
Saat malam harinya, ketika Raskal baru saja balik pulang ke rumahnya sendiri, tiba-tiba saja ponsel Ana berdering dan Ana pun langsung mengangkatnya.
“Halo.. Assalamu’alaikum, kak.” Ucap Ana.
“Wa’alaikumsalam, An. Kamu lagi apa, sekarang?” tanya Arief.
“Aku lagi santai seperti biasanya, kak. Kakak sendiri bagaimana? Apa urusan kakak sudah selesai?” tanya Ana.
“Hmm... An. Begini... sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu.” Ucap Arief.
“Ada apa, kak? Bilang saja. Tidak apa-apa, kok.” Ucap Ana.
“Hmm, begini. An... sebelumnya aku minta maaf padamu karena sepertinya hubungan kita ini tidak dapat di lanjutkan.” Ucap Arief.
Saat mendengar ucapan Arief, membuat hati Ana seperti sedang teriris-iris. Pedih rasanya. Tapi Ana mencoba menutupinya.
“Oh. Ya sudah tidak apa-apa, kak. Mungkin kita memang belum berjodoh.” Ucap Ana.
“Maaf sekali lagi ya, An.” Ucap Arief.
“Iya. Tidak apa-apa, kak.” Sahut Ana.
Tapi sebenarnya dalam hati Ana, Ana bergumam, “Mungkin memang ini lha jalan yang terbaik yang Allah Swt putuskan untuk jalan hidupku.”
Tapi beberapa saat kemudian Ana berkata lagi...
“Maaf, kak. Kalau boleh tahu memang alasannya apa kakak ingin menyudahi hubungan kita ini?”
“An, sebenarnya aku di jodohkan. Dan aku tidak ada kuasa untuk menolak keputusan orang tuaku.” Jelas Arief.
“Oh begitu, rupanya. Ya sudah, kak. Aku mengerti. Orang tua adalah yang harus di utamakan. Mungkin ini lha jalan yang terbaik buat kita.” Ucap Ana.
“Iya, An.” Sahut Arief.
“Oh ya, An. Tapi kita tetap bisa jadi teman, kan?” ucap Arief lagi.
“Iya, kak. Kita bisa tetep jadi teman, kok.” Ucap Ana.
“Oh, syukurlah. Aku lega sekarang. Terima kasih ya, An.” Ucap Arief.
“Iya, kak. Sama-sama.” Sahut Ana.
“Ya sudah, kak. Jika tidak ada urusan, aku tutup teleponnya. Tapi sebelumnya aku juga mau bilang sama kakak, aku minta maaf jikalau selama ini aku ada salah sama kakak. Dan pesanku untuk kakak, apa pun yang terjadi nanti, itu adalah ketentuan yang terbaik dari-Nya. Tidak usah disesali.” Ucap Ana lagi.
__ADS_1
“Iya, An. Aku juga minta maaf karena aku sudah menyakitimu.” Ucap Arief.
“Iya, kak. Tidak apa-apa. Ya sudah ya, kak. Aku pamit. Jaga diri kakak dan hiduplah dengan baik mulai dari sekarang.” Ucap Ana.
“Iya, An. Kamu juga, ya.” Ucap Arief.
“Iya, kak. Kalau begitu sekali lagi aku pamit. Assalamu’alaikum...” ucapan terakhir Ana saat itu.
“Wa’alaikumsalam, An.” Sahut Arief.
Telepon pun akhirnya di tutup. Setelah menutup teleponnya, Ana pun bergumam, “Lebih baik kamu tidak tahu soal penyakitku ini, kak. Karena aku ingin kamu bahagia tanpa ada merasa bersalah padaku.”
Dan di saat yang bersamaan namun di tempat yang terpisah, Arief pun bergumam, “An, maafkan aku. Aku juga terpaksa melakukan ini semua. Tapi apa daya. Aku tidak ada kuasa untuk menentang keputusan orang tuaku.”
***
Keesokan harinya, Raskal pun kembali datang menjenguk Ana. Dia sangat sayang sekali pada Ana. Dia benar-benar tidak ingin melewatkan satu hari pun tanpa melihat Ana.
“An, bagaimana kondisimu sekarang? Apakah sudah jauh lebih baik?” tanya Raskal.
“Alhamdulillah, Ras. Sudah jauh lebih baik dari yang kemarin.” Ucap Ana.
“Syukurlah.” Sahut Raskal.
“Oh. Lalu?” ucap Raskal datar.
“Aku tidak memberitahukan perihal penyakitku ini, Ras.” Ucap Ana.
“Kenapa?” tanya Raskal.
“Itu karena aku tidak ingin membuat dia merasa bersalah pada akhirnya.” Jelas Ana.
“Kok begitu?” tanya Raskal bingung.
“Iya, Ras. Hubungan kami telah berakhir, semalam. Dia bilang padaku jika dia akan di tunangkan oleh orang tuanya.” Jelas Ana lagi.
“Apa, An? Di tunangkan?! Memang dia tidak bilang apa pada orang tuanya jika dia sudah mencintai seseorang?” ucap Raskal dengan nada sewot.
“Entahlah, Ras. Tapi yang pasti mungkin ini adalah jalan yang terbaik yang di berikan Allah swt kepadaku.” Ucap Ana.
“Tapi, An..” ucapan Raskal langsung di potong oleh Ana.
“Sudah, Ras. Aku tidak apa-apa. InsyaAllah, aku sudah ikhlas.” Ucap Ana mencoba meyakinkan Raskal.
__ADS_1
“Oh begitu. Ya sudah kalau memang seperti itu. Tapi kamu harus janji kalau memang ada yang kamu rasakan, kamu bilang ke aku, ya.” Ucap Raskal.
“Iya, Ras.” Sahut Ana.
Setelah itu, lagi-lagi mereka hanya terdiam. Mereka larut pada pikiran mereka masing-masing.
Tak selang berapa lama, Raskal teringat sesuatu.
“An, kamu sudah minum obat?” tanya Raskal.
“Sudah kok, Ras. O ya, Ras. Kamu mau antar aku jalan-jalan, tidak?” tanya Ana.
“Memangnya kamu mau ke mana, An?” tanya Raskal sebelum menjawab pertanyaan Ana.
“Tidak ke mana-mana kok, Ras. Aku Cuma mau duduk di taman saja.” Ucap Ana.
“Oh begitu. Baiklah. Ayo. Sini aku papah.” Ucap Raskal sambil membantu Ana berdiri.
“Tidak apa-apa, Ras. Aku bisa jalan sendiri kok.” Ucap Ana.
“Yakin?” tanya Raskal dan Ana pun mengangguk.
“Ya sudah kalau begitu. Jalannya pelan-pelan saja, ya.” Pesan Raskal.
“Iya, Ras.” Sahut Ana sambil mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka pun sampai di taman. Saat itu suasana taman terlihat banyak sekali anak kecil yang berlarian dan bermain bersama orang tuanya.
“Ras, bahagianya ya, anak-anak itu. Hidup tanpa beban. Tanpa ada rasa khawatir dengan apa yang terjadi. Yang mereka tahu hanyalah bermain saja.” Ucap Ana.
“Kamu juga dulu begitu kan, An?! Kita semua pasti sudah pernah melewati fase seperti itu.” Ucap Raskal.
“Iya juga sih, Ras. Hanya saja, kadang aku sangat merindukan saat-saat itu.” Ucap Ana.
Raskal pun terdiam. Dia bingung bagaimana cara menanggapi ucapan Ana.
Mereka pun berada di taman hingga sore hari. Saat tubuh Ana merasa kedinginan, Raskal pun langsung mengajaknya pulang.
Sesampainya di rumah, Raskal berpesan, “An, kamu istirahat lha. Aku akan pulang. Nanti jika ada sesuatu, kamu hubungi aku, ya.”
Ana pun mengangguk dan berkata, “Terima kasih, Ras.”
“Sama-sama, An.” Sahut Raskal.
__ADS_1
Bersambung...