Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu

Takdir Cinta Pasangan Dunia Halu
Chapter 15. Kenangan


__ADS_3

Sesaat setelah mengantarkan Ana ke tempat peristirahatannya yang terakhir dan memakamkannya, Raskal tidak langsung pulang. Dia tetap menemani ibunya Ana yang sedang berduka.


Saat itu, Raskal juga kembali melihat kamar Ana yang baru saja dia tinggalkan.


“An, baru tadi. Baru saja tadi aku melihatmu, tapi sekarang aku sudah merasakan kerinduan yang teramat sangat.” Gumam Raskal saat menyapu dengan pelan tempat tidur Ana.


Setelah itu, Raskal pun melihat ke sekeliling kamar Ana hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sebuah meja yang berada dekat jendela kamar.


Dia pun berjalan melangkah mendekati meja tersebut dan mendapati ada tiga buah surat.


Yang pertama untuk ibunya tersayang, yang ke dua untuk dirinya dan terakhir yang ke tiga untuk Arief.


Untuk surat yang pertama, Raskal pun nanti akan memberikannya pada ibunya Ana.


Sedangkan untuk surat yang ke dua, dia pun langsung membacanya.


Isi suratnya...


“Assalamu’alaikum, Ras. Bagaimana perasaan kamu? Maaf ya, Ras. Mungkin saat kamu membaca suratku ini, aku sudah tidak ada bersama kalian lagi. Tapi aku bahagia karena sudah menjadi bagian dari hidup kalian.


Ras, sebenarnya beberapa hari ini aku banyak berpikir tentang sikapmu ke aku selama ini. Aku akhirnya paham kalau kamu sebenarnya menyukaiku.


Tapi Ras, lagi-lagi aku harus minta maaf padamu. Aku tidak bisa. Hatiku sudah terlanjur aku berikan pada kak Arief dan akan kubawa rasa ini pergi bersamaku.


Ras, carilah wanita yang bisa lebih baik dari aku. Buka lha pintu hatimu, ya..!


Ras, aku juga minta tolong satu hal lagi. Tolong kamu berikan suratnya pada ibu dan kak Arief.


Jika suatu saat nanti kak Arief menelefon, tolong bacakan saja suratnya dan jika kamu dapat bertemu dengannya, maka berikan suratnya padanya. Tapi jika dia tidak telepon dan kamu pun tak bisa bertemu dengannya, kamu tetap simpan saja surat itu, ya.


Ya sudah, Ras. Sekali lagi aku minta maaf dan juga banyak terima kasih padamu. Jaga dirimu baik-baik.


Wassalamu’alaikum..”


Setelah membaca surat Ana untuk dirinya, tanpa sadar air mata Raskal mengalir.


“An.. kamu memang ratu tega.” Gumamnya lirih sambil menangis.


***


Keesokan harinya, sepulang dari kerja, Raskal mampir ke taman yang biasa dia datangi dengan Ana.


Dia teringat kalau dulu dia pertama kali bertemu dengan Ana di taman itu.


Saat itu, tepatnya 10 tahun yang lalu, dia melihat ada seorang anak perempuan sedang bermain ayunan sendirian di taman ini.

__ADS_1


**Flash back 10 tahun yang lalu**


‘Srek.. srek..’ suara langkah Raskal yang baru saja pulang dari sekolah.


Raskal yang pulang bersama-sama temannya pun tanpa sengaja menoleh ke arah Ana.


“Siapa anak perempuan itu? Perasaan aku belum pernah melihatnya.” Gumam Raskal dalam hati.


Karena rasa penasarannya, Raskal pun menyuruh teman-temannya untuk jalan duluan.


Setelah teman-temannya berlalu, Raskal pun mendekati Ana dan berkata, “Hai.”


Ana pun menoleh ke arah Raskal dan berkata, “Assalamu’alaikum.”


“Hehehe... Wa’alaikumsalam.” Sahut Raskal sambil salah tingkah.


“Eh, kamu orang baru, ya di tempat ini?” tanya Raskal.


“Iya. Aku baru pindah kemarin.” Sahut Ana.


“Oh. Pantas saja sepertinya aku tidak mengenalimu.” Ucap Raskal dan Ana pun tersenyum.


**Flash back off**


“An, senyummu saat itu yang membuat aku jatuh cinta sampai saat ini walau dirimu sudah tiada.” Lagi-lagi Raskal bergumam.


Tak selang berapa lama, Aira datang dan berkata, “Hai kak Raskal. Tumben kok sendirian saja. Biasanya bersama kak Ana.”


“Ana sudah tak lagi ada di sini. Dia sudah pergi. Lagi pula kamu tuh ke mana saja sih, selama ini?” tanya Raskal sedikit kesal.


“Aku mendadak ada urusan keluarga dan harus segera pulang kampung. Memangnya kak Ana pergi ke mana?” tanya Aira yang memang tidak tahu apa-apa.


“Ana....” Raskal pun takut untuk memberitahukannya pada Aira.


“Iya. Kak Ana pergi ke mana, kak?” tanya Aira lagi.


“Ana... dia... dia sudah pergi dan tidak lagi bersama kita, Ra.” Ucap Raskal dengan kalimat ambigunya.


“Iya, aku tahu. Tapi perginya tuh ke mana, kak?” tanya Aira.


“Dia... dia sudah meninggal dunia hari jum’at kemarin.” Sahut Raskal.


“Apa, kak? Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kok bisa, kak? Sakit apa?” tanya Aira yang merasa antara percaya dan tidak percaya.


“Almarhumah sakit kanker stadium akhir, Ra.” Ucap Raskal.

__ADS_1


“Ya Allah, Kak Ana. Kenapa kakak punya penyakit itu?” ucap Aira.


“Itu lha, Ra. Yang namanya takdir manusia tidak ada yang tahu.” Ucap Raskal dan Aira pun mengangguk.


Setelah itu, mereka pun terdiam untuk beberapa saat dan kemudian Raskal berkata, “Ra, kamu sedih, tidak?”


“Ya sedih lha, kak. Kakak ini bagaimana?” ucap Aira.


“Aku pikir kamu tidak sedih. Karena kamu kan tulalit.” Goda Raskal.


‘Pletak’ kepala Raskal pun langsung mendapatkan sebuah jitakan dari Aira.


“Aw. Sakit, Ra. Kok kamu beneran sih, jitaknya. Aku kan tadi cuma bercanda saja.” Protes Raskal.


“Ya harus beneran, lha. Kan sekarang sudah tidak ada kak Ana yang membela aku. Jadinya mulai sekarang aku harus berani menghadapi kakak seorang diri.” Sahut Aira.


Mendengar ucapan Aira, tiba-tiba jantung Raskal, “Deg.”


Raskal pun akhirnya terdiam dan kemudian menatap lurus jauh ke depan. Hal ini rupanya disadari oleh Aira.


“Ada apa, kak?” tanya Aira.


“Aku sedih, Ra kalau ingat Ana yang selalu bersikap begitu ke kita. Dia itu sayang padamu. Dia itu benar-benar menganggapmu seperti adiknya sendiri. Oh ya, kamu tahu tidak, Ra?” ucap Raskal.


“Tahu apa, kak?” tanya Aira.


“Dia itu akan memarahi aku habis-habisan jika aku sedang menjailimu.” Ucap Raskal.


“Benarkah itu, kak?” tanya Aira.


“Iya. Jadi begini ceritanya.. waktu dulu kalau tidak salah aku tuh hendak menjailimu dengan menyembunyikan tasmu. Padahal saat itu kamu hendak pergi ke sekolah. Kamu ingat tidak kejadian itu?” tanya Raskal.


“Iya, ingat. Waktu itu, sebelum aku berangkat ke sekolah, tiba-tiba aku teringat kalau bukuku tertinggal lalu aku menitipkan tasku ke kalian berdua karena aku harus balik mengambilnya. Jadi... waktu itu kakak berencana mau menyembunyikan tasku?” tanya Aira dan Raskal pun mengangguk.


“Ih, jahatnya.” Keluh Aira.


“Gimana jahat sih, Ra?! Aku kan tidak jadi menyembunyikan tasmu?! Lagi pula waktu itu Almarhumah Ana memarahi aku habis-habisan. Sampai-sampai telingaku panas mendengarkan ocehannya yang seperti burung beo.” Jelas Raskal mengenang Ana.


“Sukurin...” celetuk Aira.


“Tapi memang iya, sih. Kak Ana itu selalu melindungi aku setiap aku di jaili oleh kak Raskal.” Ucap Aira lagi yang jadi ikutan mengenang Almarhumah.


Mereka berdua pun akhirnya sama-sama larut dalam kenangan bersama Ana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2