
Setelah beberapa lama mereka larut dalam kenangan mereka masing-masing hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
***
Pagi itu, tepat di mana tujuh harinya mendiang Ana meninggal dunia, Arief yang tidak tahu masalah meninggalnya Ana pun tiba-tiba teringat tentang Ana.
Sebelum berangkat kerja, dia mencoba menelepon Ana. Setelah telepon beberapa kali berdering, akhirnya telepon pun di angkat.
“Halo. Assalamu’alaikum, An.” Ucap Arief.
“Wa’alaikumsalam. Maaf ini siapa, ya?” tanya seseorang yang ternyata ibunya Ana.
“Oh, maaf.. maaf.. saya Arief, temannya Ana. Ananya ada, bu?” tanya Arief polos.
Ibunya Ana pun terdiam sesaat.
“Bu, maaf. Ananya ada?” tanya Arief mengulangi pertanyaannya.
“Oh, iya iya. Maaf. Tapi Ananya sudah tidak di sini lagi. Dia sudah pergi.” Sahut ibu.
“Pergi? Pergi ke mana, bu?” tanya Arief.
“Dia sudah meninggal dunia dan ini hari ke tujuh dia pergi meninggalkan kita semua.” Jelas ibu.
Mendengar jawaban ibunya Ana, Arief pun langsung terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Maaf, bu. Memangnya Ana meninggal karena apa? Dan Bu, kalau saya boleh tahu, di mana alamat Ana di makamkan?” tanya Arief.
Ibunya Ana pun langsung memberitahukan penyebab meninggalnya Ana dan juga memberitahukan alamat tempat Ana di makamkan dan Arief pun mengucapkan terima kasih, lalu telepon pun di tutup.
Setelah itu Arief pun langsung pergi untuk mengunjungi makam Ana.
Namun belum juga melangkahkan kaki ke luar dari rumah, ibu memanggil.
“Rief, untuk apa kamu buru-buru?” tanya ibu yang saat itu sedang bersama ayah.
“Aku mau pergi ke makam teman, bu.” Ucap Arief.
“Kalau hanya pergi ke makam kan bisa nanti. Tidak harus sekarang.” Ucap ibu.
__ADS_1
“Tidak bisa, bu. Maaf. Karena dia adalah teman sekaligus cintaku yang dulu pernah ibu suruh putuskan.” Sahut Arief agak sedikit kesal.
Ibunya Arief pun terdiam. Sementara ayahnya Arief berkata, “Mantan kamu itu, Rief?”
“Iya, yah. Tapi di hati Arief, di tidak akan pernah menjadi mantan. Karena semua yang Arief lakukan ke dia itu bukan sepenuhnya keinginan Arief.” Celetuk Arief dengan posisi kalut.
Ibunya Arief pun masih tetap terdiam. Sementara ayahnya bertanya lagi, “Dia memang meninggal gara-gara apa?”
“Ah. Mungkin saja dia meninggal karena bunuh diri karena tidak sanggup di tinggal Arief.” Celetuk ibu yang langsung saja menyelah ucapan.
“Ibu..!” ucap ayah tegas kerena merasa sebagai orang tua, dia tidak bisa memosisikan dirinya dengan waktu dan pembahasan.
Arief pun dengan sekuat hati bertahan agar tidak emosi menghadapi ibunya yang telah menghancurkan kebahagiaannya.
Dengan menarik nafas panjang, Arief pun akhirnya menyahut, “Bu, Ana tidak meninggal karena bunuh diri. Dia meninggal karena sakit kanker stadium akhir.”
Mendengar ucapan Arief, ibunya pun terdiam. Sementara ayah langsung berkata, “Ya sudah. Ayo kita ke rumahnya serta ke makamnya. Jangan pedulikan ibumu ini.”
“Ayah mau ikut?” tanya Arief dan ayahnya mengangguk.
“Baiklah, yah.” Ucap Arief.
Dan di saat yang bersamaan...
“Mau apa ibu ikut? Ibu mau buat masalah di sana?” tanya Ayah ketus.
“Tidak, yah. Ibu hanya ingin minta maaf di pusaranya Ana.” Ucap ibu.
“Oh. Tapi ibu harus berjanji satu hal. Nanti di sana Ibu tidak boleh buat masalah. Ok?!” ucap ayah dan ibunya Arief pun mengangguk kuat tanda beliau menyetujui persyaratan suaminya.
“Ya sudah. Kalau begitu kita berangkat sekarang.” Ucap Arief dan mereka pun akhirnya berangkat.
***
Beberapa saat kemudian, Arief dan keluarga pun telah sampai di makam Ana. Di sana tampak seorang laki-laki sedang duduk berjongkok di samping pusara Ana.
“Assalamu’alaikum. Permisi tumpang tanya. Apakah ini benar makam dari Almarhumah Ana?” tanya Arief memastikan.
“Wa’alaikumsalam. Iya, betul.” Sahut laki-laki itu yang ternyata adalah Raskal.
__ADS_1
“Oh. Terima kasih banyak.” Ucap Arief yang kemudian mereka sekeluarga langsung duduk berjongkok di sebelah makam Ana dan mendoakannya.
“An, aku Arief. An, akhirnya kita bisa bertemu walau dengan situasi yang berbeda. An, aku minta maaf. Maaf aku tidak bisa menjaga kamu dan membuatmu bahagia sampai di detik-detik terakhir kehidupanmu. Sekali lagi, maaf.” Ucap Arief dalam hati di sela-sela doanya.
Di saat yang bersamaan, ibunya Arief juga bergumam dalam hati, “Nak Ana. Maafkan ibu. Ibu tidak tahu kalau apa yang ibu putuskan selama ini akan berujung duka seperti ini. Sekali lagi ibu minta maaf.”
Sesaat setelah mereka selesai berdoa, Raskal pun bertanya, “Maaf. Kalian ini siapa, ya?”
“Oh. Maaf lupa memperkenalkan diri. Aku Arief dan mereka ini adalah ke dua orang tuaku.” Ucap Arief.
“Oh. Jadi kamu yang bernama Arief?” tanya Raskal dan Arief pun mengangguk.
“Aku Raskal, sahabat Ana. Kebetulan sekali. Ada titipan dari Ana. Ini.” Ucap Raskal sambil menyodorkan sebuah surat.
“Apa ini?” tanya Arief.
“Entahlah. Coba saja kamu baca.” Ucap Raskal.
Tanpa menunggu lama, Arief pun langsung membuka surat tersebut dan membacanya dan sesaat kemudian dia pun lagi-lagi terduduk lemas sambil meneteskan air mata.
Ayah Arief yang memperhatikan Arief pun langsung mengambil surat yang di berikan Ana untuk Arief dan membacanya. Ternyata isi suratnya...
“Assalamu’alaikum, kak Arief. Apa kabar? Semoga di saat kakak membaca suratku ini, kakak dalam keadaan baik-baik saja dan juga bahagia.
O ya, bagaimana calon istrinya? Pasti cantikkan?! Aku doakan semoga kalian bahagia dan bisa langgeng sampai maut memisahkan kalian.
O ya, kak. Aku pamit. Aku pergi ya, kak. Jangan merasa bersalah dengan apa pun yang sudah terjadi dan juga jangan menyalahkan siapa pun atas segala yang terjadi. Karena ini adalah sudah jadi bagian dari ketentuan-Nya dan ini juga lha yang terbaik untuk kita.
Ingat selalu kak, “Tak selamanya cinta itu harus memiliki. Jika cinta itu memang bukan milik kita, maka dia akan pergi. Tapi jika cinta itu ada untuk kita, maka dia akan tetap bersama kita walau kita menyuruh cinta tersebut pergi.”
Jadi, kak. Jangan disesali, ya. Kakak tenang saja. Aku sudah bahagia kok di sana. Aku juga berharap, kakak juga bahagia dan hidup dengan baik di sini.
Maaf, kak. Aku tidak jujur karena aku pikir bahwa ini lha yang terbaik.
Sekali lagi aku minta maaf dan aku juga mengucapkan banyak terima kasih pada kakak. Jangan lupa, kakak hidup baik-baik ya, di sini.
Wassalamu’alaikum...”
Setelah membaca surat terakhir yang di tinggalkan Ana untuk anaknya, Arief... ayahnya Arief pun langsung memberikan surat itu pada ibunya Ana dan kemudian duduk berjongkok di sebelah Arief dan menepuk punggungnya sambil berkata, “Rief, sabar ya.”
__ADS_1
Raskal yang sedang ada di tempat itu pun ikut membayangkan bagaimana kesedihan yang di rasakan oleh Arief.
Bersambung..