati.


Raskal pun mengalihkan pikirannya dengan mencoba menyapa Ana.


“Hai, An. Bagaimana keadaanmu?” tanya Raskal.


“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, Ras.” Sahut Ana.


“Syukurlah.” Sahut Raskal setelah itu mereka sama-sama terdiam.


Namun diamnya ke dua orang ini punya arti masing-masing.


Diamnya Ana, dia merasa kalau segala sesuatu yang sudah di takdirkan, pasti tidak akan mungkin dihindari dan tetap harus dihadapi dan dijalani. Jadi, dia sudah ikhlas dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Sementara itu, diamnya Raskal mengisyaratkan bahwa dia merasa kalau saat ini adalah momen terakhir dia dapat dengan puas melihat Ana.


Lalu sesaat kemudian, tiba-tiba Raskal pun teringat tentang Ana yang waktu itu sempat menceritakan tentang Arief.


Raskal bertanya apakah Ana sudah memberitahukan perihal penyakitnya ini pada Arief. Tapi Ana hanya menggelengkan kepalanya.


“Kenapa, An?” tanya Raskal.


“Belum ada sempat untuk bilang, Ras.” Ucap Ana.


“Oh, begitu. Tapi kamu tetap akan memberitahukannya, kan?” tanya Raskal dan Ana pun mengangguk.


“Oh, syukurlah.” Ucap Raskal lalu Raskal pun kembali terdiam dan hanya memandangi Ana yang sedang menatap ke luar jendela kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2